MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Jangan Sentuh Atau Aku Akan Bangun!


__ADS_3

"Apa, kenapa kamu liatin aku seperti itu?" tanya Darren dan Jeje bangun dari berbaringnya.


"Kamu tau rasanya seharian menunggu, tapi yang ditunggu lebih milih game online?" tanya Jeje.


Dan Darren menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Kamu tau rasanya bagaimana di permalukan?"


"Jadi kamu malu? Tandanya kamu tau kalau itu salah, kan?" tanya Jeje dan Jeje begitu malas untuk bertengkar, ia memilih untuk keluar dari kamar.


Dan saat Jeje melawati Darren, ia harus berhenti karena Darren menahan lengannya.


"Lepas," pinta Jeje seraya berusaha melepaskan tangan suaminya dan Darren tidak mau melepaskan.


"Aku tidak mau kamu posting hal serupa lagi," kata Darren.


"Tergantung, kalau tidak mengabaikanku, maka aku tidak akan mencari perhatian di luar," jawab Jeje dan sekarang, Jeje sudah berhasil lepas dari Darren, ia kembali ke kamarnya dan Jeje semakin kesal.


Ia berharap Darren akan mengucapkan janjinya untuk mengurangi bermain game, tetapi, Darren tidak mengatakan itu.


Darren sadar akan apa yang dilakukannya itu salah dan Darren mengatakan kalau akan mengurangi bermain gamenya.


Ia menyusul Jeje dan memeluknya dari belakang.


Darren merapikan rambut Jeje yang menutupi lehernya, kemudian ia berbisik, "Maaf kalau kamu merasa terabaikan."


"Hmm," jawab Jeje seraya berusaha melepaskan tangan Darren yang melingkar di perutnya.


"Maaf sudah buat kamu cemburu sama game," lanjut Darren dan Jeje masih menjawab dengan jawaban yang sama.


Lalu, Darren memberikan sentuhan kecil di leher Jeje dan itu membuat Jeje semakin jengkel.


Kenapa bisa begitu? Ya, Jeje merasa kalau protesnya tidak akan berhasil jika ia sangat mudah dirayu oleh suaminya.


Jeje melepaskan pelukan Darren dan ia mengatakan kalau dirinya sedang merajuk.


"Jangan dekat-dekat dulu, aku masih marah," kata Jeje dan Darren tidak memperdulikannya.


"Katanya kamu merasa terabaikan, giliran aku kasih jatah kamu bilang gitu!" jawab Darren yah kemudian mencium bibir Jeje yang masih memonyong itu.


Jeje meronta, ia masih berusaha untuk mempertahankan marahnya walau rasa kesalnya itu sudah mulai sedikit berkurang.


Dan Jeje tidak dapat melarang Darren untuk melakukannya lebih jauh lagi. Akhirnya, Darren berhasil menjamah istrinya dan setelah mencapai puncak bersama, sekarang, Darren kembali mengambil ponselnya, ia membaca pesan dari teman mabarnya dan saat itu juga Jeje mengambil ponsel suaminya, ia menyimpan di laci nakas.


Setelah itu, Jeje masuk kedekapan suaminya dan Darren mengusap pucuk kepalanya.


"Je," lirih Darren.


Dan Jeje yang sedang memeluk dengan mata terpejam itu menjawab, "Hm."


"Aku minta, kalau kamu kesal atau marah, jangan diperlihatkan ke semua orang, apalagi di sosial media," kata Darren.

__ADS_1


"Kamu tau, tidak semua yang terlihat perduli nyatanya perduli dan lagi kita seharusnya malu ketika aib harus disebar luaskan," lanjut Darren dan Jeje mengangguk.


Ia meminta maaf dan Darren memaafkan.


Sekarang, Jeje mengambil ponselnya dan Darren mengira kalau Jeje akan memposting yang lain lagi.


Darren mengambil ponselnya dengan berkata, "Kamu sedang bersamaku, kenapa kamu ambil ponselmu?"


Jeje kembali meraih ponsel itu, "Aku harus menghapus apa yang sudah ku post," ujar Jeje dan Darren pun mengangguk.


Setelah itu, Jeje meminta pada Darren untuk mengurangi bermain gamenya dan Jeje meminta pada suaminya untuk mendahulukan istri dari pada game dan Darren menjawab kalau dirinya akan berusaha.


Dan benar saja, walau Darren terus mendapatkan pesan dari teman mabarnya, Darren beralasan sedang sibuk dengan pekerjaan.


Dan dua hari telah berlalu, Darren mengambil kesempatan malam hari untuk bermain game sehingga ketika harus bangun pagi Darren merasa malas.


Jeje lelah membangunkan suaminya dan sekarang, Jeje sedang bersama bibi di dapur.


"Bi, apa memang seperti itu kebiasaan Mas Darren?" tanya Jeje yang sedang menyiapkan teh manis untuk suaminya.


"Iya, Non. Malah, biasanya sehari semalam tidak tidur, setelah lelah baru tidur," jawab bibi dan Jeje menganggukkan mengerti.


Lalu, Setelah hari sudah sedikit siang, Darren melihat Jeje sedang berenang dan Darren mulai duduk di kursi senderan yang ada di tepi kolam.


Melihat itu, Jeje pun menghampiri dan menawarkan teh manis hangat.


"Tidak, aku tidak suka," jawab Darren.


"Suka kamu," jawab Darren seraya tersenyum pada Jeje dan Darren yang melihat Jeje segitu seksi pagi ini pun menjadi bangun.


Ia mengatakan itu pada istrinya, "Kamu selalu menggodaku, Je."


"Aku, kenapa? Aku tidak berbuat apa-apa," jawab Jeje dan Darren menyuruh istrinya untuk bangun, Darren membawanya untuk duduk di pangkuannya.


Dan pagi ini, Darren melakukan pemanasan di tepi kolam renang.


Membuat bibi yang sedang membuka hordeng itu kembali menutupnya saat melihat Darren sedang mencumbu istrinya.


"Astaga, pengantin baru, tidak lihat tempat," gumam bibi dan bibi segera bergegas untuk mengerjakan pekerjaan lain dan saat itu juga, bibi melihat tukang kebun yang sedang berjalan ke arah kolam.


Bibi pun mencegahnya.


"Lebih baik kamu memotong tanaman yang sudah tinggi di depan," kata bibi.


"Tapi, ini sudah waktunya menguras kolam," jawab Mamang dan bibi bersikeras melarang membuat Mamang akhirnya mengalah.


****


Setelah panas, Darren mengajak Jeje untuk kembali ke kolam.

__ADS_1


"Kamu belum punya baru renang?" tanya Darren dan Jeje menggeleng.


Setelah itu, Darren dan Jeje melakukan itu di dalam kolam.


****


Dan siang ini, ada Rossi yang sedang disibukkan dengan memilih jas untuk calon suaminya, ya, Rossi ingin di hari pernikahannya, Justin memakai jas pemberian darinya dan Rossi memilih tuxedo.


Setelah beberapa hari, sekarang, Rossi sudah sedang di rias oleh MUA pilihan Sarah dan Rossi terlihat sangat cantik.


Sementara Rossi hampir melaksanakan ijab, di rumah Darren sedang sibuk.


Ya, Jeje sibuk membangunkan Darren yang tak mau bangun, setelah begadang bersama calon pengantin, sekarang, Darren malas untuk bangun.


"Ok, baiklah. Aku akan berangkat sendiri ke kondangan," kata Jeje yang ingin menjadi salah satu saksi pernikahan Rossi dan Justin.


"Astaga, pestanya sampai malam, Je. Kenapa kita harus datang sepagi ini," protes Darren dengan mata yang terpejam.


"Tidak mau tau," jawab Jeje yang kemudian mengambil tas tangannya.


Lalu, Jeje yang sudah membuka pintu utama itu mendapatkan paket dari Mamang.


"Untuk Non Je," katanya dan Jeje pun menerima.


"Perasaan, aku tidak pesan apapun," gumam Jeje dan sekarang, Jeje melihat namanya dan Jeje pun segera membuka paket tersebut.


Terlihat pakaian renang dan Jeje tau kalau itu adalah pemberian Darren.


Jeje yang tadinya ingin merajuk itu harus kembali ke kamar dan Jeje menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


"Mas," lirih Jeje dan Darren menjawab, "Hmm."


"Terima kasih," ucap Jeje dan Darren membuka tangannya, ia membawa Jeje ke dekapan.


Ya, begitu Darren dan Jeje menjalani biduk rumah tangganya.


Sebentar berselisih paham, sebentar bertengkar dan sebentar lagi baikan.


Jeje menusuk-nusuk pipi Darren dan Darren menggigit jari telunjuk itu.


"Auu," pekik Jeje seraya menarik jarinya.


Dan Jeje segera meminta pada Darren untuk melepaskan pelukannya setelah Jeje merasa ada benda yang mengeras di bawah sana.


"Kamu yang membangunkannya, Je. Kamu harus tanggung jawab," kata Darren yang tidak mau melepaskan.


"Astaga, Mas Darren. Aku sudah mandi, sudah cantik seperti ini, aku tidak mau mandi berkali-kali pagi ini," elak Jeje dan Jeje berhasil lepas, ia pun segera turun dari ranjang.


Dan Darren pun segera menyusul Jeje. Darren ingin membawa istrinya kembali ke ranjang hangatnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2