MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Kado Terindah Dari Justin


__ADS_3

Pagi ini, Sarah yang akan berangkat bekerja itu melihat Pak Somat menyapu sendiri rumahnya dan wanita berusia 40 tahun itu pun menyapa dari dalam mobilnya.


"Pagi, Pak Somat."


Dan yang disapa pun melihat kearahnya, Pak Somat membalas sapaan itu dengan tersenyum.


Setelah itu, Sarah pun pamit, ia mengatakan kalau harus bekerja dan Pak Somat pun mempersilahkan.


Sedangkan Pak Somat sendiri masih cuti.


Sementara itu, di hotel, Darren dan Jeje sedang bersiap untuk pulang ke rumah.


Darren membantu istrinya dengan menggendong belakang dan setelah Jeje duduk manis di mobilnya, Darren kembali ke kamar untuk mengambil barang yang masih tertinggal.


Dan saat itu juga Darren bertemu dengan Justin yang menghampirinya. Justin yang berdiri di depan pintu itu bertanya, "Bagaimana, kurang panas tidak?"


"Setan, sialan kamu! Aku hampir membunuhnya gara-gara kamu!" Jawa Darren seraya merangkul Justin dan Justin yang terkekeh itu harus merasakan cubitan di payuda**ranya.


"Astaga, sakit Darren!" pekik Justin seraya berusaha melepaskan cubitan itu dan Darren yang tak mau melepaskannya berpindah mencubit pada payudar**anya sebelahnya.


"Astaga, kamu kan sudah punya gunung kembar yang bebas kamu sentuh kapan pun, kenapa sentuh punyaku? Pelecehan ini!" gerutu Justin dan Justin yang terus meronta itu berhasil lepas dari Darren.


Darren tersengal karena harus mengeluarkan begitu banyak tenaga pagi ini untuk Jeje dan Justin.


Lalu, Darren menepuk bahu Justin, pria berpakaian santai itu mengucapkan terima kasih untuk air minumnya.


"Iya, tapi itu bukan kado dariku, kado sesungguhnya sudah ada di rumahmu bersama kado lainnya!" jawab Justin dan Darren pun mengangguk.


Ia tidak mau mengucapkan terima kasih karena sudah bosan mengatakan itu untuk Justin.


Setelah Darren mengambil kopernya, sekarang, keduanya berjalan beriringan.


Dan Justin mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.


Darren yang sudah menyimpan barang-barangnya di bagasi itu menepuk punggung Justin.


"Tidak mungkin aku mengajakmu ke rumah, karena kamu bisa mengacaukan semua!" kata Darren.


"Tidak sopan, tapi, berhubung aku pengertian, aku tidak akan mengganggu pengantin baru," jawab Justin.


Dan sekarang, Darren sudah dalam perjalanan, sesekali, Darren melirik pada Jeje yang juga sesekali meliriknya.


"Kenapa?" tanya Darren dengan tetap fokus mengemudi.


Yang ditanya menjawab dengan menggeleng.

__ADS_1


Lalu, Darren kembali bertanya, "Masih sakit?"


Kali ini, Jeje menjawab dengan mengangguk. Ia tersenyum malu karena Darren menanyakan itu.


"Nanti malam lagi, ya!" pinta Darren dan Jeje tersenyum.


"Kenapa?" tanya Darren.


"Masih sakit!" jawab Jeje dengan berbisik dan Darren tersenyum.


Pria muda itu merasa beruntung karena mendapatkan Jeje yang masih begitu polos dan mencintainya.


Lalu, Darren menyuruh Jeje untuk istirahat dan Jeje bertanya kenapa harus istirahat jika tidak lelah.


Mendengar itu, Darren pun membawa istrinya ke dalam dekapan dan ia menyetir menggunakan satu tangan.


Singkat cerita, sekarang, Darren dan Jeje sudah sampai di rumah dan Jeje yang biasa hidup sederhana itu tidak pernah mengira, tidak pernah menyangka kalau akan menjadi permaisuri di hati Darren.


Darren menggandeng tangan Jeje, ia mengajaknya masuk dan Darren mengatakan berkata dalam hati, "Nenek, Darren membawakan cucu menantu untuk Nenek."


Darren yang ingat dengan Sarifah itu berniat mengajak Jeje untuk ke makam dan Darren pun mengatakan niatnya itu.


Jeje yang penurut itu selalu mengiyakan ajakan Darren dan Darren merasa senang.


Merasa penasaran, Jeje pun meminta ijin pada Darren untuk membuka kado itu.


"Mas, aku buka, ya?" tanya Jeje dan Darren yang mengganti kaos itu mengangguk.


Dengan semangat, Jeje membukanya dan ternyata Salsa memberikan kado seperti apa yang pernah Jeje berikan yaitu lingerie.


"Astaga, apakah aku harus pakai ini?" tanyanya dalam hati.


Lalu, Darren yang sudah mengganti kaosnya itu duduk di sofa dan ia menyuruh Jeje untuk duduk.


Darren membantu Jeje untuk membuka semua kado yang ada di atas meja itu dan ada satu kado yang paling menarik perhatian Darren dan kado itu berukuran kecil.


Darren pun mengambilnya dan kado itu tidak memiliki nama. pertama, Darren mengocok kotak kecil itu dan tidak terdengar apa-apa, beratnya saja sangat ringan dan Darren berpikir kalau itu adalah kotak perhiasan.


Lalu, Darren segera membuka kado itu dan setelah melihat isi kado tersebut, Darren menjadi tau siapa pengirimnya.


"Justin," lirih Darren, ia merasa geli dengan sahabatnya yang satu itu dan Jeje yang merasa penasaran itu melihat yang ada di tangan suaminya.


Tertulis namanya tisu magic dan Jeje mengira kalau tisu itu adalah tisu yang biasa digunakan oleh pesulap.


Dan Darren yang terkekeh itu mengiyakan, lalu Darren segera menyimpan benda pusaka yang mungkin nanti akan dibutuhkan itu ke lemari.

__ADS_1


Hari-hari Darren dan Jeje ia lalui selayaknya pasangan pengantin baru, penuh cerita manis dan banyak pengalaman baru yang Jeje dapatkan.


Dan di rumah itu, tugas Jeje hanya dua yaitu melayani dan mencintai suaminya.


Sekarang, Jeje yang merindukan Pak Somat itu meminta pada Darren untuk pulang dan Darren yang baru saja cuti itu memiliki banyak pekerjaan.


Darren mengatakan kalau dirinya hanya akan mengantar dan setelah selesai baru akan datang untuk menjemputnya lagi.


Jeje mengiyakan dan sekarang, Jeje mengambil tasnya, setelah itu ikut bersama Darren yang akan berangkat bekerja.


****


Di rumah Rossi, Sarah baru saja selesai menyiram tanamannya dan Sarah mendapatkan pertanyaan dari Rossi yang sedang berdiri di pintu.


"Sejak kapan Mamah suka tanaman?"


"Sejak mengenal dia," jawabnya.


"Dia siapa?" tanya Rossi dan Sarah yang sudah masuk ke rumah itu menjawab, "Dia yang sekarang kesepian setelah anaknya menikah."


"Pak RT?" tanya Rossi yang mengikuti langkah Ibunya.


Lalu, Sarah duduk di kursi meja makan, ia menjawab dengan mengangguk.


Sarah menatap Rossi yang juga menatapnya. Ia memiliki sebuah pertanyaan untuk putrinya.


"Setelah menikah, kamu akan tinggal di mana? Tetap di sini sama Mamah, kan?"


Rossi menggenggam tangan Sarah yang terasa dingin karena baru saja bermain air.


"Mah, Rossi dan Justin sudah sepakat untuk tinggal sendiri," jawabnya dengan lirih, ia takut akan melukai hati Sarah dan Sarah menjawab dengan mengangguk.


"Mamah akan kesepian," gumam Sarah.


"Kalau begitu, Mamah menikah lagi saja, itu ada Pak Somat yang masih menunggu Mamah," kata Rossi dan Sarah menatapnya datar.


"Memangnya pantas seusia Mamah nikah lagi?" tanya Sarah seraya melepaskan tangan Rossi.


"Kenapa tidak, Mamah masih cantik, tidak terlihat berkepala empat," jawab Rossi dan kemudian Sarah mengambil ponselnya di saku celana pendeknya, ia membuka kameranya untuk melihat wajahnya.


"Benar, Mamah masih cantik," kata Sarah dan kemudian, Sarah mengambil foto selfinya.


Benarkah Sarah berjodoh dengan Pak Somat?"


Jangan lupa like dan komen, ya, all. Terima kasih, see you.

__ADS_1


__ADS_2