
Pada saat di dalam mobil, sejenak Adilla teringat pada mamahnya. Ia pun mengirimkan chat pesan ke nomor ponsel Nayla tanpa sepengetahuan Saka.
[Mah, aku minta maaf ya karena aku bertindak seperti ini. Bukan berarti aku tak sayang pada mamah dan Papah Sandy. Justru aku melakukan ini untuk kalian semua. Sudah sejak lama aku menunggu moment seperti ini. Bahkan sejak aku masih kecil, jika suatu saat nanti aku akan membalas semua perlakuan Saka pada kita. Doakan saja usahaku berhasil dengan cepat dalam menghancurkan orang gila ini. Peluk cium dan sayang dariku untuk mamah dan papah selalu.]
[Mah, tak perlu khawatir dengan diriku. Aku pasti bisa jaga diri. Aku sengaja tak mengatakan niatku ini karena aku yakin pasti mamah dan papah akan melarangku. Makanya aku nekad pergi, karena aku tak rela melihat Saka berjaya selamanya. Aku ingin ia merasakan kesakitan, kesedihan seperti yang pernah di rasakan oleh mamah, papah, juga mendiang Oma dan opa.]
Drt drt drt drt drt
Drt drt drt drt drt
Dua notifikasi chat pesan tersebut langsung terkirim ke nomor ponsel milik Nayla.
Sandy yang melihat ponsel Nayla di meja bergetar tetapi Nayla masih saja asik melamun, ia pun meraih ponsel Nayla.
"Sayang, bukalah pesan yang masuk. Mungkin saja itu dari Dilla."
Sandy memberikan ponsel Nayla kepadanya, akan tetapi Nayla tak mau menerimanya.
"Kamu saja yang baca mas," tolaknya terus saja pandangan kosong.
Sandy membaca dua pesan chat tersebut begitu keras supaya Nayla mendengarnya juga. Setelah tahu isi chat pesan dari Adilla, tak lantas membuat Nayla tenang. Justru ia semakin bertambah khawatir apa lagi setelah mengetahui niat Adilla ingin membalas dendam pada Saka.
"Ya Allah, Dilla. Ternyata sakit hatimu pada Saka masih ada sampai detik ini. Mamah nggak tahu sama sekali jika kamu ingin membalas dendam. Tapi mama sama sekali tidak suka," ucap Nayla menahan air matanya supaya tidak tertumpah.
Sandy bisa merasakan kesedihan yang di alami oleh Nayla karena ia adalah seorang ibu. Apalagi pada saat Adilla masih ada di dalam kandungan, Nayla hanya berjuang sendirian. Pasti saat ingin yang ia pikirkan khawatir terjadi apa-apa pada Adilla.
"Sayang, jangan berlarut dalam kesedihan. Yang terpenting kita tahu bahwa Dilla masih sayang pada kita dan tak melupakan kita. Dia hanya pergi sejenak, dan jika misinya telah berhasil pasti ia akan pulang pada kita."
"Sebenarnya aku juga tidak suka dengan cara Dilla ingin membalas dendam pada Saka seperti ini. Menurutku itu tidaklah penting. Tetapi mau bagaimana lagi jika Dilla sudah berkeinginan seperti itu. Kita doakan saja supaya ia selalu sehat."
__ADS_1
"Sayang, aku akan mencoba membujuk lagi supaya Dilla mau pulang dan mengurungkan niatnya untuk balas dendam. Sekarang kamu tak usah bersedih lagi ya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sandy, tak lantas membuat Nayla lega hati dan pikirannya. Ia tetap saja khawatir padanya.
"Mas, tolong ya sebisa mungkin kamu bujuk Dilla pulang. Dan katakan padanya bahwa ia tak perlu melakukan balas dendam seperti itu. Sama sekali nggak penting. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang ini. Aku tak ingin lagi berhubungan dengan orang jahat itu! malah Dilla menantang bahaya," ucap Nayla lirih.
"Sudahlah, sayang. Jika kamu terlihat sedih seperti ini, nanti yang ada Dion dan Karmila akan curiga."
Sejenak Nayla pun menghela napas panjang dan ia ingat kepada kedua anaknya yang lain.
"Apa yang kamu katakan memang benar adanya, mas. Aku tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan karena masih ada Dion dan Karmila," ucap Nayla mencoba tersenyum.
"Mas, lantas kita berasalan apa pada Dion dan juga Karmila jika mereka bertanya tentang keberadaan Dilla?" tanya Nayla menatap sendu pada Sandy.
"Katakan saja pada mereka jika Dilla sudah mendapatkan pekerjaan. Tetapi di luar kota sehingga harus menginap," ucap Sandy.
"Hem, baiklah mas."
Satu jam kemudian, Adilla sudah sampai di rumah mewah milik Saka. Ia pun lekas turun dan tiba-tiba Saka merangkul dirinya. Sebenarnya Adilla sangat tidak suka dengan perilaku Saka yang sok akrab ini.
"Dilla, sayang. Mulai sekarang dan selamanya kamu akan tinggal bersama papah di rumah ini. Kamu nggak usah khawatir karena di rumah ini tidak banyak orang. Hanya papah dan istri papah," ucap Saka.
"Lantas kemana anak papah yang lain?" tanya Adilla menyelidik.
"Papah tidak punya anak dari pernikahan papah yang sekarang. Jika tahu akan seperti ini dulu papah tak jahat padamu dan mamahmu. Sekali lagi papah minta maaf ya," ucap Saka.
"Hem dasar licik, jadi Saka tidak tulus ingin bertemu denganku. Ia melakukan ini karena khawatir tentang masa tuanya yang tidak akan ada yang mengurusnya karena tidak punya keturunan," batin Adilla semakin benci pada Saka.
Selagi Saka terus saja merangkul Adilla melangkah akan masuk ke dalam rumah Saka. Langkah mereka terhenti oleh suara deru mobil yang berhenti tepat di pelataran.
__ADS_1
Seketika itu juga, Saka dan Adilla menoleh. Mereka melihat Santi turun dari mobil dengan wajah marah bahkan pada saat menutup pintu mobilpun sengaja di banting sempat membuat Saka dan Adilla terlonjak kaget.
"Apa-apaan ini? Mas Saka, kenapa kamu bawa dia kemari? dan siapa gadis ini?" tanya Santi menatap tak suka pada Adilla.
Belum juga Saka menjawab, Adilla sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Santi.
"Perkenalkan, namaku Adilla. Aku adalah anak dari Papah Saka."
Ia tersenyum seraya mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Santi tetapi Santi sama sekali tak merespon.
"Apa, anak?" tanya Santi serasa tak percaya.
"Iya, Santi. Dilla ini anak kandungku yang sempat aku tolak dulu, padahal aku yang jahat pada ibunya. Masa mudaku dulu nakal. Dan pada suatu hari aku merudal paksa seorang wanita hingga hamil. Ya mamah dari Adilla," ucap Saka jujur.
"Mas, kenapa pula kamu bawa ia kerumah ini? aku tak suka ya!" bentak Santi.
"Santi, kita ini sudah tua bukan anak kecil lagi. Bukan anak ABG, jadi tak perlulah kamu bersikap seperti ini. Masa iya kamu tak paham untuk apa aku bawa Dilla kemari? apa kamu mau masa tua kita tidak ada yang mengurusnya, karena tidak ada anak sama sekali?" ucap lantang Saka.
Sejenak Santi hanya diam, ia pun berlalu pergi tanpa berkata lagi. Bahkan pada saat masuk ke dalam rumah, ia sengaja menabrak Adilla.
"Minggir, Kamu!"
Santi menabrak Adilla.
"Cocok sekali dengan Saka. Sama-sama sombong!" batin Adilla.
"Dilla, kamu jangan memikirkan mamah sambungmu itu ya. Sebenarnya ia baik, hanya saja ia belum terbiasa padamu," ucap Saka.
"Iya pah. Aku tahu kok, nggak usah khawatir aku tidak marah atau tersinggung," ucap Adilla.
__ADS_1
"Hem, mamah? sampai kapanpun aku tidak akan memanggil wanita angkuh tadi dengan sebutan mamah. Mamah aku hanya satu Mamah Nayla," batin Adilla.