Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Alami Kecelakaan Tunggal


__ADS_3

Kehidupan berjalan seperti arah jarum jam yang berdetak, ters saja berputar dan berputar tiada hentinya. Begitu hal nya dengan kehidupan rumah tangga Saka dan juga rumah tangga Sandy.


Sejak Saka menikah dengan Nesa, kehidupannya tidaklah harmonis. Bahkan dalam usaha bisnis Saka ada saja halangan yang ia alami. Beberapa kerja samanya dengan klien yang ternama gagal. Hampir semuanya mengundurkan diri, membatalkan kerja sama secara sepihak yang membuat Saka harus merugi. Hal ini membuat kemarahan besar bagi Alan.


"Saka, bagaimana bisa klien kita itu tiba-tiba mundur?" tanya Alan menyelidik.


"Entahlah, pah. Aku juga tak tahu kenapa itu bisa terjadi begitu saja," jawab Saka seenaknya saja.


"Saka, kenapa kamu bilang tak tahu? apa kamu tak pernah menyelidiki apa yang menyebabkan hal itu terjadi? kamu masa bodoh seperti itu? seharusnya kamu selidiki, atau kamu tanya sama mereka alasannya apa kok membatalkan kerjasama secara sepihak?" ucap Alan kesal.


'Males aku, pah. Lagi pula jika mereka sudah mundur ya biarkan sajalah, untuk apa kita bujuki mereka apa lagi kita tanyakan secara detail alasan mereka apa?"


Ucapan Saka ini bukannya meredam emosi Alan, melainkan malah menambah dirinya emosi.


"Astaga, Saka! apa sekarang otakmu eror dan nggak berfungsi? perusahaan mereka itu perusahaan handal serta ternama. Banyak dari perusahaan lain yang sangat menginginkan untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka, bodoh sekali kamu!" bentak Alan.


"Pah, kenapa marah-marah padaku? seharusnya papah marah pada mereka bukan padaku," protes Saka.


Dia sama sekali tak juga sadar dengan kesalahannya selama ini, ia terlalu menganggap dirinya benar. Hal ini tentu saja membuat Alan tak habis pikir dengan sikap Saka.


"Susah ya bicara padamu, kamu ini benar-benar berubah sejak menikah dengan wanita miskin itu dan juga sejak di kantor tak ada Sandy. Apa memang sifatmu seperti ini, hanya papah saja yang tak tahu?" ejek Alan.


"Kok papah membawa nama Sandy, apa papah lupa jika ia telah mencoreng nama baik papah?" protes Saka.


"Yang mencoreng nama baik papah di muka umum itu adalah kamu, Saka. Sekarang malah kamu membawa wanita itu masuk di kehidupan kita," ucap Alan tak suka.


"Sudahlah, pah. Kenapa permasalahan bisnis kok di campur adukkan dengan kehidupan pribadi? kenapa juga malah jadi panjang seperti ini, merembet tak karuan?" protes Saka kesal.


Alan pun diam tak mau berkata lagi karena selalu saja perkataan yang dia ucapkan di bantah oleh Saka hingga akhirnya ia bosan juga.

__ADS_1


Alan pun berlalu pergi dengan mengendarai mobilnya, tetapi ia tak tahu kenapa arah dan tujuan melajukan mobil tersebut. Sepanjang perjalanan, ia terus saja melamun dan memikirkan banyak hal yang tiba-tiba terjadi di kehidupan keluarganya.


"Kenapa di dalam kehidupan keluargaku beruntun sekali masalah yang terjadi? kenapa malah sekarang keluargaku menjadi berantakan seperti ini?" batin Alan terus saja protes dengan apa yang saat ini sedang menimpa keluarganya.


Selagi tak fokus mengemudi, laju mobilnya malah terus saja melaju dengan cepat tidak bisa ia menghentikannya. Walaupun kakinya sudah menginjak rem, tapi rem mobil tidak berfungsi sama sekali.


"Aduh.... kenapa ini? mobil semakin cepat saja lajunya, ada apa dengan rem mobil ini?" Alan terus saja menginjakkan kakinya dengan keras di tumpuan rem mobil akan tetapi tetap tak bisa berhenti.


Ia pun mencoba melajukan mobil tak tentu arah, dan ia selalu berusaha menghindari laju mobil yang lain supaya ia tak menabrak mereka. Hingga ia sudah tak kuasa lagi, pada saat ada sebuah truk besar lewat, ia pun membanting kemudi ke kiri hingga menabrak sebuah pohon besar yang ada di kiri jalan.


BRAK.....


Saat itu juga Alan tak sadarkan diri karena kepala membentur kemudi mobil. Asap keluar dari mobil bagian depan.


Pada saat itu, kebetulan mobil Sandy melintas dan ia sedang bersama Adilla. Karena Sandy baru saja jemput Adilla pulang dari sekolahnya.


"Pah, itu ada mobil alami kecelakaan tunggal," ucap Adilla yang tak sengaja melihat mobil milik Alan.


"Astaghfirullah alazdim, itu kan mobil Papah."


Sandy langsung saja menepikan mobil tersebut ke pinggir tak jauh dari mobil Alan alami kecelakaan.


Sandy langsung berlari ke arah mobil Alan dan meminta bantuan pada pejalan yang kebetulan melintas untuk mendobrak pintu mobil bagian depan.


Semua itu Sandy lakukan karena supaya lekas bisa menolong Alan. Mobil sudah terlihat api menjalar dan sebentar lagi pasti meledak.


Sandy pun mengangkat tubuh Alan di bantu beberapa orang ke mobilnya.


D...U..A...R...

__ADS_1


Bener detik setelah Alan berhasil di selamatkan, terdengar suara letusan yang sangat keras sekali dari arah mobil milik Alan yang telah terbakar. Mobil hancur berkeping-keping.


Sementara Sandy lekas melarikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Kebetulan rumah sakit tersebut dekat dengan rumah dan restoran milik Nayla.


Setelah beberapa saat sampailah Shandy di rumah sakit, Alan pun langsung mendapatkan penanganan medis saat itu juga.


Sandy lekas menelpon nomor ponsel Nany.


Kring kring kring kring kring


Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel milik Nany.


"Sandy, ada apa ia menelepon? bukankah ia sedang menjemput Dilla di sekolahnya?" Nany langsung mengangkat panggilan telepon dari Sandhy.


"Ada apa, Sandy?"


"Mah, papah alami kecelakaan tunggal dan saat ini sedang ada di rumah sakit yang dekat dengan Restoran kita."


"Astaghfirullah alazdim, kok bisa sih. Ya sudah mamah akan kesana sekarang juga. Kamu beri tahu saja di mana ruang rawat papah ya."


Setelah itu panggilan telepon di tutup oleh kedua belah pihak. Dan tak lupa Sandy memberitahukan pada Nany ruang rawat Alan.


Nany mencari keberadaan Nayla, ternyata ia sedang ada di dapur untuk mengajari salah satu Koki baru.


"Nayla, mamah mau ke rumah sakit sebentar ya. Nggak apa-apa kan, kamu sendirian di restoran?" pamit Nany.


"Rumah sakit, memangnya siapa yang sakit mah? jangan sendirian, biar aku temani ya," pinta Nayla.


"Barusan Sandy menelpon katanya papahnya masuk rumah sakit dan kebetulan rumah sakit dekat restoran ini. Apa kamu nggak apa-apa jika restoran di tinggal?" tanya Nany ragu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, mah. Semua pelayan di sini bisa di percaya kok, jujur semuanya. Sebentar aku ambil tas di ruang kerja nya, mah. Sekalian aku ngomong ke asisten pribadiku."


Saat itu juga, Nayla melangkah ke luar dari dapur. Bahkan Nany mengikuti langkah kaki Nayla di belakangnya.


__ADS_2