
Sejenak Adilla diam, pada saat dirinya di nasehati oleh Sandy dan Nayla. Ia seolah sedang berpikir.
Selagi Adilla diam, Nayla pun berkata kembali pada Adilla.
"Dilla, mamah mengkhawatirkan satu hal. Jika kamu terbukti balas dendam padanya, mamah khawatir ia juga akan dendam padamu. Tetapi ia balaskan lewat Dion atau Karmila. Mamah nggak mau itu terjadi, Dilla."
"Mamah, mohon. Dengarkan apa yang mamah katakan ini, nak. Mamah hanya ingin ketenangan dan kedamaian menjalani kehidupan ini bersama suami dan ketiga anak mamah."
"Yakinlah, nak. Setiap perbuatan pasti ada balasannya. Allah itu adil, pembalasan itu hakNya bukan hak dirimu."
Adilla semakin gelisah mendengar apa yang barusan di katakan oleh Nayla. Ia jadi berpikir hal yang sama, apa lagi istrinya yang sekarang begitu benci pada dirinya.
"Sebenarnya apa yang mamah katakan ada benarnya juga. Aku nggak ingin kedua adikku yang menerima akibat dari apa yang aku lakukan. Aku juga tak ingin mengalami penyesalan jika itu terjadi."
Setelah bertarung dengan diri sendiri. Akhirnya ia pun telah memutuskan untuk patuh terhadap apa yang dikatakan oleh Nayla dan Sandy.
"Mah-pah, aku minta maaf ya. Aku hampir saja berbuat hal yang tak baik. Aku sama sekali tidak memikirkan sebab dan akibat dari dampak perbuatanku. Aku juga tak ingin kelak kedua adikku yang mendapatkan imbas tidak baik dari apa yang aku lakukan," ucap Adilla.
"Apa dengan kamu berkata seperti ini menandakan bahwa kamu tidak akan melanjutkan untuk membalas dendam?" tanya Nayla menatap tajam Adilla.
"Iya, mah. Aku tak ingin mengecewakan mamah dan papah serta adik-adik. Aku sudah cukup bahagia karena punya papah seperti Papah Sandy yang sangat setia dan tanggung jawab pada kita," ucap Adilla meyakinkan kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, mamah senang dan lega dengarnya. Sudah tak usah kamu melihat kebelakang dimana banyak sekali kekecewaan yang akan membuat langkahmu ke depan menjadi terhambat."
__ADS_1
"Jika kamu fokus menatap ke depan, pasti akan ada jalan indah dan masa depan cerah bagi dirimu juga kedua adikmu."
"Balas dendam itu tidak baik, jika tidak berdampak padamu bisa berdampak pada keluargamu entah itu mamah atau papah bahkan bisa berdampak kepada dua adikmu."
Sandy juga ikut senang karena Adilla mau mendengarkan nasihat dirinya dan Nayla.
"Dilla, mulai sekarang jika kamu ingin melakukan suatu hal. Jangan langsung kamu bertindak begitu saja, tetapi kamu harus berpikir dulu sebelum bertindak."
"Untung saja kamu baru berencana, jika semua sudah kamu lakukan. Hal buruk bisa saja menimpa kita. Kita fokus saja pada kehidupan kita dan masa depanmu, nak."
Adilla merasa terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Sandy. Ia bukan papah kandung tetapi ia begitu baik dan sangat perhatian. Bahkan kasih sayang Sandy melebihi kasih sayang Saka.
"Pah, terima kasih ya. Meluruskan jalan hidupku yang hampir saja berbelok ke arah yang salah. Baiklah aku akan mengurungkan niatku untuk membalas dendam."
"Awalnya aku ingin bala dendam dengan cara aku akan memanipulasi data perusahaan milik Saka. Sehingga semua menjadi milikku dan Saka bangkrut."
Sejenak Sandy menghela napas panjang mendengar rencana buruk yang ada di otak Adilla.
"Dilla, seumpama kamu berhasil. Papah sama sekali tidak akan bersedia menerima pemberian darimu hasil dari merampas milik orang lain. Walaupun itu sebenarnya seharusnya milik papah. Kamu pikir papah akan mau?"
"Jika Papah mau, dari dulu papah rebut semua itu. Tapi menurut papah itu tidak penting, Dilla."
"Kamu bisa melihat kan? kuasa Allah itu sangat luar biasa dalam kehidupan kita. Walaupun papah tak merasakan peninggalan harta dari mendiang Opa dan Oma. Tetapi kita sekarang berkecukupan bukan, bisa dibilang sukses."
__ADS_1
"Allah punya banyak seribu cara dan jalan untuk memberikan rezeki pada kita. Jadi tak usah lagi menginginkan untuk balas dendam dengan memanipulasi data perusahaan."
"Segala kecurangan yang dilakukan walaupun itu untuk ajang balas dendam membalas kejahatan. Tetap saja itu bukan hal baik, Adilla."
"Jika kamu mendengar dan menjalankan nasehat mamah dan papah. Kami yakin masa depanmu akan ceria."
"Jadilah anak yang berbakti pada orang tua dengan cara tidak melakukan segala hal dengan semaunya sendiri. Kamu harus membicarakan segalanya dengan orang tuamu ini."
Nayla juga merasa terharu pada saat mendengar segala nasehat dari Sandy untuk Adilla.
"Subahanallah, walaupun Mas Sandy saudara kandung pria jahat itu. Tetapi sifatnya sungguh jauh berbeda. Ia benar-benar sangat bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia juga selalu bertutur kata lembut. Selama aku berumah tangga dengannya, tak pernah ia bertindak kasar padaku. Kami hanya kerap kali berselisih paham kecil, setelah itu tidak berlanjut dengan pertengkaran yang hebat," batin Nayla memuji sifat Sandy.
"Mah-pah, aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Aku juga entah kenapa tidak kerasan pada saat tinggal di sana. Apa lagi istri Saka tidak bersahabat denganku, ia memusuhiku," ucap Adilla jujur.
"Nah, kamu lihat kan? satu orang sudah memusuhi dirimu. Ini tidak baik, jika kamu terus berada di sana. Ia bisa dendam padamu tapi ia limpahkan ke adik-adikmu," ucap Sandy.
"Ih amit-amit, pah. Aku tak mau, Dion dan Karmila mengalami hal buruk karena aku. Aku juga sudah tahu, pah. Kenapa Saka mencariku. Dia itu tidak punya anak. Dari pernikahan dia yang sekarang itu sama sekali tidak ada anak. Saka saat ini sedang ketakutan dengan masa tuanya yang akan kesepian dan tak ada yang mengurus dirinya kelak," ucap Adilla.
"Bagaimana kamu tahu akan hal itu?" tanya Nayla penasaran.
"Saka sendiri yang menceritakannya padaku pada saat aku baru datang. Ia juga meminta maaf padaku, dan bahkan ia sudah berniat menjadikanku asisten pribadinya di kantor," ucap Adilla.
"Hem, begitu ya? setelah mendengar ceritamu saja, papah sudah bisa menyimpulkan. Dimana saat ini Saka sudah mulai menerima karma dari perbuatannya dulu. Jadi kita tak perlu repot-repot membalas dendam yang hanya akan menambah dosa kita saja. Lantas apa kamu akan tetap bekerja di kantor Saka?" tanya Sandy penasaran.
__ADS_1
"Setelah mendengar semua nasehat dari mamah dan papah. Aku tidak akan bekerja di kantor Saka. Dan aku juga akan mengembalikan semua yang telah Saka beri padaku. Aku akan di sini saja dengan mamah dan papah serta adik-adik," ucap Adilla.
"Baguslah jika begitu, dengan begitu kami menjadi tenang dan tak cemas memikirkan dirimu. Hidup dengan rasa kebencian dan dendam itu tidak baik," ucap Nayla.