
Jeje menarik nafasnya dalam, ia menunduk, memainkan ujung Jari-jemarinya.
"Baiklah, aku minta maaf karena sudah teledor, tapi, kamu juga harus minta maaf, karena kamu terlalu lama membuatku menunggu!" kata Jeje.
Dan Darren yang tidak ingin memperpanjang masalah lagi pun meminta maaf.
Tetapi, Jeje tau walau Darren meminta maaf ia sendiri tidak tau kenapa harus meminta maaf.
Darren hanya menuruti ucapan Jeje tanpa tau apa yang sebenarnya Jeje inginkan.
Lalu, Jeje yang menatap Darren itu melihat luka lebam di sudut bibirnya dan Jeje pun menyentuh itu, "Kamu kenapa, Mas?" tanyanya.
"Bukan apa-apa," jawab Darren dan Jeje pun tidak memaksa untuknya bercerita.
Sekarang, Darren menanyakan kenapa ia tidak bekerja lagi di toko.
Jeje menjawab, ia merasa tidak enak pada Viona dan sebenarnya juga merajuk pada Darren.
"Kenapa, memangnya apa salahku?" tanya Darren.
"Memangnya, tadi kamu minta maaf untuk apa?" tanya Jeje dan Darren terdiam, sama sekali tidak merasa bersalah.
Untuk mengalihkan pembicaraan, sekarang, Darren mengajak Jeje untuk ikut dengannya dan Darren mengajaknya ke rumah Viona.
"Memangnya tidak apa, Mas?" tanya Jeje yang masih duduk di bangkunya dan Darren pun mengiyakan.
"Ayo cepat!" perintahnya dan baru saja Darren turun dari mobilnya sudah ada wanita yang berjalan mendekat ke arahnya.
Wanita itu adalah yang semalam Darren bantu.
"Mas," panggilnya dan ia yang sekarang sudah ada di depan Darren itu menyentuh lengannya.
"Terima kasih, karena kamu aku jadi selamat, terima kasih banyak," ucapnya dan Darren menatap tangan wanita itu yang ada di lengannya.
Lalu, datang Jeje yang langsung memisahkan tangan itu dari lengan Darren.
"Bukan muhrim!" kata Jeje dengan tegasnya. Lalu, wanita itu yang belum pernah melihat Jeje pun bertanya, "Kamu siapa?"
Dan Jeje yang sudah melingkarkan tangannya di lengan Darren itu pun mengatakan kalau ia adalah calon istri Darren.
"Alah, baru calon istri, sama saja bukan muhrim juga!" ketus wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan Darren dan Jeje.
Lalu, Jeje segera menatap Darren, ia memprotesnya karena tidak melarang ada wanita lain yang menyentuhnya.
"Kan, sudah ada kamu yang melindungi ku dari buaya betina," jawab Darren.
"Jadi, secara tidak langsung, aku sama saja seperti penjaga hatimu, ya, Mas?" tanya Jeje dan Darren sedikit tersenyum.
"Iya," jawabnya singkat.
"Tidak romantis," batin Jeje, "memang, kan aku sudah tau!" lanjutnya.
__ADS_1
Sekarang, Darren mengajak Jeje untuk segera masuk dan di dalam Lovely tidak mau ikut bersama Jeje.
Gadis kecil itu seolah trauma dan Jeje pun tidak memaksa.
****
Sementara itu, Justin dan Rossi sedang dalam perjalanan dan Rossi menanyakan apa yang semalam Salsa tanyakan yaitu kelanjutan hubungannya.
Lalu, Justin menjawab, "Kalau kamu sudah bisa move on, bisa terima aku sepenuhnya, ya, kita menikahlah, apa lagi?"
Rossi pun mengangguk dan siang ini, Justin mengatakan kalau ayahnya ingin bertemu dan Rossi mengatakan kalau dirinya belum siap.
"Tunggu apa lagi, kamu tau, aku merasa kalau rasa yang dulu pernah kumiliki ini mulai tumbuh lagi," ujar Justin.
"Iya, menang seharusnya begitu, mungkin memang kita ditakdirkan untuk bersama," kata Rossi.
"Nah, maka itu, kita harus cepat bertemu orang tua," kata Justin dengan semangatnya.
Rossi membenarkan, ia berpikir, seandainya tidak jodoh dengan Justin, mana mungkin keduanya akan menikah dan sekarang Rossi pun mau untuk bertemu dengan ayah Justin.
Benarkah Rossi dan Justin menikah?
****
Walau sudah bertemu Viona, Jeje menolak untuk kembali bekerja dan sekarang, Darren sedang mengantar Jeje ke kampus.
Di kampus, Arum yang melihat Jeje itu merasa heran, sekarang, Arum menghampiri Jeje yang sedang berjalan ke arahnya.
"Sudah baikan kalian?" tanyanya.
"Kamulah, sama Mas Darren, kan sudah tiga hari tiga malam kamu galau," kata Arum.
"Aku galau, tapi dia biasa saja," keluh Jeje dan Arum pun merangkulnya.
Sekarang, Arum mengajak Jeje ke kantin dan Jeje yang sedang makan mie goreng itu memikirkan saran Justin.
"Benar, aku harus mencobanya!" ucap Jeje dan Arum pun mempertanyakannya.
"Mencoba apa, Je?" tanya Arum.
Dan bukannya menjawab, justru Jeje bertanya, "Kamu pernah ciuman?"
"Astaga, kok, kamu tanya yang seperti itu?"
"Jawab saja!" perintah Jeje.
Dan Arum menjawab dengan mengangguk.
Jeje pun menggelengkan kepala, sekarang, Jeje kembali bertanya demi menjawab rasa penasarannya.
"Sama siapa dan seperti apa rasanya?"
__ADS_1
Arum yang sedang meminum jus jeruknya itu harus tersedak dan Jeje yang duduk di sampingnya itu menepuk punggungnya.
"Je, sejak kapan otak kamu geser?" tanya Arum seraya menatap Jeje dan Jeje tersenyum dengan menunjukkan gigi rapinya.
Jeje menjawab sejak mengenal cinta dan Jeje ingin mencobanya.
Mendengar itu, Arum menjawab terserah dan mengingatkan untuk tidak lebih dari itu karena bisa berbahaya.
Jeje yang sepertinya sudah gila karena Darren itu mengangguk.
Singkat cerita, siang ini, sepulang kuliah, Jeje sudah ada di kantor Darren dan karyawan Darren mengatakan kalau Darren tidak ke kantor.
Jeje pun menghubunginya, ia bertanya keberadaannya dan Darren mengatakan kalau dirinya ada di kampus, menjemputnya.
"Astaga, kenapa kamu tidak bilang, aku di sini sekarang," kata Jeje.
"Di mana?"
"Di kantor kamu, Mas," jawab Jeje.
"Kenapa tidak bilang?" tanya Darren dan Jeje menjawab karena keduanya kurang komunikasi.
Lalu, Darren menyuruhnya untuk menunggu di kantor dan Jeje yang menunggu sedikit lama itu tertidur di sofa yang tersedia.
Jeje tidur sampai tidak merasakan kalau Darren datang dan Darren yang baru datang itu menatap Jeje, ia menatap sedikit lama dan memujinya cantik.
Lalu, Jeje tersenyum membuat Darren mengira kalau Jeje sedang pura-pura tidur, padahal, kenyataannya Jeje sedang bermimpi.
Ia bermimpi sedang merayu Darren untuk mempraktikkan yang Justin ajarkan dan yang seperti Arum ceritakan.
Lalu, Jeje yang membuka mata dan ia melihat Darren sedang memperhatikannya.
"Kenapa?" tanya Jeje pada Darren.
"Sepertinya, kamu baru saja bermimpi indah," kata Darren, setelah itu, Darren duduk di kursinya dan Darren meminta pada Jeje untuk selalu mengabarinya.
Jeje yang dimintai seperti itu bangun dari berbaringnya, ia berjalan ke arah Darren dan sekarang, Jeje berdiri di belakangnya.
"Biasanya, sebelum kirim pesan aku selalu berpikir, kenapa selalu aku yang kirim duluan?"
"Iya, kan aku yang minta, coba lihat tadi, aku di mana, kamu di mana," kata Darren.
"Mas," lirih Jeje dan Darren pun mendongak, ia menatap Jeje yang sedang menatapnya.
"Apa?" tanyanya.
Dan Jeje yang sudah tidak bisa menahan itu pun akhirnya mengecup bibir Darren dan Darren terkejut dengan apa yang dilakukannya.
Sementara itu, Jeje yang merasa malu pun segera berjalan ke arah pintu dan Darren mengejarnya sehingga Jeje tidak dapat menghindar.
"Je, kamu yang mulai duluan!" kata Darren seraya mengunci pintu ruangannya, Darren menatap tajam Jeje dan Jeje merasa kalau jantungnya sedang berdisko.
__ADS_1
"Kamu tau, aku juga menginginkannya, tapi, aku menjagamu," kata Darren dan Jeje pun mengangguk, ia mendorong sedikit dada calon suaminya.
Apakah kali ini Darren akan terpancing oleh ke agresifan Jeje?