Mengandung Benih Tuan Muda

Mengandung Benih Tuan Muda
Di Usir Dari Rumah


__ADS_3

"Sandy, kenapa kamu hanya diam saja? jawab apa yang barusan papah tanyakan! siapa wanita yang kamu nikahi itu, apakah ia dari kasta yang sama dengan kita, hah? jika memang ia dari kasta yang sama, papah akan mengampuni dirimu walaupun ia itu telah punya anak. Dan bahkan akan papah akui ia menantu, papah. Tetapi jika ia hanya dari kasta rendahan, papah tidak akan segan-segan menentangmu!" ucap Papah Alan dengan suara bernada tinggi.


"Pah, aku minta maaf karena tak mengatakan hal ini sebelumnya. Memang aku telah menikah dengan seorang wanita yang sudah punya anak. Tapi....


Sandy merasa ragu pada saat ia akan mengatakan jika wanita itu adalah Nayla. Karena ia tak ingin nantinya ia di pisahkan dengan Nayla dan Adilla. Hingga ia pun menutupi jati diri istri dan anaknya.


"Tapi apa? pasti kamu ingin katakan jika wanita itu hanya orang biasa kan?" tanya Papah Alan penasaran.


"Pah, sabar sedikit kenapa sih? bicaralah yang santai dan jangan emosi seperti itu," sela Mamah Nany yang tak tega melihat Sandy terus saja di pojokkan oleh suaminya.


"Diam kamu, mah! selalu saja kamu membelanya, hingga ia berbuat memalukan seperti ini!" bentak Alan pada istrinya hingga sempat membuat Mamah Nany terlonjak kaget.


"Mah, sudahlah jangan terus membela Sandy. Sekarang mamah lihat kan, perbuatannya sangat memalukan," ucap Saka.


"Diam kamu, Saka! justru...


"Mah, sudahlah jangan ikut bicara. Biar semua ini aku yang selesaikan dengan papah," Sandy memberi kode pada mamahnya dengan tatapan matanya yang sendu dan sedikit gerakan menggelengkan kepalanya supaya mamahnya tak mengatakan kejujuran.


"Sandy, katakan siapa wanita yang kamu nikahi?" bentak Alan kasar.


"Pah, aku memang menikahi wanita bukan dari kasta sederajat dengan kita.. Tetapi ia wanita yang tangguh dan sangat luar biasa," ucap Sandy memuji Nayla di hadapan Alan.


"Brug!" Alan memukul meja dengan tangannya.


"Apa, jadi dugaan papah benar? beraninya kamu menikah dengan kalangan rendahan seperti itu! apa kamu nggak mikir, perbuatanmu itu mencoreng nama baik papah, hah! papah minta kamu ceraikan ia sekarang juga!" perintah Alan kasar.

__ADS_1


"Nggak, pah. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya, karena aku benar-benar cinta padanya dan juga sudah menganggap anaknya seperti anakku sendiri, pah," ucap Sandy menolak keinginan papahnya.


"Baiklah, jika memang kamu lebih memilih wanita itu dan anak haramnya! sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini! dan satu lagi, kamu tak boleh membawa harta milik papah sama sekali! tinggalkan mobil!" bentak Alan.


"Pah, ingat pah. Sandy itu anak kandung kita, jangan kamu perlakukan ia seperti ini. Ini tak adil buatnya, apa papah nggak sadar jika selama ini papah juga sudah tak berlaku adil pada Sandy? seharusnya seorang anak bungsu mendapatkan kasih sayang penuh, tapi tidak dengan Sandy. Ia malah bagai di anak tirikan."


"Ia pun tak pernah protes dengan apa yang kamu lakukan, pah. Ia diam saja dan ikhlas menerima sikapmu yang menganak emaskan Saka. Mamah mohon jangan usir Sandy, pah."


Mendengar apa yang di katakan oleh istrinya, tak lantas membuat dirinya sadar akan kesalahannya selama ini. Ia malah bertambah emosi.


"Mah, jika kamu terus membela Sandy. Kamu sekalian saja ikut pergi bersamanya!" usirnya kasar.


"Pah, jangan. Biarkan mamah tetap tinggal di sini, baiklah aku akan pergi sekarang juga," ucap Sandy.


"Jangan, mah. Mamah tetaplah di sini bersama papah dan Ka Saka saja ya," pinta Sandy memberikan pengertian pada Mamah Nany.


Tapi mamahnya tetap saja berkeras hati ingin ikut pergi bersama dengan Sandy, hingga akhirnya Sandy mengizinkan karena ia tak ingin melihat air mata terus saja menetes di pipi mamahnya.


Saat itu juga Sandy dan mamahnya mengemasi semua barang-barangnya. Dan beberapa menit kemudian, mereka sudah ada di hadapan Saka dan Alan.


"Pah-Ka Saka, kami pamit pergi ya. Jaga diri kalian baik-baik," pamit Sandy seraya menuntun mamahnya.


Namun sejenak langkah mereka terhenti tat kala Alan memanggil.


"Tunggu dulu, Sandy."

__ADS_1


"Mulia saat ini juga kamu papah pecat dari perusahaan Saka. Karena papah tak ingin uang papah kamu gunakan guna menafkahi wanita yang kamu nikahi dan anak haramnya itu!" bentak Alan.


"Pah, jangan terlalu kejam pada anak sendiri. Bagaimana pun Sandy ini anak kandung, kelak kamu akan menyesal jika tahu kebenarannya!" ucap Mamah Nany lantang.


"Mah, sudahlah. Ayok kita pergi, tak usah membantah apa pun yang papah katakan," ucap Sandy melerai.


"Kebenaran yang mana? menikahi wanita yang punya anak haram kamu anggap kebenaran? hah, begini caramu mendidik Sandy hingga ia tumbuh menjadi lelaki yang tak berguna sama sekali?" ejek Alan tersenyum sinis.


"Pergi sana, aku tak akan meminta mobil yang kamu pakai. Karena aku masih punya hati nurani, nggak tega sama mamahmu jika alat transportasimu aku ambil!" usir Alan tak ada rasa belas kasihan sama sekali.


Saka yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sinis. Ia bukannya merasa iba pada mamah dan adiknya, tetapi ia seperti orang yang sangat senang.


Sandy kembali melangkah bersama Mamah Nany menuju ke mobil Sandy.


"Sandy, kenapa dari tadi sepertinya kamu melarang mamah terus setiap mamah akan mengatakan perihal Nayla dan Dilla bahwa Dilla itu anak biologis Saka?" tanya Mamah Nany heran.


"Mah, masa mamah belum hapal sifat Ka Saka? dia saja mampu menolak Dilla secara langsung pada saat hasil tes DNA itu keluar. Dia telah ingkar janji dengan mengatakan akan mengakui Dilla sebagai anaknya setelah melihat Nayla. Ka Saka itu tak pernah sadar akan kesalahan fatal yang ia lakukan pada, Nayla di masa lalu. Jadi percuma saja jika kita jelaskan secara detail pada papah," ucap Sandy.


"Iya, benar juga sih apa yang kamu katakan. Lantas jika kamu tak kerja di kantor papah, kamu akan kerja apa?" tanya Mamah Nany.


"Mamah nggak usah khawatir, aku pasti bisa menafkahi mamah, Nayla, juga Dilla," ucap Sandy meyakinkan mamahnya seraya asik mengemudikan mobilnya.


"Sandy, mamah benar-benar bangga punya anak seperti dirimu," puji Mamah Nany.


"Mah, seharusnya mamah tak usah membelaku yang akhirnya mamah ikut terusir juga dari rumah papah. Aku nggak tega jika mamah ikut denganku, karena pasti awal kehidupanku tidak semewah di rumah papah, mah. Aku akan hidup sederhana bersama istri dan anakku," ucap Sandy dengan mata berkaca-kaca tak tega pada mamahnya.

__ADS_1


__ADS_2