MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Merasa Terabaikan


__ADS_3

Pak Somat baru saja akan keluar dari rumah untuk bekerja dan Pak Somat dikejutkan oleh kedatangan putrinya yang sudah ia tunggu.


Melihat putrinya yang tersenyum lebar itu membuat Pak Somat ikut bahagia dan Pak Somat mempersilahkan Jeje untuk masuk.


Tidak lupa mempersilahkan Darren yang ada di samping putrinya untuk masuk dan Darren pun mengiyakan.


"Baru saja Ayah mau berangkat," ujar Pak Somat.


"Maaf, Ayah. Je baru sempat untuk datang," kata Jeje dan Pak Somat menjawab kalau tak apa.


Setelah sedikit berbincang, sekarang, Darren pamit pada Pak Somat dan Darren yang belum terbiasa memanggil ayah itu memanggilnya dengan sebutan Bapak.


"Saya pamit dulu, Pak." Darren bangun dari duduk, ia mengulurkan tangannya meminta salim pada mertuanya dan setelah itu, Darren mengangguk pada Je.


Setelah Darren tak terlihat, Pak Somat bertanya, "Kamu bahagia?"


"Bahagia," jawab Je singkat.


"Apakah Darren memperlakukanmu dengan baik?"


"Baik, hanya saja dia memang lebih banyak diam, mungkin sudah dari sananya," jawab Jeje yang setengah bercerita.


"Yang penting baik, tidak main perempuan dan tidak main tangan, bertanggung jawab sampai akhir hayat," kata Pak Somat dan Jeje merasa kalau itu semua ada di diri Darren.


Jeje mengangguk dan Jeje mengajak Pak Somat untuk ikut bersamanya, tinggal bersama Darren.


Tetapi, Pak Somat menolak dengan alasan lebih betah dan nyaman di rumah sendiri.


"Tapi, nanti ayah kesepian," ujar Jeje.


"Tidak apa, sudah keadaannya seperti ini, ayah juga sudah siap dari dulu, sebelum kamu dibawa oleh suamimu."


"Je minta maaf, Ayah. Je tidak bermaksud meninggalkan Ayah," kata Jeje dan Pak Somat pun mengusap pucuk kepalanya.


"Tidak seperti itu, sudah kewajiban kamu untuk ikut dengan suamimu," timpal Pak Somat dan Jeje merasa lega mendengar itu.


Dan karena hari semakin siang, Pak Somat pun pamit pada Jeje, ia harus bekerja dan Jeje mengiyakan.


Lalu, Jeje yang melihat ada piring kotor di dapur itu mencucinya, Jeje juga melihat ada pakaian kotor milik Ayahnya, kemudian, Jeje mencuci pakaian itu.


Selesai membereskan sedikit pekerjaan itu, sekarang, Jeje harus pulang ke rumah suaminya dan Jeje tidak lupa memberi kabar pada Darren.


Darren yang sedang sibuk itu tak segera membuka ponselnya.


****


Di rumah, Jeje tidak tau harus berbuat apa, semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan dan Jeje yang merasa kurang kerjaan itu membuka lemari Darren, ia melihat lemari yang rapih.


Jeje yang masih memperhatikan lemari itu segera menutupnya dan saat itu juga ada sebuah benda yang jatuh dari dalam lemari dan Jeje pun kembali membukanya.

__ADS_1


Jeje melihat ada sebuah album dan itu album lama Darren.


Jeje mengambilnya dan membawa album itu duduk di tepi ranjang.


Terlihat banyak sekali foto Darren bersama Rossi dan Jeje mengatakan kalau itu adalah masa lalunya.


"Iya, mereka sudah sahabat dari kecil, mana mungkin tidak memiliki foto?" gumam Jeje seraya kembali menyimpan album itu.


Dan sekarang, Jeje duduk dengan meluruskan kaki di sofa, lama-kelamaan Jeje pun tertidur.


Jeje tidur sampai alarmnya berbunyi, waktunya untuk kuliah dan Jeje tidak lupa mengirim pesan walau pesannya itu masih belum dibaca oleh suaminya.


"Mungkin dia sibuk," gumamnya dan sekarang, Jeje berangkat kuliah dengan memesan taksi online.


Di kampus, Jeje mendapatkan banyak doa kapan selamat. Jeje merasa senang dan sekarang Jeje mentraktir teman sekelasnya di kantin.


Jeje yang belum diberikan uang oleh Darren itu berbisik pada Ibu kantin, mengatakan kalau akan membayarnya besok.


Arum yang mendengar itu menggeleng dan Arum meminjamkan uangnya pada Jeje.


Jeje tersenyum dan berjanji akan segera mengembalikannya.


Setelah kuliah, Jeje pulang dengan diantar oleh sahabatnya, sekalian untuk melihat rumah suaminya.


Lalu, keduanya mengerjakan tugas bersama dan setelah lelah, Jeje juga Arum tertidur di ruang tengah.


Jeje yang sudah seharian menunggu Darren pulang itu harus bersabar ketika ponselnya lah yang Darren pegang untuk bermain game online.


"Giliran aku kirim pesan tidak kamu baca, ku kira sangat sibuk, ternyata kamu sibuk main game," lirih Jeje yang ada di samping Darren dan Darren yang begitu fokus pada gamenya itu tersenyum karena berhasil mengalahkan lawannya.


Jeje menyadari itu dan Jeje mencoba memanggilnya sekali lagi, "Mas."


Dan Darren yang masih pada gamenya itu hanya menjawab, "Emb."


Jawaban itu membuat Jeje merasa terabaikan, lalu, Jeje bangun dari duduknya, ia memilih ke kamar dan mencoba memejamkan matanya.


"Tidak bisa tidur, bagaimana ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Lalu, Jeje mengambil ponselnya, ia mengambil gambar dirinya yang berbaring di ranjang, lalu, memposting di sosial medianya dengan caption yang mengatakan kalau dirinya tidak dapat tidur dan sang suami memilih bermain game online.


Lalu, postingan itu menarik perhatian teman-temannya. Pengantin baru ini harus menjadi bahan ledek kan oleh teman-temannya.


"Cie yang kalah sama game online," balas teman Jeje yang lain dan Jeje membalas, "Iya nih, padahal pengantin baru."


"Biasa, suami jaman now itu game online terdepan," jawab Arum. "Kamu pengalaman, ya?" jawab Jeje yang sengaja bertanya seperti itu.


"Kasian diselingkuhin sama game on-line," balas Arsenio dan Jeje membalas menggunakan emoticon sedih.


Dan masih banyak lagi balasan yang berupa macamnya dan Jeje juga membalas semua komentar tersebut.

__ADS_1


Dan apa yang Jeje posting itu discreenshot oleh Salsa, ia mengirim pada Darren, Darren yang membaca itu merasa sedang digosipkan dan setelah itu, Darren menyudahi bermain game onlinenya.


Ia menyusul Jeje ke kamar dan langsung merebut ponsel istrinya.


"Kamu sedang pamer?" tanya Darren dan Jeje yang sama sekali tidak merasa pamer itu menjadi heran, ia yang berwajah bingung itu pun bertanya, "Pamer apa?"


Dan Darren tidak menjawab, justru ia menyuruh Jeje untuk menghapus postingannya.


"Hapus postingan kamu, bikin malu," perintahnya.


Dan Jeje menatap Darren, ia merasa kalau Darren tersinggung dengan apa yang dia posting.


"Kamu merasa malu? Kenapa? Berarti, secara tidak langsung, kamu tau kalau mengabaikan istri demi game online itu salah, kan?" tanya Jeje seraya berusaha merebut kembali ponselnya.


Setelah mendapatkan perhatian dari Darren, Jeje pun segera menghapus postingan tersebut dan Darren menatapnya datar.


"Sudah ku hapus," kata Jeje seraya menunjukkan layar ponselnya.


Kemudian, Jeje segera menjatuhkan dirinya di ranjang, ia menarik selimut sampai batas lehernya, mengerucutkan bibirnya dan tidak mau menatap Darren.


Sementara itu, Darren yang sudah duduk di tepi ranjang itu kembali memperhatikan pesan dari Salsa, terlihat dari screenshot kalau Arsenio mengajaknya berselingkuh dan Darren merasa cemburu untuk itu.


"Siapa Arsenio?" tanya Darren dan Jeje tidak menjawab.


Karena itu, Darren menarik selimut Jeje dan kembali bertanya, "Siapa Arsenio?" Darren bertanya dengan menatap Jeje yang juga"Kenapa?" tanya Jeje. "Jangan tanya kenapa, aku ini suamimu, mana bisa diam saja ketika ada pria yang jelas-jelas mengajak istriku selingkuh," kata Darren dengan sedikit kesal."Oh, jadi kamu cemburu, masih normal, sih. Karena kamu cemburu sama manusia, sedangkan aku, aku harus cemburu sama game online," jawab Jeje dan Jeje kembali menarik selimutnya. Melihat itu, Darren kembali menarik selimutnya dan Darren mengatakan kalau dirinya bermain game online untuk menghilangkan penatnya. "Ya, sana silahkan, bermainlah sampai puas," kata Jeje dan Jeje keluar dari kamar, ia memilih untuk tidur di kamar lain dan untung saja, Jeje tidak masuk ke kamar Sarifah. Darren yang mendapat pesan dari lawan main game onlinenya itu kembali melanjutkan bermainnya. Setelah merasa puas dan mulai memikirkan Jeje, Darren menyudahi game onlinenya, ia mencari Jeje dan melihat Jeje sedang menangis. "Masa hanya karena game saja kamu nangis, Je?" tanya Darren yang berdiri di pintu. Dan Jeje menatapnya dengan datar. Sebenarnya, bukan karena gamenya, tetapi, karena pria yang sudah seharian ini ia tunggu itu lebih asik bermain game on-line bersama teman-temannya dan Jeje merasa diabaikan. Dapatkah Jeje mengutarakan isi hatinya? Bersambung..


"Kenapa?" tanya Jeje.


"Jangan tanya kenapa, aku ini suamimu, mana bisa diam saja ketika ada pria yang jelas-jelas mengajak istriku selingkuh," kata Darren dengan sedikit kesal.


"Oh, jadi kamu cemburu, masih normal, sih. Karena kamu cemburu sama manusia, sedangkan aku, aku harus cemburu sama game online," jawab Jeje dan Jeje kembali menarik selimutnya.


Melihat itu, Darren kembali menarik selimutnya dan Darren mengatakan kalau dirinya bermain game online untuk menghilangkan penatnya.


"Ya, sana silahkan, bermainlah sampai puas," kata Jeje dan Jeje keluar dari kamar, ia memilih untuk tidur di kamar lain dan untung saja, Jeje tidak masuk ke kamar Sarifah.


Darren yang mendapat pesan dari lawan main game onlinenya itu kembali melanjutkan bermainnya.


Setelah merasa puas dan mulai memikirkan Jeje, Darren menyudahi game onlinenya, ia mencari Jeje dan melihat Jeje sedang menangis.


"Masa hanya karena game saja kamu nangis, Je?" tanya Darren yang berdiri di pintu.


Dan Jeje menatapnya dengan datar.


Sebenarnya, bukan karena gamenya, tetapi, karena pria yang sudah seharian ini ia tunggu itu lebih asik bermain game on-line bersama teman-temannya dan Jeje merasa diabaikan.


Dapatkah Jeje mengutarakan isi hatinya?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2