
Rossi mengajak Papahnya keluar dan mengingatkan kalau Papahnya sudah memiliki kebahagiaan sendiri jadi tidak perlu lagi mengurusi kehidupan mantan istri.
Papah Rossi terlihat menunduk, ia ingin bercerita, tetapi, ia menahannya. Setelah itu, Papah Rossi tersenyum.
"Kamu benar, Nak. Papah sendiri yang sudah memilih jalannya seperti ini," kata Papah Rossi.
Dalam hati, Papah Rossi ingin sekali menyampaikan kalau istri barunya telah pergi meninggalkannya.
Tetapi, pria yang sekarang tidak terawat itu hanya menyimpannya di hati.
Lalu, Papah Rossi pun pamit.
"Yah, Papah hati-hati," kata Rossi dan Papahnya itu tersenyum.
Pria berbatik coklat itu merasa kalau putrinya sudah dewasa.
****
Selesai dengan acara, sekarang hanya tersisa anggota keluarga.
Darren yang tidak ingin mengganggu hari bahagia Pak Somat itu mengajak istrinya untuk pulang.
Jeje pun mengiyakan dan Jeje yang masih duduk di kursi roda itu diantarkannya untuk pamit pada ke-dua orang tuanya.
Jeje memanggil Sarah dengan sebutan Ibu, "Jeje titip Ayah, ya, Bu. Kalau nakal pukul saja pakai gagang sapu," ledek Jeje.
"Ayah tidak nakal, paling nanti akan sedikit merepotkan," timpal Pak RT.
"Tidak apa, karena sudah lama tidak ada yang merepotkan ku, Pak RT," timpal Sarah.
Setelah itu, Darren juga pamit pada keduannya.
Sementara Rossi dan Justin, mereka sedikit lama di sana, ingin menemani orang tuanya mengobrol selagi hari masih sore.
Setelah malam tiba, Justin mengajak Rossi untuk pulang.
Dan setelah itu, Pak Somat mengajak Sarah untuk ke kamar, Sarah yang mengerti maksud pria itu pun tersenyum malu-malu.
Di kamar..
"Pak RT, sudah lama sarang ini menganggur, tidak ada yang masuk," lirih Sarah seraya tersenyum.
"Sama seperti saya, pusaka saya sudah lama menganggur," kata Pak Somat seraya terkekeh. Setelah itu, Pak Somat mematikan lampu kamar dan hanya mengandalkan lampu hias yang temaram.
Malam syahdu pun mereka lanjutkan dengan sangat panjang, sehingga menjelang subuh keduanya baru tidur.
****
__ADS_1
Setelah menikah, Sarah mengikuti kemauan Pak RT yang mengajak tinggal di rumahnya.
Akhirnya, Sarah mengontrakkan rumahnya.
"Bu Sarah, sebagai suami, saya minta maaf karena penghasilan saya tidak sebesar Bu Sarah," kata Pak Somat.
Sarah yang sedang menyiapkan sarapan menjawab, "Tidak apa Pak RT, harta bukan menjadi alat ukur dari sebuah kesetiaan apalagi untuk membeli cinta."
Setelah itu, Pak Somat menggenggam tangan istrinya.
Hari-hari telah dilalui dengan bahagia, Rossi bahagia bersama Justin.
Pak Somat bahagia bersama Sarah, begitu juga dengan Jeje yang merasa lebih bahagia setelah kejadian naas waktu itu, karena kejadian itu Darren benar-benar tidak membuka game onlinenya.
Apakah akan seperti itu selamanya?
Nyatanya tidak, setelah Jeje membaik, Darren kembali memainkan gamenya
Dan Jeje yang baru saja dirawat sebaik mungkin itu tidak melarang asalkan Darren ingat waktu dan ingat istrinya.
Dan sekarang, setelah lelah bekerja dan menina bobokan istrinya, Darren mengambil ponselnya, ia bermain game online dan Jeje yang sempat terbangun di jam 10 malam itu mengambil ponsel yang digenggam oleh suaminya.
"Nanti, Je. Lagi tanggung ini," protes Darren seraya mempertahankan ponselnya, "Sekali lagi, serius, tidak bohong," lanjut Darren, akhirnya, Jeje masuk ke dalam pelukan suaminya, membuat Darren bermain game online dengan tetap memeluk istri yang selalu manja.
Satu bulan kemudian, Jeje dan Darren mendapatkan undangan syukuran empat bulanan dari Rossi dan Justin.
Rossi pun mengusap perut Jeje dan berdoa semoga Jeje segera dikaruniai seorang putra/putri.
Selesai dengan acara, Darren mengajak Jeje untuk pulang, di perjalanan, Darren menggenggam tangan istrinya.
"Sabar, ya," kata Darren seraya mengecup punggung tangan itu.
Jeje mengangguk, ia pun memeluk lengan suaminya dan dalam hati Jeje berdoa supaya Tuhan cepat memberikan kepercayaan, kebahagiaan yang sama seperti Rossi.
Sesampainya di rumah, Jeje langsung masuk ke kamar, ia merasa lelah dan sangat ingin istirahat.
Sementara Darren, ia memiliki sedikit pekerjaan yang harus ia periksa, selesai dengan itu, Darren pun menyusul ke kamar, Darren melihat Jeje yang sudah tidur masih dengan pakaian yang sama juga make up yang belum dihapus.
Darren yang sekarang sudah duduk di tepi ranjang itu membangunkan istrinya dengan cara mengusap lengannya dengan lembut.
"Je, bangun," lirih Darren dan Jeje yang mendengar itu pun membuka mata.
"Iya, kenapa, Mas?" tanya Jeje seraya menatap Darren.
"Cuci muka dulu, nanti kamu jadi berjerawat bagaimana?" tanya Darren.
"Memangnya, kalau aku berjerawat akan membuat rasa cintamu berkurang?" tanya Jeje, ia merubah posisinya menjadi duduk.
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi... kalau kamu mau berjerawat ya silahkan," kata Darren yang kemudian bangun dari duduk, ia mulai melepaskan baju kokonya dan menyimpannya di keranjang baju kotor.
Setelah itu mencuci wajahnya tidak lupa menggosok gigi.
Selesai dengan itu semua, Darren keluar dari kamar mandi dan di depan pintu sudah ada Jeje yang sedang tersenyum dan Darren mengusap pucuk kepalanya.
Selesai dengan bersih-bersihnya, Jeje menghampiri Darren yang terlihat sangat lelah, Jeje masuk kepelukannya dan Darren membuka mata, ia bertanya, "Je, kamu masih sakit?"
"Tidak," jawab Jeje singkat.
"Kalau begitu, kita buat adek bayi!" ajak Darren dan Jeje tersenyum, ia inginkan anak kembar dan Darren mengaamiinkannya.
****
Tiga bulan berlalu, sekarang, Justin sedang mencarikan rujak buah untuk istrinya dan setelah mendapatkannya, Rossi memberi kabar kalau dirinya sedang ada di rumah orang tuanya.
Justin pun mengantarkan pesanan Rossi dan di sana Sarah sedang mengusap perut putrinya yang sudah membuncit.
Diketahui jenis kelaminnya adalah pria.
Terlihat kebahagiaan di tengah keluarga kecil itu dan Pak Somat pun ikut merasakan kebahagiaan itu, sebentar lagi akan memiliki cucu.
Dan Pak Somat tidak lupa mendoakan anaknya supaya segera hamil yang didoakan itu pun muncul.
Sepulang kuliah, Jeje ingin melihat Ayahnya dan Darren yang sekarang selalu mengantar jemput itu mengantarkannya ke rumah Pak Somat.
Tidak lama kemudian datang Justin yang membawa buah rujak.
Siang ini seperti reuni bagi Darren dan Justin, selagi para wanita memakan rujak, Justin dan Darren duduk di teras, di temani kopi.
Darren yang melihat Justin masih merokok itu memprotesnya.
"Istrimu sedang hamil, tidak bagus untuk kesehatan calon anakmu," ujarnya.
"Kan aku merokok di luar, mereka tidak terkena asapnya," jawab Justin.
"Tetap saja," kata Darren seraya mengambil rokok itu dan kembali menyimpannya.
"Menyebalkan, untung sekarang jadi saudara," gerutu Justin dan Darren terkekeh.
****
Di dalam, Jeje melihat betapa bahagianya Rossi yang sebentar lagi akan melihat putranya lahir ke dunia dan Jeje ikut tersenyum.
Jeje tidak pernah berhenti berdoa walau doanya belum Tuhan kabulkan, Jeje yakin kalau Tuhan memiliki rencana yang indah.
Bersambung...
__ADS_1