MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Welcome Baby Boy


__ADS_3

Jeje yang merasa penasaran pun bertanya, "Ibu hamil?"


Dan Sarah menjawabnya dengan sedikit tersenyum.


Melihat senyum itu, membuat Jeje mengira kalau apa yang dipikirkannya itu adalah benar.


Tetapi, itu tidak seperti apa yang Jeje pikir, nyatanya, Sarah sedang datang bulan dan juga masuk angin.


"Ayah kamu, terlalu semangat sampai Ibu harus lembur tiap malam," kata Sarah pada Jeje dan Jeje pun merasa malu karena Ibunya bicara tanpa filter lebih dulu.


Jeje menggaruk kepalanya, ia yang baru saja menemani Arum berbelanja itu pun pamit.


"Bu, Je mau lanjut kuliah, Je pamit dulu," kata Jeje pada Sarah dan Sarah pun mengiyakan.


Sarah juga mengingatkannya untuk berhati-hati.


"Terima kasih," ucap Jeje dan Jeje merasa diperhatikan oleh sosok Ibu yang selama ini ia rindukan.


Setelah itu, Jeje melambaikan tangannya pada Sarah juga Rossi.


****


Siang telah berlalu, sekarang, Justin pulang dengan membawakan aneka buah segar untuk istri dan anaknya.


"Kamu harus banyak makan buah, supaya sehat, tentunya, anak kita juga," kata Justin dan Rossi yang sudah melunak itu pun mengiyakan.


Setelah itu, Justin mengatakan kalau dirinya akan bersih-bersih dan Rossi dimintai untuk menunggu di kamar.


Rossi pun menurut, tetapi, Rossi menunggu Justin terlalu lama, karena Justin sedang sembelit.


"Astaga, lama sekali, lebih baik aku tidur," kata Rossi dan Rossi pun benar-benar tidur.


Tidak lama kemudian, Justin keluar dan melihat istrinya sudah terlelap.


"Batal mulu," gerutu Justin. Akhirnya, Justin hanya bisa pasrah, ia pun mengajak Darren untuk bermain game online.


Darren yang sedang menina bobokan Jeje itu tak segera membuka ponselnya dan setelah Jeje tertidur, diam-diam Darren mengambil ponselnya dan Darren yang membaca pesan Justin itu pun mengiyakan.


Setelah itu, Darren mengirim pesan pada Jeje dan ponselnya itu ia silent lebih dulu supaya Jeje tidak terbangun.


"Je, aku banyak pekerjaan, aku akan segera menyusul tidur setelah selesai," pesan Darren.


Lalu, Darren kembali meletakkan ponsel Jeje ke tempat semula dan Darren berharap kalau dirinya tidak berdosa karena telah sedikit berbohong


Darren segera pergi ke ruang kerjanya untuk bermain game, ia ingin mencari aman dan benar saja, Jeje sempat membuka mata dan ia mencari ponselnya, dan ia mendapatkan pesan dari Darren, gadis berpiyama itu segera membaca pesan dari Darren.


Setelah membaca itu, Jeje pun melanjutkan untuk tidur.


****


Setelah beberapa kali permainan, Darren pamit pada Justin, ia mengatakan kalau hari sudah larut dan harus tidur.


Justin meledek Darren dengan mengatakan kalau dirinya suami takut istri.

__ADS_1


Darren mengelak karena yang pantas disebut suami takut istri adalah dirinya.


"Karena sedang hamil, kalau tidak, mana mungkin aku takut," elak Justin dan tentu saja Darren sudah tidak membuka ponselnya lagi, ia benar-benar menyusul Jeje dan sekarang, Darren memeluknya hingga pagi.


****


dua bulan kemudian, sekarang, Justin sedang menemani Rossi yang ada di ruang persalinan, Rossi yang sedang mengejan itu meremas tangan suaminya.


"Ini semua gara-gara kamu, Justin!" teriak Rossi dan suara bayi yang baru lahir pun terdengar.


"Eaaa eaaa eaaaa aaaa," suara tangis bayi mungil yang tampan.


"Ini hasil karya ku, Ross. Bukan gara-gara atau ulahku!" jawab Justin.


"Lihat, dia sangat mirip denganku, haaaahaaaaaha!" Justin tertawa senang.


Sementara Rossi, ia merasa sedih dan ia pun menangis dan tangis Rossi membuat Justin bertanya, "Sayang, apakah sakit?"


"Sudah pasti sakit atuh, Pak," kata dokter yang membantu persalinan setelah menunggu beberapa menit, sekarang, jagoan kecil itu Justin adzankan dan Rossi melihat sisi tampan Justin saat itu juga.


"Kemarin, aku lihat dia begitu menyebalkan, kenapa sekarang begitu tampan?" tanya Rossi dalam hati.


Lalu, Rossi yang sedang tersenyum itu menitikkan air matanya.


"Justin," lirih Rossi seraya membuka tangannya dan Justin yang sudah selesai dengan adzan itu pun segera mendekat, ia mengecup kening istrinya.


"Terima kasih sudah hadirkan bayi tampan untukku! Nanti kita buat lagi bayi yang cantik untukmu!" kata Justin dan Rossi yang baru saja mengalami rasa sakit yang luar biasa itu mencubit pinggang suaminya.


"Enak sekali kamu bicara, hah? Memangnya tidak sakit? Sakit, dari masa kehamilan sampai melahirkan, semua itu penuh perjuangan, tau!" kata Rossi dan Justin pun meminta ampun.


"Ross, tolong jangan kdrt seperti ini," pinta Justin dan Rossi hanya menatapnya datar.


Kemudian, Justin harus memotret bayinya, ia memasukkan ke grupnya, mengatakan kalau baby boy sudah hadir.


Darren yang mendapat kabar bahagia itu pun bertanya, "Siapa namanya? Kenapa sangat tampan bayi itu?"


"Belum dinamai, aku belum menemukan nama yang pas," jawab Justin.


Dan Rossi tak berhenti memandangi wajah putranya yang begitu mirip dengan suaminya.


"Di bagian mana yang mirip denganku? Kenapa semua mirip Justin?" tanya Rossi dengan begitu sedihnya.


"Just," lirihnya, Justin yang mendengar panggilan itu pun segera mendekat, ia menyimpan ponselnya.


"Kenapa dia sangat mirip denganmu? Apanya yang mirip denganku?" tanya Rossi seraya menatap Justin.


"Karena dia anakku, sudah seharusnya mirip dengan ku, Ross," jawab Justin seraya menatap Rossi dan Rossi yang merasa tidak adil itu menangis.


"Ross, jangan menangis, kita harus bahagia menyambut kedatangannya, kasihan dia," kata Justin.


Kemudian datang suster yang akan mengajarkan Rossi menyusui untuk pertama kali dan karena ini adalah pertama sudah pasti Rossi mengalami sedikit kesulitan.


Tetapi, kesulitan itu berangsur pergi karena Rossi cukup cekatan dan Rossi berusaha menerima kalau anak yang telah dikandungnya selama 9 bulan 10 hari begitu mirip dengan ayahnya.

__ADS_1


"Mungkin karena waktu hamil aku begitu membenci Justin," kata Rossi dalam hati.


"Semoga, semakin hari semakin mirip aku," harap Rossi dalam hati.


****


Jeje dan Darren sedang memilih apa yang akan ia bawa dan Jeje memilih stroller untuk keponakannya.


Setelah itu, Darren membantu untuk membawanya, Darren tersenyum pada Jeje dan menggandengnya. Keduanya pun segera ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Darren dan Jeje melihat Salsa dan Akmal yang juga ikut datang.


Melihat itu, mereka berjalan bersama.


Dan saat-saat seperti ini membuat Jeje teringat kapan dirinya mulai dekat dengan Darren.


Saat itu Darren bingung untuk membawakan kado Baby dan Jeje membantunya memilihkan kado.


Sekarang, Jeje memeluk lengan suaminya dan Darren yang sedang fokus bicara dengan Akmal itu hanya diam.


Dan Salsa yang berjalan di belakangnya itu pun memanggil.


"Je," lirihnya dan yang dipanggil pun menoleh.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Salsa dan Jeje tersenyum, ia melepaskan tangannya dari tangan Darren sehingga Darren dan Akmal jalan lebih dulu.


"Aku baik, kamu bagaimana?"


"Baik juga," jawab Salsa dan setelah itu, keduanya berjalan beriringan menyusul para suami yang sudah ada di depan.


Sesampainya di ruangan Rossi, Justin menyambut semua sahabatnya dan Justin menyuguhkan minuman dan cemilan.


Lalu, Darren dan Akmal memberikan kadonya untuk bayi yang baru lahir.


"Terima kasih," ucap Rossi seraya tersenyum pada semua orang.


Dan hari bahagia ini semakin lengkap setelah Sarah dan Pak Somat datang.


Pak Somat pun segera melihat cucunya.


"Cucu Kakek, tampan sekali," kata Pak Somat dan Jeje yang semula duduk itu bangun, ia berjalan ke arah Pak Somat berdiri dan Jeje ikut melihat bayinya.


Jeje tersenyum dan menyentuh pipi bayi itu. Dan Pak Somat yang seolah mengerti perasaan putrinya itu segera memeluknya.


"Kamu juga akan segera memiliki putra atau putri," kata Pak Somat seraya tersenyum.


Dan seketika, Jeje berkaca-kaca.


"Terima kasih, Ayah," kata Jeje dan Pak Somat mengangguk.


Kemudian ada Darren yang menyusul ke duanya, Darren ikut berdiri di samping box bayi tersebut.


Melihat bayi itu, Darren tersenyum dan Jeje yang melihatnya merasa kalau Darren juga menginginkan bayi.

__ADS_1


Dapatkah Darren dan Jeje akan terus saling memahami disaat belum memiliki keturunan?


Bersambung...


__ADS_2