
"Setelah bangun dari koma, entah mengapa aku takut dengan ketinggian, Mas," kata Jeje seraya menatap Darren.
Darren ingat betul dengan kejadian naas tersebut pun tak memaksa, kemudian, ia bertanya, "Atau kita pindah kamar?"
"Ide bagus," kata Jeje dan Darren segera ke belakang untuk memanggil bibi.
"Bi," panggil Darren dari pintu dapur, mendengar suara Darren, Nara yang masih ada di dapur itu ikut menoleh, Nara menatap Darren penuh dengan rasa kecewa, mengira kalau dengan adanya Jeje, ia sudah tidak memperhatikan lagi dan tersenyum lagi padanya.
Darren melihat itu dan mengabaikan, ia mencari bibi dan fokusnya hanya pada bibi. "Je ingin pindah kamar, Bi. Nanti tolong bantu kami untuk pindah," kata Darren.
Bibi mengangguk dengan senang hati akan melayani majikan yang begitu baik padanya.
"Terima kasih, bi. Nanti akan ku kirimkan bonus untuk bibi," kata Darren, mendengar itu tentu saja membuat bibi semakin bersemangat.
"Terima kasih, Aden. Kebaikan Aden mengingatkan bibi pada Nyonya besar."
Mendengar itu, Darren tersenyum dan Darren juga mengatakan kalau akan mengadakan syukuran untuk Jeje.
"Baik, Den. Nanti infokan saja sama bibi," jawab bibi.
Setelah itu, Darren kembali pada Jeje dan Jeje sedang berdiri di ruang tengah dengan memperhatikan foto pernikahannya.
Seketika, Jeje merasa melayang karena Darren yang tiba-tiba kembali membopong. Darren membawa Jeje ke kamar yang ada di dekat ruang tengah.
Dan Nara yang akan kembali untuk memeriksa Ryder itu harus melihat keduanya masuk ke kamar.
Nara tau apa yang akan terjadi selanjutnya dan ia berdecak.
Lalu, Nara yang melihat Ryder sudah terbangun itu segera menggendong dan Nara memiliki ide untuk mengganggu pasangan Jedar.
Nara yang melihat kotak susu itu segera mengambil untuk dibuangnys. Setelah itu, Nara menggendong Ryder yang mulai merengek karena haus.
Nara membawa Ryder ke depan kamar Jeje dan Darren yang baru membuat pasangan yang sedang saling merindukan itu harus mendengar suara tangis Ryder.
Jeje yang masih pura-pura itu harus membuat Darren menunggu untuk itu, ya, Jeje masih ingin membuat Darren sedikit merana lagi.
Sekarang, keduanya menatap pintu dan segera turun dari ranjang. Darren membuka pintu, ia bertanya, "Kenapa, sus?"
"Maaf, Pak. Persediaan susu Mas Ryder habis," kata Nara seraya menatap Darren.
Lalu, Darren mengambil dompet dari saku celananya, ia memberikan uang pada suster.
Dan Suster mengerti, jika dirinya pergi membeli susu, maka Ryder akan memiliki kesempatan bersama Jeje.
__ADS_1
Nara mencari alasan, "Maaf, Pak. Mas Ryder juga pup, boleh tidak kalau Mamang atau bibi yang membelikan, saya takut Mas Ryder tidak betah karena belum ganti popok," kata Nara.
Mendengar itu, Darren mengiyakan dan Darren mencari bibi yang sedang mengangkat jemuran.
"Bi, Mamang sudah datang belum?" tanya Darren dari pintu belakang.
Bibi melongokkan kepala dari sela jemuran, ia menjawab kalau malam ini baru perjalanan dari kampungnya.
Darren mengangguk, ia melihat bibi yang begitu sibuk dan banyak pekerjaan pun menjadi tidak tega, Darren memilih untuk pergi sendiri.
Di ruang tengah, Darren tidak melihat Ryder, berpikir kalau Ryder bersama suster sedang digantikan popoknya. Sekarang, Darren pamit pada Jeje yang sedang membuka tas tangannya.
"Cari apa?" tanya Darren yang berdiri di pintu.
"Ponselku, di mana dia?" tanya Jeje yang sedari membuka mata tak melihat ponselnya.
"Ada, nanti akan ku ambilkan, sekarang, aku mau ke mini market, mau titip apa?" tanya Darren.
"Tidak titip apa-apa," jawab Jeje dan Darren mengangguk, setelah itu, Darren kembali menutup pintu kamarnya.
Darren pergi dengan mengendarai sepeda motor Jeje dan Nara dapat melihat itu dari kamar Ryder.
Nara memperhatikan Darren sampai tak terlihat lagi.
"Aku akan tetap menjaga Ryder dengan baik, tidak akan membiarkan Ryder untuk jatuh ke pelukan Ibunya!" kata Nara, janda itu sedang berdiri di tepi jendela dengan memeluk Ryder.
Setelah mendapatkan semua kebutuhannya, Darren pun kembali dan sesampainya di rumah, Darren memanggil Nara dengan menghubunginya, kemudian, Nara segera turun bersama Ryder.
Nara menerima bag dari Darren dan ia melihat ada coklat dan mengira kalau itu untuk Ryder karena Ryder belum makan coklat, Nara pun menjelaskannya, "Pak, Mas Ryder belum makan coklat."
Nara mengambil dua coklat tersebut, menunjukkannya pada Darren.
Darren belum belum memberikan jawaban, karena ingin menggendong putranya lebih dulu.
"Ryder sama Papah, yuk. Suster mau buat susu untuk kamu," kata Darren seraya meminta Ryder dari gendongan Nara.
Sekarang, Ryder sudah ada di gendongan ayahnya dan Darren mengambil coklat tersebut dari tangan Nara.
"Ini untuk istriku," kata Darren. Setelah itu, Darren membawa Ryder ke kamar untuk ikut bermain bersamanya dan juga Jeje.
"Ya, aku lupa kalau istrimu sudah kembali, Pak," kata Nara dalam hati.
Nara terkekeh menertawakan dirinya sendiri dan sekarang segera menyiapkan susu untuk Ryder.
__ADS_1
****
Singkat cerita.
Malam ini, Nara tidur sendiri di kamar Ryder, biasa berdua dengan pria kecil itu membuat Nara merasa sepi.
"Ryder, suster merasa sepi, biasanya, kita akan bermain dulu sebelum tidur," kata Nara seraya melihat ranjang Ryder yang kosong.
Nara menatap langit-langit kamar tersebut, ia membayangkan jika putrinya masih ada mungkin sudah sebesar Ryder, mengingat kepahitan hidupnya membuat Nara menitikkan air mata.
Nara memeluk guling kemudian menangis, ia melepaskan sesak di dadanya.
Baginya, selama bersama Ryder, sudah cukup untuk mengobati kerinduan untuk putrinya yang telah tiada.
****
Esok harinya, Nara mencari Ryder dan Ryder ada di gendongan Jeje, terlihat kalau Jeje sedang mencoba menenangkan Ryder yang menangis.
Ya, Ryder masih belum mau bersamanya, ia terus mencari suster dan sekarang, suster yang dicarinya sudah ada di belakangnya dan Nara menyapa Ryder yang menangis.
"Mas Ryder kenapa?"
Dan bukan hanya Ryder yang melihat kearah sumber suara, Jeje juga ikut menoleh.
"Tidak apa-apa, sus. Dia hanya belum terbiasa," jawab Jeje dan Jeje begitu sedih ketika melihat Ryder yang meminta ikut pada suster.
Suster pun mengambil Ryder dari tangan Jeje.
"Cariin suster, yah?" tanya Nara pada Ryder dan Ryder yang sedikit menangis itu segera memeluknya.
Lalu, Nara membawa Ryder ke dapur.
"Maaf, Bu. Saya permisi harus membuatkan susu untuk Mas Ryder," kata Nara dan Jeje tidak menjawab apapun.
Kemudian, Jeje menyusul Darren ke kamar, pria itu masih terlelap karena semalaman begadang menemani Jeje dan Ryder yang tidak mau tidur.
Melihat itu, Jeje yang mengantuk ikut berbaring dan Darren yang merasakan kehadiran istrinya itu segera membawanya ke pelukan.
"Ayo kita buat adik untuk Ryder," bisik Darren dan Jeje tidak menjawab, ibu beranak satu itu sudah tertidur dan Darren menghela nafas, kemudian, Darren kembali tidur dengan memeluk istrinya.
Di dapur, Nara merasa kasihan pada Ryder, terlihat kalau Ryder begitu mengantuk dan Nara menduga kalau Ryder juga tidak dapat tidur seperti dirinya.
"Kita sudah satu paket, ya, Mas. Sama-sama tidak bisa tidur jika tidak bersama," kata Nara dalam hati dan Nara semakin menyayangi Ryder seperti menyayangi anaknya sendiri.
__ADS_1
Sampai kapan Ryder akan ada di pelukan Nara?
Bersambung.