MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
AKU MENCINTAIMU, JANGAN PERGI LAGI! TAMAT


__ADS_3

Darren mengejarnya, sayangnya, ia sudah tidak melihat Nara.


"Bagaimana, Mas?" tanya Jeje yang ada di belakangnya.


Darren menjawab dengan menggeleng, setelah itu, Darren segera menghubungi Sam.


Sam yang sedang bekerja itu menerima panggilan tersebut.


"Halo?"


"Pih, Ryder di culik, Nara membawanya kabur," kata Darren dan Sam yang tak habis pikir itu segera memanggil Dandi untuk membantu mencarinya.


Brak! Suara Sam membuka pintu Dandi dengan kencang, ia merasa kesal karena kali ini Dandi membawakan orang yang salah.


"Tuan," lirih Dandi seraya bangun dari duduk. Ia menatap Sam yang sedang menatapnya tajam.


"Cari Nara sampai dapat!" perintah Sam.


Tanpa bertanya, Dandi segera mengerjakan tugas tersebut.


"Sial!" umpat Sam yang berjalan di belakang Dandi dan Dandi mengira kalau umpatan itu untuk dirinya.


"Ada apa ini, kenapa Tuan sampai marah besar? Apa yang sudah Nara lakukan?" tanya Dandi dalam hati.


Sekarang, Dandi sudah berada di mobilnya dan segera melajukannya dengan kecepatan sedang, pria tampan itu memikirkan Nara.


"Harus ku cari di mana dia?" tanyanya pada diri sendiri.


Lalu, Dandi mencoba mencari ke rumah Ibu Nara dan Dandi memperhatikan rumah itu dari mobil, terlihat sepi dan Dandi berpikir kalau Nara tidak ada di sana.


Baru saja Dandi akan pergi meninggalkan tempatnya bersembunyi, ia melihat Nara yang sedang tergesa, terlihat Nara yang menggendong Ryder.


"Astaga, kenapa Den Ryder ada sama suster? Apa ini alasan aku harus mencarinya?" tanyanya pada diri sendiri.


Sekarang, Dandi menghubungi Darren dan mengatakan kalau dirinya sudah menemukan Nara.


Darren meminta pada Dandi untuk memberikan alamat tersebut dan baru saja Dandi akan memberikan alamat, Dandi sudah melihat Nara keluar dengan membawa koper.


"Sepertinya dia akan pergi jauh," kata Dandi.


Kemudian, Dandi dan Darren pun menyusun rencana.


Darren membawa polisi dan Dandi selalu mengikuti Nara, Dandi mengatakan kalau Nara pergi ke arah bandara.


"Sial, mau dibawa kemana anakku?" tanya Darren yang sedang mengemudi.


Sementara itu, Jeje yang duduk di samping Darren terlihat sangat cemas. Ia takut kalau rencananya akan gagal dan Nara segera membawanya pergi.


"Kita tidak akan gagal, sayang!" kata Darren dengan pandangan tetap lurus ke depan.


Sekarang, Darren dan semua orang sudah sampai di bandara.


****

__ADS_1


Di dalam taksi, Nara melihat banyak polisi dan ia mengatur nafasnya supaya tidak terlihat mencurigakan.


Ia tidak berpikir kalau dirinya yang sedang dicari.


"Mana mungkin mereka tau kalau aku akan ke sini, berarti, polisi ini sedang mencari yang lain selain aku," ucap Nara dalam hati.


Namun, Nara salah, walau tidak mencurigakan, tetapi, nama dan wajahnya sudah dikenali.


Dengan langkah yang santai, Nara melangkah masuk ke bandara dan langkahnya terhenti saat melihat Darren dan Jeje sudah menunggu di dalam bandara.


Nara, Jeje dan Darren saling menatap. Kemudian, Nara mendengar suara yang tidak asing berteriak memanggil namanya.


"Nara!" teriak Dandi yang berdiri tidak jauh di belakang Nara.


Nara pun menoleh.


Sekarang, Nara berpikir untuk melarikan diri, tetapi, Nara sudah terkepung.


"Kalian, beraninya main keroyokan!" sergah Nara yang semakin mengeratkan pelukannya pada Ryder.


Ryder yang melihat Darren pun memanggilnya, "Papa."


"Lepaskan anakku, cepat!" perintah Darren dan Nara terkekeh.


"Ryder hanya mau denganku!" jawab Nara dengan begitu yakinnya.


Dan sebenarnya, Nara sedang sangat takut melihat banyak polisi yang menodongkan pistol ke arahnya.


"Jahat kamu, Pak! Kenapa Bapak lakukan ini sama saya?" tanya Nara seraya menatap Darren.


Dan tidak semudah itu karena Nara memeluk erat Ryder sehingga Ryder merasa takut dengan situasi yang menegangkan.


Lalu, Jeje yang sudah tidak tahan itu mulai mendekat dan memaksa Nara untuk melepaskannya.


"Lepaskan!" perintah Jeje yang membentak Nara.


Ryder pun semakin menangis, ia takut dengan ibunya sendiri, sekarang, Ryder memeluk Nara.


"Anda lihat, Bu. Ryder hanya mau denganku!" ejek Nara pada Jeje dan Jeje yang sudah tidak tahan itu meninju mata Nara.


"Rasakan itu!" umpat Jeje dan selagi Nara kesakitan, Jeje berkesempatan untuk mengambil Ryder.


Darren yang melihat Jeje begitu menyeramkan pun sedikit tersenyum tak percaya dengan apa yang dilakukannya.


"Apa?" tanya Jeje yang sedang ditertawakan oleh Darren, lalu, Darren memeluk Jeje dan meminta Ryder dari pelukan ibunya.


Jeje yang mengerti kalau Ryder masih takut itu pun tak menolak.


Sekarang, polisi segera menggelandang Nara yang sedang mimisan karena terkena tinju.


Nara yang sudah diborgol itu menatap tajam pada Jeje, Darren dan Dandi.


"Awas kalian, kalian akan mendapatkan balasannya!" teriak Nara.

__ADS_1


Setelah Nara tak terlihat, Darren mengucapkan terima kasihnya pada Dandi karena dapat menemukan Nara dengan cepat dan tepat waktu.


****


Sekarang, Darren beserta keluarga kecilnya sudah sampai di rumah dan Darren dapat merasakan kebahagiaan yang sudah menanti.


"Mas," lirih Jeje yang berada samping Darren.


Darren yang sedang menggendong Ryder pun menoleh.


"Iya, ada apa?" tanya Darren, ia takut kalau istrinya masih sakit dan Jeje tersenyum tipis.


"Sebenarnya, aku tidak hilang ingatan," kata Jeje, ia menatap Darren yang sedang menatapnya.


"Kamu harus mendapatkan hukuman!" kata Darren seraya membawa Ryder ke kamar.


Jeje pun mengekor dan memprotes suaminya.


"Tidak, aku tidak mau dihukum, bagaimana kamu tega menghukumku, Mas?"


Dan sekarang, Darren mengunci kamar tersebut.


Sekarang, Darren membaringkan Ryder yang tertidur, ia memberikan tanda pada Jeje supaya tidak berisik dengan meletakkan telunjuknya di bibir.


Sekarang, Darren dan Jeje berdiri di samping ranjang, memperhatikan Ryder yang kelelahan.


Dan Darren segera memeluk istrinya dari belakang seraya mengecup kecil leher istrinya dan itu membuat Jeje merasa geli dan berbalik badan untuk mendorong Darren. Tetapi, Darren tak mau melepaskan.


Sekarang, Darren mengecup kening istrinya.


"Aku mencintaimu, Je. Sangat, jangan pergi lagi, kamu tau, aku bisa gila karenamu!" kata Darren dan sekarang, Darren meraih tangan Jeje, mengecup punggung tangan itu dengan mesra.


Jeje yang merasakan cinta tulus dari suaminya itu menitikkan air mata.


Darren mengusap air mata itu.


Dan pandangan Darren beralih ke bibir seksi istrinya, ia pun mengecup dan lama-kelamaan kecupan itu menjadi ciuman panas.


Baru saja Darren akan melepaskan apa yang melekat pada Jeje, ia sudah mendengar suara Sam yang berteriak memanggilnya.


"Darren, di mana cucuku!" teriak Sam yang berada di depan kamar.


"Astaga, sangat tidak tepat waktu!" gerutu Darren seraya mengusap bibir istrinya yang basah karenanya.


"Memang, ini masih sore, Mas. Enak kalau malam, bebas hambatan," jawab Jeje seraya merapikan kembali penampilannya.


"Bukan kita, Papi yang tidak tepat waktu!" kata Darren dan tamat.


Kebahagiaan Darren dan Jeje sudah teramat lengkap.


Istri yang kembali kepelukan dan Ryder yang ada di tengah keluarga kecil mereka, itu membuat Darren berjanji pada dirinya untuk menjaga.


Dan Darren pun membuktikannya dengan bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Terima kasih saya ucapkan pada rider yang membaca karya ini sampai tamat dan mohon maaf karena menunggu kelanjutan episode terakhir ini begitu lama.


Mohon maaf untuk segala kekurangan tulisan saya 🙏


__ADS_2