
Selesai dengan mengajar, Jeje menyiapkan makan malam untuk suaminya dan Jeje yang tidak mengetahui kalau suaminya sudah ada di belakangnya itu terkejut.
"Astaga, kamu bikin kaget saja, Mas!" kata Jeje.
Dan Darren yang memiliki sebuah pertanyaan itu segera duduk di kursi meja makan.
Ia membawa Jeje untuk duduk di pangkuannya.
Jeje pun menatap suaminya, ia merasa kalau Darren mulai bersikap romantis dan Jeje menduga kalau Darren ada maunya.
"Je," lirih Darren.
"Iya," jawab Jeje.
"Kenapa sekarang kamu tidak agresif lagi?" tanya Darren.
"Lelah, masa aku terus yang mengejar, aku juga ingin merasa dicintai, disayangi, diromantisin," kata Jeje seraya bangun dari duduknya.
Dan Darren kembali membawa istrinya untuk duduk.
"Tapi aku suka, Je. Aku suka kamu yang agresif," kata Darren dan Jeje mengangguk.
"Ok, baiklah. Dengan satu syarat. Satu kecupan kamu harus membayarnya dengan mengikuti kemauan ku!" kata Jeje seraya melingkarkan lengannya di leher suaminya.
Dan Darren merasa kalau ini adalah kesempatan Jeje untuk mengakalinya, lalu, Darren menyuruh Jeje untuk turun.
"Kenapa, pasti tidak berani, kan?" tanya Jeje seraya turun.
"Bukan tidak berani, tapi, aku takut tidak dapat mengabulkan permintaan kamu!" kata Darren seraya mengambil minumnya, ia mulai minum dan Jeje menatapnya datar.
"Maunya selalu menang sendiri," gerutu Jeje.
"Aku dengar, Je!" timpal Darren.
"Memang, kan kamu tidak tuli," jawabnya.
Dan Darren pun tidak memperpanjang pembicaraan lagi.
Selesai dengan makan malam, sekarang, keduanya sudah ada di kamar.
"Mas," panggil Jeje dan Darren yang sedang melepaskan kemejanya itu menoleh.
"Iya."
"Aku mau ke dokter mata," kata Jeje.
"Kenapa, kamu sakit?" tanya Darren seraya melemparkan kemejanya ke keranjang baju kotor.
"Setiap membuka dompet, aku tidak lihat apa-apa, Mas," kata Jeje seraya tersenyum.
"Astaga, alay sekali kamu!" kata Darren dan Jeje pun menunjukkan semua jari-jarinya.
"Kenapa?" tanya Darren seraya mengambil tangan Jeje, ia menatap tangan halus dan mulus istrinya.
"Perhiasannya semua transparan," kata Jeje dan Darren menarik nafas, ia melepaskan tangan Jeje.
"Astaga, kamu mau perhiasan?" tanya Darren seraya menatap.
__ADS_1
Jeje menjawab dengan mengangguk.
"Kamu mau isi dompet?" tanya Darren dan Jeje masih menjawab dengan mengangguk.
Jeje berharap kalau Darren akan membelikan, tetapi, seperti yang kita ketahui kalau Darren bukanlah tipe pria romantis, ia justru menyuruh Jeje untuk membelinya sendiri.
"Beli tinggal beli, Je!" kata Darren seraya mengambil handuk.
"Kamu nyebelin, Mas. Dulu waktu masih pacaran, kamu belikan aku satu set," kata Jeje seraya duduk di sofa panjang.
"Jangan samakan dengan dulu, Je."
"Kenapa? Apa semua pria berubah setelah menikah?"
Mendengar pertanyaan itu, Darren berkacak pinggang, ia menatap istrinya yang juga menatapnya.
"Kamu lupa, ya. Sekarang, semua keuangan kamu mengurus. Kalau mau beli apa-apa tinggal beli saja," kata Darren.
Dan Jeje menghela nafas.
Kemudian, Jeje menyuruh Darren untuk segera mandi dan Darren yang memang sudah kegerahan pun segera meninggalkan Jeje.
Darren menggeleng dan Jeje mengerucutkan bibirnya.
"Dasar pria kaku, nyebelin!" kata Jeje dan Jeje bangun dari duduk, ia menjatuhkan dirinya ke ranjang.
"Kata Mas Justin, kalau seperti ini jangan dikasih jatah, awas saja kalau nanti minta!" kata Jeje.
Kemudian, Jeje yang memang lelah itu segera memejamkan mata dan membuat Darren yang harus saja selesai dengan mandi segera ikut berbaring.
Darren memeluknya dan Jeje melepaskan tangan Darren.
Tetapi, Jeje yang sedang merajuk itu kembali melepaskan tangan Darren.
"Je," lirih Darren seraya melepaskan lengan daster Jeje.
Dan Jeje membetulkan kembali lengan yang melorot itu.
"Je, ayo kita buat adik bayi," ajak Darren.
Jeje menjawab, "Je sudah tidur."
Mendengar itu, Darren tidak menggubrisnya, ia tetap memeluk istrinya dan membuat kecupan kecil di leher istrinya, tentu saja, apa yang Darren lakukan itu membuat Jeje merasa geli juga sebal.
"Kamu nyebelin!" kata Jeje seraya berbalik badan, ia mendorong Darren dan karena tidak berhasil, akhirnya, Jeje bangun, ia berpindah ke sofa tidur dengan membelakangi suaminya.
"Dosa loh, Je. Dosanya berlipat itu, menolak dan membelakangi suami," kata Darren seraya menatap Jeje.
Jeje pun berbalik badan. Ia menatap Darren dan Darren menepuk bantal sebelahnya, menyuruh Jeje untuk kembali ke ranjang.
Dengan bibir yang mengerucut, Jeje pun menurut dan Darren tersenyum, ia kembali memeluk istrinya dan karena Jeje tidak menginginkannya malam ini, Darren tidur dengan memeluknya sampai pagi.
****
Esok paginya, seperti biasa, Jeje membangunkan Darren yang memiliki kebiasaan bangun siang.
"Astaga, pantas saja dulu selalu tidak memberi kabar, ternyata kamu seperti ini tidak pernah berubah," kata Jeje seraya menarik selimut Darren dan Darren yang kedinginan itu kembali menarik selimutnya.
__ADS_1
"Mas, bangun, ih!" kata Jeje seraya mendekat dan menyentuh lengan Darren.
Ternyata, Darren sedang demam dan Jeje pun bertanya, "Kamu sakit, Mas?"
"Hu'um," jawab Darren dengan mata yang masih terpejam.
"Mana nanti acara Arum, Mas. Kamu harus baikan, ku panggilkan dokter, ya!" kata Jeje dan Darren bertanya, "Lebih penting acara Arum, ya?"
"Astaga, bukan seperti itu, tapikan ini hari bahagianya, aku sebagai sahabat harus ada di sana," kata Jeje, ia mencoba menjelaskan.
Dan Darren menjawab terserah.
Walau tanpa kejelasan, Jeje tetap memanggil dokter dan Je terlihat lemas.
Darren menyadari itu dan menjadi tidak tega.
"Kalau pergi sendiri bagaimana?" tanya Darren.
"Kalau ditanya mana suaminya? Aku harus jawab apa?" tanya Je.
"Jawab saja seadanya, kalau tidak sakit aku pasti akan menemanimu," kata Darren dan Jeje menghela nafas.
Jeje pun setuju dan singkat cerita, sekarang, Jeje sudah terlihat sangat terlihat cantik.
"Cantiknya, istri siapa?" tanya Darren yang sedang duduk di ranjang dengan memangku laptopnya.
"Istri orang," jawab Jeje seraya tersenyum pada suaminya.
Setelah bersiap, Jeje pun pamit pada Darren dan Darren mengatakan untuk hati-hati.
Jeje pergi dengan diantar oleh Mamang.
"Bapak sakit, ya, Bu?" tanya Mamang seraya tetap fokus mengemudi.
"Iya, kurang enak badan," jawab Jeje dan kemudian karena mobilnya berhenti di tengah jalan, Jeje pun menanyakannya.
"Kenapa, Mang?"
"Tidak tau, Bu. Mobilnya mogok," kata Mamang dan Jeje menjadi sedikit gelisah karena acara sebentar lagi akan dimulai.
"Kalau begitu, saya naik taksi saja, Mang," kata Jeje seraya turun dari mobil dan saat itu juga ada sebuah mobil berwarna putih yang berhenti di depan mobilnya.
Pemilik mobil tersebut pun keluar dan pemiliknya adalah Satria. Satria menghampiri Jeje.
Pria berjas hitam itu bertanya, "Bu Jihan, kenapa?"
Melihat siapa yang bertanya, Jeje pun segera menjawab, "Tidak tau, mobilnya mogok."
Dan Satria yang tidak mengetahui mesin itu menawarkan untuk memanggilkan montir dan Jeje mengatakan tidak perlu karena Mamang akan mengatasinya sendiri.
Lalu, Satria yang tak melihat adanya Darren itu berinisiatif menawarkan tumpangan.
Tetapi, Jeje mengatakan kalau dirinya akan menunggu taksi.
"Mengingat ini jam pulang kerja, mungkin akan menunggu lama, Bu."
Jeje membenarkan dan Jeje terlihat bingung.
__ADS_1
Apakah Jeje akan menerima tawaran Satria?
Bersambung.