MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Je, Bangun. Kebahagiaan Sudah Menantimu


__ADS_3

Semakin hari perut Jeje semakin membesar dan Darren dapat merasakan pergerakan putranya, ya, setelah melakukan USG, diketahui kalau janinnya berjenis kelamin laki-laki.


Darren juga sering mengabadikan momen yang mungkin nanti akan Jeje pertanyaan ketika bangun.


Sekarang, usia kehamilan Jeje sudah menginjak 7 bulan dan Darren membuat syukuran, ia juga menyantuni anak-anak yatim, meminta didoakan untuk istrinya.


Setelah seharian mengurus itu, sekarang, Darren ada di kamar, ia menonton video yang dibuatnya saat USG dan karena melihat putranya yang begitu aktif dalam kandungan ibunya membuat Darren merindukan keduanya.


Darren pun bangun dari duduk, ia mematikan lebih dulu laptopnya, kemudian pria yang terlihat kurus itu mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja, Darren pun mengendarai mobilnya dengan perlahan.


Sesampainya di rumah sakit, seperti biasa, Darren akan menyapa putranya dan Darren mengusap perut gendut Jeje.


"Je, di kehamilan kamu, kamu terlihat sangat cantik, aku yakin kalau nanti anak kita akan sangat tampan, jadi, bukalah matamu, kita sambut dia ke dunia ini," bisik Darren seraya membelai pipi Jeje.


Sedih, sudah pasti sangat sedih dan sekarang, Darren mengecup punggung tangan istrinya dan air mata membasahi punggung tangan itu.


Setelah itu, Darren berbaring di sofa yang tersedia, ia menatap istrinya sampai tertidur dan Darren bermimpi kalau Jeje sudah kembali ke kehidupannya dan keduanya sama-sama merawat buah hati mereka.


Mimpi indah ini menjadi harapan bagi Darren, ia meminta untuk dijadikan nyata.


Dan begitulah keseharian Darren hingga waktunya untuk melahirkan telah tiba.


Darren yang menunggu di depan ruang operasi itu terlihat cemas.


Karena operasi ini terbilang sangat lama.


"Ya Tuhan, selamatkan keduanya, ijinkan Jeje untuk merawat anak yang telah engkau titipkan," doa Darren dalam hati.


Setelah menunggu cukup lama, sekarang, dokter keluar dari ruangan operasi dan Darren dimintai untuk membantu mendorong brangkar Jeje, semua orang membawa Jeje kembali ke ruangannya.


Setibanya di ruangan, Darren menanyakan keadaan bayinya dan dokter menjawab kalau bayi itu sedang dihangatkan.


"Apa terjadi sesuatu pada anak kami, dok?" tanya Darren.


"Bayinya sehat, tetapi, tadi kurang kuat saat menangis dan kondisi Ibu sempat kritis," jawab Dokter.


Mendengar itu, air mata lolos begitu saja dan sekarang, Darren menggenggam tangan istrinya, ia mengucapkan kata selamat dan kemudian mengecup keningnya.


"Selamat, kamu sudah menjadi seorang Ibu, bukalah matamu!" kata Darren seraya menatap Jeje.


Tidak lama kemudian, suster datang untuk memanggil Darren supaya ke ruangan bayi.


Di sana, sebelum masuk, Darren harus melepaskan sepatunya, mencuci tangannya dan sekarang, Darren sudah menggendong putranya dan bayi itu begitu mirip dengan Ibunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mirip dengan Mamah? Bahkan tidak tersisa untuk Papah," kata Darren yang kemudian tersenyum.


Dan ini adalah senyuman pertama Darren setelah beberapa bulan lalu tidak pernah tersenyum.


"Melihatmu ada kebahagiaan untuk Papah, Papah berharap, Mamah kamu segera membuka mata, supaya semakin lengkap kebahagiaan kita," kata Darren dan tak terasa air matanya menetes.


Apa yang Darren ucapkan mampu membuat suster yang ada di ruangan bayi itu ikut merasakan kesedihannya.


Suster itu pun menyemangati Darren dan meminta padanya untuk tidak berhenti berdoa dan menjadi penyemangat bagi keduanya.


Darren mengangguk dan sekarang Darren meminta pada suster untuk membawa putranya ke ruangan Jeje dan suster mengatakan nanti setelah bayi itu diperbolehkan keluar dari inkubator.


Sekarang, suster meminta kembali bayi itu dan suster kembali meletakkannya di inkubator.


Darren mengerti itu karena bayinya membutuhkan kehangatan. Sekarang, Darren keluar dan ia hanya bisa melihat putranya di jam besuk.


Darren juga dimintai untuk membawakan popok, susu dan minyak telon.


Dengan bersemangat, pria yang berbrewok tipis itu segera mencari mini market dan Darren membayangkan kalau Jeje ada bersamanya melewati hari indah itu.


Setelah mendapatkan semua keperluan bayinya, sekarang, Darren sudah ada di depan ruangan bayi, ia menekan bel dan speaker segera berbunyi.


"Iya, ada yang bisa dibantu?" tanya suster.


Karena bukan jam besuk, Darren hanya diperbolehkan untuk mengantarkan keperluan bayi saja.


Sekarang, Darren sudah keluar dari ruangan bayi dan ternyata, di depan ruangan itu sudah banyak orang berkumpul.


Justin memeluknya dan mengucapkan kata selamat dan Darren yang sedang sedikit bahagia itu tersenyum.


"Om, di mana adik bayi?" tanya Gala yang ada di gandengan Rossi.


"Di dalam, belum boleh keluar, nanti Gala jenguk adik bayi di rumah saja, ya," kata Darren seraya menatap keponakannya.


Gala pun menjadi tidak sabar dan ia mendongak, menatap Rossi yang juga menatapnya, "Mami, Gala mau adik," kata Gala.


Mendengar itu, Justin pun sangat setuju dengan permintaan putranya.


"Kan yang di dalam sana itu juga adik kamu," jawab Rossi.


Lalu, Sam yang juga ada di sana itu menimpali, "Mau adik yang bisa dibawa pulang ke rumah, ya, Gala?"


"Benar kata Opah, Mih," kata Gala dan Justin menaik turunkan alisnya pada Rossi, sementara Rossi menatapnya datar.

__ADS_1


****


Esok harinya, Darren yang sedang menunggu Jeje itu sudah diperbolehkan untuk membawa bayinya menemui ibunya dan dengan senang hati Darren segera membawa putranya untuk ke ruangan Jeje.


Darren berharap dengan mendengar suara tangis putranya akan membuat Jeje segera membuka mata.


Tetapi tidak seperti itu, karena nyatanya, Jeje masih belum mau membuka mata.


Hingga tiba waktunya Darren harus membawa putranya pulang dan Darren ditemani oleh keluarganya dan Viona lah yang menggendong bayi itu.


Melihat ibunya menggendong bayi membuat Lovely merasa gemas dan ingin mencubit pipi bayi itu dan Viona menyuruhnya untuk mencium saja.


Dan karena tidak bisa mengurus bayi, Darren pun meminta diajarkan pada Viona dan Viona sedikit memberitahu yang ia tau pada Darren termasuk menggantikan popok.


Sekarang, memandikan bayi menjadi pr untuk Darren.


"Kenapa tidak pakai jasa saja, kamu akan membutuhkan selagi menunggu Je bangun," kata Sam yang sedang mengemudi mobilnya.


Dan Darren membenarkan karena tidak setiap saat dirinya di rumah, ia harus bekerja dan harus ada seseorang yang menjaganya.


Darren pun meminta pada Sam untuk mencarikan.


Sam pun mengiyakan, ia mengatakan kalau akan mendapatkan suster yang dapat merawat cucunya dengan baik.


Selagi menunggu suster datang, Sam meminta pada Viona untuk membantu dan dengan senang hati, Viona mengiyakan.


Sekarang, untuk beberapa hari, Sam, Viona dan juga Lovely akan tinggal di rumah Darren.


Setibanya di rumah, putra Darren menangis dan menurut Viona cucunya itu tengah haus.


Beruntung, Darren sudah menyiapkan semua keperluannya di rumah, seperti botol susu dan alat sterilnya.


Sekarang, Viona menyerahkan bayi itu pada ayahnya, karena Viona harus membuatkan susu.


Dari tempatnya berdiri, Viona menangis saat melihat Darren yang mencoba menenangkan putranya.


"Semoga Jeje segera membuka matanya dan kembali ke rumah ini, Je harus merasakan kebahagiaan yang selama ini ia tunggu," kata Viona dalam hati.


Dan Viona yang sedang membuat susu itu melihat ke belakang saat Sam tiba-tiba memeluknya.


"Jangan menangis, Je pasti akan bangun," kata Sam, kemudian Sam mengecup pipi istrinya dan Viona yang masih tak mampu menahan air matanya itu mengangguk.


Bersambung.

__ADS_1


Je, cepat bangun, lihatlah, kebahagiaan sudah menantimu.


__ADS_2