MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Doa Untuk Jeje


__ADS_3

Di rumah Gania, Gania sedang menangis di pelukan Satria dan Satria merasa pilu mendengar tangisan putri kecilnya.


Untuk menenangkannya, Satria mengambil buku dongeng, ia mulai membacakan dongeng tersebut sampai Gania tertidur pulas.


Satria menatap wajah mungilnya, ia membelai rambut halus Gania dan ia sangat berpikir kalau Gania membutuhkan sosok Ibu.


Karena Satria belum memiliki pendamping, Satria berpikir supaya bisa menjadi sosok ayah juga Ibu untuknya.


Esok paginya, Gania keluar dari kamar dan Gania sudah disambut oleh Satria. Satria datang dengan membawakan sarapan dan segelas susu putih hangat.


"Ayah," kata Gania dan Satria tersenyum.


"Ayo kita sarapan, nasi goreng ini spesial buatan Ayah," kata Satria seraya berjalan masuk ke kamar.


Dan Gania mengikutinya dari belakang.


Sekarang, keduanya duduk di sofa panjang yang tersedia.


Gania yang melihat ayahnya masih di rumah itu bertanya, "Ayah tidak kerja?"


"Kerja, Ayah bosnya, jadi Ayah bisa datang telat sedikit untuk putri ayah," jawab Satria.


Dan Gania pun turun dari duduknya, ia memeluk Satria dan Satria membalas pelukan putrinya.


Selesai dengan sarapan, Satria menyuruh putrinya untuk segera bersiap ke sekolah dan Gania mengatakan kalau dirinya tidak akan sekolah karena tidak ada Bu Jihan.


"Kan masih banyak guru lainnya, biasanya kalau ada guru yang berhenti nanti sekolah juga akan mencari guru pengganti, siapa tau nanti kamu suka," kata Satria yang sedang membujuk Gania.


Gania tetap tidak mau, ia melipat tangannya di dada, kemudian, gadis kecil itu menggeleng.


Satria menarik nafas, ia berpikir menjadi seorang Ibu sangatlah sulit.


Karena tidak berhasil membujuk, sekarang, Satria mengajak Gania ikut bekerja.


****


Di rumah Darren, pria itu melingkar lengannya di pinggang istrinya, ia menatap Jeje dari pantulan cermin besar yang ada di kamar.


"Mas," lirih Jeje seraya menatap Darren.


Dan Darren menatapnya.


"Besok, Arum mau tunangan, kita diundang ke pestanya," kata Jeje.


"Sepertinya, aku tidak bisa datang," jawab Darren.


"Pokoknya harus datang dong, Mas. Masa aku pergi sendiri," kata Jeje seraya melepaskan tangan Darren yang melingkar di pinggangnya.


"Aku sudah nurut, Mas. Masa aku ngajak kamu pergi tidak mau. Tidak adil," protes Jeje.

__ADS_1


"Aku sibuk, Je. Kalau tidak pasti mau," kata Darren.


Dan Jeje tidak mau menanggapinya lagi.


"Jangan marah dong, besok aku usahakan. Memang jam berapa acaranya?" tanya Darren seraya duduk di tepi ranjang.


"Jam 7," jawab Jeje singkat dan Darren mengangguk.


****


Pagi ini, Pak Somat dan Bu Sarah sudah kedatangan tamu, tamu itu adalah Gala yang diajak mampir oleh Ibunya.


"Cucu Kakek, tampan sekali," kata Pak Somat dan Gala yang sok cool itu merapikan rambutnya.


Kemudian, ada tetangga Pak Somat yang baru saja berbelanja sayur itu bertanya, "Wah, Pak Somat. Kapan nih nambah cucu?"


Dan Pak Somat meminta untuk didoakan.


"Iya benar, kami doakan semoga Je cepat hamil dan kebahagiaan Pak Somat semakin lengkap."


Pak Somat pun tersenyum.


Setelah itu, Pak Somat menyusul Sarah dan Gala masuk ke rumah, terlihat kalau Sarah sedang memasukkan uang ke saku seragam Gala.


Melihat itu, Pak Somat menjadi berandai-andai, ia membayangkan betapa lengkap kebahagiaannya jika dirinya sudah memiliki cucu kandung.


Sarah menyadari itu, ia pun mengusap lengan suaminya. "Sabar, kita doakan kebahagiaan untuk Jeje dan Darren," kata Sarah. Pak Somat mengangguk, ia mengaminkan doa istrinya.


Pak Somat menanyakan alasannya dan Rossi menjawab sesuai yang ia ketahui yaitu mengurus suaminya.


Mendengar itu, apakah Somat pun mencoba memahami, ia berusaha untuk tidak ikut campur apapun urusan Darren dan Jeje selagi Darren menjadi suami yang baik, tidak main tangan, tidak berjudi dsb.


****


Sepulang sekolah, Rossi dan Gala pergi ke restoran dan di restoran mereka bertemu dengan Gania yang sedang menunggu Ayahnya pertemuan dengan klien.


Gania yang melihat Gala itu segera ikut bergabung.


"Halo Gala, Tante," sapa Gania yang menghampiri meja Rossi.


"Hay, Gania. Kamu sama siapa? Kenapa tadi tidak sekolah?" tanya Rossi, setelah itu, Rossi mengajaknya bergabung dan Gania pun tidak menolak.


Dari tempatnya duduk, Satria melihat Gania yang bersama dengan teman sekolahnya itu membiarkannya, selagi tidak pergi jauh.


Sekarang, Rossi juga memesankan makanan untuk gadis kecil itu.


Lalu, Gania bertanya, "Tante, kenapa Bu Jihan tidak mengajar lagi?"


"Bu Jihan mengajar di rumah saja, sekarang. Gania rindu, ya?" tanya Rossi dan Gania mengangguk.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Satria menghampiri Gania dan tidak sengaja mendengar percakapan sebelumnya.


Lalu, Satria pun berpikir kalau Gania bisa les di rumah guru favoritnya.


"Benarkah Bu Jihan mengajar di rumah?" tanya Satria dan Rossi mengiyakan.


"Kalau begitu, Gania mau belajar sama Bu Jihan?" tanya Satria dan Gania sangat antusias.


Satria beralih menatap Rossi, ia mengatakan kalau Gania begitu menyukai Jihan dan Satria ingin anaknya terus bersemangat.


Rossi membenarkan apa kata Satria, karena Rossi juga berpikir akan melakukan hal yang sama untuk putranya.


Setelah itu, semua orang makan bersama dan akhirnya, makan siang kali ini ditraktir oleh Satria.


Rossi mengucapkan terima kasih dan Satria menjawab, "Dengan senang hati."


Setelah itu, Satria yang masih memiliki banyak pekerjaan pun pamit lebih dulu dan setelah kepergian Satria, Rossi mengajak Gala untuk pulang.


Dalam hati, Rossi memuji Satria yang begitu penyayang.


****


Di rumah Jeje, ia sedang mengajar beberapa muridnya dan tidak lama kemudian, Jeje mendapatkan tamu.


"Bu, di depan ada tamu," kata Mamang yang menghampiri Jeje.


"Siapa, Mang?" tanya Jeje seraya bangun dari duduk.


"Anak kecil dan Ayah-nya, mungkin ingin belajar di sini, Bu."


Setelah itu, Jeje pun segera keluar dan di luar sudah ada Gania dan Satria sedang duduk di kursi teras.


Melihat tuan rumahnya keluar, Satria pun bangun dari duduk.


Ia selamat sore pada Jeje.


"Selamat sore, Bu Jihan. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu, Gania ingin les di sini, katanya," kata Satria seraya menatap Jihan.


"Tidak apa, Bapak tidak mengganggu," jawab Jeje.


"Kenapa sampai sejauh ini, memangnya, di tempat Bapak tinggal tidak ada bimbel atau semacamnya?" tanya Jeje seraya menatap Satria.


"Dia maunya sama Bu Jihan, saya bisa apa, Bu. Anak saya sangat menyukai Ibu," kata Satria dan Jeje mengangguk mengerti.


Dan Jeje pun menerima Gania, ia mengatakan jadwal belajarnya yang hanya tiga kali dalam satu minggu yaitu senin, Rabu dan Jumat.


Jeje mengatakan kalau Gania bisa mulai les di hari berikutnya.


Setelah itu, Satria pun pamit ia begitu senang melihat senyum Gania.

__ADS_1


Apakah ini akan menjadi masalah baru bagi Jeje dan Darren?


Bersambung.


__ADS_2