
Beberapa hari kemudian, Alan sudah bisa kembali ke rumah. Kondisinya sudah pulih hingga dokter mengizinkannya untuk pulang. Alangkah terkejutnya Alan pada saat melihat ada Nesa dan mamahnya di rumah mewahnya itu.
"Saka, kenapa kamu mengajak mereka tinggal di rumah ini?" tegur Alan ketus.
"Pah, aku kan sudah menikah dengan Nesa. Jika tidak, reputasi kita akan hancur oleh video itu makanya aku tetap mau menikahinya bahkan Nesa meminta ia dan mamahnya tinggal di rumah ini," ucap Saka tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Tanpa kamu menikah dengannya, reputasi kita telah hancur! bodoh sekali kamu! apa kamu lupa dengan perbuatannya yang memutar video syur itu!" bentak Alan.
Belum juga Saka berkata, Nesa menghampiri Alan.
"Papah mertua, tolong jangan marah-marah nanti bisa masuk rumah sakit lagi loh. Aku memang salah, tapi semua itu aku lakukan karena aku sangat cinta pada Mas Saka. Maafkan kesalahanku yang lalu ya papah mertua," ucap Nesa seraya tersenyum.
"Awas kamu, menyingkirlah dari hadapanku! kamu pikir aku sudi punya menantu miskin seperti dirimu dan rendahan!" ejek Alan.
Mendengar umpatan dari Alan, hati Nesa begitu marah akan tetapi ia menahan rasa amarahnya itu.
"Awas saja ya! kamu pikir aku akan tinggal diam dengan hinaan ini! untuk saat ini iya aku takkan berbuat apapun, tunggu tanggal mainnya ya Tua Bangka Alan! karena setelah aku bisa masuk ke dalam rumah ini, aku akan ambil alih semuanya!" batin Nesa tersenyum sinis.
"Hem, sombong amat sih mertua Nesa ini! mentang-mentang ia kaya, seenaknya saja menghina kami!" batin Mamah Sara.
Sebenarnya Tian juga tak sudi mengizinkan Nesa dan Sara tinggal di rumah itu. Apa lagi sejak ia tahu siapa sebenarnya mamah dari Nesa. Ia juga punya rencana untuk Nesa dan Sara.
"Aku sengaja mengizinkan Nesa tinggal di sini supaya aku bisa dengan gampang mengambil semua duplikat video syur itu dari tangan, Nesa. Setelah itu aku akan buat perhitungan dengannya! aku juga sudah yakin, apa yang Nesa lakukan itu atas perintah Mamahnya! dasar mata duitan, lihat saja ya kalian harus bayar mahal dengan apa yang telah kalian lakukan padaku!" batin Saka geram.
"Pah, aku pulang dulu ya." Tiba-tiba Mamah Nany berpamitan.
__ADS_1
"Pulang katamu, bukannya rumahmu disini?" ucap Alan lupa jika ia telah mengusir Nany dan Sandy beberapa waktu yang lalu.
"Iya, pah. Beberapa waktu lalu bukannya kamu telah mengusirku dan Sandy. Sejak saat itu aku dan Sandy tinggal bersama anak dan istri Sandy," ucap Nany.
Ia sudah bahagia hidup bersama dengan Nayla dan Sandy. Walaupun di rumah yang sederhana akan tetapi terasa damai dan nyaman.
"Hem, pergilah sana! kamu pikir aku tak bisa hidup tanpamu! justru aku sangat yakin jika suatu saat nanti pasti kamu dan Sandy akan datang padaku untuk mengemis kata maaf dan meminta tinggal di sini lagi. Karena kalian berdua itu sudah terbiasa hidup mewah, jadi takkan bisa hidup miskin dengan wanita rendahan itu!" ejek Alan sinis.
"Insya Allah, tidak pah. Justru selama aku tinggal bersama dengan anak dan istri Sandy. Aku merasa kerasan dan nyaman. Baik Sandy atau aku tidak akan datang kemari apa lagi sampai merendahkan harga diri kami hanya demi harta."
Saat itu juga Mamah Nany berlalu pergi dari rumah itu, bahkan ia pulang ke rumah Sandy dengan memesan taxi on line.
"Sebenarnya seperti apa ya saudara Saka itu yang katanya sudah menikah dan punya anak? bahkan saudaranya itu juga menikahi wanita biasa? ah pikir amat, yang terpenting di sini aku tidak ada saingannya karena saudara Saka dan istri serta anaknya tidak tinggal di sini, jadi aku bisa leluasa untuk bertindak semauku," batin Nesa senang.
Sementara dalam perjalanan menuju ke rumah Nayla, di dalam hati Nany berkecamuk banyak hal.
Ia belum tahu jika Nesa adalah adik tiri Nayla dan Sara adalah ibu tiri Nayla yang tengah dengan tega menjual keperawanan Nayla dahulu pada Saka.
Sesampainya di rumah Nayla, Nany di sambut hangat oleh Adilla. Selama tinggal di rumah Nayla, justru Nany bahagia karena Adilla begitu lucu dan menggemaskan serta sangat pintar.
"Hallo Oma, pastinya capek kan? Mamah sudah buatin Oma susu, ini di meja. Katanya suruh di minum," ucap Adilla seraya menunjuk susu di meja.
"Nggak capek kok sayang, lain kali bilang sama mamah supaya nggak usah buatin Oma susu. Oma bisa kok buat sendiri," ucap Nany.
Walaupun Nayla belum bisa menerima kehadiran Sandy sebagai suami dadakannya, akan tetapi ia benar-benar bertindak baik sebagai seorang menantu dan juga seorang istri. Hanya satu yang hingga saat ini belum bisa Nayla berikan pada Sandy yakni melayaninya di ranjang.
__ADS_1
Sejenak Nany meminum susu yang masih hangat itu hingga habis tak bersisa.
"Mamah dan papah sudah berangkat ke restoran ya, Dilla?" tanya Nany seraya celingukan.
"Sudah, Oma. Baru saja mereka berangkat, beberapa detik yang lalu," jawab Adilla.
"Hem, bagaimana kalau kita menyusul mamah dan papahmu ke restoran yuk." ajak Nany seraya merangkul Adilla keluar dari rumah tersebut dan tak lupa mengunci rumah.
Kebetulan restoran hanya berjarak beberapa langkah dari rumah itu, tepatnya di seberang jalan rumah. Karena rumah Nayla terletak di pinggir jalan raya besar.
"Mah, sudah pulang? aku pikir mamah akan tetap tinggal di sana sama papah," sapa Sandy.
"Nggak lah, mamah sudah nyaman tinggal bersama kalian di sini," ucapnya.
"Papah sendirian dong, mah?"
"Nggak kok, Sandy. Pada saat mamah antar papah pulang, ada istri Saka yang baru bersama dengan mertuanya. Bahkan mamah sempat dengar jika Saka yang mengajak istri dan mertuanya tinggal di rumah. Papah marah besar sih, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena itu kemauan Saka," ucap Nany.
"Hah, istri Mas Saka yang sempat menayangkan video syur itu?" tanya Sandy memastikan.
"Istrinya kan cuma itu karena istri sahnya sudah menggugat cerai pada saat itu juga kan?" ucap Nany.
Nayla sempat mendengar pembicaraan itu, sedangkan Adilla asik menonton acara televisi di ruang kerja.
"Mah, sepertinya aku pernah melihat istri Mas Saka tapi aku lupa dimana?" ucap Sandy berusaha mengingat-ingat.
__ADS_1
"Di taman, Mas Sandy. Saat kita sedang ada di taman. Ia adalah adik tiri ku," ucap Nayla secara tiba-tiba membuat Sandy dan Nany terperangah mendengarnya.