
Kehidupan berjalan terus, Roda semakin berputar. Saka yang dulu ada d atas dan Sandy ada di bawah. Kini telah berbalik.
Kejayaan sedang berpihak pada Sandy dan penderitaan berpihak pada Saka. Semakin lama dan semakin hari, Saja terus saja di tindas oleh dua preman tersebut.
"Hari ini, kamu harus mendapatkan uang yang lebih banyak lagi ya Pak Tua!" bentak satu preman.
"Uhuk-uhuk, tapi saya kan sedang sakit. Izinkan saya ke dokter dulu ya, tolong periksakan saya," ucap Saka lirih.
"Enak saja, biaya dokter itu mahal! tak perlu ke dokter, tinggal minum obat warung saja. Jika kamu Pusung atau batuk, nanti aku belikan obat. Tetapi kamu kerja dulu!" bentaknya seraya membawa kursi roda Saka ke lampu merah.
Seperti hari-hari biasanya, Saka harus di kuras tenaganya untuk mengemis di lampu merah dari pagi hingga petang.
Dan pada saat ia mulai mengemis, ada dua anak remaja menghampiri dirinya dan memberikan uang masing-masing lima puluh ribu. Setelah itu mereka berlalu pergi untuk melanjutkan ke sekolah.
Preman yang melihat hal itu langsung berlari ke arah Saka. Dan secepat kilat ia ambil uang tersebut dan setelah itu ia berlari lagi ke arah pengintaian. Ia duduk di tempat yang tak jauh dari Saka mengemis.
"Ya Allah, coba saja uang seratus ribu tadi tidak di ambil olehnya. Pasti bisa aku gunakan untuk ke dokter atau klinik. Selama ini aku menghasilkan bayak yang untuk mereka berdua. Tetapi pada saat aku sakur tidak d izinkan ke dokter sana sekali. Jahat sekali mereka padaku, sama sekali tidak punya hati nurani!"
batin Saka mengumpat dia preman itu.
Hingga tak terasa sore menjelang, kedus anak remaja yang tadi pagi lewat di hadapan Saka, kini mereka telah sampai di rumah dan langsung menghampiri Owang tuanya yang sedang ada di teras halaman.
"Pah-mah, setiap pagi kami boleh kan ya? jika meminta jatah makanan sedikit saja?" ucap Dion.
"Makanan, untuk bekal kalian bukannya Maman selalu menyiapkan?" ucap Nayla heran.
__ADS_1
"Bukan untuk kami, mah. Tetapi untuk seseorang yang membutuhkan," ucap Karmila.
"Maksudnya apa sih, papah dan mamah nggak mengerti dech," ucap Sandy memicingkan alisnya menatap ke arah dua anak remajanya.
"Setiap pagi kami berangkat ke sekolah, selalu melihat ada seorang pengemis memakai kursl roda di lampu merah. Kondisi lusuh, kucel, kurus sepertinya kurang makan," ucap Dion menjelaskan.
"Oh...untuk pengemis? ya sudah nggak apa-apa, mamah pikir jatah bekal yang di bawa kurang. Ya sudah bawa saja setiap pagi sebelum berangkat ambil di restoran minta pada Mba suruh bungkus," ucap Nayla.
"Siap, mah. Terima kasih ya mah-pah."
Setelah sejenak izin seperti itu, keduanya kembali ke kamar masing-masing. Sementara Nayla dan Sandy masih asik di teras duduk berdua bercengkrama.
"Sayang, rasanya kita damai ya? di masa tua kita, ada tiga anak yang selalu menemani kita dan bahkan mereka itu anak yang selalu menurut tidak pernah membangkang. Hingga kita tidak pernah repot dengan istilah kenakalan remaja," ucap Sandy.
"Benar sekali, mas. Apa yang kamu rasakan juga aku rasakan saat ini. Kira tidak kekurangan apa pun dan bahkan kita berkelebihan karena punya banyak cabang restoran," ucap Nayla.
"Ayok, siapa takut," ucap Nayla terkekeh.
Mereka pun segera bersiap-siap untuk healing sejenak dan healing mereka juga bukan sembarang healing. Mereka sudah mempersiapkan banyak amplop dan mereka tak lupa meminta beberapa pelayan restoran untuk packing makanan dalam jumlah yang banyak yakni seratus pack makanan dan minuman.
Cara healing mereka lain dari pada yang lain. Mereka hanya sekedar berkeliling membagikan amplop dan makanan pada orang-orang yang membutuhkan.
Hingga hampir semua orang sudah hapal dengan sepasang suami istri ini. Healing mereka tidaklah jalan-jalan ke luar negeri, shopping-shoping. Menghabiskan banyak uang untuk hal yang tidak perlu.
Pada saat mereka sudah sampai di lampu merah pertama. Sudah banyak yang hapal dengan mobi yang di tumpangi mereka. Langsung saja para pengamen jalanan dan pada tukang becak, pemulung, pengemis segera lari mendekat.
__ADS_1
Mereka tak ingin kehabisan jatah. Akan tetapi tidak dengan Saka, ia yang akan mendekat takut dengan tatapan tajam preman yang terus saja mengawasi dirinya dari jarak yang tak begitu jauh.
"Sebenarnya aku ingin sekali meminta pada orang baik itu, pasti makanan yang di berikan dengan cuma-cuma olehnya pasti enak. Apa lagi, orang-orang yang telah mendapatkannya mengantakan jika itu hasil olahan restoran di dermawan itu," batin Saka hanya bisa menelsn air liurnya sendiri.
Sementara para pengemis dan orang yang membutuhkan lainnya telah hd JD mengantri. Dan sudah tidak ada lagi yang mengantri. Kini tinggal satu bingkisan dan amplop.
"Sayang, ini sisa satu. Lah itu ada pengemis di kursi roda. Kok kita baru pernah lihat ya, padahal kita kan sering kemari?" ucap Sandy seraya terus menatap ke arah pengemis yang selalu saja menundukkan.
"Berikan saja padanya, mas. Biar aku tunggu di sini," ucap Nayla.
Hingga pada akhirnya, Sandy pun melengkah menghampiri pengemis tesebut yang tak lain adalah Saka.
"Pak, ini ada sedikit rezeki semoga bermanfaat buat bapak." Sandy meletakkan pack makanan dan minuman serta amplop di pangkuan Saka.
"Terima kasih ya," ucap Saka terus saja tertunduk tanpa berani menatap ke arah Sandy.
"Apakah bapak baik-baik saja?" tanya Sandy berusaha melihat ke arah wajah Saka yang terus saja tertunduk.
"Sepertinya aku tak asing lagi dengan suara dan wajah pria ini? walaupun dandannya kucel. Tetapi aku masih bisa paham? tapi siapa ya?" batin Sandy sendang berpikir.
"Mas, cepat kemari. Anak-anak mencari kita," teriak Nayla dari balik pintu mobil.
Hingga pikiran Sandy buyar yang niat hati sedang berpikir mengingat pengemis yang ada di hadapannya itu.
Sandy lekas berlari kecil ke arah mobil dimana saat ini Nayla sexabg menunggu. Seperginya mobil yang di tumpangi oleh Nayla dan Sandy. Barulah Saka berani menengadah.
__ADS_1
"Ternyata itu kamu, Sandy. Padahal aku memang ingin sekali bertemu denganmu. Tetapi aku malu dengan kondisiku yang seperti sekarang ini,' batin Saka dengan mata berkaca-kaca.
Selagi akan membuka packing makanan yang ada di pangkuannya. Tiba-tiba preman yang mengawasi dirinya datang dan main serobot saja mengambil amplop dan makanan yang ada di pangkuan Saka.