MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Aku Ingin Hamil


__ADS_3

Benar saja, Darren yang merasa kepalang tanggung itu membawa Jeje ke ranjang dan Jeje akhirnya mengikhlaskan dirinya harus mandi basah dua kali pagi ini.


Lalu, Darren yang sudah siap itu meminta cepat pada Jeje. "Perempuan, kalau mau kemana-mana pasti lama dandannya, katanya mau cepat, ayo!"


Dan Jeje yang sedang mengeringkan rambutnya itu menatap Darren dengan datar. Ia merasa sebal pada suaminya karena seperti telah mengerjainya.


"Aku tadi sudah siap, siapa yang buatku mandi lagi?" tanya Jeje dan Darren tersenyum, ia menggaruk tengkuknya.


Lalu, pria yang mengenakan batik coklat itu memilih untuk menunggu di bawah dan Jeje pun mengiyakan.


Sementara menunggu Jeje bersiap, Darren membuka ponselnya dan Darren kembali mendapatkan ajakan bermain game.


"Nunggu dia lama kali, ya. Belum bedakan, belum lipstik," ucap Darren dalam hati.


Kemudian, Darren pun mengiyakan dan Darren mengatakan kalau hanya bisa main satu kali.


Dan belum selesai dengan permainannya, Jeje sudah menunggu Darren dengan melipatkan tangannya di dada, Jeje menatap Darren dengan begitu datarnya.


Dan yang ditatap itu sesekali melirik. "Sabar, Je. 15 menit lagi," ucap Darren dan seraya menunggu Jeje pun mengeluarkan ponselnya.


Ia berselfie dan segera mempostingnya.


Selesai dengan game, Darren membuka sosial medianya dan melihat yang Jeje posting.


Darren pun mengirim pesan pada Jeje, memintanya untuk menghapusnya.


Jeje bertanya, "Kenapa?" (Melalui chat)


"Aku tidak mau istriku dilihat banyak orang," balas Darren.


Dan Jeje kembali membalasnya, "Kamu itu kadang nyebelin, pokoknya kadang-kadang."


Setelah itu, Jeje menurut, ia memprivasi apa yang baru saja diposting dan sekarang, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan.


"Je... Je. Mudah banget dirayu!" batin Jeje.


Karena telat, sekarang, Darren dan Jeje langsung menuju ke hotel, di sana, Darren memberikan kado berupa tiket bulan madu pada Justin dan Rossi.


"Mereka saja bulan madu, kenapa kita tidak" lirih Jeje dan Darren mendengar.


"Baiklah, kamu harus bersabar," jawab Darren.


Setelah itu, Justin dan Rossi mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama," jawab Darren yang kemudian ikut berkumpul bersama teman-teman yang lainnya.


Di meja bulat itu, Jeje sedikit mengangguk juga tersenyum pada Salsa dan Salsa membalasnya dengan terpaksa.


Setelah itu, Akmal mengusap punggung istrinya, ia merasa senang karena Salsa akhirnya mau mendengarkan ucapannya yaitu menerima kehadiran Jeje.


Salsa pun tersenyum pada Akmal dan Darren yang melihat Baby itu meminta untuk menggendong.

__ADS_1


Salsa dan Akmal mengijinkannya.


"Semoga kalian segera punya momongan, ya," kata Salsa dan Jeje menjawab dengan mengAamiinkan.


Setelah itu, Rossi dan Justin meminta pada semua sahabatnya untuk ke panggung, mereka ingin mengambil foto bersama dengan tetap Baby ada di gendongan Darren.


Selesai dengan pesta, Darren memberikan minuman pada Justin dan Justin menolak, ia mengira kalau Darren telah melakukan hal yang sama.


"Aman," kata Darren dan Justin tetap menolak.


Lalu, demi memastikan Justin, Darren pun sedikit meminum minuman itu.


"Memangnya dia sepertimu, iseng kebangetan," timpal Rossi dan akhirnya karena harus, Justin pun mengambil minuman berwarna biru itu, ia menenggak habis minuman tersebut dan setelah itu, Darren membuang minuman yang ia tahan di mulutnya dan setelah itu, Darren menertawakan Justin.


Ya, Darren menipunya, ia ingin Justin merasakan bagaimana tersiksanya di malam pertama.


Lalu, dengan bangganya, Justin mengatakan kalau dirinya dapat menahan dan Darren pun sedikit mengangguk.


"Terserah apa katamu, sekarang, aku harus pulang," kata Darren seraya menepuk bahu Justin.


Justin yang terkena muslihat Darren itu menepiskan tangan sahabatnya dari bahu.


"Sialan," gerutu Justin dan Darren juga Akmal menertawakan Justin.


Sementara para wanita, mereka merasa malu dengan tingkah para suaminya.


****


"Kenapa kalian hidup bahagia," gumam Lea.


Apakah mendekam di penjara akan membuat Lea menjadi lebih baik?


Sepertinya tidak, karena Lea menyimpan dendam pada Rossi dan Darren.


****


Di perjalanan, Darren yang sedang fokus mengemudi itu bertanya, "Kamu mau bulan madu kemana?"


"Aku pikir-pikir dulu," jawab Jeje, ia tersenyum pada Darren, kemudian memeluk lengan suaminya.


Dan Darren tersenyum padanya.


****


Tiga bulan berlalu, sekarang, Lea telah menghirup udara bebas dan ada kabar baiknya dari Rossi dan Justin.


Rossi tengah mengandung dengan usia kehamilan dua bulan.


Sementara itu, Jeje belum juga hamil dan itu membuat Jeje bertanya-tanya.


Sekarang, Jeje sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Darren pulang, ia tidak lupa mengecup kening istrinya karena Jeje rajin menunjuk keningnya untuk dicium olehnya.


Di meja makan, Jeje yang sedang mengambilkan nasi ke piring Darren itu bertanya, "Rossi sudah hamil, kenapa aku belum?"


"Jangan terlalu dipikirkan, kita juga masih pengantin baru, kamu harus bersabar," kata Darren seraya menatap Jeje.


Jeje pun tersenyum. Ia sedikit takut kalau Darren akan menyesal karena telah menikah dengannya.


"Aku ingin hamil," lirih Jeje seraya duduk di kursinya.


"Iya, setelah ini aku mandi, lalu, kita buat Dedek bayi, ya." Darren menatap Jeje dengan sedikit menggoda dan Jeje pun tersenyum.


****


Di tempat lain, ada Pak RT yang sedang menunggu Sarah. Pak RT menunggu di kafe karena tidak mungkin akan ke rumahnya atau di rumah Pak RT.


Tidak lama kemudian, Sarah pun datang.


"Maaf, Pak RT. Sudah lama menunggu?" tanya Sarah seraya ikut duduk.


"Tidak, sekitar sepuluh menit," jawab Pak RT kemudian.


Ya, begitulah Pak RT dan Sarah, setelah anak-anak mereka menikah, keduanya saling membutuhkan dan mereka selalu bertukar cerita.


Sarah memberi kabar kehamilan putrinya dan Pak RT berdoa untuk Jeje supaya segera menyusul.


Sarah mengangguk, setelah itu keduanya memesan makanan dan malam ini Pak RT memiliki tujuan, ia ingin melamar Sarah dan Pak RT pun mengutarakan niatnya.


Sarah bertanya, "Serius, Pak RT? Aku sudah tua loh, usia sudah berkepala empat."


"Kenapa tidak serius, aku sangat serius, kita sama-sama kesepian dan saling membutuhkan, kenapa tidak menikah saja?" ujar Pak RT seraya menatap Sarah yang juga menatapnya.


"Saya, sih, sebenarnya mau saja, karena saya juga sedikit kagum sama Pak RT," kata Sarah dengan malu-malu.


"Kenapa sedikit?" tanya Pak RT.


"Kagum banyak-banyaknya setelah kita menikah saja, Pak RT," jawab Sarah seraya tersenyum.


"Baiklah, aku mengerti sekarang," jawab Pak RT.


Dan keesokannya, Darren yang mengantarkan Jeje ke rumah Pak Somat itu dimintai untuk duduk sedikit lama karena ada yang ingin ia sampaikan.


"Ada apa, Ayah?" tanya Jeje yang merasa heran.


"Begini, Je. Nak Darren, Ayah mau menikah lagi," jawab Pak RT yang tidak basa-basi lagi.


"Benarkah? Dengan siapa Ayah?" tanya Jeje.


Dan Pak RT pun memberitahu kalau ia akan menikah dengan Sarah.


Setujukah Jeje?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2