
Darren tidak menerima ucapan istrinya yang mengatakan kalau dirinya kesepian, karena dari awal menikah memang begitu adanya dan kenapa sekarang Jeje mempermasalahkannya, begitu lah pikir Darren.
Darren pun sedikit tertawa.
"Ada yang lucu?" tanya Jeje pada suaminya.
"Iya, kamu lucu. Kemana saja... kenapa baru sekarang kamu bilang kesepian? Atau karena sekarang kamu sudah mengenal duda beranak satu itu?" tanya Darren.
Dan pertengkaran keduanya itu harus tertunda saat ada Salsa dan ibu-ibu lainnya yang mengantarkan putra-putrinya untuk les di rumah Darren.
Dan karena perasaannya masih ada yang mengganjal, Darren mengatakan pada semua yang datang kalau les libur dulu, Jeje menatap suaminya dan Darren berjalan ke arah kamar.
Jeje yang masih memiliki banyak pertanyaan itu menyusulnya.
"Kenapa kamu liburkan mereka? Mereka ingin belajar," kata Jeje dan Darren yang berjalan di tangga itu menghentikan langkah kakinya, ia menatap Jeje yang masih ada di lantai bawah.
"Mulai sekarang aku tidak mau lagi kamu ada kegiatan apapun selain mengurusku!" jawab Darren dan Jeje keberatan, ia pun menyusul Darren ke kamar.
"Bukannya kita sudah ada perjanjian, aku berhenti bekerja jika hamil, kenapa sekarang kamu ingkar?" tanya Jeje dan pertengkaran ini di dengar oleh bibi yang ikut merasa sakit kepala.
"Aden, Non. Kenapa kalian sama-sama keras? Bibi takut kalian nantinya akan jadi saling menjauh," kata bibi yang sedang mengelap lemari-lemari kaca.
Kemudian, bibi berdoa untuk Jeje, supaya Jeje segera hamil dan ada suara tangis bayi yang mewarnai rumah Darren.
****
Sementara itu, di kamar, Jeje melihat Darren yang menjatuhkan dirinya di ranjang, Jeje merasa kesal karena setiap perselisihan tidak diselesaikan dengan baik dan itu membuat Jeje sangat bersedih.
Bicara tak didengar, tak bicara ingin ada yang disampaikan. Mendapati dirinya diabaikan membuat Jeje memilih untuk segera mengganti seragamnya.
Ia menatap lama pada seragam itu dan ia ingin sekali lagi menanyakan keputusan Darren yang menyuruhnya untuk berhenti.
Sekarang, Jeje duduk di tepi ranjang, ia menatap Darren dan rasanya sangat sekali ingin menggigit suaminya dan Jeje yang begitu kesal pun menggigit lengan Darren.
Tentu saja, Darren yang hampir pulas itu terkejut dan segera membuka mata, Darren melihat Jeje yang menangis dan Darren merengkuh istrinya.
Ia membawanya ke pelukan dan siang ini keduanya tidur bersama dengan Darren memeluk istrinya.
Dan entah ada angin apa, Darren yang memeluknya dari belakang itu mengucapkan kata cinta, "I love you."
Mendengar itu, Jeje merasa senang dan segera berbalik badan, Jeje menatap suaminya dan Darren mengecup bibirnya.
Lalu, Jeje yang masih sebal pada Darren itu mendorongnya, tujuannya adalah supaya Darren membuka mata dan benar saja, Darren menatap istrinya dan bertanya, "Kenapa? Kamu masih sayang aku tidak, sih?"
"Kenapa kamu pertanyakan, aku selalu mencintaimu, kalau tidak mana mungkin aku bersabar ketika selalu kamu abaikan," jawab Jeje.
"Aku tidak niat mengabaikanmu, aku memang begini adanya, kamu tau, bagiku, menjadi romantis itu sangat aneh," kata Darren dan Darren kembali memeluk istrinya.
"Tapi, perempuan itu suka jika suaminya memperhatikan, kamu tau itu, kan, Mas?" tanya Jeje dan Darren meminta maaf karena belum menjadi suami yang sempurna.
Mendengar itu, Jeje menjadi merasa bersalah dan Jeje juga meminta maaf karena kurang memahami suaminya.
Karena keduanya sudah saling memaafkan, sekarang, Darren mengajak istrinya untuk ber-anu ria.
Setelah itu, keduanya mandi sore bersama, selesai dengan mandi, Darren mengajak istrinya untuk berbelanja.
Jeje pun merasa senang dan sekarang, keduanya sudah ada di dalam mobil.
"Dasarnya cewek, ngajak bercinta dan belanja saja ribet, harus ribut dulu, padahal, tinggal katakan saja pasti akan diberikan dengan senang hati!" kata Darren dan Jeje mendengarnya, Jeje mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tidak ikhlas?" tanya Jeje dan Darren mengatakan kalau sangat ikhlas.
__ADS_1
Di perjalanan, Darren mengulangi permintaannya lagi yaitu meminta Jeje untuk di rumah saja.
Jeje terdiam, ia merasa sangat berat untuk melepaskan apa yang sejak dulu diinginkannya.
"Je, lagi pula, kamu sudah mengajar selama dua tahun, siapa tau setelah kamu tidak sibuk kita bisa punya anak," kata Darren seraya mengambil tangan kanan istrinya untuk digenggam.
Jeje menatap suaminya dengan raut wajah yang sedih.
Tetapi, bagi Darren, raut wajah sedih itu hanya sementara.
Dan Jeje masih belum memberikan jawaban pada Darren, Jeje meminta waktu untuk memikirkannya.
Jeje berjanji besok akan memberikan jawabannya, sementara Darren, ia bicara dalam hati, "Mau sekarang atau besok sama saja, Je. Aku tetap menyuruhmu untuk berhenti!"
Tidak lama kemudian, sekarang, Darren dan Jeje sudah sampai di mall dan Darren membukakan pintu untuk istrinya.
Di mall, Darren melihat sebuah keluarga dengan 3 orang anak terlihat Ibunya sangat kerepotan sedangkan si Bapak terus memainkan ponselnya.
Melihat itu, Darren menjadi kesal sendiri.
Darren berpikir, pantas saja Jeje selalu merajuk jika dirinya terlalu banyak memegang ponsel.
Sekarang, Darren sedikit menyadarinya, ya, begitulah Darren, sebentar sadar sebentar juga melupakan.
Sekarang, Darren menggandeng tangan istrinya dan Jeje yang merasakan itu pun tersenyum, kemudian, Jeje bergelayut manja di lengan suami.
Sebelum berbelanja, Darren mengajak istrinya untuk makan sore lebih dulu dan Jeje mengiyakan.
Sekarang, Darren mengajak Jeje makan di restoran siap saji dan seraya menunggu makanannya datang, Darren ingin buang air kecil lebih dulu dan Darren mengatakan itu pada Jeje.
Jeje mengiyakan dan Darren segera bangun, pria tampan itu ke toilet dan di sana, Darren tidak sengaja bertemu dengan Satria.
"Sepertinya di mana-mana ada kamu," kata Darren seraya mencuci tangannya di wastafel.
Darren tak menanggapi, ia segera berlalu begitu saja dan Satria menganggap Darren sebagai pria yang sombong.
Sekarang, Darren sudah bergabung di meja makan bersama Jeje dan dari kejauhan, Satria memperhatikan keduanya.
Satria sangat menayangkan karena ternyata Jeje sudah menikah, padahal, bagi satria, Jeje adalah wanita idaman karena Jeje dapat dengan mudah menaklukkan hati Gania, gadis yang selama ini selalu menolak jika Ayahnya dekat dengan teman wanitanya.
Selesai dengan makan, sekarang, Darren dan Jeje berbelanja, Darren membelikan beberapa stel pakaian untuk istrinya dan Darren melarang Jeje untuk memborong.
"Beli yang kamu butuhkan saja," kata Darren dan Jeje mengangguk.
Lalu, Jeje menanyakan baju yang Darren inginkan dan Darren mengatakan kalau pakaiannya masih banyak dan belum membutuhkan lagi.
"Baiklah," kata Jeje, kemudian, Jeje melihat kaos couple dan mengambilnya, kali ini Darren tidak dapat menolak.
Dan keduanya masih diperhatikan oleh Satria dari kejauhan, pria itu sedang mencari pakaian anak-anak.
Satria merasa beruntung karena Gania tidak ikut dengannya, karena Satria akan kerepotan jika Gania melihat Jeje.
****
Malam ini, Jeje tidak dapat tidur, ia terjaga karena memikirkan perintah Darren yang memintanya untuk berhenti mengajar.
Jeje pun menceritakannya pada Arum dan Arum menanyakan alasannya.
Jeje beralasan kalau Darren ingin dirinya tetap di rumah, hanya mengurus suami.
Arum mengatakan kalau tidak ada salahnya untuk mengikuti Darren karena Darren sudah berkecukupan.
__ADS_1
"Enak dong, Je. Kamu tinggal modal nemenin bobo saja sudah," kata Arum dan Jeje membalas dengan mengirim emoticon wajah datar (😑).
Dan Arum menertawakannya.
Kemudian, Arum kembali menanyakan alasan Jeje yang terasa berat untuk mengikuti perintah suaminya dan Jeje mengatakan kalau dirinya suka anak-anak dan suka mengajar.
Lalu, Arum mengingatkan Jeje kalau dirinya tetap bisa mengajar, tetapi di rumah dan Jeje menjadi memiliki ide yaitu tetap membuka les di rumah.
Jeje mengucapkan terima kasih pada Arum dan setelah itu Jeje benar-benar menyusul suaminya ke alam mimpi.
Keesokan paginya, seperti biasa, Jeje bangun lebih dulu dan Jeje menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya, lalu, membantu bibi untuk menyiapkan sarapannya.
Selesai dengan itu, Jeje membangunkan Darren yang setiap hari dan setiap pagi harus dibangunkan oleh istrinya.
"Astaga, aku masih ngantuk, Je!" kata Darren dan Darren merubah posisinya menjadi memunggungi istrinya.
Dan Jeje pun tidak mau kalah, ia pindah tempat duduk ke depan suaminya.
Jeje membuka mata Darren menggunakan jarinya dan akhirnya, mau tidak mau, Darren pun membuka mata, ia bangun dan segera ke kamar mandi untuk membuang air kecil.
Setelah itu, Jeje yang masih duduk di ranjang menatap Darren dengan tersenyum.
"Kamu masih mau ngajar?" tanya Darren dan Jeje mengangguk.
"Kamu tidak mau dengar ucapanku?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan itu, Jeje tersenyum, ia bangun dari duduk, berjalan ke arah suaminya berdiri dan Jeje melingkarkan lengannya di leher suaminya.
"Hari terakhir, biarkan aku pamit pada anak-anak," pinta Jeje dan Darren melepaskan tangan Jeje yang melingkar di lehernya.
"Jangan bohong!" kata Darren seraya berjalan keluar dari kamar dan Jeje yang berjalan mengikutinya itu membuat sebuah permintaan.
"Dengan satu syarat," kata Jeje dan Darren menghentikan langkah, ia berbalik badan, menatap Jeje yang sedang menatapnya.
"Apa?" tanya Darren.
"Biarkan aku tetap ngajar di rumah," pinta Jeje dengan wajah memelas.
Darren memikirkan permintaan istrinya dan Darren berpikir kalau itu tidak ada salahnya karena Gania tidak les di rumah dan mana mungkin Satria akan menemui istri orang di rumah suaminya, begitulah pikir Darren.
Singkat cerita, sekarang, Jeje sedang menatap satu persatu wajah anak-anaknya dan Jeje merasa tidak tega untuk berpamitan.
Tetapi, Jeje merasa harus pamit.
Dan paling yang sedih adalah Gania, Gania terdiam, ia sampai tidak dapat lagi mengekspresikan kesedihannya.
Yang Gania tau, ia terluka, tapi tak berdarah.
Sementara Gala, ia tetap bisa bertemu dengan Jeje di rumah Kakek dan Neneknya.
Dan sepulang sekolah, Gania tidak mau keluar dari kamar, bibi memberitahu Satria tentang itu membuat Satria bertanya, "Ada apa lagi dengan anak itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Dan teman Satria yang sedang ada di ruangannya itu menanyakan dan Satria menjawab apa adanya.
"Makanya, nikah bro, biar Gania ada yang mengurus," kata Ridho, teman Satria.
"Kamu pikir, menikah seperti membeli kucing dalam karung?" tanya Satria seraya menatap temannya itu.
Walau begitu, Satria membenarkan apa yang dikatakan oleh temannya kalau Gania membutuhkan sosok ibu.
Dapatkah Satria mencarikan sosok ibu untuk Gania?
__ADS_1
Bersambung.