
Malam ini, Gala yang sedang ditemani oleh Justin di ruang tengah itu memberi tau Papinya kalau Jeje sudah tidak mengajar lagi.
Justin pun menjadi bertanya-tanya dan Gala yang sudah kembali fokus ke buku dongengnya itu tak mendengar apa yang Papinya tanyakan.
Justin pun bangun dari duduk, ia mengambil ponselnya dan segera mencari nama Darren.
Ia mengirim pesan pada sahabatnya, "Kata Gala, Jeje sudah tidak mengajar lagi, kenapa?"
Dan Darren yang masih di kantor itu menjawab apa adanya, ia tidak ingin Jeje sibuk dan Jeje boleh sibuk jika hanya mengurusnya saja.
Justin pun menertawakan Darren dan Darren masa bodo dengan Justin.
"Seperti anak kecil saja, kamu," kata Justin dan Darren tidak lagi membalas pesannya.
"Suka-suka aku, lah. Istri... istri aku, kok!" kata Darren.
Setelah itu, Darren keluar dari kantor dan di depan sudah ada yang menunggunya.
Dia adalah Satria.
Satria yang mengetahui Jeje sudah tidak mengajar lagi itu menyangkut pautkannya dengan Darren dan sekarang, Satria menemuinya.
"Apa yang membawamu kemari?" tanya Darren seraya berjalan mendekat dan Satria yang semula duduk di bagian depan mobilnya itu turun.
"Kenapa kita seperti anak-anak?" tanya Satria dan Darren berdecak.
"Siapa maksudmu? Kalau bicara itu harus jelas," kata Darren seraya menatap Satria.
"Mungkin aku punya salah padamu dan itu membuat kamu mengekang istrimu," kata Satria.
Mendengar itu, Darren sama sekali tidak setuju dengan kata mengekang, karena bagi Darren dirinya menjaga apa yang dimilikinya.
"Aku tidak mengekang siapapun, hanya saja menjaga milikku supaya tidak dilirik oleh orang lain!" sahut Darren dan sekarang, Darren berjalan ke arah mobilnya, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraannya dengan Satria.
"Astaga, dia hanya kecil, kenapa kamu takut dengan anak kecil?" tanya Satria seraya menahan pintu mobil Darren supaya tidak terbuka.
Darren menatapnya dan melepaskan tangan Satria dari mobilnya.
"Bukan anak kecil itu yang ku khawatirkan, tapi di dunia ini banyak orang tua yang tidak memberi tau mana benar atau salah pada anaknya!" kata Darren, setelah itu, Darren pergi dari kantor dan Satria menatap kepergiannya.
"Darren, apa kamu mengibarkan bendera perang dengan ku?" tanya Satria pada dirinya sendiri.
Satria merasa sebal pada Darren yang tidak mau mengerti perasaan putrinya yang begitu menyayangi Jeje dan sekarang, Satria memutuskan untuk pulang.
Ia harus menenangkan Gania yang kabarnya masih menangis.
****
Di perjalanan, Darren memikirkan ucapan Satria yang mengatainya mengekang dan Darren juga tidak terima dikatai anak kecil.
__ADS_1
Sekarang, Darren menghubungi Justin, ia mengatakan kalau dirinya menunggu di kelab biasanya.
Justin yang sedang memijit kaki Rossi itu meminta ijin.
"Mi, Papi pergi dulu, ya. Sebentar," kata Justin seraya menatap Rossi.
Dan Rossi menggeleng, lalu, Justin mengatakan kalau Darren ingin bertemu dengannya.
"Jangan bohong!" kata Rossi seraya menjulurkan tangannya meminta ponsel Justin.
Justin memberikan ponselnya dan karena memang begitu adanya, Rossi pun mengijinkannya.
Lalu, Justin mencium pipi Rossi, ia juga menanyakan apa yang diinginkan oleh Istrinya.
Dan Rossi tidak meminta apapun.
"Ok, baiklah. Aku pergi dulu, sayang," kata Justin yang kemudian pergi tanpa mengganti kolornya.
Sesampainya di kelab, Justin langsung menghampiri Darren yang sedang mainkan ponselnya di sudut.
"Ada apa?" tanya Justin seraya duduk di sofa depan Darren.
Darren melihat ke arahnya, lalu, segera menyimpan ponselnya di saku jasnya.
"Dengar, aku tidak mau dikatai seperti anak kecil, kamu tau, ada anak kecil yang begitu menyukai istriku," kata Darren dengan begitu seriusnya.
Sementara Justin, ia merasa aneh dengan Darren, baginya, mengingat pekerjaan Jeje adalah guru TK, sudah pasti disukai anak-anak, lalu, apa masalahnya?
Lalu, Darren meminta diajarkan untuk menjadi romantis, "Begini saja, ajari aku jadi romantis."
"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Justin.
"Tidak, kamu tau, saat ini aku takut istriku diambil orang," kata Darren, "Kamu tau, dia inginkan aku untuk menjadi romantis, tetapi, aku tidak bisa, semua terasa aneh, aku harus bagaimana?" tanya Darren.
Mendengar itu, Justin menggembungkan pipinya, ia menahan tawa.
"Aku serius!" kata Darren.
"Ok... ok, baiklah," jawab Justin.
Dan Justin pun mengatakan pada Darren kalau malam ini pulang dengan membawakan mawar merah.
"Lalu, apakah ada kata-kata khusus yang harus ku katakan?" tanya Darren dan Justin menjawab tidak.
"Apakah itu disebut romantis?" tanya Darren, ia merasa kalau Justin tidaklah seromantis yang ia kira.
Lalu, Justin mengatakan, "Kamu berikan mawarnya, kemudian kecup keningnya, peluk dan cukup satu mantra ajaib yang akan membuat istrimu bertekuk lutut."
"Apa itu?" tanya Darren.
__ADS_1
"Ucapkan kata cinta. Sayang, aku mencintaimu," kata Justin seraya meragakan seolah sedang memeluk Rossi.
Setelah itu, Justin bangun dari duduk, ia ingin membelikan mawar merah untuk istrinya.
"Kemana?" tanya Darren, ia pun mengikuti sahabatnya dan malam ini keduanya sama-sama membeli bunga mawar merah.
Darren berharap kalau dirinya bisa membuat istrinya senang dan sesampainya di rumah, Darren melihat Jeje yang tertidur di sofa.
Darren menarik nafas, ia harus bisa bersikap romantis dan sekarang, Darren membangunkan Jeje dan begitu Jeje membuka mata, ia melihat sekuntum mawar merah dan Jeje segera merubah posisinya menjadi duduk.
Ia mengedipkan matanya juga mengusap matanya. Jeje berpikir kalau ini adalah mimpi.
Sementara Darren, ia sudah tersenyum-senyum pada istrinya.
kemudian, Darren segera ikut duduk di samping Jeje, ia memeluknya dan berbisik, "I love you."
Sudah pasti apa yang Darren lakukan itu membuat Jeje heran, Jeje menatap suaminya, lalu, tersenyum.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Jeje.
Mendengar pertanyaan itu, Darren menggaruk kepalanya.
"Kamu kesambet?" ledek Jeje.
"Ini beneran Mas Darren, kan?" tanyanya lagi.
Kemudian, Darren mencubit pinggang istrinya. "Iya, aku mencoba romantis, tapi, terlihat aneh, ya?" tanya Darren seraya menatap Jeje.
Lalu, Jeje mengambil bunga yang masih ada di tangan suaminya, ia menghirup aroma wangi bunga tersebut, mengatakan kalau bunganya sangat cantik.
"Seperti kamu, cantik," kata Darren.
Cup, Jeje mengecup pipi suaminya, Darren membalas itu dan keromantisan indah malam ini berlanjut ke kamar.
Berbeda dengan Justin, bagi Rossi, apalah arti bunga mawar, dengan adanya Justin disisinya itu sudah lebih dari cukup, apalagi jika Justin mau membantunya dalam mengurus putranya.
Sekarang, Justin tidur dengan memeluk istrinya, ia berbisik, "Bikin adik untuk Gala!"
Dan Rossi berbalik badan.
"Satu saja kamu tidak ikut mengurus, bagaimana kalau banyak? Tidak.. aku tidak mau!" kata Rossi seraya mendorong Justin supaya sedikit menjauh darinya.
Justin tidak menyerah, ia kembali mendekat dan membujuk Rossi untuk membuatkan adik Gala.
"Aku akan selalu ada untuk kalian, aku juga akan membantu mengurus anak-anak," kata Justin.
Rossi menatapnya datar dan ia tetap pada pendiriannya kalau tidak ingin ada adik untuk Gala.
"Ayolah, aku suka banyak anak, rumah akan ramai, Ros."
__ADS_1
"Kita buat saja, kalau jadi itu bonus, bagaimana?" tanya Rossi dan tanpa menjawab, Justin sudah menerkam istrinya.
Bersambung...