MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Bersabarlah, Sayang!


__ADS_3

Malam ini, Jeje, Darren dan Akmal juga istrinya makan malam bersama di restoran dan Jeje terlihat hanya bisa diam, ia selalu memikirkan seorang bayi sehingga pikirannya itu entah ada di mana.


Sampai saat Darren bertanya sesuatu, Jeje tidak mendengar dan Darren mengulanginya, "Je, minum apa?"


"Ah... apa saja," jawab Jeje seraya menatap Darren dan Darren mengangguk.


Selesai dengan makan malam, sekarang semua orang pulang ke rumah masing-masing dan Jeje mengikuti langkah kaki suaminya.


"Mas," lirih Jeje dan Darren baru saja meletakkan kunci mobil ke meja itu menoleh.


"Iya, ada apa?" tanyanya.


"Kenapa aku belum hamil juga, padahal aku dan kamu sehat," tanya Jeje.


"Belum rejeki, Je." Darren menjawab singkat.


"Aku takut," kata Jeje.


"Takut apa? Jangan berpikiran yang tidak-tidak!" kata Darren.


"Tidak, aku bukan berpikiran yang tidak-tidak, aku hanya takut kamu inginkan seorang anak, lalu, aku tidak dapat memberikannya," kata Jeje dan Darren menatapnya datar.


"Itu namanya berpikiran yang tidak-tidak," kata Darren, setelah itu, Darren berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Jeje yang masih berdiri di ruang tengah, menatapnya sampai tak terlihat.


"Aku takut, Mas, takut kamu berpaling dariku," kata Jeje seraya duduk di sofa ruang tengah.


****


Di kamar, Darren merasa sedikit kesal karena lagi-lagi Jeje membahas soal anak.


"Anak lagi, anak terus, memangnya tidak ada yang harus dibicarakan selain anak?" tanya Darren pada dirinya sendiri.


Lalu, Darren berdiri di depan lemarinya, ia mencari baju ganti untuk tidurnya dan saat itu juga, Darren merasakan pelukan hangat dari belakang.


"Kamu bosan denganku, ya, Mas?" tanya Jeje.


"Tidak," jawab Darren singkat.


"Kenapa seperti sedang sebal?" tanya Jeje seraya melepaskan pelukannya.


"Aku sebal karena kamu selalu bahas soal anak," jawab Darren seraya melepaskan tangan istrinya dari pinggangnya. Lalu, Darren segera menjatuhkan dirinya ke ranjang.


"Mas," lirih Jeje kemudian.


"Apa, aku lelah, mau tidur!" kata Darren yang sudah memejamkan mata.

__ADS_1


Dan Jeje mengerucutkan bibirnya.


"Mas, kamu tau tidak, sih, bagaimana perasaan aku?" tanya Jeje dan Darren membuka matanya, Darren menatap Jeje yang menangis.


"Astaga, Je. Mau bagaimana lagi. Kalau kita belum dikasih kepercayaan mau bagaimana? Mau protes sama Tuhan?" tanya Darren.


"Setidaknya, kamu dengarkan aku berkeluh kesah, Mas," jawab Jeje.


"Kita sudah terlalu sering membahas ini, Je dan aku tidak apa-apa, kenapa kamu selalu ngebet kalau punya keinginan?" tanya Darren dengan begitu kesalnya.


Dan Jeje semakin bersedih hati.


Jeje meninggalkan Darren ke kamar mandi, ia menangis seraya membasuh wajahnya di depan wastafel.


"Astaga, buatku pusing saja, memangnya bayi itu seperti boneka yang bisa dibeli?" tanya Darren pada dirinya sendiri, lalu, Darren mencoba untuk tidur karena tidak ingin memperpanjang masalah.


Dan Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi itu mengambil ponselnya, ia merasa sebal dan untuk menghilangkan rasa sebal nya itu Jeje memilih menonton drama di ponselnya.


Jeje sampai lupa waktu karena lewat jam dua belas malam Jeje masih terjaga dan Darren yang terbangun itu melihatnya.


Darren mengambil ponsel istrinya dan menyuruhnya untuk segera tidur.


Dan Jeje pun menurut, ia terpaksa tidur karena nampaknya, Darren benar-benar marah dan Jeje takut akan itu.


Darren menggeleng dan merasa kesal karena Jeje harus begadang.


****


Beberapa hari kemudian, ini adalah ulang tahun Lovely yang ke tiga, Darren dan Jeje sibuk mencari hadiah dan karena mainan Lovely sudah banyak, akhirnya, Jeje mengusulkan untuk membelikan perhiasan kecil, seperti gelang tangan atau kaki.


Darren mengiyakan karena ia sendiri tidak tau harus memberi kado apa.


Acara ulang tahun kali ini hanya dihadiri keluarga saja.


Dan sekarang lima tahun berlalu, rumah tangga Darren dan Jeje masih belum dikaruniai buah hati.


Sekarang, Jeje sudah menjadi guru di salah satu sekolah TK dan keponakannya juga sekolah di sekolah yang sama.


Jeje yang begitu sabar dan telaten dengan anak-anak itu membuatnya disenangi oleh murid-muridnya.


Bahkan, sebagian besar dari mereka ada yang tidak mau pulang dan maunya setiap hari sekolah pagi dan sore.


Karena itu juga, Jeje menjadi guru les dan Jeje mengajar Les di rumahnya, tentu saja, Darren sangat mengijinkan karena itu adalah hal positif dan mengurangi rasa kesepiannya.


Dan bukan hanya dari sekolahnya saja, tetapi juga ada Baby yang sekarang menjadi gadis kecil yang cantik.

__ADS_1


Jeje begitu menyukai Baby dan bukan hanya Baby saja, tetapi juga ada Manggala yang biasa disapa Gala, putra Rossi.


Gala tumbuh menjadi pria tampan dan sepertinya harapan Rossi yang memiliki putra seperti Darren sedikit terwujud karena Gala terlihat seperti pria dingin.


Dia lebih banyak diam dan menjadi idola teman-temannya di sekolah maupun di kompleknya.


****


Malam ini, Jeje sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya dan Jeje mendapatkan pesan dari orang tua salah satu muridnya.


"Selamat malam, maaf mengganggu, saya Ayah dari Gania, seharian ini anak itu terlihat murung, adakah yang mengganggu putriku di sekolah?" tanyanya.


Dan Jeje membalas pesan itu dengan mengatakan kalau tidak ada masalah di sekolah.


Lalu, Jeje menyarankan untuk menanyakan langsung pada putrinya dan Ayah Gania pun mengikuti saran Jeje.


Setelah itu, Jeje bangun dari duduk, ia melanjutkan aktivitasnya, tidak lama kemudian yang ditunggunya itu datang.


Darren datang dan langsung menaruh tas kerjanya di salah satu kursi meja makan.


"Kamu yang masak semua ini?" tanya Darren dan Jeje menjawab dengan mengangguk.


"Hari ini aku ingin memasak yang spesial untuk suamiku," kata Jeje dan Jeje berharap kalau Darren tidak melupakan hari bahagia ini.


Tetapi, apa yang diharapkan itu tidak menjadi nyata karena Darren terlihat begitu menikmati makanan yang tersaji.


Dan Jeje memperhatikan dari kursinya.


Yang merasa diperhatikan pun melihat kearahnya dan Darren bertanya, "Ada apa, Je?"


Dan Jeje menjawab dengan bertanya, "Ini tanggal berapa, Mas?"


"Kenapa memangnya? Kamu telat datang bulan?" tanya Darren seraya meraih gelas minumnya, lalu, Darren meminum minumannya.


Karena tak juga mendapatkan jawaban dari Jeje, Darren pun melihat ke arahnya dan Jeje tersenyum.


"Ini hari aniversary kita, Mas," kata Jeje dan karena Darren bukanlah tipe pria yang romantis, ia hanya mengangguk.


Padahal yang diinginkan istrinya itu adalah ucapan doa dan semacamnya, tetapi, tidak bagi Darren.


Baginya yang seperti itu adalah hal yang biasa, justru berpikir kalau semakin berkurang satu tahun waktu bersama istrinya.


"Ya, selalu seperti itu, tetapi, aku tetap mengucapkan kata selamat dan happy anniversary untuk kita, selama lima tahun kita bersama, aku bahagia, panjang umur untuk suamiku dan semoga lelahmu menjadi ladang pahala untukmu," kata Jeje.


Setelah itu, Jeje mengambil nasi untuk suaminya dan Darren tersenyum, ia merasa bahagia hidup bersama Jeje yang memberikan banyak warna.

__ADS_1


Bersambung...


Happy Anniversary Jeje dan Darren, 🥳🥳


__ADS_2