MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Salah Paham


__ADS_3

Di rumah Nara, Nara mendapatkan makian dari ibunya karena telah bercerai dengan suaminya yang kaya dan memilih untuk menjadi suster.


"Kamu itu bodoh atau otakmu ada di mana?" tanya Ibu Nara seraya menunjuk dahi Nara dengan begitu kesal.


Nara menurunkan tangan Ibunya dan menjawab, "Bu, Nara lelah dijadikan bahan pelunas hutang Ibu, bukannya Nara menjadi istri, tapi, Nara menjadi budak di sana, Bu. Nara kecewa sama Ibu!"


Setelah mengatakan itu, Nara pergi dari rumah ibunya, ia meninggalkan separuh uang gajinya di meja.


Ibu Nara mengambil uang itu dan mulai menghitungnya, ia merasa kesal setelah mengetahui berapa jumlah uangnya.


"Astaga, 1,5 juta. Biasa buat apa uang segini, Nara... Nara, keterlaluan kamu!" teriaknya.


Sementara itu, Nara sudah berada di angkot, merasa tidak ingin cepat-cepat kembali ke rumah Darren, ia memilih untuk ke mall, ingin membeli beberapa kebutuhan.


Setelah itu, Nara segera kembali dan Nara melihat Darren yang tertidur di karpet depan televisi dengan Ryder yang sedang bermain robot.


"Tidurnya saja tampan sekali, Ya Tuhan, dia suami orang," kata Nara dalam hati.


Dan Ryder yang melihat kedatangan Nara itu mulai mengejarnya, Ryder berjalan dengan cepat dan segera memeluk Nara.


Nara membalas pelukan itu dan membawanya ikut bersama. Nara meletakkan belanjaannya di kamar, tidak lupa mengganti pakaiannya kembali.


Setelah itu, Nara kembali menggendong Ryder, ia membawanya ke dapur dan mulai mendudukkan balita itu di kursinya, kemudian, Nara menyiapkan makan sorenya.


Nara begitu tulus mengurus Ryder, ia menganggap Ryder sebagai anaknya supaya tidak ada jarak di antara keduanya.


Apa yang sedang Nara lakukan itu dilihat oleh Darren yang berdiri di pintu dapur.


Ya, Darren terbangun dan tidak melihat Ryder membuatnya mencari-cari, melihat pemandangan itu, Darren membayangkan Jeje.


Darren membayangkan kalau Jeje lah yang sedang merawat Ryder dan itu membuat Darren tersenyum pada Nara.


Nara yang melihat Darren tersenyum menjadi tersipu dan Nara segera menunduk malu.


Setelah itu, Darren kembali ke ruang tengah, ia menonton televisi dan ia menengok untuk melihat suster Nara yang sedang menggendong Ryder, Nara membawa batita itu ke taman belakang.


Di taman, Nara yang tersipu itu menjadi terlalu bersemangat sehingga membuat Ryder ikut merasa senang.


****

__ADS_1


Di setiap akhir pekan, Darren mengajak Ryder untuk keluar dan setiap itu juga Nara merasa senang, apalagi Darren begitu perhatian pada Ryder membuat Nara merasakan mereka adalah keluarga yang sesungguhnya.


Begitu lah hari-hari Darren bersama Ryder yang selalu ada Nara diantara keduanya.


Hingga suatu hari, tanpa sengaja, Nara mendengar Darren yang sedang bicara dengan Justin di ruang kerja.


Darren tidak membenarkan ucapan Justin yang mengatakan kalau Darren terlihat nyaman bersama suster Nara.


"Nyaman yang seperti apa?" tanya Darren seraya menatap Justin.


Justin yang duduk di kursi depannya itu menjawab, "Nyaman seperti hampir melupakan Jeje, atau jangan-jangan, kamu sudah terbiasa tanpa Jeje?"


"Astaga, kamu menuduhku membagi hati?" tanya Darren.


Justin menaikan dua bahunya.


"Dengar, Je menjadi seperti itu karenaku, aku tau aku salah dan kamu harus tau aku mempertahankan Je walau dokter sering mengatakan kalau kemungkinan Je bangun sangat kecil, aku selalu berharap untuk dia bangun, aku hanya mencintainya tidak ada wanita lain!" kata Darren dengan begitu seriusnya.


Apa yang diucapkan itu membuat Nara yang sedang menguping menjadi sakit hati, ia bingung dengan Darren yang sering memperhatikan, lalu, tersenyum.


Nara mengira kalau Darren tersenyum untuknya, padahal, di saat itu, Darren tengah membayangkan istrinya.


"Kamu kenapa, sus?" tanya bibi yang baru datang, terlihat, bibi membawa belanjaannya.


Nara menjawab dengan menggeleng, mana mungkin Nara menceritakan apa yang baru saja didengar karena bibi sendiri sering mengingatkannya untuk tidak bermimpi tinggi-tinggi.


Sekarang, Nara kembali ke kamar, ia melihat Ryder yang tertidur dengan begitu nyenyaknya.


"Mas Ryder, kamu suka aku?" tanya Nara dan Nara sudah tau jawabannya yaitu iya.


Lalu, Nara mendengar suara Darren yang memanggilnya, Nara segera keluar dan melihat Darren yang begitu panik.


"Aku harus ke rumah sakit, kamu jaga Ryder!" perintah Darren.


Setelah mengatakan itu, Darren segera pergi bersama Justin. Ya, Darren mendapatkan kabar kalau Jeje tengah kritis dan Darren menangis selama perjalanan.


Ya, Darren merasa kalau perjalanan hidupnya begitu penuh dengan lika-liku.


Dari ia yang tak mengenal ibunya dan harus dibesarkan oleh Nenek hingga kisah cintanya yang begitu menyesakkan.

__ADS_1


Justin yang mengemudi itu hanya bisa diam ketika melihat Darren yang menangis, ya, selama ini, hanya Justin yang melihat tangisnya dan Justin merasa tidak tega jika ini adalah akhir dari Jeje.


Sesampainya di rumah sakit, Darren berjalan cepat ke ruangan Jeje, Darren segera bertanya pada suster tentang keadaannya dan suster menjawab kalau Jeje kembali berhasil melewati masa kritisnya.


Setelah itu, Darren dimintai suster untuk menemui dokter di ruangannya. Tidak banyak yang dokter katakan, ia hanya kembali menyampaikan kalau dirinya tidak dapat menjamin jika pasien kembali kritis.


Darren mengangguk mengerti dan ia tidak berhenti berdoa.


****


Sekarang, Darren menemani Jeje di ruangannya, ia menatap lama pada istrinya dan terngiang-ngiang ucapan dokter yang mengatakan kalau kemungkinan istrinya untuk bangun adalah sangat kecil.


Darren memikirkan apakah dirinya harus pasrah akan ketentuanNya, ataukah tetap pada pendiriannya yang meminta pada Tuhan untuk membangunkan istrinya.


Dan Darren segera tertidur setelah lama melamun.


Esok harinya, Darren yang kembali ke rumah itu disambut oleh bibi yang menanyakan keadaan Jeje.


Darren menjawab kalau tidak ada perubahan baik dan apa yang Darren ucapkan itu didengar oleh Nara.


Mendengar itu, Nara berpikir kalau dirinya akan menyelesaikan masalah Darren.


Sekarang, Nara mengatakan pada Darren kalau semua kebutuhan Ryder sudah hampir habis dan Darren mengeluarkan dompet, ia memberikan beberapa lembar uang merah pada bibi dan menyuruh Mamang untuk membelikan keperluan Ryder.


Tetapi, bibi mengingatkan kalau Mamang sedang pulang kampung.


Lalu, Nara mengambil kesempatan ini, ia menawarkan dirinya untuk berbelanja dan Darren pun mengijinkan.


Setelah itu, Nara berpesan pada bibi pada kalau Ryder baru saja tidur di kamarnya dan bibi mengiyakan.


Nara keluar dari rumah, pergi dengan mengendarai motor, ia berpikir kalau dirinya harus ke rumah sakit lebih dulu dan sesampainya di sana, Nara segera ke ruangan Jeje, ia pun mengajaknya bicara.


"Bu, kalau Ibu tidak mau bangun kenapa Ibu tidak pergi saja?" tanya Nara.


"Atau harus aku bantu, Bu?" tanyanya lagi.


Dan Nara melihat selang oksigen, ia segera memikirkan sesuatu, apa itu?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2