
Di rumah lain, tepatnya rumah Gania, gadis kecil bermata bulat itu tidak mau makan dan terlihat sangat murung.
Entah apa yang membuatnya seperti itu, ayahnya sama sekali tidak tau, Gania pun tidak dapat ditanyai.
"Astaga, Gania. Kamu kenapa sayang?" tanya Satria, Ayah Gania, Satria sendiri pria tampan berusia 30 tahun.
"Ayah," lirih Gania seraya menatap Ayahnya.
Dan Satria yang sudah mendengar suara Gania itu menjadi senang, pria berpakaian santai itu bertanya pada putrinya, "Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Satria seraya mengusap pucuk kepala putrinya.
Gania menggelengkan kepala dan segera memeluk ayahnya.
Merasa kalau putrinya sedang sangat sedih, membuat Satria berinisiatif untuk menghiburnya, Satria mengajak putrinya untuk pergi ke pasar malam.
Sesampainya di sana, Satria menawarkan permen kapas dan tidak hanya itu, Satria mengajaknya untuk naik biang lala dan setelah puas bermain dan berwisata kuliner, sekarang, Gania sudah kembali tersenyum.
Lalu, Gania yang sudah membaik itu ingin menceritakan apa yang sempat membuatnya bersedih.
"Ayah," panggil Gania yang sekarang ada di gendongan Satria, keduanya sedang berjalan ke arah parkiran.
"Bukankah Ayah pernah mengatakan kalau akan memberikan apapun yang Gania mau?" tanya putrinya seraya menatap.
"Iya, apa itu? Kamu ingin beli sesuatu?" tanya Satria seraya membukakan pintu mobil. Satria menyuruh Gania untuk duduk, setelah itu, Satria segera memutar untuk dirinya masuk ke mobil.
Sekarang, keduanya sudah duduk di bangku masing-masing. Dan Gania belum melupakan permintaannya, sekarang, Gania melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.
"Ayah, Gania tidak ingin beli apapun, Gania inginkan Ibu, Ayah," lirih Gania seraya menatap Satria yang sedang memasangkan sabuk pengamannya.
"Ibu? Gania sudah tau kalau Ibu sekarang ada di surga, kenapa Gania minta Ibu?" tanya Satria, kemudian, Satria mulai memarkirkan mobilnya.
"Ayah, Gania ingin Bu Jihan," Rengek Gania seraya menatap dan tatapannya kali ini begitu terlihat mengiba membuat Satria bertanya siapa Bu Jihan.
"Bu Jihan, guru di sekolah Gania, Ayah," jawab Gania dengan begitu semangatnya.
"Baiklah, besok Ayah akan menemuinya," jawab Satria, mendengar itu, Gania pun merasa senang, ia inginkan sosok ibu yang seperti Jihan (Jeje).
Benar saja, keesokannya, Gania yang diantarkan oleh Ayahnya itu memperkenalkan Bu Jihan pada Ayahnya.
Dan ini adalah pertemuan pertama bagi keduanya, Jihan/Jeje menyapa dengan ramah.
Setelah itu, Jihan mengajak Gania untuk masuk dan bergabung bersama dengan yang lain.
Tetapi, langkah Jeje terhenti saat Satria memanggilnya, "Bu, Jihan."
Dan yang dipanggil pun menoleh, ia berhenti, menanyakan keperluan Satria.
Satria tersenyum dan mengatakan kalau malam ini mengundangnya untuk makan malam bersama.
__ADS_1
"Makan malam?" tanya Jeje dan Satria yang terpesona pada pandangan pertama itu tersenyum, ia memberikan alamat rumahnya.
Jeje pun mengiyakan, ia mengira kalau di rumah Gania sedang memiliki acara, nyatanya, sampai di rumah Gania, Jeje dan Darren tidak melihat adanya pesta.
Satria membukakan pintu untuk tamunya dan ternyata tamunya tidak datang sendiri.
Satria pun bertanya, "Dia?"
Dengan cepat Jeje menjawab, "Dia suamiku."
"Seketika hati Satria terasa lemas, tetapi, pria tampan dan tinggi itu menyembunyikannya. Satria pun mengulurkan tangannya pada Darren dan keduanya saling berjabat tangan.
Setelah itu, Satria mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Lalu, datang Gania yang begitu menyukai Jeje. Ia pun segera berlari dan menghampiri untuk menghadiri Jeje.
" Bu guru," kata Gania seraya memeluk Jeje.
Dan Jeje pun meyambutnya.
"Ibu kira ada pesta ulang tahunmu, sayang," kata Jeje dan Gania mengatakan kalau dirinya tidak berulang tahun.
Dan Darren tersenyum pada Gania yang sedang menatapnya.
Setelah itu, Jeje menanyakan keperluannya pada Satria yang sudah mengundang dan Satria tersenyum.
Seketika itu menjadi pertanyaan besar untuk Darren, untuk apa Ayah Gania mengajak istrinya untuk makan malam?
Kemudian, untuk menjawab rasa penasarannya, Darren menanyakan keberadaan Ibu Gania.
Dengan polosnya, Gania menjawab, ia mengatakan kalau Ibunya sudah ada di surga.
Darren dan Jeje pun saling menatap, lalu, demi menghormati undangan tersebut, Darren dan Jeje pun ikut makan malam bersama.
Di meja makan, Gania sangat manja dengan Jeje dan Darren yang melihat itu dapat membaca situasi yang mengatakan kalau Gania inginkan Jeje untuk menjadi ibunya.
Tetapi, selama apa yang ia pikirkan tidak terbukti, Darren hanya memperhatikan saja.
"Dia sangat manja, pengasuhnya kemarin pulang kampung karena harus menikah, setelah itu menjadi kesepian, aku minta maaf untuknya," kata Satria pada Darren dan Darren menjawabnya dengan senyuman tipisnya.
Lalu, Darren yang mulai tidak betah di rumah itu pun mengajak Jeje untuk pulang dan Jeje mengiyakan, tetapi, Gania yang begitu mengidolakannya itu menahannya.
"Kita bertemu lagi besok, di sekolah, ya," kata Jeje, ia memberikan pengertian dan karena Gania tidak berhasil menahannya, Gania pun merajuk, gadis kecil itu berlari menuju ke kamar yang ada di lantai atas.
Melihat itu tentu saja Jeje merasa khawatir, ia takut Gania akan jatuh dan Satria segera mengejarnya.
Kemudian, Darren tidak tinggal diam, ia mengajak istrinya untuk pulang selagi ayah anak itu menyenangkannya.
__ADS_1
"Tapi, Mas. Aku khawatir sama Gania, aku takut dia jatuh," kata Jeje yang sedang digandeng oleh suaminya.
"Anak itu sudah ada yang mengurus, Je." Darren terus menarik tangan istrinya dan sekarang, Darren menyuruh Jeje untuk segera masuk ke mobil.
Di perjalanan, keduanya saling diam, Jeje memikirkan Gania sedang Darren memikirkan duda yang telah berani-beraninya mengajak istrinya makan malam.
Darren mengemudi menggunakan satu tangan dan satu tangannya lagi mengusap dagunya.
"Jangan terlalu dekat dengan anak itu," kata Darren dan Jeje melihat kearahnya.
"Kenapa? Dia membutuhkan kasih sayang, Mas," jawab Jeje, ia begitu polos sehingga tidak mengerti maksud suaminya.
"Maka dari itu, jangan dekat-dekat dengannya, aku tidak ingin kebaikanmu disalah artikan olehnya dan juga ayahnya!"
"Astaga, maksud kamu apa, sih, Mas?" tanya Jeje yang keheranan.
"Apa masih kurang jelas, Je? Aku bilang jangan terlalu dekat, ya, jangan terlalu dekat," jawab Darren.
"Kenapa? Kamu memang dari awal malas untuk ku ajak ke sini, kan, Mas?" tanya Jeje.
Dan Darren memilih untuk diam, ia ingin mengatakan hal lain belum tentu Jeje percaya.
Dan sekarang, keduanya saling diam.
****
Sementara itu, di rumah Gania, Satria sedang mengetuk pintu kamar putrinya dan Gania yang menangis itu membukakan pintu.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Apa karena Bu Jihan pulang?" tanya Satria dan Gania pun mengangguk.
"Gania, Bu Jihan sudah punya pasangan, Ayah tidak bisa menahannya, kita harus tau itu," kata Satria dan Gania pun akhirnya menempel pada Satria.
"Gania, kalau Ayah tau dia sudah menikah, mana mungkin Ayah mengundangnya untuk makan malam," kata Satria dalam hati.
Sementara Darren, ia masih tidak habis pikir pada Satria dan mengira kalau Satria adalah salah satu pria penggoda istri orang.
Benarkah kecurigaan Darren?
Sesampainya di rumah, Darren bertanya, "Sudah berapa kali kamu bertemu dengannya?"
Dan Jeje yang sedang melepaskan perhiasannya itu menatap Darren melalui kaca riasnya.
"Siapa, Mas? Gania?" tanya Jeje, "senin sampai jumat aku bertemu dengannya," Lanjut Jeje.
"Bukan Gania, tapi Ayah-nya," jawab Darren yang masih duduk di tepi ranjang.
"Oh, baru pertama kali ini," jawab Jeje yang kemudian bangun dari duduk, ia menyimpan perhiasannya di lemarinya dan Jeje masih diperhatikan oleh suaminya.
__ADS_1
Bersambung..