
Sandy lekas berlalu pergi dari rumah tanpa menghiraukan mamahnya yang terus saja menatapnya aneh.
"Maaf ya, mah. Untuk saat ini aku tak bercerita dulu, tapi nanti setelah aku menikah dengan Nayla akan aku ceritakan semuanya pada, mamah."
Gumam Sandy seraya melajukan mobilnya menuju ke rumah Nayla.
Tak berapa lama, Sandy telah sampai di pelataran rumah Nayla. Ia pun lekas memberikan semua surat yang di perlukan oleh Pak RT.
Dan saat itu juga terjadilah pernikahan di rumah Nayla dengan saksi para warga setempat dan Pak RT. Acara berjalan lancar walaupun begitu sederhana karena acara yang begitu mendadak.
"Alhamdulillah, kini kalian resmi menjadi suami istri. Dengan begini kami tidak akan lagi merasa resah jika Nak Sandy selalu datang dan bahkan berada di sini," ucap Pak RT.
Saat itu juga Pak RT dan warga serta pak penghulu dan petugas dari kantor urusan agama berlalu pergi dari rumah Nayla.
"Lihatlah, mas. Apa yang aku takutkan terjadi juga, padahal aku sudah berapa kali mengatakan supaya mas jangan datang lagi kemari," ucap Nayla kesal.
"Mah, kenapa sih mamah terus saja tak suka pada Papah Sandy? padahal ia baik loh, mah. Walaupun ia itu adik kandung Papah Saka, tapi kan beda sifatnya," ucap Adilla membela Sandy.
"Diam kamu, Dilla! lama-lama mamah bisa hilang kesabaran jika kamu terus saja seperti ini!" Nayla berlalu pergi melangkah ke kamarnya.
"Dilla, lain kali kamu jangan seperti ini ya? jika mamah sedang bicara, Dilla jangan ikut bicara. Ini namanya nggak sopan ikut campur pembicaraan orang dewasa," tegur Sandy pelan.
"Iya, pah. Aku pikir supaya mamah tak benci sama Papah Sandy," Rajuk Adilla tertunduk murung.
"Dilla, mamah itu tak benci sama Papah. Ia hanya belum bisa menerima papah yang tiba-tiba menjadi suaminya. Sudahlah ya, sekarang seharusnya Dilla senang. Karena Om Sandy bukan hanya menjadi om tapi benar-benar menjadi papah Dilla." Sandy memeluk keponakannya yang kini telah menjadi anaknya.
"Pah, terima kasih ya. Sudah mau menjadi papah aku. Janji ya, jangan pernah sakiti mamah," bisik Adilla di dalam pelukan Sandy.
"Pasti sayang, papah akan selalu menjaga kalian berdua. Takkan pernah membiarkan kejahatan atau bahaya mendekati kalian," ucap Sandy seraya terus mengusap surai hitam Adilla.
__ADS_1
Berbeda situasi di dalam kamar Nayla, ia benar-benar tak menyangka jika kini telah menjadi istri dari adik yang telah merudal paksa dirinya dahulu.
"Rencana apa lagi ini ya Allah, aku tiba-tiba menikah dengan Mas Sandy. Aku sendiri kadang bingung dengan jalan hidupku ini. Segala yang terjadi di dalam hidupku selalu saja secara tiba-tiba dan membuatku kaget," gerutunya.
**********
Berjalannya waktu cepat sekali, sudah satu minggu Sandy menjadi suami Nayla. Ia memang tidur satu kamar dengan Nayla, akan tetapi untuk hal yang satu itu Nayla belum bisa merelakan. Sandy pun tidak pernah menuntut pada Nayla.
Selama satu minggu, Sandy tak pernah tidur di rumah. Hal ini yang selalu membuat heran orang tuanya dan Saka.
Hingga pada saat di kantor, tiba-tiba Saka menanyakan hal ini.
"Sandy, selama satu minggu ini kamu kemana saja dan tidur dimana? kok tak pernah pulang ke rumah? mamah dan papah selalu saja bertanya hal ini padaku," tanya Saka ketus.
"Urusan pribadi, ka. Nanti juga lama-lama kalian tahu aku ini kemana dan tidur dimana," ucap Sandy sekenanya.
Beberapa menit kemudian, Sandy telah berada di rumah dan ia langsung mencari keberadaan mamahnya. Ia pulang di saat papahnya sedang ada di kantor.
"Sandy, kemana saja kamu selama satu minggu ini? mamah sempat khawatir padamu. Kenapa pula nomor ponsel di hubungi susah?" tegur Mamah Nany.
"Mah, aku minta maaf ya. Aku akan menceritakan semuanya pada mamah, tentang hal ini."
"Sepertinya serius sekali, wajahmu begitu panik. Sebenarnya ada apa, Sandy? apa kamu bertengkar lagi dengan Kakakmu?" tanya Mamah Nany menyelidik.
"Nggak kok, mah. Aku dengan Ka Saka baik-baik saja. Mah, izinkan aku menceritakan sesuatu yang sangat pribadi ya. Tolong jangan menyela dulu sebelum aku selesai berbicara," ucap Sandy.
"Baiklah, Sandy. Katakan saja, mamah akan fokus mendengarkan."
Saat itu juga Sandy mulai bercerita panjang lebar.
__ADS_1
"Mah, aku telah menikah satu minggu yang lalu pada saat aku sedang mencari surat-surat yang penting."
"Sandy..kamu...astaga...hem.. maaf mamah lupa.."
Sandy pun melanjutkan ceritanya perihal jati diri Nayla pada Mamahnya tanpa ada yang di sembunyikan sedikitpun.
"Aku menikahi wanita yang pernah di rudal paksa oleh Ka Saka beberapa tahun yang lalu. Dan bahkan kelakuan bejad Ka Saka membuat hamil wanita itu."
"Setelah sekian lamanya, mereka bertemu lagi. Tapi Ka Saka enggan mengakui anaknya dari wanita itu."
"Padahal anaknya sudah melalui proses cek tes DNA dan hasilnya positif sama dengan Ka Saka."
"Mah, aku minta maaf telah menyembunyikan hal sepenting ini dari mamah dan papah. Karena aku telah di ancam oleh Ka Saka."
"Aku nggak tega dengan wanita dan anaknya, hingga aku selalu datang ke rumah mereka untuk selalu mengecek kondisi mereka, walaupun wanita itu selalu saja melarangku datang ke rumahnya."
"Bahkan gara-gara aku sering datang kesana, kami pun di nikahkan paksa oleh Pak RT dan warga setempat. Jika tidak wanita itu dan anaknya akan di usir oleh para warga."
Mendengar apa yang di ceritakan oleh Sandy, sempat membuat jantung Nany hampir copot di buatnya. Ia sedari tadi terperangah seraya menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ya ampun, Sandy. Kamu korbankan dirimu hanya untuk menebus kesalahan kakakmu demi wanita itu? seharusnya Saka yang menikahi wanita itu bukan kamu," ucap Mamah Nany.
"Astaga, mamah. Bukankah tadi sudah aku katakan jika Ka Saka itu menolak anak kandungnya, apa lagi untu menikahi ibunya ia nggak mau," ucap Sandy.
"Ya ampun, Saka. Dosamu begitu besar sekali. Sudah merudal paksa itu dosa besar, di tambah lagi menolak anak kandungnya sendiri. Itulah kenapa mamah selalu protes dan tak suka dengan pergaulan bebas yang di lakukan oleh Saka. Tetapi setiap mamah menegur dan menasehatinya, papahmu selalu saja membelanya."
"Hingga Saka semakin menjadi-jadi. Papahmu baru sadar kan belum lama ini. Makanya ia lekas mencarikan jodoh untuk Saka supaya tidak terus-menerus bermain wanita."
Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Mamah Nany, hati Sandy lega. Ia sempat berpikir Mamahnya akan marah padanya, justru malah terharu. Bahkan ia ingin bertemu dengan Nayla dan Adilla.
__ADS_1