MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Seperti Penjahat


__ADS_3

Esok paginya, Rossi sedang disibukkan dengan rutinitas paginya, ia harus menyiapkan sarapan Gala yang hanya mau makan masakannya saja dan Justin pun menjadi demikian.


Justin ingin makan makanan yang setiap hari disediakan oleh istri tercintanya.


Selesai dengan itu, Justin berangkat bekerja dan Rossi mengantarkan Gala ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, "Gala, kalau Tante kamu ngajarinnya tidak benar, kamu harus bilang pada Kakekmu, ya!" kata Rossi dan Gala pun mengangguk.


Setelah itu, Gala turun dari mobil dan segera mengantarkannya menyebrang dan di seberang jalan, Gala sudah ditunggu oleh Gania.


"Gala," sapa Gania seraya melambaikan tangannya.


Gala hanya menoleh dan tidak membalas sapaan itu.


Setelah itu, keduanya berjalan bersamaan.


Sementara itu, Satria masih ada di luar, ia menunggu Jeje karena ada yang ingin disampaikannya.


Dan yang ditunggu pun datang, Jeje datang dengan mengendarai motornya sendiri.


Melihat Jeje sudah sampai, Satria pun segera berdiri, ia menyambut guru favorit putrinya.


Jeje yang melihat ada Satria pun berhenti di depan gerbang, ia menanyakan keperluan Satria.


"Maaf, Bu. Ada yang ingin saya bicarakan," kata Satria seraya menatap Jeje.


Jeje pun mematikan mesin motornya, ia bertanya, "Iya, ada apa, ya, Pak?"


"Begini, soal semalam, saya merasa tidak enak, mohon maafkan kelancangan saya," kata Satria seraya tersenyum.


"Oh... itu. Iya tidak apa-apa, lagi pula seharusnya saya yang berterima kasih, karena mendapatkan undangan makan malam gratis," kata Jeje, tentu saja Jeje mengatakan itu sedikit bercanda.


"Kalau Ibu suka, nanti lain kali akan kami undang lagi," kata Satria.


"Tidak usah repot-repot, Pak. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu," kata Jeje dan Satria pun mempersilahkan.


Setelah beberapa kali bertemu, ternyata mampu membuat Satria juga begitu menyukai Jeje.


Satria sayang menyayangkan karena Jeje adalah istri orang.


Setelah itu, Satria pun segera pergi karena harus bekerja.


****


Beberapa hari berlalu, Darren mendapatkan undangan dari salah satu karyawannya yang akan menikah.


Dan malam ini, Darren mengatakannya pada Jeje.


"Je," panggil Darren yang sedang berbaring di ranjang.


Jeje yang sedang merapikan lemarinya itu menoleh, "Iya?"


"Besok kita pergi ke undangan, Jono menikah," kata Darren.

__ADS_1


"Besok?" tanya Jeje dengan masih menatap Darren.


"Iya, kamu besok free, kan?" tanya Darren.


"Iya, sih. Tapi... aku ada acara sendiri, salah satu murid ku, dia ulang tahun dan mengundangku," kata Jeje, setelah itu, Jeje melanjutkannya apa yang sedang dikerjakannya.


"Siapa?" tanya Darren, ia berpikir kalau yang mengundangnya adalah Gania dan memang benar adanya.


Setelah mengetahui itu, Darren melarangnya untuk datang, tetapi, Jeje merasa tidak enak jika membatalkannya.


"Aku tidak enak, Mas. Kalau mau tidak datang sudah seharusnya aku menolak dari awal," kata Jeje dan Darren menatapnya datar.


"Kamu lebih nurut sama suami atau orang lain, Je?" tanya Darren dan Jeje menjadi serba salah.


"Terus, aku harus batalin undangannya?" tanya Jeje dan Darren membenarkannya.


"Ya, memang seharusnya seperti itu," kata Darren.


Lalu, Jeje mengambil ponselnya, ia ingin memberitahu kalau dirinya tidak dapat datang, tetapi, baru saja Jeje mencari nama wali murid tersebut, Darren sudah memeluknya dari belakang.


"Pacaran, yuk," ajak Darren dan Jeje pun tersenyum, ia menjadi lupa kalau akan membatalkannya.


Esok harinya, pagi-pagi sekali Jeje dan Darren sudah siap, keduanya ingin ke rumah Sam lebih dulu.


Sesampainya di rumah Sam, Lovely yang sekarang sudah berusia 8 tahun itu menyambutnya, ia langsung berlari ke arah Darren.


"Sepertinya ada sesuatu," kata Darren pada Lovely dan Lovely pun tersenyum.


"Ka, Ily mau gadget keluaran terbaru, beliin, ya," rengek Lovely.


"Bukan tidak mau, kamu tau, kalau dituruti semua kemauannya, dia tidak akan belajar bertanggung jawab," timpal Sam yang menyusul Lovely ke depan.


Pasalnya, baru saja Lovely mendapatkan ponsel baru yang kemarin juga ia inginkan dan sekarang sudah merengek yang lainnya lagi.


Akhirnya, Darren pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sam.


Sekarang, Lovely hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


"Kalian nyebelin," kata Lovely seraya berjalan cepat, gadis yang tingginya sudah sama dengan Viona itu merajuk, ia masuk ke kamar dan tidak lupa mengunci pintunya.


Baru saja Lovely masuk ke kamar, sudah ada Kiky yang memanggil, Kiky adalah anak janda depan rumah yang masih setia menempati kos Rossi.


Lovely dan Kiky satu sekolah dan juga satu kelas, lalu, Viona menjawab kalau Lovely ada di kamar.


Viona menyuruh Kiky untuk menyusulnya dan Kiky pun segera berlari ke kamar Lovely.


****


Melihat itu, Jeje merasa seru, ia membayangkan betapa ramainya rumah ketika ada anak-anak dan Jeje berdoa meminta semoga segera dikaruniai momongan.


Singkat cerita, sekarang, Darren dan Jeje sudah ada di pesta pernikahan Jono dan Jeje yang begitu sibuk bersama suaminya itu sampai lupa memberi kabar pada Gania kalau dirinya tidak datang.


Dan Gania masih tetap menunggu.

__ADS_1


"Sayang, ayo tiup lilin sekarang, kasian teman-teman kamu sudah menunggu," bisik Satria dan Gania yang merasa kecewa itu tak mau mendengarkan apa yang Satria katakan.


Justru Gania berlari meninggalkan pesta tersebut.


Satria hanya menatap putrinya yang berlari dan pesta ulang tahun tetap dilanjutkan tanpa Gania.


Sekarang, pesta telah selesai, Satria menyusul Gania ke kamar dan Gania menangis.


"Kenapa Bu Jihan tidak datang?" tanya Gania seraya menangis sesenggukan.


Melihat itu, Satria pun menjadi tidak tega, ia memeluk putrinya dan mencoba menenangkan.


Tetapi, walau menangisnya sudah diam, Gania menjadi tidak mau makan dan sekarang, Gania harus demam.


Satria membawa Gania ke rumah sakit dan setelah mendapatkan obatnya, Satria mengajak Gania untuk pulang.


Gania hanya diam, gadis kecil itu terlihat sangat murung, walau sudah dihibur, Gania tetap tidak mau membuka mulutnya.


Satria berpikir, "Mungkin nanti setelah sehari atau dua hari Gania akan membaik."


Sekarang, keduanya sudah sampai di rumah dan Satria menggendong belakang putrinya.


Satria terus mengoceh untuk menghibur putrinya yang malang, tetapi, Gania sama sekali tidak mau mendengarkan Ayahnya.


Sekarang, Satria membawa Gania ke kamar, ia mengambilkan makanan untuk putrinya dan Gania sama sekali tidak mau makan.


Satria pun menjadi cemas, ia keluar dari kamar Gania dengan begitu lemas nya, pria berpakaian santai itu merogoh sakunya, ia mencari nama guru Gania dan menatapnya sedikit lama.


Satria bingung antara menghubunginya atau tidak, jika tidak kesehatan putrinya akan terganggu.


Jika menghubunginya, Satria akan merasakan mengganggu Jeje dan Darren.


Setelah itu, Satria menitipkan putrinya pada bibi, ia mengatakan kalau harus keluar sebentar.


Satria pergi untuk mencari rumah Jeje, tetapi, karena tidak tau alamatnya, Satria pun menjadi bingung.


"Astaga, Gania. Seandainya kamu inginkan es krim beserta pabriknya, Ayah akan membelikannya," ucap Satria.


Sekarang, Satria menemukan lampu merah dan Satria harus berhenti dan saat itu juga, Satria melihat ke kanannya, terlihat Jeje menurunkan kaca mobil untuk memberi koin pada pengamen.


Satria merasa kesal melihat Jeje yang sedang bersama dengan Darren.


"Setidaknya, kamu bisa memberi kabar, Bu!" kata Satria masih dengan menatap Jeje juga Darren.


Dan kali ini, Satria sudah seperti seorang penjahat yang mengikuti ke mana arah mobil Darren.


Dan Satria pergi setelah mengetahui di mana Jeje tinggal.


Satria sendiri merasa jahat, tetapi, Satria selalu lemah jika itu berurusan dengan Gania.


"Gania," lirih Satria dan sekarang, duda beranak satu itu pulang, ia khawatir dengan putrinya.


Sebelum sampai rumah, Satria berhenti di salah satu toko mainan, ia membelikan boneka beruang dan ia menuliskan kalau itu adalah pemberian dari Jeje.

__ADS_1


Apakah usaha Satria akan berhasil?


Bersambung..


__ADS_2