MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Panasnya


__ADS_3

Setelah Justin mengatakan apa yang telah ia berikan, Rossi pun menggeleng.


"Astaga, Just!" kata Rossi dan Justin terkekeh.


Sementara itu, Darren yang sedang melepaskan jasnya itu merasa aneh dengan dirinya karena tiba-tiba saja tidak dapat menahan diri, terutama di bagian bawah yang sudah meronta.


Dan Darren meletakkan jasnya itu di bagian depannya untuk membantunya menutupi sesuatu yang menonjol.


Lalu, Darren menatap Justin yang sedang menahan tawa dan Darren pun mengerti apa yang telah sahabatnya itu berikan.


"Teman laknat," gumam Darren dan Jeje yang masih ada di sampingnya itu tak begitu mendengar.


Yang Jeje dengar adalah, Darren mengajaknya untuk segera ke kamar dan jeje yang tidak mengerti maksud Darren itu menjawab kalau masih ada tamu yang datang.


Dan Darren yang merasa panas dan ingin segera melepaskan apa yang dirasakannya itu pun menggandeng Jeje.


Dan karena mengenakan gaun membuat Jeje sedikit sulit untuk berjalan cepat, lalu, Darren berinisiatif untuk membopong Jeje ke kamarnya.


"Astaga, Mas. Aku mau turun, malu dilihat orang," pinta Jeje seraya menatap Darren yang fokus menatap ke depan.


"Biarkan," jawabnya singkat dan karena malu, Jeje menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


Dan sebagian tamu undangan yang melihat itu pun bersorak. Malu, Darren merasa benar-benar malu dan ini adalah ulah temannya.


****


Sesampainya di kamar yang dihiasi kelopak mawar merah, Darren menurunkan Jeje dan Jeje masih menempel, ia tidak mau turun dan Darren terkekeh.


"Tadi minta turun, sekarang tidak mau," kata Darren dan Jeje menjawab dengan tersenyum, ia menatap Darren dan Darren juga menatapnya.


Kali ini, Jeje tidak mengerti arti tatapan Itu karena Darren menatap tanpa ekspresi.


"Turun!" perintah Darren dan Jeje yang merasa nyaman ada di gendongan suaminya itu pun menurut.


Dan setelah sadar kalau keduanya hanya berdua saja di kamar, Jeje menjadi malu, sementara Jeje sedang tersipu, Darren sudah melepaskan kancing-kancing kemejanya.


"Je," lirih Darren dan Jeje yang sedang membelakangi itu menoleh.


"Astaga, kemana bajumu, Mas?" tanya Jeje dan Darren mengatakan kalau malam ini tidak ada baju.


"Ya Tuhan. Aku baru melihat sisi seram Mas Darren. Terlihat kalau dia sudah ingin memangsaku hidup-hidup," batin Jeje dan sekarang, Darren sudah memeluk Jeje dari belakang.


"Kamu inginkan ini, bukan?" tanya Darren yang setengah berbisik di telinga Jeje dan Jeje yang merasa geli itu sedikit menaikkan bahunya.


"Geli," kata Jeje seraya berusaha melepaskan Darren dan Darren semakin mengeratkan pelukannya sehingga Jeje dapat merasakan sesuatu yang menonjol itu.


Lalu, Darren memutar balikan tubuh Jeje, ia menatapnya dan Darren segera bertanya, "Kamu sudah siap?"


Dan Jeje menjawab dengan mengangguk. Kemudian, Darren kembali membopong Jeje, ia membawanya ke ranjang dan Darren meminta ijin pada istrinya untuk membantunya melepaskan gaunnya.

__ADS_1


Jeje mengizinkan dan sekarang, Darren sedang melepaskan gaun istrinya.


Apa yang terjadi? Ya, pastilah malam pertama 😂, maaf tidak dapat menjabarkan lebih jauh, 🙏


****


Selesai dengan pesta, Justin mengantarkan Rossi dan Justin menanyakan mahar apa yang diinginkan olehnya.


"Aku mau uang koin kuning satu toples penuh," kata Rossi dan Justin yang sedang fokus mengemudi itu terdiam.


Justin berpikir kalau mecari koin lama itu adalah hal sulit dan Justin mencoba menawar, ia menawarkan uang 100 juta dan Rossi masih menolak.


Bagi Rossi, jika Justin mengiyakan dan menyanggupi, Rossi akan membuang jauh-jauh keraguan atasnya.


Akhirnya, Justin pun mengiyakan, ia harus mendapat uang koin itu segera.


Sekarang, Justin bertanya, "Ross, melihat mereka menikah, apakah ada rasa sedih di hati kamu?"


"Kamu mau aku jawab jujur?" tanya Rossi dan Justin mengiyakan.


"Sedikit sesak, tetapi, ketika ku ingat ada kamu di sisiku, aku merasa tenang, kamulah yang aku milikki, Just."


Mendengar itu, Justin merasa senang karena Rossi mengatakan kalau Justin adalah miliknya.


****


Di kamar hotel, Jeje meminta pelan pada suaminya dan Darren sangat kesal pada Justin.


Darren yang melihat Jeje kesakitan pun menjadi tidak tega, tetapi, mau bagaimana lagi.


Dan Darren meminta maaf pada.


"Je, maafkan aku," lirih Darren yang masih ada di atasnya dan Jeje yang menahan sakit itu mengangguk.


"Apakah akan selalu lama seperti ini, Mas?" tanya Jeje dengan begitu polosnya.


"Tidak," jawab Darren dan Jeje mengucapkan syukurnya.


Lalu, Darren yang belum selesai itu terpaksa menyudahinya saat melihat Jeje yang merintih kesakitan dan saat Darren bangun, ia melihat bercak darah dan Darren kembali meminta maaf, ia merasa berdosa jika akan terus memaksa istrinya demi dirinya.


Sekarang, Darren memeluk Jeje dari belakang dan Jeje yang begitu kelelahan dan sakit itu sedikit menitikkan air matanya.


Setelah Jeje terlelap, Darren pergi ke kamar mandi untuk menuntaskannya sendiri.


"Justin, awas kamu!" geram Darren.


****


Setibanya di rumah, Pak Somat merasa sepi, ia sendiri dan membuka pintu kamar Jeje.

__ADS_1


Kamar yang rapih itu sekarang menjadi kosong karena pemiliknya telah menemukan belahan jiwanya dan akan mengabdikan dirinya untuk cintanya.


Setelah itu, Pak Somat pun kembali menutup pintu kamar tersebut. Sekarang, Pak Somat masuk ke kamarnya dan di sana, ia duduk di tepi ranjang, membuka album lamanya.


Dan ketika melihat foto almarhumah Ibu Jeje, Pak Somat ingat dengan kejadian naas itu.


Di mana istrinya menyelematkan Jeje yang hampir tertabrak oleh mini bus saat menyebrang jalan.


Pak Somat pun menangis sendiri.


"Bu, Je kita sudah besar, dia sudah meninggalkan Ayah untuk suaminya, seperti Ibu dulu, meninggalkan keluarga Ibu untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama Ayah. Terima kasih, Bu. Ibu sudah memberikan bidadari kecil yang cantik untuk Ayah."


Pak Somat pun mengusap matanya yang basah.


Sekarang, Pak Somat tidur dengan memeluk album itu.


****


Keesokan paginya, Pak Somat yang belum terbiasa tanpa Jeje itu mengetuk pintu kamarnya.


"Je, bangun sudah siang," kata Pak Somat dan karena lama tak ada jawaban, Lak Somat pun membuka pintu kamar itu dan saat itu juga Pak Somat ingat dengan pernikahan putrinya, teringat kemarin ia melihat Darren membopong putrinya dan Pak Somat pun mengurangi keraguannya pada Darren.


"Dia pasti akan membuat putriku bahagia," gumam Pak Somat.


"Untung saja mereka segera menikah, mereka sudah tidak sabar rupanya," kata Pak Somat seraya berjalan ke dapur, ia ingin membuat kopi dan pagi ini, kopinya tak senikmat buatan Jeje.


Pak Somat tak berhenti memikirkan putrinya yang sekarang sedang bahagia.


Bidadari kecilnya itu masih meringkuk dan merasakan sakit sekujur tubuhnya, terlebih lagi lututnya, ia merasa kalau lututnya sangat lemas dan terasa akan lepas.


Dengan polosnya, Jeje bertanya pada Darren yang memeluknya.


"Mas," lirihnya.


"Emb," jawab Darren yang masih terpejam.


"Aku mau tanya sesuatu," kata Jeje.


"Apa?" tanya Darren singkat.


"Apakah punyamu akan sebesar itu jika sedang menginginkannya?" tanya Jeje dengan begitu polosnya dan Darren yang mendengar pertanyaan itu segera membuka mata.


Tanpa sengaja, dengan pertanyaan itu, Jeje sudah kembali berhasil membangunkan sisi liar Darren dan Darren meminta jatahnya lagi pagi ini.


Jeje yang begitu mencintai suaminya itu mengiyakan tanpa menolak.


Dan Darren hanya melakukan satu ronde di pagi hari ini.


Maaf, ya. Tidak bisa bikin yang panass, 🤭🤭 takut dosa.

__ADS_1


Minal aidzin wal faidzin. Selamat hari raya indul fitri, Mohon maaf lahir dan batin. 🙏


__ADS_2