
Esok harinya, Satria sudah berhasil membujuk Gania untuk masuk sekolah karena di sore hari akan belajar bersama Jeje.
Gania pun menjadi bersemangat dan Satria merasa bahagia ketika dapat memberikan kebahagiaan untuk putrinya.
Sementara itu, di rumah Darren, pria itu sedang sarapan bersama istrinya dan Darren melihat Jeje yang selalu cantik itu pun menggodanya.
"Kenapa rambutmu basah setiap pagi?"
"Kamu tersangkanya, yang membuatku keramas setiap hari," jawab Jeje seraya mengambilkan nasi merah untuk suaminya.
Darren pun tersenyum.
"Itu adalah semangatku, aku akan pusing jika tidak mendapatkannya," kata Darren.
Dan Jeje menaruh telunjuknya di bibir, memberi isyarat pada Darren untuk diam karena Jeje akan merasa malu pada bibi yang masih ada di dapur.
Darren terkekeh dan sekarang, keduanya sarapan bersama.
Setelah itu, Darren pun pamit untuk bekerja dan Jeje mengambil kesempatan ini untuk menemui Satria.
"Aku bisa menemuinya di sekolah," kata Jeje dan Jeje pun segera mengambil tas tangannya.
Jeje pergi sendiri dengan mengendarai motornya.
Tanpa Jeje tau kalau Darren yang kembali ke rumah untuk mengambil dompetnya yang tertinggal itu melihat Jeje keluar dari pagar.
"Mau kemana dia? tanya Darren dalam hati.
Darren yang kembali untuk dompetnya pun hanya memarkirkan mobilnya di luar, setelah itu, Darren berjalan cepat ke kamar, di kamar, Darren tidak hanya melihat dompetnya, tetapi juga melihat ponsel Jeje.
Darren mengambil ponsel itu dan Darren yang berpikir kalau Jeje pergi ke rumah Pak Somat itu menyusulnya.
"Tumben, ponsel sampai tertinggal," kata Darren dan setibanya di rumah Pak Somat, Darren tidak melihat motor Jeje dan benar saja, Darren tidak menemukan Jeje di rumah mertuanya.
Pak Somat yang sedang bersiap bekerja itu bertanya dan Darren mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi, Je tidak ada di sini," kata Pak Somat dan Darren mengangguk.
Darren berpikir keras, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya dan Darren tidak dapat menghubungi istrinya karena ponselnya ada padanya.
Lalu, Darren memilih untuk kembali dan Darren harus melewati sekolah di mana dulu Jeje mengajar dan Darren melihat istrinya sedang bicara dengan Satria.
Darren melihat itu dengan begitu sebalnya, sekarang, Darren menunggu Jeje di rumah.
__ADS_1
****
Sementara itu, Satria menyayangkan sikap suami Jeje, tetapi, Satria mencoba mengerti karena Darren sebenarnya terganggu dengan keberadaannya.
Dengan tidak enak hati, Jeje meminta maaf dan Satria menjawab dengan tersenyum.
Sekarang, tugas berat bagi Satria untuk menyampaikan pada Gania kalau Jeje tidak menerimanya.
Setelah itu, Jeje pun pulang, ia mengendarai motornya dengan perasaan yang tak menentu, ia memikirkan Gania.
****
Di rumah, Darren menunggu dengan menatap ponsel Jeje yang tergeletak di meja ruang tamu.
Jeje yang melihat mobil Darren itu mengira kalau Darren masih sakit dan tidak bekerja.
Karena itu, Jeje mengucap syukur dalam hati, karena sudah mengatakan pada Satria untuk tidak datang sehingga nanti sore Darren tidak perlu melihat Gania juga Satria.
Dan Jeje yang berdiri di pintu itu bertanya pada suaminya, "Mas, kamu tidak kerja?"
Darren mendengar pertanyaan itu, tetapi, memilih untuk tetap diam, ia terus menatap ponsel Jeje dan Jeje pun mendekat, ia ikut duduk dan mulai menyentuh lengan suaminya.
Dan Darren bangun dari duduk.
Seketika, Jeje tidak dapat menjawab, ia bingung harus menjawab apa.
"Kenapa, kamu tidak bisa menjawab?" tanya Darren seraya berkacak pinggang.
Jeje pun bangun dari duduk, ia membuka mulutnya ingin menjelaskan, tetapi, Darren sudah mengatakan lebih dulu kalau Jeje diam-diam pergi menemui pria lain.
"Bukan seperti itu, Mas. Aku menyampaikan sesuatu padanya, aku mengatakan supaya Gania tidak datang untuk les di sini," kata Jeje yang berusaha menjelaskan.
"Pintar sekali kamu, berarti, kemarin Gania dan Satria datang? Dan kamu tidak mengatakan apapun?" tanya Darren.
"Semalam aku ingin menjelaskan, tetapi, kamu tidak mau dengar, bukan salahku karena kamu tidak mau dengar, Mas," kata Jeje, ia tidak mau disudutkan dan tentu saja, dari apa yang Jeje katakan seolah menyalahkan Darren.
Darren berdecak dan kemudian ia pergi dari rumah.
Darren pergi dengan perasaan kesalnya.
Melihat itu, Jeje menjadi sedih, ia tidak ingin ada suatu apapun yang membuat rumah tangganya menjadi retak.
Dan sekarang, Jeje kembali duduk, ia ingin menunggu suaminya pulang dan menyelesaikan masalah ini supaya tidak larut.
__ADS_1
Tetapi, Jeje tidak juga mendapati suaminya pulang, ia pun menyusul Darren ke kantor dan di sana, kantor sudah sepi.
"Kemana Mas Darren?" tanyanya dalam hati, setelah itu, Jeje menghubungi Darren dan Darren tidak menerima panggilannya.
Darren yang sedang kecewa pada istrinya karena telah melanggar janjinya untuk menemui Satria itu tengah berada di makam Husna. Ya, Darren ada di Bali.
Dan Darren di sana untuk dua hari.
"Maafkan aku, Je. Aku tidak ingin marah padamu, aku hanya ingin menenangkan diri," kata Darren dalam hati.
Dua hari berlalu dengan Jeje yang tidak mendengar kabar Darren.
"Kamu keterlaluan, kemana kamu, kenapa pergi tidak bicara padaku?" tanya Jeje dan Dan Jeje yang merasa frustasi itu keluar dari kamar dan ia yang sedang menuruni tangga itu tiba-tiba saja merasa pusing.
"Apa karena aku lupa makan? Ya ampun, karena memikirkan kamu, Mas. Aku sampai lupa makan dan perasaan ini sungguh menyiksaku!" kata Jeje dan Jeje berusaha menuruni tangga dengan begitu hati-hati.
Lalu, Jeje yang merasa pusing itu hilang keseimbangan dan Jeje harus jatuh berguling-guling dari tangga.
Sampai di bawah, kepala Jeje harus membentur lantai dan darah pun mengalir dari kepalanya.
Dan Jeje yang jatuh itu disaksikan oleh Darren yang baru saja pulang.
"Je!" teriak Darren seraya berlari ke arahnya.
Melihat Jeje yang tak sadarkan diri itu membuat Darren menangis.
Darren memangku kepala istrinya.
"Je! Bangun, Je!" tangis Darren seraya memeluk istrinya.
Setelah itu datang bibi dan bibi mengingatkan pada Darren untuk segera membawa Jeje ke rumah sakit.
Tanpa mengatakan apapun, sekarang Darren membopong istrinya, ia membawanya ke mobil dan Darren meminta pada Jeje pada untuk tetap kuat.
Dan Mamang yang melihat itu menawarkan diri untuk mengantar ke rumah sakit, tetapi, Darren yang sedang kalut tak mendengarnya sehingga Darren mengemudi sendri dengan perasaan yang tak menentu.
Darren yang berusaha cepat itu kembali mengingat pertengkarannya dua hari lalu dan sekarang Darren dikejutkan dengan suara klakson dari mini bus dari arah yang berlawanan. Ya, Darren yang keluar dari jalur itu berusaha kembali ke jalurnya, sayangnya sudah terlambat dan sekarang kecelakaan tak dapat dihindari saat mini bus itu menabrak bagian tengah mobil Darren.
"Aaaaaa!" teriak Darren.
Selamatkah Darren dan Jeje?
Bersambung.
__ADS_1