MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Kamu Siapa?


__ADS_3

Di ruangan dokter, Pak Somat dan Darren mendengarkan dokter yang sedang menjelaskan kondisi Jeje, ia mengalami amnesia disosiatif.


Amnesia jenis ini merupakan kondisi ketika pengidap tidak mampu untuk mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting. Pengidap amnesia jenis ini bisa saja lupa siapa nama dan segala hal yang erat kaitannya dengan pribadinya.


Biasanya, pengidap amnesia jenis ini pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan trauma pada kepalanya, atau bisa juga karena mengalami kondisi stres.


Setelah menjelaskan panjang lebar, sekarang, Darren dan Pak Somat mengerti.


Darren bertanya, "Apakah ingatannya bisa kembali, dok?"


"Kemungkinan bisa, harus dengan terapi," jawab dokter seraya menatap Darren.


Singkat cerita, sekarang, Darren dan Pak Somat sudah kembali ke ruangan Jeje.


Terlihat kalau Jeje sedang menatap Sarah yang duduk di kursi.


"Ibu? Anda jangan mengaku-ngaku, Ibuku sudah lama tidak ada," kata Jeje pada Sarah dan Sarah menarik nafas, bahkan Jeje juga melupakannya.


Lalu, Pak Somat pun datang, ia mengusap lengan Jeje. "Sekarang, dia Ibumu, cepat sembuh supaya kamu ingat semuanya," kata Pak Somat.


Jeje tidak mengerti dengan apa yang Pak Somat katakan, sembuh dari apa, dia terlihat bingung.


Lalu, karena malam sudah larut, Darren meminta pada mertuanya untuk pulang dan Darren yang akan menjaga Jeje.


Jeje menatap Darren yang berdiri di belakang Sarah, ia tidak setuju dengan apa yang Darren katakan. "Aku hanya mau dengan Ayahku," kata Jeje.


"Tapi, Je. Ayah harus istirahat," kata Darren dan Jeje yang seolah tak mengenalinya itu menolak.


"Ayah, kenapa dia bicara seperti itu, aku tidak menyukainya," kata Jeje pada Pak Somat.


"Baiklah, Ayah yang akan berjaga di sini dan kamu harus tau kalau Nak Darren adalah suamimu," kata Pak Somat dengan lembutnya.


Lalu, Jeje kembali menatap Darren, dirinya tidak pernah menyangka jika sudah bersuamikan pria tampan.


"Nanti, Je akan coba mengingatnya," jawab Jeje.


"Aku akan bantu mengingatkan, jadi, biarkan aku yang berjaga di sini," kata Darren dan Jeje menatapnya datar.


"Kenapa kamu sangat memaksa?" tanya Jeje.


Melihat Darren yang sangat ingin tinggal, Pak Somat menjadi tidak tega jika dirinya mengiyakan keinginan Jeje, Pak Somat merasa apa yang diucapkan Darren adalah benar, pria itu bisa membantu mengingatkan Jeje siapa dirinya.


Pak Somat yang duduk di samping Jeje mengusap lengannya dan mulai membujuk, "Benar apa kata suamimu, setiap malam dia berjaga di sini, menunggumu, menjagamu, jadi biarkan dia untuk tetap bersamamu."


Lalu, Jeje menatap Darren dan Darren tersenyum, pria berpakaian santai itu mengangguk.


"Tidak buruk, baiklah, aku akan percaya apa yang Ayah katakan, jika pria itu adalah suamiku maka suamiku, tapi Ayah, kapan aku menikah dengannya?" tanya Jeje seraya menatap Pak Somat.

__ADS_1


"Nanti akan ku jelaskan," timpal Darren dan sekarang, Pak Somat juga Sarah pamit pada Jeje dan Darren.


Jeje dan Darren mengingatkan keduanya untuk berhati-hati.


Di parkiran, Sarah tidak lupa mengingatkan suaminya untuk memakai sabuk pengaman dan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.


Ya, begitulah Pak Somat dan Bu Sarah yang kemana-mana istrinyalah yang mengemudi, dikarenakan Pak Somat tidak bisa mengemudi.


Kembali ke ruangan Jeje.


Darren meminta pada Jeje untuk memberikan sedikit tempatnya, Darren ingin ikut naik ke brangkar dan Jeje menolak.


"Tidak... tidak, aku akan membiarkanmu dekat-dekat denganku jika sudah menunjukkan bukti kalau aku ini istrimu," kata Jeje, kemudian, Darren menunjukkan cincin nikahnya dan Jeje mencari-cari cincin nikah miliknya, tetapi, Jeje tidak melihat ada cincin karena memang semua perhiasan Jeje harus dilepaskan.


"Besok akan ku ambilkan, beserta buku nikah, supaya kamu percaya kalau aku ini suami yang sangat kamu cintai," kata Darren.


Dan Jeje menatapnya datar, ia berpikir kenapa dirinya begitu mencintai Darren dan Darren sekarang memaksa untuk naik ke berangkar dan menyuruh Jeje untuk berbaring, Darren ingin tidur dengan memeluk istrinya.


Tetapi, Jeje masih belum mau dipeluknya. Lalu, Darren membuka ponselnya, ia menunjukkan beberapa foto pernikahannya dan Jeje mulai percaya dengan syarat tidak ingin disentuh dulu oleh suaminya sampai dirinya mengingatnya.


Darren mengiyakan, lalu, dari kursinya, Darren membuka album foto Ryder, berniat ingin memberitahu kalau Je sudah memiliki bayi yang selama ini ia tunggu.


Kenyataannya, Jeje yang baru sadar dari komanya itu merasa lelah dan ingin segera istirahat.


Jeje pun memegangi kepalanya. Melihat itu, Darren membantu Jeje untuk berbaring.


Ia merasa tidak sabar untuk membawa Jeje pulang dan sekarang, Darren mengecup kening Jeje, ia mengucapkan selamat istirahat.


Sekarang, Darren kembali duduk di kursinya, ia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari.


Darren pun ikut memejamkan mata.


Berbeda dengan Darren dan Jeje yang dapat tidur, di rumah Darren ada Nara yang masih terjaga, ia menunggu kabar yang ia yakini adalah kabar kematian Jeje.


Tetapi, sampai subuh datang, Nara tidak mendengar kabar apapun, ia berpikir kalau jazad Jeje akan dibawa pulang setelah hari sedikit siang.


Karena sangat mengantuk, Nara pun segera tertidur dan baru saja memejamkan mata, Ryder sudah bangun, ia meminta susu dan Nara segera membuatkan.


Nara yang sangat mengantuk itu menguap, membuka mulutnya lebar.


Setelah membuatkan susu, sekarang, Nara harus menunggu susu itu tidak terlalu panas bagi Ryder.


Setelah susu itu siap, Nara pun kembali ke kamar dan ia melihat kalau Ryder sudah kembali tidur.


"Astaga, Ryder. Kamu cuma ngigau," kata Nara dan karena susu sudah siap, Nara pun mengangkat Ryder dan Nara sedikit membangunkannya, sekarang, Ryder yang sudah ada dipangkuan Nara itu mulai meminum susunya.


Nara menatap pria kecil itu. "Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menjadi ibumu," kata Nara dengan begitu yakinnya.

__ADS_1


Lalu, Nara yang duduk berselonjoran itu mulai memejamkan mata.


****


Pagi ini, di rumah sakit, Darren menyuapi sarapan istrinya dan Jeje tak berhenti menatapnya membuat Darren sedikit grogi setelah hampir dua tahun tidak saling tatap.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Darren seraya mengulurkan tangannya, menyuapi bubur Jeje.


"Aku tidak pernah menyangka kalau akan memiliki suami setampan kamu," kata Jeje dan apa yang Jeje katakan berhasil membuat Darren tersenyum.


"Je... Je, tidak berubah," kata Darren dalam hati.


"Kamu tau, di sekolahku, ada pria yang begitu mengejar-ngejarku dan saat ayah bilang aku sudah bersuami, aku kira aku menikah dengannya," kata Jeje.


Baru saja dipuji membuat Darren sedikit melayang, eh, sekarang sudah dijatuhkan sejatuh-jatuhnya oleh kenyataan bahwa Jeje lebih mengingat pria lain dari pada suaminya sendiri.


"Siapa pria itu?" tanya Darren seraya menyendokan bubur untuk Jeje.


"Arsenio," jawab Jeje singkat, "walau dia tampan dan kaya raya, tapi, aku tidak tergila-gila padanya seperti gadis lainnya," lanjut Jeje.


"Kenapa?" tanya Darren.


"Aku tidak ingin banyak saingan, aku hanya mau hanya aku saja yang harus menyukai suamiku nantinya," jawab Jeje.


"Tetapi, melihat suamiku yang ternyata tampan, aku tidak yakin kalau tidak memiliki saingan," kata Jeje seraya menatap Darren.


Darren tersenyum dan Darren mengatakan, jika banyak yang menyukainya tetapi di hati hanya ada Jeje dan Ryder saja.


"Benarkah?" tanya Jeje.


Darren menjawab dengan mengangguk, setelah itu, Darren mengambil ponselnya, ia ingin menghubungi putranya, Darren mulai mencari nama bibi.


Bibi yang sedang mengurus cucian itu segera merogoh saku dasternya, ia segera menerima panggilan video dari Darren.


Bibi yang juga menunggu kabar Jeje itu segera menanyakan dan bibi senang melihat Jeje sudah bangun dari komanya.


Bibi menangis dan Jeje meminta padanya untuk tidak menangis.


Kemudian, Bibi yang mengetahui kalau Jeje ingin melihat putranya itu segera bergegas ke kamar Ryder dan baru saja sampai di pintu dapur, bibi sudah bertemu dengan Nara yang sedang menggendong Ryder.


Melihat tangisan bibi membuat Nara mengira kalau tangisan itu adalah tangisan kesedihan atas perginya Jeje.


Lalu, bibi mengarahkan layar kameranya pada Ryder dan saat itu juga Nara terkejut melihat Jeje yang sedang duduk.


"Astaga, apakah dia manusia atau bukan?" tanya Nara dalam hati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2