MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Jeje Kecelakaan


__ADS_3

Mendengar nama Sarah, Jeje terdiam, ia teringat dengan Rossi.


Walau sudah memiliki pasangan masing-masing, hati Jeje masih khawatir jika Darren dan Rossi akan menjadi sering bertemu, lalu, rasa lama akan kembali hadir.


Lalu, Jeje tersadar dari apa yang dipikirkannya setelah mendengar Darren yang mengatakan kalau dirinya akan ikuti keputusan mertuanya saja.


Dan Jeje menatap Darren yang ditatap pun menjadi bingung, Darren bertanya, "Kenapa, Je?" lirihnya.


Jeje menjawab dengan menggeleng.


Lalu, Jeje kembali fokus pada Ayahnya, ia menatap wajah yang terlihat berharap kalau Jeje akan merestuinya.


"Ayah kesepian begitu juga dengan Bu Sarah. Setelah anak-anak kami menikah, kami sering bertemu, saling bercerita dan mengisi kesepian kami," ujar Pak Somat, "bukankah lebih baik kami menikah?" lanjut Pak Somat.


"Tapi, Ayah. Memangnya tidak ada perempuan lain?" tanya Jeje.


"Perempuan lain banyak, tapi, hati Ayah pada Bu Sarah," jawab Pak Somat seraya menatap Jeje.


Lalu, Darren menggenggam tangan istrinya, Darren mengangguk memberi isyarat kalau lebih baik Jeje merestuinya.


Dan pagi ini, Jeje yang seharusnya ingin membantu membereskan rumah itu membatalkannya, Jeje meminta ikut ke kantor Darren karena ada yang disampaikannya.


Di perjalanan, Darren bertanya, "Kenapa, Je?"


Dan Jeje yang masih menatap lurus ke depan itu menoleh. "Aku takut, karena kamu dan anak Bu Sarah pernah saling menyukai, lalu, dengan begitu, kamu akan sering jumpa dengan Rossi," jawabnya.


Darren mengusap dagunya, tidak habis pikir kalau istrinya ternyata meragukannya.


"Kamu meragukanku, Je?" tanya Darren dengan tetap fokus mengemudi.


"Bukan ragu, Mas. Tapi, perasaan itu seperti Jailangkung, datang tak dijemput, wayahnya pergi tidak mau," jawab Jeje dan Darren mendengar itu menggeleng.


"Selama ini, aku bertemu dengan sahabat-sahabatku, aku selalu mengajak kamu, Je. Tidak pernah tanpa kamu, supaya apa, supaya kamu tidak curiga dan ternyata justru kamu meragukanku," kata Darren seraya menambah laju kecepatannya.


Dengan itu, Jeje menjadi tahu kalau Darren marah padanya. Jeje segera meminta maaf dengan menggoyangkan lengan Darren dan Darren menepiskan tangan itu.


"Mas, bukan begitu, aku minta maaf. Bukan maksudku tidak percaya kamu, aku hanya takut," kata Jeje dan Jeje yang tidak ditanggapi itu menangis.


Sesampainya di depan kantor Darren, Jeje segera menghapus air matanya dan Jeje terus mengikuti suaminya sampai ke ruangannya.


"Baiklah, aku setuju Ayah menikah dengan Bu Sarah," kata Jeje seraya menghapus air matanya.


"Ini untuk kebahagiaan orang tuamu, Je. Bukan aku, aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya, tolong jangan selalu sangkut pautkan aku dengannya, dia sudah bahagia dengan Justin, lalu, apa aku tidak bahagia hidup bersamamu?" tanya Darren seraya duduk ke kursinya, ia segera membuka laptopnya dan Jeje mengiyakan, ia akan berusaha untuk tidak membahas masa lalu lagi.

__ADS_1


"Jangan hanya di bibir, buktikan!" kata Darren dan Jeje mengiyakan.


"Kuliah sana," kata Darren kemudian dan Darren masih belum mau menatap wajah istrinya.


Dan Jeje keluar tanpa pamit karena Jeje merasa diusir oleh suaminya sendiri.


Setelah itu, Jeje yang berjalan menuruni tangga itu mengirim pesan pada Ayahnya, ia mengatakan setuju karena itu untuk kebahagiaan Ayah.


Dan karena bermain ponsel, Jeje hampir jatuh, untung saja, Jeje berpegangan pada tepi tangga.


"Astaga," kata Jeje, setelah itu, Jeje menyimpan lebih dulu ponselnya, setelah di depan, Jeje memesan taksi online dan karena masih menunggu beberapa menit lagi, Jeje memilih untuk menemui Nafiska.


Nafiska merasa senang karena Jeje datang berkunjung dan Nafiska bertanya, "Gimana, Je. Adonan sudah jadi?"


"Adonan apa, Mbak?" tanya Jeje, ia benar-benar tidak tau apa yang dimaksudnya.


"Astaga, maksudnya... kamu sudah hamil belum?" tanya Nafiska yang sedang membungkus kado.


Lalu, Nafiska menyimpan kado itu, ia menunggu pemiliknya untuk datang.


Setelah itu, Jeje merasakan ponselnya bergetar, Jeje pun segera mengambilnya, ia mendapatkan panggilan dari sopir taksi onlinenya.


"Aku duluan, ya, Mbak," kata Jeje dan Nafiska mengiyakan, ia juga mengatakan untuk hati-hati.


Lalu, karena sudah ditunggu membuat Jeje sedikit terburu-buru dan Jeje berdiri di tepi jalan untuk memperhatikan kanan-kiri jalan. Setelah aman, Jeje pun melangkahkan kakinya, ia menyebrang dan saat itu juga ada sebuah mini bus yang menyeruduknya.


Jeje terpental dan darah mengalir dari kepalanya, selamatkah Jeje?


****


Di kantor, Darren yang sedang bekerja itu menyuruh karyawan yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Masuk!"


Dan karyawan itu menyampaikan kabar buruk yang terjadi pada Jeje.


Darren pun segera berlari keluar dan Jeje sudah ada yang membawanya ke rumah sakit.


Orang yang membawanya ke rumah sakit itu adalah Arsenio dan Arum. Keduanya menyaksikan saat Jeje mengalami kecelakaan tersebut.


Setelah membawa Jeje ke rumah sakit, Arsenio dan Arum pun menjadi saksi.


Darren segera menyusul setelah menerima alamat rumah sakit itu dari Arum dan sesampainya di sana, Darren menangis, ia menandatangani semua surat-surat yang suster perlukan.

__ADS_1


Bahkan, Darren harus menandatangani berkas yang mengatakan akan menerima kemungkinan terburuknya.


Darren yang membaca berkas itu terduduk, tiba-tiba saja lututnya terasa lemas.


"Mas Darren, cepatlah. Jeje membutuhkan pertolongan di dalam sana," kata Arum yang menyadarkan Darren.


Lalu, Darren pun menandatanganinya, ia meminta pada suster dan dokter untuk menyelamatkan istrinya dan suster meminta padanya untuk membantu doa.


Seketika, Darren teringat dengan pertengkarannya tadi, lalu, Darren bertanya pada Arum dan Arsenio, "Apa yang terjadi, kenapa Jeje harus mengalami ini?"


"Aku melihat mini bus, dia sepertinya sengaja mengincar Jeje," kata Arum dan Darren menanyakan plat nomornya.


"Untuk plat nomor kami tidak hapal, tapi di mobil aku di cctvnya, kita bisa cek dari sana," timpal Arsenio.


Dan Darren meminta padanya untuk melaporkan kejadian ini pada polisi, sementara Darren menunggu Jeje di rumah sakit.


"Aku pergi dulu," kata Arsenio dan Arsenio meminta pada Arum untuk menunggu, Arum pun mengiyakan.


Arum juga mengingatkan pada Darren untuk segera menghubungi Pak Somat dan Darren tidak tau harus mengatakan apa padanya.


"Seandainya tadi aku tidak mengusirnya, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya," gumam Darren dalam hati.


Pria itu menyesal dan sekarang kembali menangis dengan mengusap wajahnya menggunakan dua telapak tangannya.


****


Di tempat lain, sebuah kamar yang gelap, Lea yang duduk di kursinya itu menanyakan tugas yang ia berikan pada orang suruhannya.


"Bagaimana, kamu sudah memberinya pelajaran belum?"


"Sudah, aku berharap gadis itu tidak akan selamat karena suaminya telah menjebloskanmu ke penjara," jawab pria yang mengenakan topi dan pakaian serba hitam.


"Apakah kamu meninggalkan jejak?" tanya Lea.


"Tidak, bahkan plat nomor sudah ku ganti dan aku harus melewati jalan yang bebas CCTV."


"Bagus, jangan sampai aku masuk penjara lagi, kamu harus memastikan itu," kata Lea dan pria itu menjanjikan tidak akan membawa nama Lea jika dirinya tertangkap.


"Setelah ini, aku inginkan Rossi, dia telah mengambil Justin dariku, aku tidak terima semua orang bahagia sementara aku tidak," kata Lea seraya menunduk.


Pria itu yang mengagumi Lea pun mengiyakan, ia mengatakan akan melakukan apapun untuk Lea.


Apakah Rossi juga akan celaka karena ulah Lea?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2