
Seperginya Sandy, Nayla melangkah masuk ke dalam. Dan ia tak sengaja mendengar Adilla sedang menangis. Kebetulan pintu kamarnya tak di kunci, hingga Nayla bisa masuk kedalam.
"Dilla, sayang. Kenapa kamu menangis, apa karena orang itu?" tanya Nayla seraya mengusap surai hitam anaknya yang sedang berbaring telungkup.
Adilla langsung bangkit dan merengkuh Nayla dalam pelukannya.
"Mah, aku minta maaf ya. Aku sudah lancang pergi sendiri ke kantornya. Aku minta maaf tidak menuruti nasehat, mamah. Aku janji akan menurut sama mamah dan tak akan lagi ingin di akui anak oleh orang jahat itu. Mah, aku baru tahu jika ternyata Papah Saka itu jahat sekali pada Mamah," ucapnya di sela menangis.
"Sudahlah, Dilla. Mamah yang seharusnya minta maaf, mamah lepas kontrol dalam berkata hingga kamu mendengar semuanya."
"Lain kali, jika mamah minta kamu masuk kamar ya masuk kamar. Karena ada kalanya pembicaraan orang dewasa itu ada yang tak boleh di dengar anak kecil."
"Jujur saja, mamah sedikit kecewa padamu. Kamu pergi ke kantor orang itu tanpa izin mamah. Dan kamu juga tak mengindahkan ucapan mamah supaya tidak menguping pembicaraan orang dewasa."
Mendengar apa yang di katakan oleh Nayla, kembali lagi Adilla meminta maaf.
"Mah, aku minta maaf. Tapi aku ini bukan anak kecil lagi, mah. Aku sudah dewasa karena aku mampu menjaga mamah dari orang-orang yang selalu menghina, mamah. Aku juga mampu memberikan sebuah solusi di saat jualan mamah sepi bukan?" protes Adilla.
"Dilla, umurmu itu baru enam tahun. Tapi daya pikirmu memang seperti umur orang dewasa. Mamah tak ingin kamu dewasa secepat ini, jalani masa anak-anakmu Dilla," ucap Nayla.
"Mamah juga nggak suka kamu sombong, dengan berbangga diri karena bisa bantu mamah memberikan solusi yang tepat untuk usaha dagang mamah," Nayla mencoba menasehati Adilla supaya tidak terlanjur dalam bersikap dan bertutur kata.
"Bagaimana aku bisa, mah? karena aku sudah terlahir seperti ini dengan sifatku yang seperti ini, masa iya aku harus menolak pemberian dari Yang kuasa?" ucap Adilla.
"Sudahlah enggak usah dibahas tentang hal ini. Mulai detik ini dan selamanya mamah inginkan supaya kamu tidak bertanya-tanya lagi tentang papahmu itu. Kita hadapi dunia ini berdua saja, karena tanpa adanya seorang papah pasti kita tetap mampu jalani hari-hari," ucap Nayla.
__ADS_1
"Baiklah, mah. Aku janji tidak akan mengungkit tentang masa lalu mamah, tentang jati diri papah. Aku tidak ingin membuat mamah marah ataupun menangis lagi. Aku janji tidak akan membuat mamah bersedih lagi," ucap Adilla mencoba meyakinkan Nayla.
"Ya Dilla, mamah selalu percaya dengan anak mamah yang pintar ini. Sekarang yang kamu pikirkan adalah belajar dan belajar supaya segala cita-citamu tercapai."
"Mamah ingin kamu kelak menjadi orang yang sukses supaya tidak ada lagi orang yang menghinamu atau merendahkanmu."
"Mamah akan terus berjuang mencari nafkah hingga tetes darah penghabisan demi dirimu, Dilla."
Adila semakin terharu karena ia merasa tak layak mendapatkan segala kasih sayang dan perhatian dari Nayla. Karena ia adalah anak dari seorang pendosa seperti Tuan Muda Saka.
"Mah, terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayang mamah selama ini padaku. Jika ibu yang lain pasti akan benci dengan anak dari hasil rudal paksa dan akan membuangnya atau membunuhnya begitu saja," ucap Adilla terus saja menitikkan air matanya.
"Dilla, tidak ada yang namanya anak berdosa. Kira tidak akan tahu bagaimana cara kita ada di dalam rahim seorang ibu. Semua sudah ada alur dan sudah ada yang mengaturnya yakni yang kuasa."
"Mamah tidak pernah benci denganmu walaupun adanya dirimu karena hal yang sangat membuat mamah trauma."
"Jangan pernah kamu merasa tak layak untuk hidup bersama dengan mamah karena proses terbentukmu dengan cara yang salah. Hilangkan sifat itu ya, Dilla. Mamah sangat sayang padamu hingga akhir hidup mamah."
Adilla merasa beruntung terlahir dari rahim Nayla. Seorang wanita yang sangat bijaksana dan baik hati serta penyayang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Nayla pada saat memperjuangkan kehamilannya itu.
"Mah, aku janji akan membuat mamah bahagia selamanya. Aku janji akan membungkam mulut orang-orang yang telah hina mamah."
"Dan aku janji mah, akan membalaskan sakit hati mamah padanya. Kini aku tidak memandang ia seorang papah, tetapi aku kini memandangnya musuh besarku."
"Setelah aku tahu semuanya dan bahkan ia tak juga sadar akan kesalahannya. Bahkan terus saja menyalahkan, mamah. Aku kibarkan bendera peperangan dengannya."
__ADS_1
"Ia juga telah ingkar janji padaku. Katanya setelah tes DNA itu keluar dan jika hasilnya memang positif aku ini anaknya, ia tak akan lagi menolakku."
"Ia bukan hanya menolakku, tetapi telah mencaci maki mamah sedemikian rupa dengan segala tuduhannya yang sungguh menyakitkan. Seumur hidup aku takkan melupakan ini."
"Lihat saja, aku akan membuatmu hancur-sehancur-hancurnya! seperti apa yang telah kamu lakukan pada mamah!"
Kini tidak ada lagi rasa kagum dan sayang di hati Adilla pada Saka. Setelah ia tahu semuanya dan setelah mendengar sendiri penghinaan yang Saka lakukan di depan matanya. Ia kini menyimpan amarah dan dendam serta kebencian yang mendalam, tanpa sepengetahuan Nayla.
Melihat sikap diam nya Adilla, Nayla menjadi heran.
"Dilla, apa kamu tak apa-apa?" tanya Nayla seraya merenggangkan pelukannya dan menatap sendu pada anaknya.
"Tidak, mah. Aku baik-baik saja kok, mamah nggak usah khawatir. Oh ya, besok menu jualan mamah apa saja biar aku post di semua akun media sosial aku, mah," ucap Adilla mengalihkan pembicaraan.
Sejenak mereka melupakan apa yang telah terjadi dan bercengkrama layaknya partner kerja. Nayla mengatakan apa saja yang akan besok di masak dan Dilla dengan seksama mencatatnya.
Gadis kecil berumur enam tahun telah mampu membantu mamahnya mencari sebuah solusi yang tepat untuk usaha mamahnya. Bahkan dengan gayanya yang khas, ia mampu memikat para pelanggan yang ada di akun sosial media.
Cara menawarkannya itu bak seperti orang dewasa, bahkan ia juga memakai profil foto Nayla untuk semua akun sosial medianya. Tidak ada yang tahu jika yang menawarkan segala menu masakan adalah seorang anak yang baru berumur enam tahun.
Sementara di kediaman mewah Saka, ia sedang berdebat dengan Sandy.
"Ka, tega sekali kamu menolak Dilla! apa kakak lupa dengan ucapan kakak jika hasil tes DNA menunjukkan ia itu anak biologis kakak, kakak akan mengakui dan merawatnya! kenapa sekarang berubah pikiran?" bentak Sandy kesal.
"Sandy, kecilkan suaramu jangan sampai orang rumah tahu. Ini aib buatku, paham!" tegur Saka panik.
__ADS_1
"Astaga Ka, aku sungguh....
"Ussst....diam! lihat siapa yang datang kemari!" Saka membungkam mulut Sandy.