
Sejenak Sandy mengingat peristiwa di taman.
"Oh iya benar sekali, mah. Kami pernah bertemu dengan ibu tiri dan adik tiri Nayla pada saat di taman," ucap Sandy membenarkan apa yang barusan di katakan oleh istrinya.
"Hah, jadi dia wanita yang barusan mamah lihat itu saudara tirimu dan ibu tirimu yang jahat itu, Nayla?" tanya Nany untuk memastikan.
"Benar sekali, mah. Aku juga kaget pada saat melihat mereka di acara televisi di saat pernikahan Tuan Muda Saka," ucap Nayla.
"Nayla, kenapa kamu masih memanggil Saka seperti itu? tak usah formal lagi, bagaimana pun Saka itu sudah menjadi kakak iparmu," ucap Nany.
"Maaf, mah. Selamanya ia itu orang lain bagiku apa lagi setelah apa yang pernah ia lakukan dahulu dan juga penghinaan serta penolakan yang pernah terjadi pada Dilla," ucap Nayla.
Rasa benci Nayla dan juga Adilla pada Saka sudah mendarah daging. Itu semua juga karena perbuatan Saka sendiri yang menolak kehadiran Adilla.
Setelah mendengar perkataan dari Nayla, Nany berjanji di dalam hati untuk tidak menceritakan tentang Saka lagi di depan Nayla.
"Kasihan juga Nayla yang harus alami kepahitan oleh ulah Saka. Dan lebih parahnya lagi, Saka tak akui Dilla sebagai anak kandung. Sebenarnya jika aku menceritakan hal ini pada Alan, ia tak akan menolak Sandy dan Nayla lagi."
"Tapi aku juga tak tega melihat Alan yang begitu terpuruk pada saat mengetahui perbuatan Saka dengan istrinya yang sekarang itu."
Hingga Nany hanya bisa pasrah dan diam saja menyimpan rahasia kelam masa lalu Saka.
Kehidupan berjalan apa adanya hingga tak terasa usaha restoran Sandy dan Nayla benar-benar di luar dugaan. Baru beberapa bulan saja, restoran mengalami kesuksesan. Bahkan kini suami istri ini telah sepakat untuk membuka cabang restoran yang baru lagi.
"Nayla, nggak menyangka ya usaha restoran kita berkembang sangat pesat seperti ini?" ucap bahagia Sandy.
"Ya mas, Alhamdulillah."
"Nayla, jika berkembangnya restoran ini juga membuat berkembangnya perasaanmu padaku. Aku akan semakin bahagia. Tetapi sudah beberapa bulan kita menikah, tidak ada tanda-tanda kamu itu jatuh cinta padaku?"
"Nayla, aku harus berbuat apa lagi supaya bisa meluluhkan hatimu dan bahkan membuatmu jatuh cinta padaku?"
__ADS_1
"Nayla, masa iya kita sudah bersama beberapa bulan lamanya tapi kamu tidak merasakan getaran cinta sama sekali denganku?"
"Apa karena begitu traumanya dirimu dengan kejadian di masa lalu? ataukah kamu benci padaku karena aku ini adik kandung dari Mas Saka?"
Terus saja Sandy berkeluh kesah di dalam hatinya.
Berbeda situasi di rumah Saka. Pernikahannya yang berlangsung beberapa bulan dengan Nesa tak membuatnya jatuh cinta pada Nesa.
Ia masih saja angkuh pada Nesa dan bahkan kerap kali terjadi keributan.
"Bagaimana caranya supaya aku mendapatkan video syur itu ya? bodohnya aku hingga detik ini belum juga bisa mendapatkannya?"
"Sebenarnya dimana Nesa menyembunyikannya ya? padahal aku sudah sering merayunya tetapi rayuanku tak pernah berhasil."
"Jika seperti ini terus, aku akan teriji pernikahan tak sehat dengan Nesa. Aduh ...sialan sekali aku benar-benar terjebak seperti ini."
Selagi asik melamun bahkan mencari cara untuk bisa menemukan video syur yang di sembunyikan oleh Nesa, satu temukan tangan mendarat di bahu Saka.
"Mas Saka, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Tolong dengarkan aku baik-baik ya?" Nesa duduk di samping Saka.
"Mas, aku hamil." Nesa memberikan bukti kehamilan berupa laporan dari dokter pada Saka.
"Sialan, aku belum juga menemukan video itu! malah Nesa hamil, jika seperti ini aku benar-benar tidak akan bisa lepas dari Nesa!" batin Saka kesal.
"Mas, kenapa kamu diam? kamu nggak suka ya jika aku hamil? ini anakmu loh, bukan anak orang lain. Seharusnya kamu itu suka, masa seperti ini responnya?" protes Nesa.
"Karena aku belum siap punya anak entah itu darimu atau dari wanita lain," ucap Saka ketus.
Perkataan Saka itu membuat Nesa sakit hati. Ia pikir hati Saka akan luluh lantak jika mengetahui dirinya hamil.
"Sialan Saka! jika aku tahu caraku ini tidak berhasil, aku tidak akan membiarkan diriku hamil seperti ini! awas saja kamu ya Saka!" batin Nesa kesal.
__ADS_1
Nesa berlalu pergi dari hadapan Saja setelah mengetahui responnya yang tak senang mendengar kehamilannya.
Nesa duduk termenung di ruang tengah. Entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini.
"Nesa, kamu kenapa terlihat sedih?" tanya Sara memicingkan alisnya.
"Bagaimana aku nggak sedih, mah. Niatku membiarkan aku hamil supaya aku kelak semua harta warisan peninggalan Saka jatuh ke anak ini," ucap Nesa seraya mengusap perutnya.
"Apa, kamu hamil? sejak kapan kamu hamil, kok mamah nggak tahu?" tanyanya heran.
"Baru saja aku cek ke dokter dan positif saat ini aku hamil satu bulan. Tapi pada saat aku mengatakan tentang kehamilanku pada Saka. Ia malah tak suka dengan alasan belum siap punya anak," ucap Nesa kesal.
"Kamunya saja yang bodoh, apa kamu lupa awal mula untuk bnda menikah dengan Saka itu untuk apa?"
"Tak perlu juga kamu berkorban hamil hanya untuk bisa miliki harta keluarga ini."
Perkataan Sara malah membuat Nesa tersenyum sinis.
"Mah, selama aku tinggal di sini sudah sering mencoba mencari segala berkas penting ataupun perhiasan peninggalan mamahnya Saka. Tapi semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan."
"Baik Saka dan Si Tua Alan entah menyimpan dimana semua berkas penting yang aku inginkan."
"Aku sudah jelajahi dari sudut ke sudut ruangan yang ada di rumah ini. Tapi benar-benar tidak aku temukan sama sekali."
Sara terperangah mendengar pengakuan anaknya itu. Ia bahkan sama sekali tak tahu kapan waktu Nesa melakukan hal itu.
"Kok mamah juga nggak tahu setiap kali kamu menggegrldah rumah ini?" tanya Sara.
"Jelas saja mamah nggak tahu, karena pekerjaan mamah selama kita tinggal disini kan kelayaban tiap hari. Shopping ini dan shopping itu!" ejek Nesa kesal.
"Nesa, kita harus gunakan kesempatan dalam kesempitan. Yakni aji mumpung lah. Masa iya punya menantu kaya tapi tak ikut merasakan kekayaaannya," ucap Sara sekenanya.
__ADS_1
Nesa kembali melamun, ia bahkan sudah tak ingin hamil. Hingga ia punya pikiran jahat dengan ingin menggugurkan kandungannya.
"Apa aku lakukan aborsi saja ya, toh janin ini baru berusia satu bulan. Jadi gampang untuk menghilangkannya? percuma saja kan jika aku hamil tapi Saka tetap acuh padaku? mending aku cari cara untuk bisa melenyapkan si tua bangka dahulu," batin Nesa.