
Malam ini, Darren harus tidur di rumah, ia menatap putranya yang belum dinamai itu.
Darren berbaring di samping putranya, ia bahkan tak berani menyentuh walaupun sangat ingin, ia takut akan mengganggu tidurnya, lalu, membuatnya menangis.
Bibirnya tersenyum, tetapi, tatapan matanya menyiratkan kesedihan.
Dan Darren harus membuatkan susu setiap 2 jam sekali.
Esok paginya, Sam yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah bersama Darren itu bertanya, "Kapan cucuku akan diberi nama?"
"Belum tau, Pih. Darren ingin Jeje yang menamainya," jawab Darren.
"Kita tidak tau kapan istrimu akan bangun, kasian dia kalau belum diberi nama," kata Sam seraya dagu menunjuk Viona yang sedang menimang cucunya.
Darren pun mengikuti arah Sam menunjuk dan Darren membenarkannya.
"Akan Darren carikan nama untuknya," jawab Darren kemudian.
Lalu, Darren bangun dari duduk, ia menitipkan putranya pada Viona karena Darren harus menjenguk Jeje.
Viona pun mengatakan kalau Darren tidak usah memikirkan putranya karena Viona akan menjaganya dengan baik.
Viona juga menitipkan dalamnya dan Darren mengiyakan.
Sekarang, Darren sedang dalam perjalanan dan Darren melihat anak kecil yang sudah berdiri di bawah lampu merah untuk meminta-minta.
Darren menurunkan kaca mobilnya untuk memberikannya selembar uang.
Dan anak kecil itu mendoakan untuk kebahagiaan Darren, Darren tersenyum dan meminta padanya untuk mendoakan Jeje.
"Doakan istriku supaya cepat bangun."
Dan anak kecil itu pun mendoakan.
****
Jeje membuka matanya dan dirinya melihat Ibu yang begitu ia rindukan. Terlihat kalau Jeje memakai pakaian serba putih, begitu juga dengan Ibunya.
Tak ada sesuatu yang Jeje katakan, tetapi, Jeje mendengar kalau Ibunya menyuruhnya untuk bangun.
Dan tanpa terasa air mata Jeje mengalir dan Darren yang sudah ada di ruangan itu melihatnya.
Darren segera mengusap air mata itu menggunakan ibu jarinya.
Lalu, Darren berbisik, "Je, apa yang membuatmu menangis, apakah ada yang sakit?"
Dan Darren yang sedang menahan air matanya supaya tidak menetes itu segera mengusap matanya yang mulai basah.
Lalu, untuk mengalihkan kesedihannya, Darren menanyakan sebuah nama untuk bayinya, "Je, aku belum memberi nama untuknya, apakah kamu sudah memiliki nama untuknya?"
Namun, kenyataannya, itu semakin membuat Darren bersedih.
__ADS_1
Dan kali ini, Darren yang sudah tidak dapat menahan segala perasannya itu melepaskannya, melepaskan semua yang selama ini ingin ia katakan.
"Je, bangun! Kamu harus tau kalau aku begitu tersiksa tanpamu di sini, apalagi sekarang sudah ada dia, dia yang selama 6 tahun ini kamu tunggu, Je! Bangun!" ucap Darren dengan begitu frustasinya dan air mata yang terus membasahi pipinya.
Dan Darren yang menggenggam tangan Jeje merasakan kalau Jeje sedikit menggerakkan jari-jemarinya.
Darren pun menatap Jeje penuh harap, ia berharap Jeje membuka mata sekarang juga.
Tetapi, apa yang Darren harapkan itu tidak menjadi kenyataan. Karena nyatanya, kondisi Jeje memburuk.
Bahkan EKG menunjukkan garis lurus dan membuat Darren panik, Darren segera menekan bel dekat brangkar dan tidak lama kemudian suster datang.
Setibanya di ruangan, suster melihat monitor EKG yang bergaris lurus dan suster segera memanggil dokter.
Kemudian, Suster meminta pada Darren untuk menunggu di luar, tetapi, Darren menolak dan Darren harus melihat istrinya dikejutkan menggunakan alat kejut jantung.
Air mata sudah tidak lagi menetes dari matanya, ia menatap dengan pandangan kosong dan Darren melihat dokter sedang memeriksa denyut nadi istrinya dan dokter itu menggeleng.
Dokter menyatakan kalau Jeje sudah tiada dan Darren tak mampu lagi untuk berdiri.
Ia jatuh dan pandangannya tetap pada Jeje. Kemudian, dokter yang melihat itu membantu Darren untuk berdiri, tetapi, lutut Darren terasa begitu lemas sehingga Darren tidak dapat berdiri dengan benar.
"Kami turut berduka, Pak," kata dokter dan Darren sama sekali tidak menjawab.
Ia tidak percaya dengan ucapan dokter dan melarang suster untuk melepas alat-alat yang masih menempel di tubuh Jeje.
"Aku yakin dia akan bangun, jangan lepaskan itu!" ucap Darren dengan begitu frustasinya.
Kenyataan kalau Jeje sudah tiada.
Sekarang, Darren memeluk tubuh kurus istrinya dan meminta padanya untuk bangun.
"Bangun, Je. Jangan tinggalkan aku!" rintih Darren.
Tetapi, Jeje yang sedang ada di alam lain itu sama sekali tidak bergerak.
Jeje sedang berada di pintu yang entah menuju kemana, ia tidak tau karena pintu itu dipenuhi cahaya terang.
Lalu, Jeje melihat kebelakang saat Ibunya kembali memanggil.
"Je," lirih Ibu Jeje yang terlihat begitu sangat cantik dengan gaun putihnya.
"Kembalilah, ada yang sangat membutuhkanmu, seperti dulu kamu membutuhkan Ibu," kata Ibu Jeje seraya menatapnya.
Lalu, Jeje yang masih berdiri itu bertanya, "Lalu, kenapa dulu Ibu tidak kembali?"
Dan Ibu Jeje menjawab dengan tersenyum.
Kemudian, Ibu Jeje hilang dari pandangan dan itu membuat Jeje mencarinya.
"Bu," lirih Jeje dan saat itu juga Darren yang masih menangis dengan menggenggam tangan Jeje merasakan kalau Jeje kembali padanya.
__ADS_1
Darren pun mengatakan itu pada suster kalau Jeje masih ada.
Dan untuk memastikan, suster pun kembali memeriksa denyut nadi pasien dan benar adanya, suster merasakan denyut itu walau terasa lemah.
Sekarang, suster kembali memasangkan alat-alat medis untuk Jeje dan salah satu suster segera memberitahu dokter.
Dokter mengatakan kalau ini adalah suatu keajaiban.
Sekarang, Darren dapat bernafas sedikit lega karena Jeje masih ada bersamanya, berharap, setelah melewati masa kritis ini, Jeje akan segera membuka matanya untuk melihat kembali dunia ini.
Dan malam ini, Darren tidur dengan terus menggenggam tangan istrinya.
****
Esok harinya, Darren harus pulang karena harus melihat keadaan putranya dan setibanya di rumah, Sam menagih nama untuk cucunya.
"Darren belum menemukan nama untuknya, Pih," jawab Darren.
Sam pun mengangguk, kemudian Sam menanyakan keadaan Jeje dan Darren menceritakan semuanya.
Setelah mendengar kalau Jeje kembali, Sam pun ikut bernafas lega, ia berharap Jeje akan membuka matanya.
Kemudian, Darren dan Sam melihat ke arah pintu karena ada Dandi yang berdiri di sana.
Dandi membawakan suster yang Sam inginkan dan suster itu terlihat masih muda membuat Sam meragukan kemampuannya.
Lalu, Dandi mengatakan kalau suster yang dibawanya sudah lulus tes dan Sam pun mengangguk.
Setelah itu, Sam menanyakan nama suster itu yang mengenakan seragam putih.
"Nara," jawab suster tersebut.
"Baiklah, tugasmu mengurus cucuku, Ibunya sedang sakit dan kamu harus mengurusnya pagi, siang dan malam," kata Sam dan Nara pun mengangguk.
Dan Sam memberikan gaji yang cukup besar karena untuknya.
Setelah itu, Sam memanggil bibi, Sam meminta pada bibi untuk membawa suster ke kamarnya.
Setelah itu, suster harus langsung bekerja dan Viona yang sedang menggendong bayi Darren itu memberikannya pada suster.
Setelah itu, Darren yang merasa gerah pun segera meninggalkan ruangan, ia ke lantai atas dan saat itu juga Darren melihat bayangan Jeje yang jatuh terguling-guling.
Tiba-tiba saja, Darren menjadi pusing dan Darren memijit pelipisnya.
"Darren, kenapa?" tanya Sam yang melihat itu dan Darren pun menggeleng.
Dan suster yang sedang menggendong bayi Darren itu memperhatikan.
Bersambung.
Dapatkah Nara menjaga bayi Jedar (Jeje dan Darren) dengan baik?
__ADS_1