MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Diculik?


__ADS_3

Sore ini, Jeje membuat balon gelembung untuk menarik perhatian Ryder dan Ryder yang sedang bermain di taman belakang rumah itu melihatnya.


Sepertinya, usaha Jeje telah berhasil karena Ryder mengikuti gelembung-gelembung itu dan berjalan semakin dekat.


Dari pintu belakang, Darren melihat dan ia merasa kalau sebentar lagi Ryder akan terbiasa dengan Jeje.


Tetapi, ada yang menarik perhatian Darren yaitu suster Nara yang mencoba menghalangi Ryder untuk ikut bergabung dengan Jeje.


"Kamu melupakan kalau Jeje adalah ibu kandungnya, sus!" kata Darren, setelah itu Darren masuk ke ruang kerjanya.


ia menghubungi Nara untuk menghadapnya.


Dan Nara yang sedang menggendong Ryder itu segera datang, ia merasa senang karena Darren kembali menghubunginya.


Nara mengetuk pintu dan Darren menyuruhnya untuk masuk.


Melihat Ryder bersamanya, Darren menyuruh untuk memberikannya pada Jeje lebih dulu.


Nara menurut dengan apa yang dikatakan Darren, ia pun keluar dan sekarang menghampiri Jeje yang baru saja bangun dari duduknya.


"Ada yang ingin ku katakan!" kata Jeje pada suster dan suster menduga kalau Jeje akan memprotesnya yang seolah melarang Ryder untuk dekat dengannya.


Tetapi, kenyataannya tidak seperti itu.


Lalu, apa yang ingin Je katakan?


Nara yang tidak menyukai Jeje itu menggunakan Darren sebagai alasan, "Pak Darren sudah menunggu, kita bisa bicara nanti, Bu."


Nara pun mulai melangkah dan langkahnya terhenti karena Jeje mencekal lengannya.


"Kamu tau kenapa aku hilang ingatan?" tanya Jeje dan Nara berbalik badan melepaskan tangan Je dari lengannya.


Nara menjawab, "Itu urusan pribadi Ibu."


Mendengar jawaban itu, Jeje terkekeh, Jeje yang menggendong Ryder tertawa dan Ryder mengusap mulutnya.


Dengan gemasnya, Jeje menggigit tangan itu membuat Ryder merasa geli dan ikut tertawa.


Lalu, Je melihat bibi yang sedang mengelap kaca dapur, Je pun memanggilnya.


Sementara itu, Nara sudah tidak sabar, ia ingin segera ke ruangan Darren dan Nara yang menghela nafas.


"Saya permisi, Bu," kata Nara dan Je kembali menahannya.

__ADS_1


"Aku belum selesai!" kata Je seraya menatap Nara, keduanya saling menatap dan sekarang, Je mengatakan pada Ryder kalau bibi memiliki mainan baru, Je mengatakan biru supaya Ryder mau ikut bersamanya.


Sekarang, hanya ada Nara dan Jeje, sudah tidak mau basa-basi lagi, Je langsung ke intinya.


"Kamu penyebab aku hilang ingatan!" kata Je.


"Saya? Bu, saya datang ke rumah ini, anda sudah dalam keadaan koma, kenapa Ibu menyalahkan saya?"


Lalu, Je mulai bercerita.


Malam itu, di mana Nara datang, sebenarnya Je sudah bangun dari koma dan Je yang mengetahui kalau Darren selalu datang itu sengaja menunggu dengan memejamkan mata, ia ingin memberikan kejutan, tetapi, justru dirinya lah yang terkejut saat ada seorang gadis asing yang masuk ke ruangannya.


Terlebih lagi, gadis itu inginkan kematiannya, Je berpikir kalau wanita itu adalah simpanan suaminya dan ia ingin mencari tau dengan berpura-pura hilang ingatan.


Ternyata, cinta suaminya semakin besar dan sekarang, suaminya yang dulu dingin sudah berubah menjadi hangat, penuh perhatian dan kasih sayang.


Mendengar itu, Nara menjawab, "Jadi beberapa hari ini, Ibu hanya pura-pura hilang ingatan?"


"Tidak ada jawaban atas pertanyaanmu, sekarang, aku memecatmu atau akan ku jebloskan ke penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana," ancam Jeje dan Nara menatapnya sebal.


"Tidak ada bukti untuk itu, jadi, anda tidak bisa melaporkan ku!" jawab Nara dan Nara yang masih percaya diri itu segera pergi meninggalkan Jeje, ia ingat dengan Darren dan sekarang menemuinya.


Di ruangan Darren, Darren menatapnya datar dan sekarang, Darren memberikan gaji terakhirnya.


"Pak, kenapa anda memecatku? Sedangkan Mas Ryder membutuhkanku, Pak," protes Nara, ia menangis karena tidak ingin jauh dari Ryder dan Darren.


"Ibunya sudah kembali, aku dan Ryder sudah tidak membutuhkanmu lagi!"


Mendengar itu, hatinya sangat teriris, Nara yang begitu tulus pada Ryder menolak untuk pergi, ia juga mengatakan rasa kagumnya pada Darren.


"Pak, saya mencintai Mas Ryder dan Bapak, tolong jangan usir saya dari rumah ini, Pak," tangis Nara seraya bersujud di kaki Darren dan Darren yang sejak awal tidak ingin ada orang ketiga dalam rumah tangganya itu tak menggubris Nara.


Pria berpakaian santai itu bangun dari duduk, ia meninggalkan Nara yang masih menangis.


Lalu, Nara melihat Darren berhenti di pintu, mengira iba padanya, kenyataannya, Darren kembali menyuruh Nara untuk segera pergi.


"Setelah ini, aku tidak ingin melihatmu lagi!" kata Darren tanpa melihatnya.


"Kamu keterlaluan, membuatku jatuh cinta dengan segala kebaikanmu, ternyata, kamu hanya memanfaatkan ku di saat istrimu tidak ada!" geram Nara, ia bangun dari berjongkoknya.


Mendengar itu, Darren merasa tertuduh telah mempermainkannya, tentu saja, Darren tidak setuju dengan apa yang diucapkan Nara.


"Bukan kamu yang ku butuhkan, tetapi jasa suster untuk menjaga anakku selagi istriku belum bangun, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku tidak ingin melihatmu ada di sini, pergilah!" kata Darren, kemudian, pria itu pun meninggalkan suster sendiri di ruangannya.

__ADS_1


Suster yang sudah tidak menangis lagi itu menatap Darren sampai tak terlihat dan sekarang, ia melangkah keluar, tanpa mengambil barang-barangnya, sekarang, suster yang sedang keluar dari rumah itu melihat Ryder sedang bermain bola bersama bibi.


Nara yang ingin membawa Ryder pergi itu menipu wanita tua tersebut. "Bi, dipanggil sama Bapak."


Dan Bibi yang tidak mengetahui kalau Nara sudah dipecat itu segera meninggalkan Ryder bersamanya, inilah kesempatan Nara untuk membawa Ryder pergi.


****


Sekarang, bibi sudah berdiri di ruang tengah, ia melihat Darren sedang bersama Jeje, bibi juga mendengar kalau Darren baru saja memecatnya.


Mendengar itu, bibi segera kembali keluar untuk menemani Ryder dan di sana, bibi sudah tak melihatnya lagi.


"Mang!" teriak bibi pada Mamang yang sedang mencuci mobil.


"Iya, bi. Ada apa?" tanya Mamang seraya melihat kearahnya.


"Liat Den Ryder tidak?"


"Tadi keluar sama suster, katanya, ada yang perlu dibeli di warung," jawab Mamang.


Bibi merasa ada yang aneh dan segera memberitahu Darren juga Jeje.


Wanita berdaster panjang itu segera berlari masuk.


Sementara itu, di dalam, Darren sedang memberitahu Jeje kalau baru saja ia memecat Nara dan meminta pada Je untuk tidak bersedih lagi.


Kemudian, Jeje dan Darren melihat kearah pintu dan bibi sudah terlihat panik, bibi sendiri tidak tau bagaimana untuk mengatakannya.


Melihat itu, Jeje bangun dari duduk, ia menghampirimu bibi dan mulai bertanya.


"Ada apa bi?"


"Suster membawa Aden Ryder," jawab bibi dengan tangan yang menunjuk pintu utama.


"Bagaimana bisa, tadi, Je sudah menitipkan Ryder sama bibi," sergah Jeje.


"Tadi, suster bilang, Aden dan Non memanggil saya," jawab bibi.


"Astaga," geram Darren, ia segera berlari keluar dengan disusul oleh Jeje.


Dapatkah Darren dan Je mendapatkan kembali Ryder?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2