
Melihat Ryder yang tidak mau bersama ibunya membuat Nara merasa sedikit senang.
Sekarang, Nara segera mengambil kembali Ryder dari pangkuan ibunya dan Ryder yang sudah ada di gendongan Nara itu diam dengan masih memperhatikan Jeje.
Tak tinggal diam, Darren segera memperkenalkan Jeje pada Ryder, "Mamah, ini Mamah kamu, Nak," kata Darren dan Ryder memperhatikannya.
Lalu, Ryder menangis, ia ingin cepat pulang karena tidak betah berada di ruangan Jeje.
"Kamu bawa mainan Ryder, sus?" tanya Jeje dan Nara menjawab dengan menggeleng.
"Lain kali bawakan mainan, biar anteng," saran Jeje dan Nara mengangguk.
"Selama ini aku yang mengasuhnya, walaupun bawa mainan kalau dia tidak betah mau apa lagi," kata Nara dalam hati.
Dan Jeje yang melihat Ryder menangis itu mencoba turun dari brangkar dan Jeje dibantu oleh Darren.
"Hati-hati, sayang," kata Darren seraya menahan lengan Jeje, mendengar sebutan sayang, Jeje menatap suaminya.
"Apakah setiap hari kamu memanggilku sayang seperti ini, Mas?" tanya Jeje.
"Tidak, tapi, mulai sekarang, aku akan mengusahakannya," kata Darren.
Mendengar itu, Jeje mengangguk dan sekarang, kembali menyapa Ryder yang ada di gendongan Nara.
"Ryder, sudah minum susu belum?" tanya Jeje dan Ryder tidak menjawab, ia masih menatap Jeje seperti menatap orang asing.
Menyadari Ryder belum mengenalnya, Jeje pun mengulurkan tangan, ia memperkenalkan dirinya seraya mengambil tangan Ryder. "Mamah, Ryder panggil aku Mamah, ya." kata Jeje dan Ryder segera menarik tangannya.
Lalu, Darren yang berdiri di samping Jeje itu mengusap lengannya, ia meminta pada Jeje untuk bersabar.
Jeje menjawab dengan mengangguk.
"Aku tidak menyangka kalau sudah menjadi ibu," kata Jeje seraya menatap Darren.
Sekarang, Darren membantu Jeje untuk kembali ke brangkar.
"Iya, tidak apa, pelan-pelan saja untuk mengingat semua kembali," kata Darren.
Mendengar apa yang diucapkan majikannya, sekarang, Nara mengerti kalau Jeje hilang ingatan.
Sepertinya, Nara akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
****
Beberapa hari berlalu, sekarang, Darren sedang dalam perjalanan menjemput istrinya dan Jeje yang sedang menunggu itu sudah tidak sabar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Darren datang dengan membawa bunga mawar merah tua yang memiliki arti cinta abadi.
Jeje menerima bunganya dan segera menghirup aroma wanginya.
"Apakah setiap hari kamu romantis seperti ini, Mas?" tanya Jeje pada Darren yang sedang mengemasi barang Jeje di nakas.
Mendengar pertanyaan itu, Darren berbohong dengan menjawab iya karena Darren ingin menggantikan ingatan Jeje tentangnya yang menyebutnya tidak romantis, tidak perhatian dan selalu mengabaikan.
Mendengar jawaban Darren, Jeje menimpalinya dalam hati, "Apakah sekarang kamu sudah pandai berbohong, Mas?"
Singkat cerita, sekarang, keduanya sudah dalam perjalanan, Jeje yang tak berhenti menatap Darren itu mendapatkan pertanyaan, "Kenapa? Apakah aku semakin tampan?"
Dan Jeje menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Apa yang membuatku ada di rumah sakit, Mas?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Darren teringat dengan kecelakaan lalu, Darren mengusap bibirnya, tak sanggup menjawab kalau dirinyalah penyebabnya.
"Kamu tidak ingat, Je?" tanya Darren dengan tetap fokus mengemudi.
"Terakhir yang ku ingat, aku baru lulus sekolah," jawab Jeje.
Darren mengangguk dan sebenarnya, Jeje tidak menyalahkan suaminya karena yang ia tau, ia jatuh dari tangga.
Setelah itu, keduanya diam, hanyut dalam pikirannya masing-masing dan Jeje yang merasa sedih karena tidak dapat merasakan masa kehamilannya itu menangis.
"Maafkan aku, Je," kata Darren dalam hati.
Sekarang, keduanya sudah sampai di rumah, terlihat kalau di halaman rumah Darren sudah penuh dengan kendaraan.
Ya, semua orang sedang berkumpul termasuk Salsa, Akmal dan Baby.
Melihat itu, Jeje takut kalau dirinya tidak dapat berpura-pura dengan baik, ia sedikit nervous.
Darren membukakan pintu untuk istrinya dan mengucapkan kata selamat, "Selamat datang kembali, sayang," kata Darren seraya tersenyum, pria yang memancarkan kebahagiaan itu menatap istrinya.
Jeje menjawab dengan mengangguk, tanpa keduanya tau, di balik pintu semua sudah berbaris, di barisan terdepan ada Gala, Baby, Ryder dan Lovely.
Suara terompet Jeje dengar saat pintu itu terbuka.
"Welcome!" seru Rossi, Justin, Salsa dan Akmal.
Melihat itu, Jeje yang masih berpura-pura hanya diam, ia menatap satu-persatu wajah mereka semua dan pandangan Jeje berhenti pada Pak Somat yang terlihat menahan air matanya, Pak Somat berdiri di samping Sam dan Jeje segera berjalan ke arahnya, Jeje memeluk pria itu dan Pak Somat tak kuasa menahan air matanya.
"Jangan tinggalkan Ayah lagi, Nak," lirih Pak Somat seraya mengusap punggung tipis Jeje.
Jeje mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
Pesta penyambutan berlanjut dengan acara makan-makan, perhatian Jeje pada suster yang sibuk dengan Ryder.
Jeje pun menghampiri.
"Halo Ryder," sapa Jeje dan Ryder yang sedang bermain lego itu menatapnya.
"Mamah," jawab Ryder dan Jeje tersenyum, kemudian, Jeje membelai wajah tampan putranya.
Melihat Jeje yang berusaha mendekatkan diri membuat Nara merasa khawatir dan Nara merasa senang saat Ryder bangun dari duduk untuk memeluknya.
Nara mengambil kesempatan itu. "Maaf, Bu. Ini sudah jam tidur Ryder," kata Nara yang kemudian bangun dari duduknya. Nara membawa Ryder ke kamar.
Darren yang duduk di karpet ruang tengah bersama yang lain melihatnya dan merasa kalau ada yang berbeda dengan Nara, Darren tidak menyukai itu karena Ryder adalah milik Jeje.
Sekarang, semua orang pamit karena tidak ingin mengganggu Jeje untuk beristirahat.
Darren dan Jeje mengantarkan semua orang sampai ke pintu, keduanya melambaikan tangan, setelah itu, Darren memeluk istrinya dari belakang.
Jeje yang masih pura-pura itu menolak untuk dipeluk. "Kamu jangan peluk-peluk aku dong, aku belum ingat tentang kamu, aku masih risih," protes Jeje.
Darren tidak mau tau dan tetap memaksa, akhirnya, sekarang, Darren membopong Jeje, Darren berbalik badan dan saat itu juga keduanya melihat Nara yang sedang memperhatikan.
Nara mengangguk pada keduanya kemudian pergi ke arah dapur.
Di dapur, Nara yang sedang menyiapkan makanan Ryder untuk sore nanti merasa cemburu.
Nara memotong wortel dan brokoli dengan begitu kesalnya dan Nara diperhatikan oleh bibi yang sedang membereskan sisa-sisa piring kotor dari meja makan.
"Kamu kenapa, sus?" tanya bibi dan Nara tidak menjawab, ia tetap pada sayurannya.
Bibi mengedikkan bahu dan melanjutkan pekerjaannya, wanita bertubuh sintal itu tak berhenti mengucap syukur dan memuji Jeje.
Mendengar itu, telinga Nara terasa panas dan Nara segera mengambil ponselnya untuk memutar lagu dari sebuah aplikasi.
Bibi mengetahui kalau ada yang sedang terbakar api cemburu.
Sementara itu, di ruang tengah ada Darren dan Jeje yang sedang berdebat, Jeje masih meminta turun dan Darren tetap kekeh untuk membopongnya.
"Aku tidak mau, Mas. Tolong turunkan aku sekarang," kata Jeje, ia takut pada tangga dan tidak ingin naik ke atas.
Ya, Jeje ingat kejadian malam itu, malam di mana dirinya jatuh terguling-guling dari tangga.
Apakah sekarang Jeje phobia tangga?
Bersambung.
__ADS_1