
Di ruang ICU. "Sus, aku mau bertemu sama suami," lirih Jeje dan suster yang sedang merawat pasien sebelah Jeje itu menjawab, "Nanti, ya, Bu. Tunggu jam besuk."
Jeje menarik nafas dan Jeje bertanya sampai kapan dirinya akan ada di ruangan tersebut.
"Tunggu keadaan Ibu stabil, kalau sudah stabil secepatnya akan kami pindahkan ke ruang rawat," jawab suster dan Jeje pun mengerti.
Lalu, tidak ada hal lain yang dapat Jeje lakukan selain tidur, tidak lama kemudian Jeje membuka mata saat dirinya merasakan belaian lembut di kepalanya.
Darren lah yang membelainya, tidak lama kemudian, Darren sedikit mencubit pipi Jeje. "Kamu buatku takut!" kata Darren dan Jeje meringis kesakitan.
"Kenapa aku dicubit?" ringis Jeje dan Darren pun mengatakan kalau Jeje sempat kritis dan Darren sangat takut.
"Kalau takut itu akunya dicium dong, bukan malah dicubit," lirih Jeje dan seketika Darren melihat ke arah kanan dan kirinya, semua suster sedang sibuk dengan pekerjaannya dan ada dua pasien sedang tidur, lalu, Darren pun mengecup kening Jeje.
"Cepat pulih," kata Darren dan Jeje menjadi semangat.
"Terima kasih, kalau begini pasti lekas pulih," jawab Jeje dengan sedikit tersenyum.
Setelah itu, Darren harus segera keluar karena harus bergantian dengan Pak Somat.
Pak Somat yang melihat putrinya terluka itu menangis, ia teringat dengan kecelakaan Jeje dan Ibunya di masa lalu dan Pak Somat mengucap syukur karena Jeje selamat.
"Ayah, jangan menangis, Je baik-baik saja," lirih Jeje seraya menatap Pak Somat yang tak mampu berkata-kata.
Pak Somat hanya mampu mengangguk.
Dan setelah keadaan Jeje stabil, sekarang, Jeje dipindahkan ke ruang rawat dan Darren ikut mendorong brangkarnya.
Darren tersenyum pada Jeje yang kepalanya masih diperban dan Jeje pun membalas senyum itu.
Setelah itu, Arsenio mengatakan pada Arum kalau pelakunya sudah ditemukan dan dia adalah seorang pria.
Arum pun menyampaikan itu pada Darren dan Darren meminta pelakunya untuk dihukum.
Karena tidak saling kenal, Darren pun bertanya-tanya apa yang membuat pria tersebut melakukan itu pada Jeje dan pria itu mengatakan kalau tidak menyukai Jeje.
Darren pun mengatakan kalau pria itu sakit jiwa, sementara Justin, ia hanya diam, kenyataannya, Lea sudah pergi jauh dari kota.
Dan kecurigaan Justin pun semakin kuat.
****
Sekarang, di ruang rawat, Darren meminta pada semua orang untuk pulang termasuk Pak Somat.
"Bapak harus istirahat, nanti bisa gantian jaga di sini," kata Darren dan akhirnya Pak Somat pun mengalah.
__ADS_1
Baru saja Pak Somat membuka pintu, sudah ada Sarah di depannya, Sarah datang dengan membawa buah untuk Jeje.
Melihat ada Sarah, Pak Somat pun menunda untuk pulang, pikirnya akan pulang bersama setelah ini.
Sarah meletakkan buah yang dibawanya itu ke meja dan Sarah menanyakan keadaan Jeje. Melihat kebaikan Sarah, Jeje pun menyesal karena sempat menolaknya untuk menjadi ibu sambungnya.
"Kenapa nangis? Mananya yang sakit?" tanya Sarah seraya mengusap pucuk kepala Jeje dan Jeje tak mampu menjawab, ia menjawab dengan menggeleng.
Setelah sedikit lama, sekarang, suster yang akan menyuntikkan obat pada Jeje itu meminta untuk tidak terlalu banyak orang, pasien harus istirahat dan Sarah pun mengerti.
Setelah itu, Sarah dan Pak Somat benar-benar pamit dan Jeje melihat kalau keduanya sangat serasi.
Setelah itu datang perawat mengantarkan makan sore untuk Jeje dan Darren menerimanya.
"Terima kasih, sus," kata Darren dan suster menjawab, "Dengan senang hati."
Kemudian, Darren menyuapi Jeje dan Jeje menjadi merasa dicintai.
Singkat cerita, setelah mendapatkan perawatan dan keadaan Jeje sudah membaik, Jeje diperbolehkan pulang.
Dan Darren sama sekali tidak mau meninggalkan istrinya, bahkan untuk minum pun Darren mengambilkannya.
"Terima kasih, Mas," ucap Jeje dan Darren pun tersenyum.
Setelah itu, Darren juga mengambilkan makan malam untuk istrinya dan kebetulan bertemu bibi di depan pintu, terlihat bibi membawa nampan dan Darren segera meminta nampan itu.
Darren mengangguk, setelah itu, Darren keluar dari kamar, ia membiarkan Jeje untuk istirahat dan Jeje terus menatapnya sampai Darren tak terlihat lagi.
Darren segera turun menemui Pak Somat dan mengatakan kalau Jeje sudah makan, minum obat dan sekarang sedang istirahat.
Melihat itu, Pak Somat merasa kalau Jeje tidaklah salah memilih suami.
Pak Somat pun mengucapkan terima kasih.
****
Malam ini, Rossi sedang menunggu Justin, ia memiliki pertanyaan untuk suaminya.
Setibanya Justin di rumah, Rossi segera menyambutnya dan Justin menyerahkan tas kerjanya pada istrinya.
Kemudian, Rossi mengikuti langkah suaminya.
"Just," lirih Rossi dan Justin pun menghentikan langkah membuat Rossi harus menabrak punggungnya.
Dengan Reflek, Rossi menepuk bahu itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Justin seraya berbalik badan, ia membawa Rossi ke dekapan dan sekarang, keduanya berjalan beriringan.
"Waktu itu, di rumah sakit, kamu pergi kemana?" tanya Rossi seraya Justin.
"Kapan?" tanya Justin, ia solah tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh istrinya.
"Jus, waktu Jeje kecelakaan, kamu pergi kemana?" tanya Rossi dengan begitu jelasnya.
"Oh, waktu itu. Aku sedang ada janji dengan klien dan aku pikir setelah menyelesaikan pekerjaan aku akan kembali ke rumah sakit," jawab Justin yang tak mau menatap wajah istrinya.
"Maafkan aku, Ross," kata Justin dalam hati.
Dan Rossi masih merasa kalau suaminya sedang menyembunyikan sesuatu.
Tetapi, karena Justin menolak bercerita, Rossi pun tidak memaksa.
Beberapa hari berlalu, sekarang, keadaan Jeje sudah lebih baik dan Jeje meminta pada ayahnya untuk segera menikahi Bu Sarah.
Dan Jeje beserta Darren menemani Ayahnya untuk melamar dan hari pernikahan pun ditetapkan.
Pernikahan itu diadakan secara sederhana dan itu atas dasar kemauan keduanya.
Darren dan Jeje pun hanya bisa mengikuti. Mereka pikir karena keduanya sudah berkepala empat makan tidak mau dibuatkan pesta.
Rossi dan Jeje terkekeh, dari rival menjadi saudara.
Dari pihak lelaki, Jeje ikut senang ketika melihat seserahan yang akan dibawanya itu sangat banyak dan ijab kabul dilaksanakan di rumah Sarah.
Sekarang, Sarah sedang merias dirinya sendiri dan Sarah memilih make up natural, walau begitu, kecantikannya tetap terpancar dan terlihat alami.
Pak Somat semakin kesemsem dibuatnya, walau ini pernikahan ke duanya tak berarti membuat Pak Somat tidak grogi.
Darren yang melihat keringat menetes dari dahi mertuanya itu memberikan minum.
"Terima kasih, Nak," ucap Pak Somat seraya menerima.
Sementara itu, melihat Darren memberikan minuman membuat Justin dan Rossi berpikir kalau Darren mencampurkan sesuatu.
"Kamu tidak iseng, kan, Ren?" tanya Justin seraya menyikut lengan Darren.
"Dia orang tua, kenapa aku harus berbuat seperti itu? Tidak sopan!" kata Darren dan Justin pun mengangguk.
Dan di hari pernikahan Sarah, Ayah Rossi kembali datang dan Rossi menanyakan tujuannya.
"Papah hanya ingin melihat hari bahagianya setelah hari bahagiamu, Nak," jawab Papah Rossi.
__ADS_1
Benarkah demikian?
Bersambung.