
Jeje yang menyebrang jalan dengan santai itu tidak pernah menduga kalau dirinya akan menjadi korban tabrak lari.
Sebelum memejamkan mata, Jeje melihat pengemudi itu menyeringai, lalu, pergi secepat kilat, beruntung Jeje tidak harus dilindas karena pengemudi itu sudah merasa puas melihat Jeje yang berlumur darah.
"Mas...," lirih Jeje dan Jeje yang kesakitan tak berdaya itu tak sadarkan diri.
Sekarang, Jeje sedang terbaring di ruangan yang dingin dan badannya dipenuhi alat medis.
Sementara itu, Darren sedang menghubungi Pak Somat, Pak Somat yang sedang bekerja itu meminta pada Darren untuk cepat mengatakan keperluannya.
Dan Darren seolah kelu, ia yang berusaha menahan tangis itu akhirnya pecah juga dan karena Darren menangis, Pak Somat pun menjadi semakin bertanya.
"Je di rumah sakit, Pak," lirihnya, "Je mengalami kecelakaan di depan ruko," lanjut Darren dan Darren semakin menangis, ia menyesal, merasa kalau dirinya tidak dapat menjaga istrinya.
Sementara itu, setelah mendengar kabar Jeje, Pak Somat menjadi lemas dan Pak Somat menjatuhkan ponselnya hingga teman satu kantornya itu bertanya, "Pak RT, ada apa?"
Dan Pak Somat tak mampu menjawab, ia bangun dari duduk walau lututnya terasa lemas dan Pak Somat hampir jatuh.
Melihat Pak Somat yang seperti itu membuat teman Pak Somat berinisiatif untuk membantu Pak Somat.
Pertama, temannya itu mengambil ponsel Pak Somat dan panggilan itu masih terhubung.
Tertulis kalau menantu yang menghubunginya dan teman Pak Somat pun menanyakan apa yang terjadi.
Darren mengatakan kalau Je ada di rumah sakit xxx, setelah itu, teman Pak Somat mengantarkan ke rumah sakit tersebut.
Sesampainya di sana, Pak Somat melihat Darren yang duduk di kursi panjang dengan menunduk.
Darren yang menyadari kedatangan mertuanya itu pun mengangkat kepalanya, lalu, berdiri dan menunjuk ke arah ruang operasi.
Tidak lama kemudian dokter keluar dan mengatakan kalau Je masih kritis dan sekarang sedang dibawa ke ruangan ICU.
Terpukul, Darren sangat terpukul, seketika, ia ingat dengan segala kemanjaan istrinya yang selalu meminta perhatiannya.
Darren terdiam, ia tidak tau harus mengatakan apa dan berbuat apa yang Darren tau meminta pada dokter untuk menyelamatkan istrinya.
__ADS_1
"Dok, pastikan istri saya selamat, saya mohon," kata Darren seraya mengambil tangan dokter pria yang ada di depannya.
"Bapak harus banyak berdoa, semoga pasien kuat dan segera melewati masa kritisnya, untuk saat ini, doa dan dukungan dari orang-orang terkasih sangat dibutuhkannya.
Mendengar itu, Pak Somat pun segera az mencari mushola, Pak Somat melaksanakan sholat dzuhur dan berdoa untuk putrinya.
" Ya Tuhan. Hamba sadar selama ini telah jauh dan sering kali mengabaikan semua perintah mu, tetapi, dengan tidak tau malu hamba memohon dan sangat memohon untuk keselamatan putriku, anak yang telah engkau titipkan pada hamba." Setelah berdoa Pak Somat pun mengusapkan telapak tangannya ke wajah.
Dan Pak Somat masih belum berhenti menangis.
Sementara Darren, ia sedang menggenggam tangan istrinya.
"Je, bangun Je. Jangan seperti ini, aku takut, jangan buatku takut, Je," tangis Darren.
Dan suster yang mendengar itu meminta pada Darren untuk menguatkan pasien dan Darren pun mengangguk.
"Je, aku sayang kamu, bukankah kamu minta aku sering mengucapkan kata cinta? Tanpa kamu minta pun, aku sudah mencintaimu, kamu yang ada di hatiku, Je," ucap Darren, setelah itu Darren mengecup punggung tangan istrinya dan air mata menetes membasahi punggung tangan itu.
Dan Darren pun mengucapkan kata maafnya, ia meminta maaf karena terlampau sering mengabaikannya.
Setelah jam besuk selesai, sekarang, Darren dimintai untuk keluar dari ruangan dan Darren meminta waktu sedikit lagi dan suster tidak mengijinkannya.
Setelah itu, Darren keluar dari ruang ICU dan ternyata di depan ruangan itu sudah banyak orang yang berkumpul.
Sam yang melihat putranya begitu pilu itu segera memeluknya. Ia mengusap punggung putranya, Sam sendiri pernah mengalami kehilangan dan Sam sangat mengerti perasaan putranya.
"Sabar, yakinlah kalau istrimu akan kuat," kata Sam dan Darren yang bersedih itu tidak dapat menjawab dan semua orang termasuk sahabatnya mendoakan keselamatan Jeje.
Begitu juga dengan Salsa, ia yang sering kali bersikap buruk pada Jeje itu merasa sedikit menyesal, ia takut kalau ini adalah akhir dari Jeje dan sama sekali ia tak memiliki kesempatan untuk meminta maaf.
Dan Akmal yang berdiri di sampingnya itu mengusap punggung istrinya, membuat Salsa tersadar dan sekarang, Salsa menjatuhkan kepalanya di dada suaminya, ia menangis ikut merasakan kesedihan sahabatnya.
Tidak lama kemudian, Arsenio datang, ia mengatakan kalau sudah melaporkan kejadian tersebut dan sayangnya plat nomor itu palsu.
Justin yang mendengar itu hanya bisa diam dan Justin mengatakan pada Rossi kalau dirinya memiliki urusan.
__ADS_1
"Urusan apa? Tidak ada yang lebih penting dari ini," bisik Rossi dan Justin tetap juga pergi.
Ia tidak tau harus kemana, tetapi, langkahnya itu membawanya ke tempat Lea.
Sesampainya di kos-kosan Lea, Justin dipersilahkan untuk masuk dan tanpa basa-basi lagi, Justin meminta pada Lea untuk pergi dari kota.
"Kenapa aku harus pergi, aku kira kamu datang karena merindukanku, kamu ingin tidur lagi bersamaku," jawab Lea yang masih berdiri di pintu.
"Menjijikan, aku tau kamu adalah dalang di balik kecelakaan istri Darren, kamu mau mendekam lagi di penjara atau mau pergi tanpa muncul dan mengganggu kami lagi?" tanya Justin seraya mengambil ponselnya dan ponsel itu direbut oleh Lea dan Justin sudah bersiap menghubungi kantor polisi.
"Kamu tidak memiliki bukti apapun dan atas dasar apa kamu menuduhku?" tanya Lea.
"Kamu tidak bisa mengelak dari ku, aku tau itu adalah kamu! Ku tunggu sampai jam 3 sore kalau kamu masih di sini jangan salahkan polisi menangkapmu!" kata Justin dan sekarang Justin mengambil kembali ponselnya, ia pun pergi dari kosan Lea.
Lea memperhatikan Justin sampai tak terlihat.
"Sial, dari mana dia tau? Kenapa dia tidak langsung membawa polisi? Atau jangan-jangan dia merasa tidak tega padaku?" tanya Lea dalam hati.
Sementara itu, di mobil, Justin menjadi dilema, ia tidak tau apa yang dilakukannya ini adalah benar atau salah.
"Jangan tanyakan ini, Justin. Ini sudah jelas salah!" kata hati terdalamnya dan Justin merasa frustasi.
"Astaga, Lea. Kamu membuatku pusing!" kata Justin dalam hati.
Dan Lea yang mendapatkan ancaman itu pun benar-benar pergi jauh.
"Sial, aku harus kehilangan kesempatan membalas dendam ku pada Rossi!" kata Lea seraya memasukkan pakaiannya ke dalam tas jinjingnya.
Dan setelah itu, Lea pun pergi walau tanpa arah tujuan yang jelas.
****
"Hidupmu akan terlunta-lunta, Lea!" kata Justin dalam hati dan sekarang, Justin kembali ke rumah sakit.
Kabar baiknya, Jeje sudah melewati masa kritis, tetapi, Jeje masih harus tetap di ruang ICU.
__ADS_1
Justin pun mengucapkan kata syukurnya dan Justin menyembunyikan fakta yang sebenarnya kalau Lea lah yang melakukan ini.
Bersambung..