
Mobil Darren terseret dan Darren juga terluka parah dan sekarang Darren berlumuran darah di kepalanya itu menatap Jeje yang ada di sampingnya.
Darren meneteskan air mata, ia takut, sangat takut setelah ini tidak bertemu dengan istrinya lagi.
Darren juga takut akan keadaan Jeje.
****
Malam ini, Pak Somat yang sedang duduk di sofa ruang tengah bersama Sarah itu mendapatkan kabar dari Sam yang baru saja menghubunginya.
"Apa?" tanya Pak Somat seraya bergetar dan ponselnya lepas dari genggaman saat mendengar Jeje kembali mengalami kecelakaan.
Seketika, Pak Somat merasa sakit di dadanya dan Pak Somat menekannya.
Ia menangis. Pak Somat ingat betul kalau ini adalah ke tiga kalinya bagi Jeje mengalami kecelakaan.
Pak Somat takut, takut kalau kali ini putrinya tidak akan selamat dari maut. Pak Somat yang memikirkan kemungkinan terburuk itu menjadi lemas.
Sarah yang melihat itu segera bertanya dan Pak Somat menatapnya dengan mata yang basah.
Sementara itu, di rumah sakit, Darren yang masih memejamkan matanya itu terus memanggil nama istrinya.
"Je," lirih Darren.
Dan saat Darren membuka mata, ia berada di ruangan ICU dan Darren memaksa pada suster untuk menemui istrinya.
"Pak, Bapak tenang dulu," kata suster seraya mencegah Darren turun dari brangkar.
"Tenang? Bagaimana saya bisa tenang kalau istri yang sangat saya cintai tidak ada di samping saya?" tanya Darren seraya melepaskan selang oksigennya.
Kemudian datang Sam yang diberitahu oleh suster lainnya kalau Darren sudah siuman.
Sam segera memeluk Darren, ia menangis sesenggukan, Sam mengucap syukur dalam hati karena putranya kini sudah membuka mata.
Darren yang melihat Sam menangis itu menjadi semakin memikirkan Jeje dan Darren melepaskan pelukannya.
Darren menatap Sam dan bertanya, "Bagaimana dengan keadaan, Je, Pih?"
Sam masih menutup mulutnya, ia takut untuk memberitahu yang sebenarnya kalau Je mengalami koma.
"Pih, jawab!" kata Darren.
"Kamu harus tenang lebih dulu," kata Sam dan Darren yang tidak sabar itu mengibaskan selimut hijau yang menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Darren ingin turun dari brangkar dan kakinya terasa sangat sakit untuk digerakkan.
"Kakimu terhimpit, Ren! Dan itu membuat kakimu terluka parah!" kata Sam dan Darren takut kalau kakinya tidak dapat digerakkan lagi.
Tetapi, tidak seperti itu karena kaki Darren masih dapat disembuhkan.
Darren tidak perduli dengan keadaannya, ia tetap memaksa pada Sam untuk turun.
"Kursi roda, Pih. Darren harus bertemu dengan Je walau harus menggunakan kursi roda, bawa Darren untuk bertemu dengannya, Pih!" kata Darren, ia menangis dan berkata dengan suara yang tertahan, tetapi, Sam dapat mengerti apa yang dikatakan oleh putranya.
Dan karena Sam masih diam, Darren menggoyangkan dua lengannya. Darren meminta pada Sam untuk cepat.
Dan Sam yang belum memberitahu keadaan Jeje pada Darren itu meminta pada suster untuk menuruti keinginannya.
Suster menolak karena itu bisa membahayakan kondisi pasien karena pasien yang akan keluar dari ICU harus dengan persetujuan dokter lebih dulu.
Tetapi, tidak ada yang bisa mencegah Darren dan sekarang, suster memanggil dokter yang bertanggung jawab, mengingat kondisi Jeje yang kritis, dokter pun mengijinkan, berharap dengan bertemu dengan suaminya akan membuat keadaannya menjadi lebih baik.
Sekarang, Sam mendorong kursi roda Darren, ia membawanya ke ruangan Jeje.
Di sana, Sam memberitahu kalau Jeje mengalami koma dan Sam juga memberitahu kalau Je sedang hamil.
Mendengar itu, Darren terdiam, ia sangat tau betul kalau kehamilan adalah yang Jeje inginkan selama ini.
Darren yang terdiam itu menitikkan air mata, ia mulai menggenggam tangan istrinya. Pria yang kepalanya diperban itu mengucapkan kata selamat dengan bibir yang bergetar, "Je, selamat. Kamu hamil, sayang."
****
Hari-hari telah berlalu, keadaan Darren sudah membaik dan Darren juga sudah dapat berjalan kembali walau masih menggunakan tongkat.
Setiap hari Darren menemani istrinya dan Darren selalu menyemangatinya, bahkan, kata maaf selalu ia ucapkan. Darren merasa kalau ia lah penyebab kejadian ini semua.
"Je, bangunlah. Ada kabar bahagia yang harus kamu dengar," lirih Darren yang duduk di kursi, pria menyedihkan itu menggenggam tangan istrinya.
Setelah itu, datang dokter untuk memeriksa pasien dan Darren menanyakan kandungan Jeje.
Dokter menjawab kalau kandungannya baik-baik saja.
Mendengar itu tak membuat Darren merasa lebih baik, ia takut akan terjadi sesuatu pada istrinya dan itu akan berpengaruh pada kehamilannya.
Sekarang, Darren yang harus mengisi perutnya itu keluar dari ruangan dan saat itu juga Darren bertemu dengan Satria yang menggandeng Gania.
Keduanya saling menatap dan Darren menanyakan tujuan pria itu.
__ADS_1
"Gania ingin menjenguk gurunya, apa tidak boleh?" tanya Satria.
Cukup lama bagi keduanya untuk saling menatap, Satria menunggu jawaban dari Darren dan Darren sangat berat hati untuk mengizinkan keduanya.
Lalu, Satria menyuruh pada Gania untuk duduk di kursi panjang yang tersedia karena Satria ingin bicara serius berdua dengan Darren.
"Tidak usah cemburu padaku, karena aku tidak mengambil istrimu," kata Satria.
"Walaupun, karena aku tetap tidak suka melihat ada pria mana pun yang mendekati istriku, apalagi pria itu adalah seorang duda," jawab Darren.
"Sayangnya, istrimu begitu setia, dia tidak pernah menjelekanmu walau kamu ini pencemburu!"
"Karena aku memiliki perasaan untuknya, aku mencintanya, berbeda jika aku tidak mencintai, mungkin tidak ada rasa cemburu di hatiku," jawab Darren.
"Dia milikku, aku harap kamu pria yang cukup tau diri! Pergi jangan muncul di hadapan kami lagi!" perintah Darren.
Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan Satria yang masih berdiri di depan ruangan istrinya.
"Sialan," umpat Satria seraya memperhatikan Darren pergi.
"Aku harus seperti ini untuk menjaganya, aku tidak ingin ada yang masuk dalam rumah tangga ku, lalu, mengusik kedamaian hati kami," kata Darren dalam hati.
Dan setelah hari itu, Satria tidak terlihat lagi, entah bagaimana kabar Gania pun tidak ada yang tahu, karena kabarnya, Satria membawa Gania ke luar negeri untuk melupakan Jihan yang begitu ia sayangi.
****
Empat bulan berlalu, sekarang, Darren menjadi pria yang tak terurus, bahkan brewoknya pun ia biarkan tumbuh merajalela.
Yang ada dipikirkannya adalah bekerja, bekerja supaya tidak kekurangan untuk membiayai Jeje yang masih terbaring di rumah sakit.
Dan Sam selalu menawarkan bantuannya, tetapi, Darren mengatakan kalau dirinya belum begitu membutuhkan.
Sekarang, Sam sedang duduk di kursi ruangan Darren, ia mengingatkan kalau hartanya juga miliknya dan Darren mengucapkan terima kasih.
Setelah itu, Darren bangun dari duduk, ia mengatakan akan ke rumah sakit untuk menjenguk anak dan istrinya.
Ya, Begitulah Darren, sesampainya di sana, Darren menyapa janin yang ada di kandungan istrinya.
Ia selalu mencoba untuk kuat dengan tidak menangis di depan Jeje dan janinnya.
"Assalamu'alaikum, Papah datang, sayang," kata Darren yang menyapa, ia menyapa dengan mata yang berkaca dan segera menghapusnya.
Darren juga menggenggam tangan Jeje, tidak lupa mengecupnya dan mengecup keningnya.
__ADS_1
Darren berharap kalau ujian besar ini segera berlalu dengan baik, sesuai dengan harapan Darren, kah?
Bersambung.