MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Kapan Hamil?


__ADS_3

Melihat kebahagiaan yang ada di depan matanya membuat Jeje sedikit iri dan merasa tidak ingin lama-lama di rumah Ayah-nya.


Darren pun mengiyakan saat Jeje mengajaknya pulang, sekarang, Jeje dan Darren pamit pada semua orang.


Setelah itu Justin juga pamit karena harus kembali bekerja.


****


Di perjalanan, Jeje lebih banyak diam, tidak seceria biasanya dan Darren mempertanyakannya, "Kamu kenapa, Je?"


Yang ditanya pun menoleh. "Aku?" tanya Jeje.


"Iya, tumben anteng?"


"Emmh, tidak apa-apa," jawab Jeje seraya tersenyum tipis, lalu, Darren membawa istrinya ke dekapan.


"Sabar, ya, Je. Mungkin memang belum waktunya kita punya anak," kata Darren dan seketika air mata Jeje jatuh menetes dan Darren menghapusnya.


Jeje mengangguk mengerti dan Jeje mengajak Darren untuk memeriksakan keadaan ke duanya ke rumah sakit.


"Iya, tapi tidak sekarang, ya. Aku sedang banyak pekerjaan, besok dua hari aku harus keluar kota, aku tidak bisa mengajakmu, kamu harus kuliah," kata Darren dengan tetap fokus mengemudi.


"Baiklah," jawab Jeje.


"Besok dua hari ada yang akan antar jemput menggantikan ku," kata Darren.


"Setiap hari ada yang antar jemput," jawab Jeje. Gadis itu masih menempel pada suaminya.


Dan Darren menanggapinya dengan tersenyum.


****


Keesokan harinya, Jeje yang merasa sepi itu meminta ijin pada Darren untuk bermain bersama Lovely, Darren mengijinkan dan tidak lupa untuk berhati-hati.


Di rumah Sam, Jeje menemani Lovely bermain dan saat ini Lovely sedang sangat menyukai petak umpet.


Lucunya, bagi Lovely cukup menutup wajahnya maka dirinya tidak akan terlihat dan Jeje yang mendapati itu pun terkekeh.


"Sayang, kalau ngumpet harus tidak terlihat, bukan hanya menutup wajah," kata Jeje seraya membuka tangan Lovely yang menutupi wajahnya.


"Dia memang seperti itu, Je," timpal Viona yang memerhatikan keduanya bermain.


Jeje pun menoleh ke arah Viona duduk, ia tersenyum dan sekarang ikut duduk di sofa panjang, Jeje menggendong Lovely yang semakin gembul, mengajaknya untuk ikut bersamanya.


Dan Lovely yang sedang sangat aktif itu menolak untuk diajak duduk, gadis kecil itu pun merosot dan kembali bermain bersama suster.


Dan Suster yang sudah kelelahan itu mengajak Lovely untuk mewarnai, Lovely pun menurut karena memang Lovely menyukai itu.

__ADS_1


Sementara itu, di sofa panjang, Jeje bertanya, "Mi, dulu waktu awal menikah Mami langsung hamil atau menunggu sedikit lama?"


Mendengar pertanyaan itu, Viona tersenyum, ia menggaruk kepalanya dan mana mungkin ia akan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Lalu, Viona menjawab seadanya, "Langsung hamil, karena Papi mertua kamu sangat tokcer."


"Astaga, Mami. Sepertinya kalian sangat hot," ledek Jeje.


Dan Viona pun terkekeh.


"Kamu nginep sini aja, Je. Darren belum pulang, kan?" tanya Viona seraya menatap menantunya.


"Memang boleh, Mi?" tanya Jeje, ia takut mengganggu Viona juga Sam, tetapi, Viona tidak merasa keberatan.


"Kenapa tidak, di sini banyak kamar, kamu mau kamar yang mana? Atau kamar Darren? Itu kamar waktu Darren kecil, loh," kata Viona dan mendengar itu, Jeje menjadi semangat, ia mengiyakan dan mengatakan akan tidur di kamar suaminya.


Setelah itu, Viona pun bangun dari duduk, ia mengajak Jeje untuk melihat kamarnya.


Terlihat kamar yang rapi karena bibi selalu merawatnya dan malam ini Jeje mengirim fotonya pada Darren dan Darren merasa tidak asing dengan kamar itu.


"Je, kamu nginap di rumah Papi?" tanya Darren melalui chatnya.


"Iya, di kamar masa kecil suamiku," jawab Jeje.


"Aku hampir tidak pernah di rumah itu, Je. Masa kecilku bersama Nenek di rumah kita yang sekarang itu," balas Darren.


Setelah itu, Jeje pun segera tidur karena Darren tidak lagi mengiriminya pesan.


Keesokan paginya, Jeje ikut menemani Lovely yang sedang bermain bersama suster, mereka bermain lempar bola di taman depan rumah dan bola itu harus keluar dari pagar karena Jeje tidak menangkapnya.


"Ok, Kakak ambil dulu," kata Jeje yang kemudian mengejar bola itu.


Dan di depan pagar, Jeje bertemu dengan janda yang sampai sekarang masih mengagumi suaminya.


"Eh, ada si Mbak. Gimana, sudah hamil belum?" tanyanya.


Jeje menatapnya dan menjawabnya dengan tersenyum.


Setelah itu, si janda yang terlihat baru saja membeli sarapan pun menaikan sudut bibirnya.


Setelah itu, Jeje kembali ke dalam dan mengembalikan bola itu pada Lovely.


"Sudah siang, Kakak pulang dulu, ya," kata Jeje dan Lovely melarangnya.


Ya, begitulah Lovely, ia melarang siapapun yang berkunjung untuk pulang dan Jeje membujuknya, "Kakak mau sekolah dulu, nanti setelah itu kembali lagi, ya."


"Jangan bohong," kata Lovely seraya mengangkat jari kelingkingnya dan Jeje pun menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Lovely.

__ADS_1


Dalam hati, Jeje meminta maaf jika nanti harus mengingkari janjinya, karena setelah ini, Jeje ingin istirahat di rumah seraya menunggu suaminya pulang.


****


Di kampus, Arum sudah menunggu dan setelah melihat Jeje turun dari mobil, Arum segera menghampirinya.


"Je, aku punya kabar baik," kata Arum.


"Apa?" tanya Jeje seraya melingkarkan lengannya di lengan Arum.


"Aku sudah jadian sama Arsen," jawab Arum yang kemudian tersenyum.


"Syukurlah, akhirnya cinta kamu kesampaian juga," kata Jeje, ia ikut senang ketika sahabatnya itu senang.


Dan Arum yang dapat melihat raut sedih dari Jeje itu bertanya, "Kamu sedih, Je?"


"Iya, Rossi sudah hamil dan sebentar lagi akan melahirkan, sedangkan aku... apa?" tanya Jeje dengan begitu lemas nya.


"Sabar, Je. Hidup orang tidak selalu sama, kamu harus tetap semangat, lagi pula, Je. Ini jadi kesempatan buat kamu bisa lama-lama berduaan sama suami. Coba lihat mereka yang sudah punya anak, mereka jarang memiliki waktu untuk berdua bersama pasangan, jadi, saran aku, kamu harus tetap menikmati hidup, apapun jalannya," kata Arum dan Jeje pun tersenyum, ia mencoba memahami apa yang baru saja di sampaikan oleh sahabatnya.


****


Malam ini, Darren pulang terlambat karena Justin mengatakan kalau dirinya menunggu di kelab dan Darren pun menyusulnya.


Di sana, Darren tidak hanya bertemu dengan Justin, tetapi juga dengan janda depan rumah Sam.


"Eh, ada Mas Ganteng," sapa janda itu yang Darren ketahui namanya adalah Kamila.


Darren menjawab dengan tersenyum dan setelah itu segera mencari keberadaan Justin dan terlihat kalau Justin sudah setengah teler, pria berjas itu duduk di sofa dengan mengapit rokoknya.


Darren pun menghampirinya.


"Eh, Kamu. Cepat juga datang," kata Justin seraya menekan putung rokoknya ke asbak.


"Kenapa, kamu ada masalah?" tanya Darren seraya duduk.


"Tidak ada, hanya saja aku lelah," jawab Justin.


"Lelah? Kamu harus istirahat bukan mabuk," kata Darren.


"Istriku begitu manja, aku sedang sibuk dimintai beli ini itu dan itu semua harus aku yang membelikan, tidak mau orang lain, aku lelah, Ren!" keluh Justin, "ku jawab sedikit ngambek, baper, nangis," lanjutnya.


Mendengar itu, Darren terkekeh dan mencoba memahami masalah yang sedang sahabatnya itu hadapi.


Dapatkah Darren memberikan pengertian pada Justin?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2