MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Akhirnya Sah!


__ADS_3

Darren membukakan pintu untuk Justin dan Justin yang ingin meledeknya habis-habisan itu mendorongnya.


"Wah, selamat bro. Akhirnya, kamu gentle juga. Gitu dong!" ledeknya.


"Tapi terima kasih, Just," jawab Darren.


"Kalian kompak, sama-sama mengucapkan terima kasih," kata Justin dan sekarang, Justin mendarat cantik di sofa ruang tamu.


"Kedepannya tidak usah kamu ajari hal lain pada Jeje, aku pusing dengan tingkahnya," ujar Darren seraya terkekeh.


"Pusing tapi senang, kan?" tanya Justin, ia begitu ikut merasakan kebahagiaan atas kabar baik dari keduanya.


"Iya, tapi, kalau aku tidak bisa menahan bagaimana?" tanya Darren.


"Bukannya sekarang kamu sudah tidak tahan? Hahaha," tanya Justin seraya tertawa, ia benar-benar meledeknya.


Darren tidak tinggal diam, ia melemparkan bantal sofa dan itu mengenai tepat wajahnya.


Dan Justin yang masih menertawakannya itu berhenti, lalu, Justin menghadiahkan pesta di hotelnya dengan gratis.


"Awas kalau bohong!" timpal Darren.


"Kalau bohong aku rela untuk disunat lagi!" jawab Justin dan Darren sangat menyayangkannya.


"Kenapa, kamu tidak percaya?" tanya Justin dan Darren menjawab, "Kalau tidak kasihan pada Rossi ku pastikan akan menyunatmu sampai habis!"


Setelah itu keduanya tertawa bersama, lalu, Darren mengajak Justin untuk makan malam, tetapi, Justin menolak, setelah itu, Justin pun pamit.


Ia tidak lupa mendoakan kelancaran pesta untuk sahabatnya itu.


Singkat cerita, sesampainya di rumah, Justin meminta izin pada Ayahnya untuk menggunakan aula hotel secara percuma.


"Untuk apa, kamu bilang satu bulan lagi, kenapa jadi dua minggu?" protes Ayah Justin.


Lalu, Justin ikut menyusul duduk di sofa panjang ruang tengah itu, ia menatap Ayahnya, lalu, bergantian Ibunya.


"Darren akan menikah dan ini kado pernikahan dari Justin untuk mereka," ujar Justin dan karena mengenal Sam, Ayah Justin pun menyetujuinya.


Justin mengucapkan terima kasih dan sekarang Justin pamit untuk ke kamarnya.


****


Esok harinya, pagi-pagi sekali Darren sudah datang ke rumah Sam dan Darren yang sedang memarkirkan mobilnya itu digoda oleh janda yang ada di depan rumah Sam.


"Ganteng," panggilnya dan Darren melihat ke arah sumber suara yang ada di balkon rumah Sarah.


Darren tak menghiraukannya karena Darren benar-benar menjaga perasaan Jeje.

__ADS_1


Dan Darren yang pagi-pagi ada di rumah Sam itu ikut sarapan bersama. Setelah itu, Sam memberitahu apa saja yang harus Darren siapkan, pertama adalah uang dapur untuk calon istrinya, lalu, Darren harus menyiapkan mahar sesuai dengan apa yang calon istrinya itu inginkan.


Setelah itu, Darren segera mengirim pesan pada Jeje.


"Mau mahar apa?" tanya Darren.


Dan Jeje yang sedang menyapu rumahnya itu tersenyum ketika mendapatkan pertanyaan yang seperti itu.


Walau dari cara Darren bertanya tidak romantis, tetapi, itu cukup membuat hatinya penuh energi pagi ini.


Lalu, sebelum membalas pesan itu, Jeje bertanya pada Ayahnya. Jeje segera mengetuk pintu kamar Pak Somat.


Pak Somat menyuruh Jeje untuk membuka pintunya dan Jeje yang masih berdiri di pintu itu bertanya, "Ayah, Je harus minta mahar apa?"


"Yang tidak memberatkan calon suamimu," jawab Pak Somat yang sedang menyisir.


Sementara itu, Darren sedang tidak sabar menunggu balasan dari Jeje.


"Kenapa hanya dibaca, apa dia sedang memikirkan apa yang diinginkannya?" tanya Darren dalam hati.


Tidak lama kemudian, Darren mendapatkan balasan dari Jeje yaitu terserah.


"Terserah Mas Darren saja," jawab Jeje disertai emoticon love.


Setelah itu, Darren tidak lagi menjawab, setelah membaca pesan Jeje, Darren segera menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya.


Darren pun setuju dan Darren langsung bangun dari duduknya.


"Kemana?" tanya Sam dan Darren menjawab harus menyiapkan semua.


Sekarang, tiba-tiba saja Darren sudah ada di depan rumah pak Somat dan Darren mendapatkan tatapan dari para tetangga Pak Somat yang mengira kalau Darren telah menghamili Jeje.


Dan Darren segera disambut oleh Jeje yang sedang mengelap kaca rumahnya.


"Mas Darren, tumben pagi-pagi sudah di sini?" tanya Jeje dan Darren yang melihat Jeje mengenakan celana kolor dengan kaos oblong polos itu memintanya untuk segera bersiap.


"Kemana?" tanya Jeje dan Darren menyuruh Jeje untuk cepat dengan tidak banyak bicara.


"Baiklah," jawab Jeje dengan mengangguk, setelah itu, Jeje pun berlari masuk ke rumah dan Jeje yang selalu berpenampilan apa adanya itu tak membutuhkan waktu lama.


Sekarang, Jeje sudah berdiri di depan Darren dan Darren yang duduk di kursi teras itu pun bangun dari duduknya.


Pria berpenampilan santai dengan celana jeans dipadukan dengan kaos polos itu menggandeng tangan Jeje dan Jeje tersenyum senang.


Dan Darren membawa Jeje ke sebuah mall terdekat, Darren meminta pada Jeje untuk memilih sendiri perhiasannya dan Jeje mengatakan inginkan Darren yang memilih untuknya, tetapi, Darren menolak.


"Takut salah pilih, Je. Nanti kamu salah paham lagi," gumam Darren dalam hati.

__ADS_1


Dan Jeje yang melihat begitu banyaknya pilihan pun menjadi bingung.


Lalu, darren mengajak Jeje untuk pergi dari toko dan Jeje mengira kalau Darren membatalkan membelikannya perhiasan.


Jeje pun menanyakan itu dan bukan Darren namanya jika menjawab pertanyaan Jeje.


"Astaga, kamu punya mulut, kan?" tanya Jeje dan Darren menjawabnya dengan senyum.


Ya, Darren ingin memesankan perhiasan khusus untuk calon istrinya.


Singkat cerita, setelah mendapatkan dan mempersiapkan semua, sekarang hari pernikahan telah tiba.


Dan Sarah yang menjadi MUAnya.


Awalnya, Jeje merasa ragu, ia takut kalau Sarah akan meriasnya dengan sembarangan dan Jeje harus takjub dengan sentuhan tangan Sarah yang berhasil membuatnya sangat cantik hari ini.


Darren yang sudah menunggu di ruang tamu itu merasa kalau jantungnya sedang berdegup kencang, tetapi, Darren berhasil menyembunyikan rasa gugupnya dengan memperlihatkan sikap santainya.


Darren tersenyum pada Jeje dan Jeje pun tersipu.


Sekarang, keduanya berjalan beriringan ke masjid dekat rumah untuk melaksanakan ijab kabul.


Sebelum masuk ke masjid, Darren membaca doa lebih dulu, pria muda itu meminta untuk kelancarannya.


Singkat cerita, sekarang, Darren dan Jeje sudah duduk di depan Pak Penghulu.


Dan Darren yang sudah menghapalkan ijab kabul itu dapat mengucapkannya dengan sekali tarikan nafas, "Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Sintya binti Somat dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 2023rupiah dibayar tunai!"


Setelah itu, semua saksi dan tamu yang menghadiri ijab kabul serentak mengucapkan kata sah dengan lantang.


"Alhamdulilah," ucap Darren dan Jeje bersamaan.


Lalu, Darren mengikuti arahan Sam untuk mengulurkan tangannya pada Jeje dan yang menerima uluran tangan itu segera mencium punggung tangan Darren.


Dan Justin yang menjadi juru foto itu segera mengambil gambar.


Sekarang, semua orang segera bergegas ke hotel dan di sana sudah ada beberapa tamu yang datang.


selesai acara pesta, Justin yang melihat Darren begitu berkeringat pun segera memberikan air minum.


"Terima kasih," ucap Darren pada Justin dan Justin menjawab dengan mengangguk.


Sementara itu, Rossi memperhatikan Justin yang sedang kembali ke mejanya dan Justin mengembangkan senyumnya.


Melihat senyum itu, Rossi menjadi curiga dan Rossi menanyakan apa yang telah Justin berikan pada Darren.


Benarkah kecurigaan Rossi pada Justin dan apa yang Justin berikan pada Darren? Kita temukan jawabannya di bab selanjutnya, ya.

__ADS_1


Bersambung.. Jangan lupa like dan komentarnya, ya.


__ADS_2