MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Untuk Kebahagiaan Darren dan Ryder


__ADS_3

Belum sempat melakukan apapun sudah datang suster yang akan memeriksa keadaan Jeje dan suster menanyakan hubungan keduanya, suster Nara menjawab kalau dirinya adalah teman Jeje.


Suster mengangguk percaya dan karena telah menunggu lama, akhirnya membuat Nara memilih untuk pergi, Nara segera membeli keperluan Ryder dan karena dirinya ke rumah sakit, itu membuatnya pergi terlalu lama.


Sesampainya di rumah, Nara mendapatkan pertanyaan dari bibi, "Dari mana kamu, sedangkan di depan komplek ada mini market, tapi, seperti beli di ujung pulau saja."


Nara hanya diam, ya, seperti itulah keseharian Nara dengan bibi yang tak menyukainya, tetapi, Nara lebih memilih diam seribu bahasa karena berpikir tidak perlu menanggapi bibi.


"Tunggu saja aku ambil Aden Darrenmu, aku akan membuatmu bagaikan tinggal di neraka!" kata Nara dalam hati.


Setelah itu, Nara pergi ke kamar Ryder dan segera menyimpan belanjaannya. Lalu, Nara yang memiliki uang kembalian itu mencari Darren dan Darren yang sedang tidur di sofa ruang tengah membuka mata.


Pandangan Darren terlihat samar dan badannya menggigil, wajahnya terlihat pucat, Darren pun kembali memejamkan mata.


Ia bertanya, "Ada apa, sus?"


"Ini kembaliannya, Pak," kata Nara seraya meletakkan uang tersebut ke meja.


"Simpan saja, untukmu membeli pulsa," jawab Darren, Nara mengangguk, tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Dan Nara mengetahui kalau Darren tidak baik-baik saja itu bertanya, "Bapak sakit?"


"Hm," jawab Darren.


"Saya panggilkan dokter, ya, Pak," kata Nara dan Darren tidak menjawab.


Setelah itu, Nara menghubungi dokter keluarga Darren, seraya menunggu dokter datang, Nara berinisiatif mengompres Darren menggunakan air hangat.


Dan baru saja handuk hangatnya menempel di dahi, Darren membuka mata, ia menatap Nara dengan tajam.


"Tugasmu hanya merawat Ryder, bukan yang lain!" kata Darren yang kemudian bangun dari berbaring, ia melepaskan handuk hangatnya dan meletakkannya di meja.


Nara merasa terabaikan dan ia seperti tidak memiliki rasa malu, karena ia berpikir akan terus memberikan perhatian untuk Darren dan merasa yakin akan dapat meluruhkan dinding es yang menghalangi.


"Kamu aneh, Pak. Sebentar baik, sebentar ketus, sebentar galak, sebentar lagi senyum-senyum padaku," kata Nara dalam hati, sekarang, Nara membawa kembali mangkuk berisi air hangat ke dapur, setelah itu, melihat keadaan Ryder yang masih tidur.


Menatap Ryder membuat Nara ingat dengan Ibu Ryder dan Nara berpikir kalau akan menyelesaikan apa yang selama ini menghalangi kebahagiaan Ryder dan Darren.

__ADS_1


Benar saja, malam ini, Nara pergi tanpa sepengetahuan siapapun, ia pergi ke rumah sakit untuk menyudahi kesedihan Darren yang berkepanjangan.


Di sana, Nara melihat suster yang berjaga sangat mengantuk dan kemudian menjatuhkan kepalanya di meja.


Nara menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap masuk ke ruangan Jeje dan Nara mengajaknya berbicara serius.


"Bu, aku akan mengambil alih posisimu jika kamu tidak ada, Pak Darren dan Ryder akan bahagia, Jika Ibu tidak mau bangun akan ku bantu, Bu. Dengan senang hati!" kata Nara.


Lalu, Nara segera melepaskan selang oksigen Jeje dan Nara melihat Jeje yang kesulitan bernafas dan terlihat Jeje yang menghembuskan nafas terakhirnya.


Nara memastikan kalau Jeje sudah tidak ada dan benar saja, Nara sudah tidak merasakan nafasnya lagi.


Untuk itu, Nara kembali memakaikan selang oksigennya, Nara yang sedikit takut itu segera keluar dari ruangan Jeje.


Janda berpakaian serba hitam tersebut jalan dengan menunduk dan berpikir kalau dirinya tertangkap kamera, nyatanya, CCTV di depan ruangan Jeje sedang rusak dan pihak rumah sakit menunda untuk mengganti dengan yang baru.


Sekarang, Nara berpikir kalau dirinya akan ditangkap polisi dan itu membuatnya sedikit menyesal, Darren tak ia dapatkan, tetapi, dirinya ada di balik jeruji besi.


Merasa seolah membebaskan Darren untuk wanita beruntung lainnya.


"Sial, kenapa aku tidak berpikir panjang," kata Nara dalam hati.


"Dari mana kamu malam-malam seperti ini?" tanya Darren yang berdiri di bawah tangga dengan menggendong Ryder, terlihat kalau Ryder baru saja menangis.


Baru saja Nara akan menjawab kalau dari rumah Ibunya dan Darren sudah membuka mulutnya lebih dulu, "Kalau pacaran ingat waktu, kamu ada libur satu minggu sekali, gunakan waktu itu!"


Nara segera menjawab, "Saya tidak punya pacar, Pak."


Dan Darren tidak mau tau, kemudian, Darren memberikan Ryder karena Ryder meminta ikut Nara.


Setelah itu, ponsel Darren berbunyi, ia mendapatkan panggilan dari rumah sakit.


"Apa?" tanya Darren yang begitu terkejut.


Setelah itu, Darren segera bergegas mengambil kunci mobil yang ada meja ruang tengah.


Melihat Darren yang panik sedang bergegas, Nara berpikir kalau Darren mendapatkan kabar kematian istrinya.

__ADS_1


"Semoga tidak ada saksi mata aku masuk ke ruangannya," kata Nara dalam hati.


Setelah itu, Nara mencoba tenang walau kenyataannya ia begitu khawatir dan sekarang, Nara membuatkan susu untuk Ryder dan karena gemetar Nara menumpahkan sedikit air panas itu ke tangannya, seketika termos itu lepas dari tangannya.


Nara segera membereskan air yang tumpah, sesekali Nara melihat ke arah Ryder yang ada di ranjang bayinya.


"Tunggu, yah. Suster akan ambilkan air yang baru," kata Nara pada Ryder dan Ryder yang berdiri dengan berpegangan tepi ranjangnya itu hanya menatap suster yang keluar dari kamar.


"Astaga, apa yang sudah kulakukan?" tanya Nara pada dirinya sendiri.


"Tenang, kalau dia tidak ada, kamu akan mendapatkan Ryder dan ayahnya!" bisik sisi jahat Nara dan Nara kembali mencoba tenang, ia menarik nafas panjang, lalu, mengeluarkannya.


****


Sementara itu, di rumah sakit, Darren sedang memeluk Jeje, ia menangis sesenggukan dan mengusap rambut hitam Jeje.


"Terima kasih, Je. Terima kasih, akhirnya, kamu bangun juga, aku sangat merindukanmu," kata Darren dan Jeje terdiam, kemudian, Jeje melepaskan pelukan Darren.


"Kamu siapa?" tanya Jeje seraya menatap heran.


Mendengar pertanyaan itu, Darren terdiam, matanya menyiratkan kesedihan karena istri yang sudah lama ia tunggu begitu membuka mata tak mengenalinya.


Darren menatap pada dokter yang berdiri tidak jauh dari brangkar, seolah mengerti arti tatapan itu, dokter mulai menjelaskan kalau Jeje mengalami hilang ingatan, lalu, Jeje melihat ke arah pintu, di sana ada Pak Somat yang baru saja datang dan Pak Somat tak kuasa menahan air mata kebahagiaan.


"Ayah." Jeje memanggilnya dan Pak Somat pun segera memeluk putrinya.


"Kenapa lama sekali kamu membuka mata, Nak!" tangis Pak Somat dan Jeje kebingungan.


Ia pun bertanya pada Ayah-nya.


"Ayah, kenapa Je ada di sini, Je harus menyiapkan acara perpisahan sekolah, bukankah Ayah sudah mengijinkan?" tanya Jeje dengan begitu polosnya.


Mendengar pertanyaan itu, Pak Somat sama bingungnya seperti Darren dan sekarang dokter meminta pada Pak Somat dan juga Darren untuk ke ruangannya.


Semua menurut karena ingin tau apa yang terjadi pada Jeje.


Dapatkah Jeje mengingatkan suaminya kembali?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2