
Akhirnya, pagi ini, Justin kembali tidak bersemangat dan pagi ini Justin sudah ada di kantor Darren.
Justin yang menunggu terlalu lama itu akhirnya menghubungi Darren dan Darren yang sedang berolahraga pagi bersama Jeje itu mengabaikan panggilannya.
"Brengsek, sedang apa dia pagi-pagi, apa belum bangun?" tanyanya seraya menatap layar ponselnya.
Dan Justin tidak berhenti menghubunginya.
****
Sementara itu, Darren yang sedang bersama Jeje hanya menatap ponselnya yang terus berdering.
Darren yang sudah dua hari tidak bertemu dengan istrinya memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut dan setelah selesai, Darren pun segera memungut pakaiannya, ia pun menghubungi Justin.
Justin yang melihat itu segera menggeser tombol hijau.
"Di mana kamu, kenapa sudah siang belum di kantor?" tanya Justin.
"Bercocok tanam," jawab Darren.
Seketika Justin merasa ngilu dan mengirim, pasalnya semenjak Rossi hamil sangat susah untuk diajaknya bermain.
Tanpa menjawab perkataan Darren, Justin segera memutuskan sambungan teleponnya.
"Astaga," ucap Justin seraya kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.
Setelah itu, Justin memilih untuk pulang dan ia tidak lupa membawakan angkat buah asam untuk istrinya yang mengidam.
"Semoga dengan membawakan ini bisa membuatnya sedikit reda," harap Justin dan sesampainya di rumah, harapan itu benar adanya, karena Rossi sedikit mereda hingga mau menerima buah tangan yang dibawakan oleh suaminya.
"Sayang, aku mau tanya sesuatu," kata Justin.
"Apa?" tanya Rossi seraya berjalan membawa buah-buahan itu ke belakang.
"Apa yang membuatmu marah padaku?" tanya Justin yang sedang mengekori Rossi.
"Kamu tanya kenapa? Kamu tidak sadar, ya, Justin? Kamu selalu panggil aku gendut, kamu selalu malas ku bangunkan malam hari, padahal, aku begini ini karenamu, ini semua hasil karyamu, Justin!" kata Rossi menggunakan nada yang sedikit tinggi.
"Astaga, Rossi. Kalau panggilan gendut itu kan memang apa adanya, lagian situ panggilan gemas ku untuk kamu, Ross. Kalau bangun malam jujur aku sulit, aku baru tidur sudah kamu bangunkan, aku baru tidur lagi sudah dibangunkan Ayah. Aku ini manusia biasa, Ross, punya lelah dan kadang juga butuh dimanjakan," jawab Justin dan Rossi benar-benar mendengarkan.
__ADS_1
"Ya, bagaimana. Aku sedang hamil jadi seharusnya kamu yang perhatian sama aku, dengarkan aku, Justin, aku sedang hamil, aku tidak mau stress itu berbahaya untukku!" kata Rossi.
Dan benar saja, karena selalu bertengkar, sekarang, Rossi merasa pusing dan Rossi hampir jatuh jika Justin tidak sigap menangkapnya.
Justin segera menghubungi dokter dan singkat cerita, setelah pemeriksaan, sekarang, Justin dimintai untuk menjaga istrinya dengan baik. Dokter juga mengatakan untuk menghindari stress.
Justin pun mengiyakan dan setelah itu, Justin menemui istrinya kembali ke kamar, ia meminta maaf dan Rossi menjawab singkat, "Iya."
Sekarang, Justin memeluk istrinya dan tangan jahilnya itu tidak mau diam.
"Justin, ini masih siang, kondisikan tanganmu!" kata Rossi dan Justin tidak kau berhenti.
"Tidak siang, tidak malam, kamu selalu menolaku, Ross. Kamu tidak mau ber lama-lama denganku, kenapa?" tanya Justin seraya menatap Rossi yang juga sedang menatapnya.
"Sebenarnya, aku sebal setiap kali melihatmu, Jus, makanya aku tidak tahan dengan mu, jangan tanyakan kenapa, ini semua sudah bawaan bayi!" jawab Rossi, setelah itu, Rossi menarik nafas dalam.
"Astaga, apa salahku?" tanya Justin seraya bangun dari berbaringnya, ia bertanya seraya menatap perut gendut istrinya.
"Kenapa kamu mengomel? Dia anakmu dan masih bayi, tau!" protes Rossi.
Lalu, Justin tidak ingin lepas lagi dan kali ini inginkan jatahnya. Ia pun meminta pada Rossi dan Rossi yang melihatnya mengiba itu menjadi tidak tega.
Setelah itu, Rossi meminta pada Justin untuk mandi lebih dulu, karena Rossi sama sekali tidak menyukai bau suaminya.
Masih dengan semangat yang menggelora, Justin segera menghampiri Rossi yang ternyata sudah tidur pulas.
"Dibangunin marah, nih, pasti," gumam Justin.
Karena sudah kepalang tanggung, akhirnya, Justin menuntaskannya di kamar mandi.
"Ross... Ross. Kalau aku tidak takut dengan sumpah serapahmu, mungkin aku sudah jajan di luar," kata Justin yang masih ada di kamar mandi.
Selesai dengan itu, Justin melanjutkan untuk mandi dan setelahnya segera ke kantor sebelum Ayahnya menghubungi dan benar saja, baru saja Justin masuk ke mobil dan Ayahnya sudah menelepon.
"Ayah, Justin sudah di jalan, tadi Justin sibuk mengurus cucu Ayah," kata Justin sebelum mendapatkan pertanyaan mengapa belum sampai.
Mendengar nama cucu, Ayah Justin pun menjadi semangat, ia meminta pada Justin untuk mengirimkan hadiah untuk Rossi dan bayinya.
Justin berpikir keras, ia harus mengirimkan apa, sedangkan bayinya masih di dalam perut.
__ADS_1
Dan karena sudah mengetahui calon anaknya adalah pria, Justin mengirim hadiah berupa uang untuk Rossi dan bayinya.
"Dari Ayah, untuk menantu dan cucunya," kata Justin seraya mengirim bukti transfer pada Rossi.
Dan Rossi yang mendengar suara ponselnya itu segera membuka mata, ia mengambil ponselnya dan saat melihat nama Justin yang telah membangunkannya, ia menjadi jengkel dan Rossi yang berniat mengomel itu membuka pesan dari Justin.
Setelah melihat ada uang 50 juta masuk ke rekeningnya, Rossi membatalkan niatnya untuk marah.
Tidak lupa ia mengucapkan terima kasihnya.
Setelah itu, Rossi bangun, ia menghubungi Sarah dan menanyakan keberadaannya dan Sarah mengatakan kalau dirinya baru saja sampai di ruko.
Kemudian, Rossi mengatakan kalau dirinya ingin mengajak Sarah berbelanja keperluan bayi.
Sarah membalas pesan itu, "Iya, Mamah jemput kamu, ya."
"Rossi tunggu, Mah," jawab Rossi dengan semangat.
Tidak menunggu lama, Sarah pun sudah ada di rumah Rossi dan Rossi mengajak ke mall dan ingin berbelanja di toko Viona.
"Kalau mau ke toko Viona, kenapa kita ke mall, kan yang dekat sini saja ada?" tanya Sarah seraya membantu putrinya berjalan.
"Kalau di mall banyak pilihan, Mah," jawab Rossi dan akhirnya, Sarah pun menuruti keinginan putrinya.
Sesampainya di mall, Sarah dan Rossi bertemu dengan Jeje dan Arum.
Rossi menyapanya lebih dulu dan Jeje pun tersenyum padanya..
"Kalian, sedang ada di sini?" tanya Jeje seraya menatap Rossi, lalu bergantian menatap Sarah.
"Ingin berbelanja," jawab Rossi singkat.
Kemudian, Sarah yang berdiri di samping Rossi itu merasa mual dan ingin memuntahkan isi perutnya, Sarah pun segera mencari toilet dan setelah mengeluarkan isi perutnya, Sarah pun segera keluar dan di luar semua sudah menunggu.
"Mamah hamil?" tanya Rossi seraya menatapnya.
Sementara Jeje, ia menatap Rossi berganti menatap Sarah.
"Semua orang hamil, bahagia, kenapa aku belum?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Benarkah Sarah hamil?
Kita temukan jawabannya di episode selanjutnya.