
Adila menduga resepsionis itu meragukan kata-katanya, jadi dia bersiap
untuk itu. Ia mengeluarkan ponselnya dari ransel, membuka sebuah foto dan menunjukkan pada resepsionis.
"Nona, apakah ini direktur utama anda yakni Tuan Muda Saka?"
Resepsionis melihat foto itu dan menggangguk heran karena memang semua orang di gedung itu tahu seperti apa pimpinan mereka. Kenapa gadis kecil itu menunjukkan foto itu padanya?
"Itu yang aku maksud, nona. Tuan Muda Saka itu adalah papahku," ucap Adila tegas seraya tersenyum ramah.
Resepsionis itu terdiam, berpikir gadis kecil itu berbicara yang tak masuk akal. Hanya karena Adila memiliki foto direktur utama mereka, bukan berarti dia adalah putrinya. Tuan Muda Saka memang sering menjadi berita atau sampul majalah. Sangat mudah untuk menemukan fotonya di internet. Bisa di maklumi jika resepsionis itu tidak percaya pada Adila.
"Nona, apa anda tidak percaya padaku? apa anda berpikir jika aku telah berbohong pada, anda?" tanya Adila mengangetkan lamunan resepsionis.
Seketika resepsionis itu menjadi bingung, dia ingin berkata tegas dan kasar tapi tak tega karena yang sedang di hadapi olehnya adalah seorang anak kecil yang sangat manis dan imut.
Resepsionis tak ingin membuat Adila menangis, jika dia berkata lantang padanya.
"Tidak adik kecil, aku percaya kok dengan apa yang barusan kamu katakan. Hanya saja aku sedang bingung, ucapnya pada Adila.
Sebenarnya resepsionis itu memang ragu, tapi akhirnya dia mengatakan" Aku bingung." Adila terlihat sangat menggemaskan hingga resepsionis itu tak tega padanya.
Sementara Adila menghela napas panjang, karena dia sudah begitu lama menjelaskan pada si resepsionis malah resepsionis itu masih saja bingung.
'Nona, coba lihat foto ini dan amati lebih seksama dengan wajahku. Bukankah aku sangat mirip dengannya? Jia aku bukan putrinya, kenapa aku begitu mirip dengannya?" ucap Adila kembali lagi menunjukkan foto Tuan Muda Saka untuk meyakinkan bahwa dirinya adalah anak Saka.
Ketika Adila bertanya kepada Nayla tentang siapa papahnya. Mamahnya mengatakan bahwa papahnya telah meninggal dunia, dan mengatakan makamnya sangat jauh untuk di jangkau. Pada saat itu Adila sempat percaya, tapi rasa percaya itu hilang kala tak sengaja membuka buku diary mamahnya.
Dan juga pada saat melihat acara di televisi dimana Tuan Muda Saka sedang di wawancarai. Kemiripan Adila dengan Tuan Muda Saka menyadarkannya.
Seseorang pernah mengatakan padanya jika anak laki-laki mirip dengan ibunya dan anak perempuan mirip dengan ayahnya.
Bahkan di televisi, Tuan Muda Saka terlihat ramah baginya jadi gadis itu percaya Tuan Muda Saka adalah papahnya.
Resepsionis itu melihat foto Tuan Muda Saka lalu beralih menatap ke arah Adila. Dia menemukan keduanya memiliki alis, mata, hidung, dan bibir yang sama. Adila begitu mirip bagaikan Tuan Muda Saka pada waktu kecil.
__ADS_1
Ketika resepsionis itu menatap ke arah Adila, dia merasa tak asing tetapi tidak tahu dimana dia pernah melihat sebelumnya. Sekarang semuanya masuk akal.
Apakah Adila memang benar anak dari direktur utama mereka?
"Adik, tunggu sebentar ya aku perlu menelpon," ucap resepsionis tersebut.
Saat itu juga sang resepsionis menelpon ke ruangan Natan yakni asisten pribadi Tuan Muda Saka. Karena dia tak bisa langsung menelpon ke ruang direktur utama sudah menjadi aturan seperti itu.
"Ada apa, Ita?"
"Maaf Tuan Natan, ada tamu untuk Tuan Muda Saka. Apakah kiranya bisa bertemu?"
"Tamu, setahuku hari ini beliau tidak ada janji dengan siapapun. Ya sudah kamu bawa saja tamu itu ke ruanganku dulu."
Saat itu juga Ita membawa Adila ke ruangan Natan.
"Mana tamunya?" tanya Natan heran.
"Ini, Tuan." Ita menunjuk ke arah Adila.
"Hai gadis kecil untuk apa kamu ingin bertemu dengan Tuan Muda Saka?" tanya Natan ramah.
"Sebaiknya Om antarkan aku sekarang juga nanti juga Om akan tahu untuk apa aku ingin bertemu dengan, Tuan Muda Saka," pinta Adila.
Entah kenapa Natan seperti terhipnotis oleh Adila hingga dia pun bersedia mengantar Adila ke ruang direktur utama.
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap Natan pada saat sudah ada di ruang direktur utama.
"Mana?" Tuan Muda Saka membalikkan kursinya hingga menghadap ke arah Adila.
"Ini...
"Papah, ini aku. Aku sengaja kemari ingin bertemu," Adila memotong pembicaraan dari Natan.
Sejenak Saka mengerutkan dahinya, menatap seksama ke arah Adila.
__ADS_1
"Gadis kecil, barusan kamu memanggilku apa?" tanya Saka menunjuk dirinya sendiri.
Adila menjadi bingung, pada saat melihat reaksi Tuan Muda Saka. Apakah papahnya dungu atau ada orang lain?
Adila mengangguk dengan sungguh-sungguh," Iya pah. Aku sedang memanggilmu karena kamu adalah papah biologisku."
Natan merasa heran dan terkejut pada saat mendengar pengakuan dari gadis kecil tersebut. Karena dia tak pernah tahu jika Saka pernah dekat dengan wanita. Dia memang asisten pribadinya tapi jika di kantor. Di rumah dia memang tak sepenuhnya tahu kehidupan pribadi Saka.
Tapi kapan direktur utama punya anak? setahu seluruh karyawan, Saka itu tak punya pacar.
Natan menyadari jika dia belum begitu mengenal majikannya karena selama ini dia mengenal hanya sebatas di kantor saja.
Tuan Muda Saka mendadak berdiri dan menatap Adila dengan seksama.
"Hey, siapa yang mengajarimu mengatakan hal ini? aku sama sekali tak kenal kamu, bahkan siapa ibumu pun aku tak tahu menahu. Kenapa kamu datang mengacau dengan mengaku aku ini papah biologismu?"
Natan terus saja heran dan hatinya di penuhi dengan tanda tanya melihat hak itu.
"Gadis kecil ini mengaku sebagai putri direktur utama, apakah ini sebuah lelucon? direktur utama masih perjaka, dan setahuku dia itu belum pernah tidur dengan wanita manapun? tapi entah di rumah aku tak tahu pastinya, ah kenapa aku yang pusing memikirkan hal ini?" batin Natan merasa stres.
"Ia juga tak pernah mendonorkan spermanya. Bagaimana mungkin ia memiliki seorang anak perempuan? gadis kecil itu hanya berbicara omong kosong," batinya lagi.
Sementara Adila terus saja menyakinkan Saka bahwa dirinya adalah anak kandungnya.
"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya, pah. Kamu adalah papahku, jika papah tak percaya mari ikut denganku untu bertemu dengan mamah."
"Dengan begitu, Papah pasti akan percaya jika aku ini anakmu, pah."
Namun Saka sama sekali tak peduli dengan Adila, bahkan ia meminta Natan untuk mengusirnya.
"Omong kosong apa ini, aku itu belum pernah menikah jadi belum punya anak. Apa kamu di suruh mamahmu ya, secara tidak langsung untuk memerasku mentang-mentang aku ini kaya! Natan, bawa anak itu keluar sekarang juga!"
"Dik, ayok kita keluar dari sini," ajak Natan .
Dengan linangan air mata, Adila menuruti kemauan Natan.
__ADS_1