Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Saka Menderita, Sandy Bahagia


__ADS_3

Satu jam di lampu merah, si preman pun memutuskan mengajak pulang Saka. Karena ia sudah puas melihat dari jarak yang tak begitu jauh, banyak yang bersimpati pada, Saka.


"Pak tua, ujiannya sudah cukup. Dan aku puas dengan cara kerjamu ini. Lihatlah yang ada di hadapanmu itu, baru satu jam saja sudah mendapatkan banyak uang," ucapnya seraya mendorong kursi roda dan di bawanya pulang.


Sesampainya di rumah, preman ini menemui temannya.


"Lihatlah, uang ini!"


"Wah, banyak juga ya? padahal ia cuma kerja satu jam saja banyak yang iba padanya dan memberikan uang lima puluh ribuan. Jika dari pagi hingga malam, wahhh....aku tidak bisa membayangkan hasil yang kita dapatkan! bisa cepat kaya dech kita."


"Iya juga, tak sia-sia kita memungutnya pada saat ia kebingungan di jalan."


Hati Saka terasa teriris pada saat mendengar langsung pembicaraan dua preman yang telah memperalat dirinya. Ia sama sekali tidak terima di jadikan sebagai seorang pengemis, tetapi ia sudah tidak bisa berani membantah, karena perangai dua preman itu yang sangat menakutkan.


"Ya Allah, kenapa akhir hidupku menjadi seperti ini? aku sama sekali tidak pernah bermimpi akan hidup susah seperti ini. Bahkan di kala aku sudah tak berdaya, masih saja diperalat diperbudak seperti ini."


"Mau sampai kapan ya, aku ada di bawah cengkraman dua preman ini? jika saja kakiku bisa digerakkan, aku pasti sudah bisa melarikan diri dari mereka."


"Ya ampun, tidak ada satupun yang kini bisa aku harapkan untuk menolong diriku ini. Sandy, dimana kamu? coba saja tiba-tiba aku bertemu dia, pasti akan di tolong."


"Aku percaya jika Sandy tidak akan tega melihatku sebagai pengemis di lampu merah."


Terus saja Saka melamun, ia sangat berharap pada yang menolong dirinya dari cengkeraman dua preman tersebut.


"Heh pak tua! jangan melamun terus, kamu nggak usah khawatir. Kalau hasil mengemis dirimu dapat banyak setiap harinya, kami tidak akan pernah marah. Justru kami akan selalu memberikanmu makan yang cukup dan mengistimewakan dirimu."


"Sekarang kamu tidur dengan yang lainnya. Karena besok pagi kamu sudah harus mengemis dari pagi hingga malam."


"Jadi kamu harus tidur lebih awal seperti teman-teman mu yang lain. Supaya esok tidak bangun kesiangan."


Setelah mengucapkan sepatah kata, dua preman keluar dari rumah kecil itu. Dan tak lupa menguncinya dari luar.

__ADS_1


Dengan bersusah payah, Saka turun dari kursi rodanya dan berbaring di lantai yang hanya beralaskan koran.


Matanya mulai berair, sepintas bayangan masa lalunya lewat. Dimana dulu dirinya selalu hidup enak, bergelimang harta. Kini hidupnya terlunta-lunta.


"Ya Allah, aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini. Baru beberapa jam aku ada di tempat ini saja sudah sangat tersiksa. Apa lagi jika aku harus tinggal di sini dalam waktu yang cukup lama."


"Aku bahkan sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi denganku."


Saka belum juga sadar akan kesalahannya di masa lalu. Ia hanya terus mengeluh dengan keadaan dirinya saat ini.


Berbeda situasi dengan Nayla dan Sandy. Yang saat ini sedang menikmati masa indah mereka. Masa keberhasilan mereka bersama dengan ketiga anaknya.


Sandy tidak pernah membedakan Adilla. Walaupun ia bukan anak kandungnya, tetapi Sandy menyayanginya sepenuh hati. Bahkan kedua adik Adilla tidak tahu sama sekali jika Adilla dan mereka itu beda papah.


Hingga pada suatu hari, di saat Dion dan dan Karmila sedang sekolah. Adilla menyempatkan diri mendekati Sandy yang sedang bersantai di teras halaman sambil membaca surat kabar.


"Pah, aku ingin bicara sebentar dengan papah. Maaf ya, mengganggu waktunya sebentar," pinta Adilla


"Nggak kok, sayang. Duduklah di samping Papah, sepertinya kok ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Sandy memicingkan alisnya.


"Terima kasih untuk apa, Dilla?" tanya Sandy heran.


"Untuk semuanya, pah. Papah sudah menjadi seorang papah yang sangat baik. Walaupun aku ini bukan anak kandung papah, tapi papah tidak menganak tirikan aku."


"Sempat dulu aku berpikir, pada saat aku punya adik. Kasih sayang papah padaku akan berubah."


"Tetapi pikiranku salah. Papah tidak pernah membedakan anak. Bahkan hingga detik ini, baik Dion maupun Karmila tidak tahu jika aku ini bukan anak kandung Papah."


"Pah, terima kasih ya. Terima kasih juga sudah mau mencintai mamahku dengan tulus."


Mendengar curhatan Adilla, sejenak Sandy tersenyum.

__ADS_1


"Dilla, papah melakukan itu karena memang Papah benar-benar sayang padamu dan mamahmu dari dalam hati. Sudah ya, kamu tak usah bersikap seperti ini."


"Papah tidak mau membedakan kamu dengan Dion dan Karmila karena papah sudah pernah merasakan sendiri. Jika di bedakan itu rasanya sakit yang luar biasa."


"Apa lagi dulu papah ini anak kandung. Yang orang bilang jika anak bungsu pasti di manja, tetapi tidak dengan kehidupan papah dulu."


"Nggak usah bahas masa lalu lagi. Kini kita fokus ke masa depan. Dan papah harap jangan pernah mengatakan apa pun pada Dion dan Karmila tentang masa lalumu bahwa kamu ini bukan anak kandung papah."


"Papah juga sudah mengatakan pada mamahmu. Supaya menyimpan rapat-rapat tentang hal ini."


"Dilla, papah tidak ingin ada dinding pemisah diantara kamu dengan kedua adikmu jika mereka tahu kamu ini bukan kakak kandung mereka."


"Kan papah sudah pernah katakan padamu. Supaya tak usah lagi melihat ke belakang. Kini fokus saja melangkah ke depan."


"Jika kamu melihat ke belakang pasti yang ada akan membuat langkahmu terhenti. Ia kan?"


Adilla benar-benar sangat bersyukur karena dahulu di pertemukan dengan Sandy. Pertemuan yang tak di sengaja kala Nayla membuka warung makan.


Selagi keduanya asik bercengkrama, muncullah Nayla dari dalam rumah dengan membawa seorang pisang goreng yang masih hangat dan secangkir kopi susu.


"Bos, ini pesanan anda telah siap di santap. Tapi ingat ya, harus pelan-pelan karena ini masih panas."


Nayla terkekeh seraya meletakkan sepiring pisang goreng dan segelas kopi susu di meja.


"Pah, bagi kopinya ya sedikit."


Belum juga Sandy mengiyakan, tiba-tiba Adilla meraih cangkir kopi yang ada. di meja.


"Eits, kebiasaan banget kamu dari kecil seperti ini! letakkan cepat, nggak sopan dch," tegur Nayla ketus.


"Mah, sudahlah. Toh sudah menjadi kebiasaan Dilla seperti ini, belum kena bibir papah ini. Minumlah Dilla, tak usah kamu dengarkan mamahmu."

__ADS_1


Hingga Adilla meminum sedikit kopi Sandy dan ia juga meraih pisang goreng yang masih panas.


Nayla hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak gadisnya yang sulung.


__ADS_2