Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Bertemu Kembali


__ADS_3

Tak terasa sudah cukup lama mereka bermain di taman, Adilla merasakan lelah.


"Dilla, pasti kamu cape ya?" tanya Sandy seraya mengusap surai hitam Adilla.


"Nggak cape lagi, tapi juga lapar pah. Karena aku belum sarapan. Dengarlah bisikan perutku ini, pah."


Sejenak memang terdengar perut Adilla berbunyi.


"Memangnya kamu belum sarapan, Dilla?" tanya Sandy memastikan.


"Belum, pah. Mungkin mamah lupa, langsung ajak aku kemari," jawab Adilla.


"Ya sudah, sebaiknya kita cari makanan yuk? ajak mamah sekalian." Sandy menuntun Adilla melangkah menghampiri Nayla.


"Nay, kita cari sarapan ya. Kebetulan aku belum sarapan juga, kasihan Dilla lapar perutnya sampai bunyi," pinta Sandy.


"Baiklah, mas. Tapi hanya kali ini saja ya, lain kali tidak." Nayla melangkah terlebih dahulu.


Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan orang yang Nayla benci sekali yakni ibu tirinya Sara dan adik tirinya Nesa.


"Aduh, kenapa sekian tahun berpisah malah ketemu lagi sih? kenapa harus di depan mata seperti ini, jika tidak kan aku bisa menghindar," batin Nayla panik dan cemas.


Pada saat Nayla pura-pura tak kenal dan akan melewati keduanya, mereka malah terus saja menghadang tak mau minggir.


"Hay Nayla, apa kabarnya? kami bersusah payah mencarimu loh, pada akhirnya bertemu juga. Apa kamu tak merindukan kami?" tegur Mamah Sara mencekal lengan Nayla seraya tersenyum sinis.


"Mah, siapa mereka?" tanya Adilla tiba-tiba membuat Sara mengalihkan pandangannya ke arah Adilla dan Sandy.


"Mamah, jadi kamu anaknya Nayla ya sayang?" tanya Sara mensejajarkan tubuhnya dengan Adilla.


Adilla tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan dan agak tak suka pada, Sara.


"Sayang, ini Oma. Dan itu Tante Nesa. Kami ini saudaramu yang telah lama berpisah dengan ibumu beberapa tahun yang lalu karena suatu hal. Selama ini kami mencari mamahmu." Ucapnya seraya mengusap pipi Adilla namun anak kecil ini justru memundurkan tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan takut, Oma kan tidak akan berbuat jahat padamu," ucap Sara.


"Dilla, Ayuk kita pergi," ajak Nayla tak ingin berlama-lama di hadapan Nesa dan Sara.


"Nayla, kamu kenapa sih? kita kan baru bertemu, masa iya kamu bersikap kasar pada mamah dan Nesa. Bagaimanapun mamah yang telah merawatmu," ucap Sara menghampiri Nayla.


"Kamu itu cuma mamah tiri yang dulu telah menjualku dan ia cuma adik tiri. Jadi kita tak ada ikatan darah sama sekali. Kamu menjadi mamah dan kamu menjadi adik pada saat aku masih memiliki seorang papah. Tapi sejak papah meninggal kita ini bukan siapa-siapa lagi," ucap lantang Nayla.


"Sombong kamu ya, Nayla. Apa mentang-mentang kamu ini sudah punya suami dan anak?" bentak Sara.


"Mas, ayok kira pergi dari sini karena aku tak mau lagi berurusan dengan mereka yang jahat!" ajak Nayla pada Sandy yang dari tadi hanya diam melihat pertunjukan pertemuan antara Nayla dan ibu tiri serta adik tirinya.


Sandy melangkah satu tangan menuntun Adilla, satu tangannya di tuntun oleh Nayla yang tak sadar telah melakukan hal itu.


Sandy sengaja diam saja pada saat Nayla menuntun dirinya. Bahkan Adilla memberi kode pada Sandy dengan menunjuk ke arah tangan Nayla yang menuntun dirinya.


"Pah," tunjuknya seraya tersenyum.


Sementara Sara merasa kesal karena tak di hiraukan oleh Nayla dan Nesa juga merasa iri melihat Nayla bersama pria tampan.


"Mah, kejar mereka. Masa diam saja, kita harus tahu dimana saat ini Nayla tinggal," pinta Nesa.


Dan keduanya melangkah cepat untuk mengejar Nayla, akan tetapi mereka telat karena Nayla sudah masuk ke dalam mobil.


"Mah, lihat itu. Mobilnya sangat mewah sekali, dan pria itu bersikap romantis banget dengan membukakan pintu mobil nya untuk Nayla. Mah, kok bisa Nayla mendapatkan pria kaya sementara dia kan sudah tak perawan lagi?" rajuk Nesa iri.


Sara dan Nesa bagai terhipnotis melihat pemandangan itu. Mereka bahkan lupa apa tujuan mereka tadi melangkah cepat yakni untuk mengikuti Nayla. Mobil melaju begitu kencang hingga tak terlihat lagi, barulah Sara dan Nesa bagai tersadar dari terkena sihir.


"Haduh, Nesa. Kenapa kita tadi hanya diam tak mengikuti kemana perginya mobil Nayla?" Sara menepuk jidatnya.


"Iiihhh....mamah bagaimana sih?" Nesa semakin kesal.


"Ini bukan salah mamah, ini justru salahmu. Dari tadi kamu terus saja nyerocos hingga mamah hilang konsentrasi dan lupa apa tujuan kita!" bentak Sara seraya melangkah pergi dari taman tersebut.

__ADS_1


"Berarti Nayla tinggal di kota ini, pasti tak jauh dari tempat ini," ucap Sara tersenyum sinis.


"Iya, mah. Kita harus mendapatkan informasi tentang keberadaan rumah, Nayla," ucap Nesa.


"Ini namanya jodoh, di kala kita tak berharap apa pun tiba-tiba ketemu Nayla. Selama ini kita mati-matian mencarinya, tetapi tak juga ketemu. Di saat kita tak mencarinya, eh ketemu di sini," ucap Sara sumringah.


"Lantas apa rencana mamah berikutnya setelah bertemu dengan Nayla?" tanya Nesa penasaran.


"Jelas akan mamah jadikan sumber uanglah. Lihat saja kan, walaupun sudah nggak perawan tapi Nayla mendapatkan pria kaya. Mamah akan jual lagi dan jika perlu anaknya juga," ucap Sara antusias.


"Ide bagus mah, dan suaminya itu untukku saja hheeee," ucap Nesa.


"Apa, jadi kamu suka pada pemuda tadi?" tanya Sara tak percaya.


"Iya, mah. Wajahnya itu tampan sekali hampir mirip pria yang aku taksir selama ini, yang suka nongol di televisi. Pria yang telah membeli keperawanan Nayla, mah," ucap Nesa.


"Hah, kamu ngefans sama pria galak seperti Tuan Muda Saka?" Sara terperangah karena baru tahu akan hal itu.


"Hhee iya, mah. Bahkan dulu aku berharap jika aku juga di jual ke Tuan Muda Saka."


Perkataan Nesa membuat Sara kesal.


"Gila apa kamu! masa iya sampai berpikiran seperti itu!" bentak Sara seraya menekan kening Nesa begitu kerasnya.


"Memang aku gila, mah. Aku telah tergila-gila pada Tuan Muda Saka."


"Mah, aku ajak mamah ke kota ini juga karena aku akan melamar kerja di perusahaan besar milik Tuan Muda Saka," ucap Nesa senyam senyum entah apa yang saat ini ada di otaknya yang sedang di pikirkan dirinya.


"Ya ampun, Nesa. Mamah pikir kamu ajak mamah ke kota ini dengan tujuan mencari keberadaan Nayla, tapi niatmu seperti ini?" Sara bertambah kesal seraya berkacak pinggang.


"Mah, sambil menyelam minum air. Lihatlah usaha kira berhasil tanpa harus kita mencari bersusah payah kan? walaupun awalnya aku ajak mamah dengan niat dan tujuan yang berbeda," ucap Nesa supaya Sara tak lagi marah.


"Sambil menyelam minum air ya kembung, dasar bodoh!" umpat Sara kesal.

__ADS_1


__ADS_2