
Beberapa hari setelah kejadian itu, Adila sudah tak menanyakan lagi tentang Papahnya. Tetapi dia benar-benar tak bisa memaafkan sikap Saka.
"Mah, besok kan aku libur sekolah. Nanti malam aku ikut begadang bantu mamah masak untuk warung makannya ya? aku nggak mau mamah terlalu cape sendiri," ucap Adila.
"Nggak usah, Dila. Tugasmu itu belajar dan sekolah saja tugas mencari uang itu tugas Mamah," ucap Nayla melarangnya.
"Mah, janganlah seperti itu. Aku nggak mau mamah terlalu capek, lagi pula ini kan cuma pada saat hari libur saja biasanya kan aku nggak bantuin mamah sama sekali," ucap Adila.
Seperti itulah sifat Adila yang keras kepala jika dia sudah berkehendak tidak bisa dicegah sama sekali. Hingga pada akhirnya Nayla pun menuruti kemauan anaknya tersebut.
******
Tak terasa pagi menjelang, jika di hari libur biasa warung makan milik Nayla ramai. Tetapi sekarang sepi pembeli, hanya beberapa orang saja yang datang.
"Mbak, aku mau makan satu porsi ya," pinta seseorang.
"Ya, mas. Sebentar saya siapkan, oh ya lauknya apa saja ya?" tanya Nayla ramah."
Pemuda itu langsung menunjuk beberapa macam sayur dan lauk yang telah tersedia.
"Mbak, maaf mau tanya itu yang sedang belajar anaknya?" pemuda ini menunjuk ke arah Adila yang sedang fokus belajar.
"Iya Mas, dia anakku."
Pemuda ini penasaran hingga ia pun mendekati Adila dan menyapanya. Pada saat pemuda ini melihat wajah Adila ia merasa tak asing baginya.
"Kenapa wajah gadis kecil ini mirip sekali dengan, Ka Saka?" batin pemuda ini yang ternyata adalah adik kandung Saka.
"Hai Om, selamat pagi menjelang siang," sapa Adila tersenyum manis pada pemuda tersebut.
"Siang juga adik kecil yang cantik yang manis siapa namamu?" tanya pemuda ini.
"Namaku Adila, Om. Lantas Om sendiri siapa namanya?" tanpa sungkan Adila mengulurkan tangannya pada pemuda tersebut.
"Nama Om, Sandy."
__ADS_1
Keduanya langsung akrab begitu saja, sambil Sandy menyantap makanan dia bercanda ria dengan Adila.
Hingga canda tawa mereka terhenti pada saat tetangga julid datang.
"Wah ternyata masih ada yang mau makan hasil masakan dari wanita yang tak punya suami dan punya anak haram ini."
"Mungkin dia belum tahu, Bu. Kisah tentang Nayla hingga dia masih mau makan di warung ini."
Dua wanita tetangga Nayla menghinanya hal ini membuat Adila yang mendengarnya langsung naik pitam dia pun menghentikan belajarnya dan menghampiri kedua ibu itu sambil berkaca pinggang melotot pada mereka.
"Heh, Bu! sudah aku bilang kalian jangan pernah menghina mamahku! dan perlu kalian tahu aku ini bukan anak haram! jika kalian tahu siapa papahku, kalian pasti akan malu dan hormat padaku!" bentak Adila.
Nayla lekas menghampiri anaknya dan membekap mulutnya serta membawanya masuk ke dalam warung.
"Dila, sudah berapa kali mamah katakan. Nggak boleh kamu seperti itu, biarkan saja mereka berkata macam-macam. Kamu lihat, gara-gara ulahmu waktu itu. Warung kira jadi sepi pembeli, lantas kita akan bisa bertahan hidup bagaimana?" ucap Nayla bingung.
"Mah, mereka dulu yang kurang ajar pada kita! masa iya kita biarkan saja. Mamah nggak perlu khawatir, nanti aku bantu jualin semua dagangan mamah. Mulai besok nggak usah masak banyak-banyak, nanti aku ajarin cara jitu untuk berjualan tanpa kita rugi," ucap Adila meyakinkan Nayla.
Namun di dalam hati Nayla nggak percaya pada anaknya. Masa iya anak umur enam tahun bisa mencari solusi yang tepat untuk usaha warung makannya.
"Sepertinya ada yang tak beres dengan kehidupan Adila dan mamahnya. Aku perlu selidiki hal ini lebih lagi. Aku akan buat Adila lengket dan dekat padaku sehingga dia tak sungkan cerita semua tentang hidupnya,' batin Sandy.
"Dila, om boleh tahu nggak apa rencanamu untuk mamahmu?" tanyanya selesai makan.
"Om, lihat kan tadi seperti apa tetangga di sini? ini semua karena ulah papah yang..
"Dila, kamu lupa dengan apa yang mamah katakan?" Nayla memotong pembicaraan Adila.
"Begini, om. Aku akan menawarkan dagangan mamah lewat sosial media. Dan aku akan sewa jasa ojek untuk kerjasama antar setiap pesanan."
"Aku juga akan buat brosur dimana akan aku promoin semua masakan mamah yang super nikmat dengan menerima jasa catering."
"Dengan begini mamah tak rugi dan tak usah capek-capek masak terlalu banyak. Kita masak jika sudah ada pesanan saja, mah."
Mendengar ide dari Adila yang baru berumur enam tahun membuat Sandy heran dan takjub. Dia tak menyangka di samping Adila pemberani dengan membela mamahnya, dia juga mampu memberi solusi yang tepat untuk mamahnya.
__ADS_1
"Tuh kan, aku saja bingung mau di apakan makanan ini. Tapi Adila tahu solusi yang tepat. Aku sama sekali tak berpikiran sejauh itu," batin Nayla.
Adila memotret semua masakan yang telah matang tersebut dan dia mulai menawarkannya di sosial media. Bahkan dia telah menggambar begitu bagus untuk di cetak sebagai brosur.
"Oh iya, mba. Jika di izinkan aku juga akan bantu menawarkan semua masakan mba ke tempat kerjaku ya?" ucap Sandy.
"Memangnya tidak merepotkan, mas?" tanya Nayla ragu.
"Tidak, mba. Kebetulan kantorku sering butuh catering untuk acara kantor. Nanti aku promoin. Oh ya, Dila. Om boleh kan minta nomor ponselnya?" tanya Sandy.
"Boleh dong, om. Kita kan freand."
Saat itu juga Adila menunjukkan nomor ponselnya pada Sandy.
********
Sejak saat itu hubungan antara Sandy dan Adila begitu dekatnya. Hingga pada suatu hari, Adila meminta hal yang membuat Sandy dan Nayla terbelalak.
"Om Sandy, maukah jadi papah angkatku?" ucapnya.
"Dila, kenapa kamu lancang seperti itu? Mas Sandy maafkan anak saya ya?" Nayla merasa tak enak hati, dia pun menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Mba, biarkan saja. Lagi pula aku tak keberatan kok jika aku jadi papah angkat. Bahkan jadi papah beneran juga aku tak keberatan,' ucap Sandy tanpa sadar.
"Om, serius? jika jadi papah aku beneran mau?" Adila begitu antusiasnya.
"Iya, Dila. Tapi jika mamahmu mau sih," Sandy melirik ke arah Nayla.
"Maaf, Mas. Saya belum berpikir untuk menikah," ucapnya lirih.
"Mah, apa mamah masih memikirkan papah yang tak bertanggung jawab itu! aku juga ingin seperti yang lainnya, mah. Ingin punya papah , aku lelah di ejek terus sama teman-teman," ucap Adila keras kepala.
"Dila, berapa kali mamah katakan tak usah katakan hal itu!"
"Mah, aku bisa merasakan kalau Om Sandy ini orang baik nggak kaya papah!" lagi-lagi Adila menyebutkan kata papah.
__ADS_1
Membuat Sandy semakin penasaran dengan papah kandung dari Adila.