
Seketika Saka bengong pada saat Nathan memberikan surat pengunduran diri pada dirinya.
"Nathan, kamu tega pergi begitu saja. Apa kamu tidak melihat kondisi diriku ini?" ucap Saka meminta bekas kasihan.
"Tuan Saka, saya minta maaf. Justru moment seperti ini yang sudah lama saya tunggu yakni saya bisa risgn dari kantor anda," ucap Nathan tegas.
"Apa maksud ucapanmu itu, Nathan?" tanya Saka lirih.
"Apa anda lupa, Tuan Saka? setiap saya ingin Risgn, anda selalu melarang dan bahkan mengancam akan bertindak kasar pada istri dan anak saya. Jujur saja, saya bertahan karena terpaksa. Karena saya takut dengan ancaman anda. Karena bagi saya, istri dan anak saya itu sangat berarti dan bahkan berharga."
"Hingga saya rela bertahan di kantor anda hingga begitu lamanya. Itu saya lakukan demi istri dan anak saya. Bukan demi anda, Tuan."
"Jujur saja, saya lebih suka pada Tuan Sandy yang sifatnya baik dan tidak tamak serta tidak serakah akan harta. Bahkan tidak kenam seperti anda."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Nathan, darah Saka mulai mendidih. Dia tidak sadar dengan kondisi dirinya yang sekarang ini sudah tak berdaya.
"Beraninya kamu berkata seperti ini padaku. Kamu bahkan berani ya, memuji Sandy di depanku?" bentak Saka.
"Astaghfirullah aladzim, Tuan Saka. Kondisi anda sudah tak berdaya seperti ini, masih saja keras kepala. Apa anda tidak sadar juga jika apa yang saat ini menimpa pada diri anda adalah suatu karma dari perbuatan buruk anda di masa lalu? sudahlah untuk apa aku peduli dengan orang yang keras seperti anda. Permisi Tuan Saka."
Saat itu juga Nathan berlalu pergi dari hadapan Saka.
"Heh, dasar kacung kurang ajar ya kamu? pergi sana yang jauh, aku yakin di luar sana kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan!" umpat Saka lantang hingga terdengar di telinga Nathan.
Namun Nathan sama sekali tidak menghiraukan umpatan dari Saka. Justru ia tersenyum sinis.
__ADS_1
"Sumpah seorang pendosa mana mungkin di dengar oleh Allah. Justru aku risgn karena akan bergabung dengan, Tuan Sandy. Hah tidak ada gunanya umpatanmu itu, Saka," gumam Nathan seraya melajukan mobilnya arah pulang.
Dia kini benar-benar lega sudah bisa lepas dari Saka. Jika kondisi Saka masih sehat, ia tidak akan berani melakukan ini semua. Karena kekuasaan dan uang Saka. Uang yang selalu Saka gunakan untuk membayar orang untuk melancarkan perbuatan jahatnya.
"Lega hati ini bisa lepas dari orang seperti Saka. Kenapa juga tidak dari dulu, Saka kena karma, hingga aku tidak sampai menahan rasa ingin pergi dari cengkeraman dirinya. Tetapi tidak apa-apa, toh pada akhirnya ia kena karma. Jika ia tidak kena karma juga, mampuslah aku yang harus seumur hidup bertahan kerja dengannya," gumam Nathan.
Sesampainya di rumah, ia di sambut oleh istri dan anaknya.
"Bagaimana, ayah? apa sudah berhasil risgn?" tanya istrinya.
"Seperti biasa, bu. Ia tidak terima, tapi kali ini aku bisa pergi begitu saja karena ia sudah tidak berdaya. Walaupun ia mengancam banyak hal, itu hanya sebuah ancaman jadi ibu dan Dian nggak usah takut lagi ya. Kita kali ini sudah benar-benar bebas lepas dari Saka," ucap Nathan tersenyum penuh kelegaan.
"Alhamdulillah, syukurlah ayah. Sampai sekarang aku masih ingat loh, bagaimana si Saka itu mau menodai aku jika ayah risgn dari kantornya," ucap Dian.
"Sudah, Dian. Ayah minta kamu hilangkan jauh-jauh hal buruk itu, yang terpenting kamu kan tidak sampai benar-benar di nodai. Sekarang kita fokus menata hidup yang baru. Kebetulan ayah sudah mendapatkan tawaran kerja yang baru," ucap Nathan sangat antusias.
"Alhamdulillah, iya Bu. Karena sebenarnya sudah sejak lama sih, ayah mendapatkan tawaran kerja ini. Tetapi karena waktu itu masih takut dengan ancaman Saka. Makanya ayah menolak."
"Ayah mendapatkan tawaran kerja yang sangat bagus. Yakni ayah di minta menghandle sebuah restoran di kota ini. Dan kalian bebas bantu ayah jika mau."
Istri dan anak dari Nathan sangat senang mendengarnya.
"Alhamdulillah, memang siapa pemilik restorannya ayah?" tanya Dian penasaran.
"Tuan Sandy, adik dari Saka. Ia kan sudah sukses punya banyak cabang restoran. Dan anak sulungnya yang membantu mengelola semuanya. Tetapi kerap kali kelelahan jika mengontrol semua restoran. Karena cabang begitu banyak di berbagai pelosok kota. Dan ayah di tugasi untuk menghandle restoran yang ada di cabang kota ini. Itu loh, yang di seberang jalan rumah kita," ucap Nathan.
__ADS_1
"Hah, masa sih ayah? jadi restoran baru yang belum lama buka itu salah satu milik, Tuan Sandy? tetapi banyak yang memujinya, dan langsung bomming di semua media," ucap Dian.
"Yah begitulah, karma baik akan datang pada orang baik. Begitu pula sebaiknya, jika kita jahat juga akan mendapatkan karma jahat. Jadi apa yang menimpa kakak beradik ini, bisa untuk contoh dirimu, Dian."
"Saka, semasa muda selalu berbuat kejahatan. Bahkan pada orang tuanya dan pada adiknya sangat jahat. Apakah kekal, tidak Dian. Kini ia sakit-sakitan dan bahkan kemarin ayah berpapasan dengan istrinya yang akan pergi ke luar negeri. Kini ia mendapatkan buah dari apa yang ia tanam."
"Begitu pula dengan Tuan Sandy, semasa hidupnya dulu ia selalu di perlakukan tidak adil oleh papahnya bahkan di anak tirikan. Tetapi ia masih saja peduli dengan Papahnya."
"Dan pasa saat Saka mengusir Papahnya. Dengan suka rela, Tuan Sandy mengajak Papahnya tinggal bersamanya."
"Bahkan hingga meninggalnya, kedua orang tuanya sempat berpesan pada Tuan Sandy. Jika suatu saat nanti Saka ingin datang ke makam mereka. Jangan di beri tahu."
"Kini kehidupan Tuan Sandy berlimpah kekayaan. Bahkan ia juga yang telah mengangkat derajat istrinya yang dulu pada saat muda di rudal paksa oleh Saka hingga lahir Dilla."
"Makanya ayah waktu itu takut, Saka benar-benar akan menodai kamu jika ayah risgn. Karena ayah tahu betapa bejadnya Saka."
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Kini kita bisa hidup dengan bebas, nyaman, tanpa ada lagi tekanan batin yang diberikan oleh Saka."
"Biarkan saja dia sendirian tanpa ada sanak saudara di sisinya. Biar dia merasakan karma buruknya itu."
Kini keluarga Nathan sudah bisa merasakan kebahagiaan yang seutuhnya. Seperti yang di rasakan oleh keluarga Sandy.
"Dilla, apa kamu sudah tahu tentang kabar Saka?" tanya Sandy.
"Sudah kok, pah. Saat ini ia sudah tidak berdaya bukan, sudah sakit-sakitan," ucap Adilla.
__ADS_1
"Benar sekali, jadi benar kan apa yang pernah papah katakan padamu dulu? kita tak usah repot-repot membalas dendam, yang hanya malah menambah dosa kita saja. Kita tinggal duduk manis sambil melihat karma itu berlangsung," ucap Sandy.