Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Tak Kerasan


__ADS_3

Baru satu hari Adilla tinggal di rumah Saka, tetapi ia sudah sangat merindukan keluarganya di rumah.


"Aku sudah tidak betah di sini, tetapi aku harus bertahan demi misiku pada Saka," batin Adilla.


Selagi ia melamun, datanglah Saka.


"Dilla, kenapa kamu melamun? apa ada sesuatu yang kamu butuhkan lagi? apa pakaian dan semua peralatan make up yang papah belikan kurang cocok?" tanya Saka.


"Nggak kok, pah. Semua sudah cukup hanya saja aku bosan jika hanya di rumah seperti ini. Kenapa pula papah tidak mengizinkan aku bekerja di kantor papah. Aku kan bisa membantu papah, bisa menjadi asisten pribadi papah. Apa papah tidak cape mengurus semuanya sendiri?" Adilla mulai membujuk Saka.


Belum juga Saka menjawab, tiba-tiba Santi menyela perkataan dari Adilla.


"Tidak bisa, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk bekerja di kantor suamiku!" ucap lantang Santi di ambang pintu kamar Adilla.


"Lancang kamu ya Santi, disini yang menjadi kepala keluarga aku atau kamu!" bentak Saka.


"Aku tidak suka ya dengan caramu berkata kasar pada anakku!" bentak Saka kembali.


"Tapi Mas, aku tidak suka jika dia bekerja di kantor! apa kamu tidak ingat, kantor yang kamu pimpin itu jika tidak ada suntikan dana dariku sudah bangkrut dari beberapa tahun yang lalu!" ucap Santi.


"Ya sudah kalau kamu merasa kantor itu milikmu, urus saja sana sendiri! aku ingin lihat seberapa kemampuan kamu dalam mengurus kantor!" bentak Saka.


Dia tahu jika istrinya tidak tahu menahu dengan urusan kantor. Bahkan peninggalan orang tuanya saja, Saka yang mengurusnya. Ia hanya bisa shopping dan senang-senangnya bersama teman-teman sosialitanya.


Setelah mendengar perkataan terakhir dari Saka, Santi tak bisa berkata lagi. Ia hanya diam saja dan pada akhirnya ia pun berlalu pergi.

__ADS_1


"Awas saja ya kamu, Dilla! aku akan membuat perhitungan denganmu. Dan secepatnya aku akan usir kamu dari rumah ini!" batin Santi kesal seraya mengepalkan tinjunya dan menghentakkan kakinya.


"Dilla, kamu tak usah dengarkan apa yang barusan dikatakan oleh Mamah Santi. Setelah papah berpikir sejenak, memang ada baiknya kamu bekerja saja di kantor bersama papah, daripada di rumah nanti yang ada kamu selalu dimusuhi sama Mamah Santi," ucap Saka seraya mengusap surai hitam Adilla.


"Terima kasih ya, Pah. Sudah mau mendengarkan apa yang aku katakan barusan. Dengan begini kan aku akan kerasan tinggal di sini karena mempunyai aktivitas," ucap Adilla.


Tiba-tiba Saka merengkuh Adilla ke dalam pelukannya," maafkan kesalahan masa lalu papah ya Dilla."


"Iya, pah. Tak usah di bahas lagi, yang lalu biarlah berlalu pah," ucap Adilla dalam pelukan Saka.


"Menyebalkan sekali, padahal aku tidak suka diperlakukan seperti ini! aku malas untuk dipeluk olehnya," batin Adilla.


Pagi itu juga Adilla diajak ke kantor untuk mulai diberi pengarahan-pengarahan tentang kinerja sebagai seorang asisten pribadinya. Apa saja yang harus di lakukan olehnya.


"Syukurlah Tuan Saka sudah ada perubahan, ia ingin menebus kesalahanasa lalunya pada Adilla. Aku turut senang melihatnya. Lagi pula dengan adanya Adilla di kantor ini, pekerjaan aku menjadi ringan. Tidak harus doubel-doubel," batin Nathan pada saat melihat kebersamaan Adilla dan Saka.


"Astaga, cepat sekali kamu belajar Dilla. Baru beberapa menit papah terangksn, tetapi kamu sudah bisa menjelaskan ulang yang barusan papah jelaskan," puji Saka serasa tak percaya.


"Bodohnya aku dahulu telah menyia-nyiakan anak secerdas Dilla. Kini aku baru merasakan penyesalan yang mendalam," batin Saka.


Setelah cukup lama berada di kantor. Adilla meminta izin untuk pulang sejenak dengan alasan ingin mengambil barang penting yang tertinggal di rumah. Tanpa ada rasa curiga, Saka mengizinkan Adilla pulang.


"Pah, aku izin ya? aku ingin pulang ke rumah sebentar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal," ucap Adilla.


"Baiklah, Dilla. Tapi papah tidak bisa menemanimu karena urusan kantor padat. Bagaimana kalau kamu diantar salah satu sopir papah ya?" saran Saka.

__ADS_1


"Tidak usah, pah. Biar aku pergi sendiri dengan taxi on line atau ojek on line," ucap Adilla.


"Ya sudah kamu yang hati-hati, ini ada uang cash bawalah. Dan ini kartu pegang, kamu bisa gunakan sewaktu-waktu untuk membayar barang-barang yang kelak kamu beli di mall atau tempat-tempat perbelanjaan lainnya." Saka memberikan Adilla sebuah karya berwarna hitam.


Adilla menerima semuanya setelah itu ia langsung pergi meninggalkan kantor Saka.


"Ternyata kantor ini tidak pernah berubah, hanya orang-orangnya saja yang berubah seiring bergantinya waktu yang begitu cepat. Bahkan aku masih ingat selalu pada saat dulu aku datang kemari mencari Saka. Jika aku ingat kejadian masa lalu, aku justru merutuki kebodohan diri sendiri! jika dulu aku tak berkeras hati ingin tahu siapa papah kandungku, hari ini aku tidak akan mulai melakukan pembalasan dendam," batin Adilla kesal.


Dia langsung naik taxi on line yang sudah datang di hadapannya. Perjalanan untuk sampai ke restoran membutuhkan waktu satu jam lamanya. Ia tahu harus mencari orang tuanya dimana.


"Mah-pah, bagaimana kabar kalian?" sapa Adilla menghampiri orang tuanya yang ada di ruang kerjanya.


"Dilla, akhirnya kamu pulang juga nak. Duduklah kemari," pinta Sandy lembut sedangkan Nayla hanya diam saja.


Rasa amarahnya pada Adilla belum sirna. Walaupun ia senang melihat kedatangan Adilla. Adilla menjatuhkan pantatnya di sofa tersebut.


"Mah, aku tahu mamah pasti masih marah padaku. Aku minta maaf ya, mah. Apa yang aku lakukan itu demi mamah-papah dan juga mendiang Oma dan Opa," ucap Adilla membujuk Nayla supaya tak marah lagi.


'Dilla, apa mamah pernah memintamu untuk melakukan ini semua?" tanya Nayla ketus.


"Tidak, mah. Ini semua murni keinginan aku sendiri. Bahkan ini keinginan pada saat aku masih kecil," ucap Adilla.


"Mamah nggak suka Dilla. Mamah nggak ingin kamu berbuat dosa dengan melakukan ajang balas dendam! mamah sudah sangat bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang."


"Bahagia bersama Papah Sandy, kamu, Dion, dan Karmila. Tidak ada yang namanya kebencian."

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nayla, Sandy ikut menasehati Adilla.


"Dilla, jangan pernah kamu mengabaikan apa pun yang di katakan atau di nasehat kan oleh seorang ibu padamu. Lagi pula bakas dendam itu tidak baik, nak. Percaya saja pada hukum Allah. Kita tak usah bersusah payah, pasti Allah akan memberikan hukuman yang setimpal pada Saka. Jangan kamu kotori jiwa dan hatimu dengan ajang balas dendam," ucap Sandy mencoba ikut menasehati Adilla.


__ADS_2