MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Semakin Ngenes


__ADS_3

Darren menepuk bahu Justin dan ia mengambil gelasnya, Darren segera menjauhkan minuman haram itu dari sahabatnya, setelahnya, Darren mengantarkannya pulang dan Darren tidak mengatakan apapun.


Ya, karena Darren tidak ingin bicara dengan orang mabuk yang mana mungkin akan mendengarkannya.


Selama perjalanan, Darren melihat Justin yang sebentar tertawa, sebentar menangis dengan meminta maaf pada istrinya.


"Ross, maafin aku," lirih Justin yang sedang memejamkan mata.


Darren hanya menggelengkan kepala dan setibanya di rumah Rossi, Darren membantunya memapah ke kamar.


"Kenapa dengan Justin, Ren?" tanya Rossi yang mengikuti langkah Darren.


"Dia mabuk, terlalu banyak minum," jawab Darren, setelah itu, Darren segera pamit dan Rossi mengucapkan terima kasihnya.


Darren hanya tersenyum.


Dan Rossi memperhatikan Darren sampai tak terlihat lagi, ia mengusap perutnya, berharap anak yang di kandungnya itu sedikit memiliki kemiripan dengan Darren.


"Kamu beruntung bisa mendapatkan Darren, Je," gumam Rossi dalam hati.


Setelah itu, Rossi kembali ke dalam, ia melihat suaminya yang sedang berusaha melepaskan sepatu dan Rossi yang melihatnya kesusahan itu pun membantunya.


"Aaa, biarkan, aku bisa sendiri, aku bukan pria manja!" kata Justin seraya menyingkirkan tangan Rossi.


"Justin, kamu kenapa? Apa kamu punya masalah?" tanya Rossi seraya berdiri dengan mengusap perutnya.


"Ya, kamu masalahnya, kamu tau tidak, kamu itu berubah menjadi manja, sangat manja!" kata Justin, tentu saja, Justin mengatakan itu dengan tidak sengaja.


Walau tidak sengaja, tetap saja apa yang dikatakan oleh Justin telah sedikit menusuk hati istrinya.


"Maksud kamu apa?" tanya Rossi seraya menyeka air matanya.


"Haha, jangan tanya kalau kamu sendiri tau lebih jelasnya," jawab Justin, setelah berhasil melepaskan sepatu, kaos kaki dan jasnya, sekarang, Justin benar-benar memejamkan matanya.


"Kamu menyebalkan, Justin, menyebalkan!" teriak Rossi seraya menutupi tubuh suaminya sampai ke ujung kepala menggunakan selimut.


"Awal pernikahan kamu bilang mau cepat punya anak, sekarang, kamu tidak mau repotnya, kamu pikir hamil itu enak? Hamil itu sakit setiap hari, aku juga berubah jadi gendut, itu semua karena kamu, Justin, karena kamu, maka dari itu kamu harus bertanggung jawab," tangis Rossi, setelah itu, Rossi keluar dari kamar, ia menutup pintu dengan membantingnya.


Mendengar suara pintu itu, Justin mengangkat kepala, ia bertanya, "Apakah ada gempa?"


Setelah itu, Justin kembali menjatuhkan kepalanya yang masih terasa pusing.


****


Di kamar sebelah, Rossi sedang menangis, ia tidak bercerita pada siapapun karena ingin menyelesaikan masalahnya hanya berdua saja dengan suaminya.


"Jadi... selama ini kamu keberatan? Kamu merasa aku repotkan? Kenapa, Justin, kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang ingin jadi suami yang siaga, atau semua itu hanya kepura-puraan?" tanya Rossi pada dirinya sendiri, ia menangis sesenggukan.


Sementara itu, Darren yang sedang dalam perjalanan itu mengirim pesan singkat pada Jeje, "Sedang apa?"

__ADS_1


"Nunggu kamu," jawab Jeje singkat.


"Sudah makan?" tanya Darren.


Jeje yang mendapatkan perhatian itu merasa senang, ia segera menjawab, "Sudah, tapi masih lapar."


Dan Darren yang sedang fokus mengemudi itu hanya membaca dan karena itu, Jeje kembali mengirim pesan, "Kamu sudah makan belum?"


"Belum," jawab Darren singkat.


Mengetahui suaminya belum makan malam, Jeje pun mengingatkannya untuk makan, "Kamu jangan lupa makan." Isi pesan Jeje yang tidak lupa disertai emoticon love.


Dan Darren yang sedang menepikan kendaraannya untuk membeli sate padang itu membalas singkat, "Ya."


Mendapatkan pesan yang selalu singkat, Jeje hanya bisa menarik nafas, ia sudah hapal dengan suaminya yang selalu dingin.


"Mungkin sudah setelah pabrik," kata Jeje dalam hati, setelah itu, Jeje yang masih menunggu seraya menonton televisi itu tertidur di sofa dan Jeje bangun saat Darren pulang.


Darren yang membawa dua porsi sate padang itu membangunkannya.


"Je, makan lagi, tidak?" tanya Darren seraya ikut duduk di sofa.


Jeje yang mendengar suara itu pun membuka mata. "Aku sudah makan, Mas."


"Makan lagi," kata Darren seraya menunjukkan sate tersebut.


"Astaga, kamu tau tidak, Mas?" tanya Jeje dan Darren mengerutkan dahinya, ia tidak tau apa yang dipertanyakan oleh istrinya.


"Berat badanku bertambah, setelah menikah denganmu, sedikit-sedikit makan, sedikit-sedikit makan, seperti itu saja terus," kata Jeje seraya mengambil sate padangnya.


"Loh, katanya takut gemuk, kok diambil?" tanya Darren.


"Nanti mubazir kalau tidak dimakan," jawab Jeje.


"Kan ada bibi, bisa ku kasih bibi," kata Darren dan Jeje tersenyum.


"Dasar, bilang saja lapar," kekeh Darren, setelah itu, Darren bangun dari duduk, ia mengambil piring, sendok dan botol minum, lalu, keduanya makan malam bersama.


Sesekali, Darren melirik pada Jeje dan Jeje berinisiatif untuk menyuapi suaminya, "Aaaa!" perintah Jeje seraya menyuapinya.


Darren membuka mulutnya lebar dan Darren pun tersenyum.


"Je, bukankah kita menikmati waktu kita berdua?" tanya Darren.


Dan Jeje yang sedang mengunyah itu mengangguk.


"Lalu, aku minta supaya kamu tidak bersedih karena kita belum dikaruniai seorang anak," kata Darren seraya menggenggam tangan Jeje.


Jeje mengangguk dan sekarang, Jeje membereskan bekas mereka makan, setelahnya, Darren menggandeng istrinya, membawanya ke kamar.

__ADS_1


Di kamar, Darren langsung mencium istrinya dan Darren menyentuh area sensitif istrinya, tentu saja itu membuat Jeje merasa geli.


"Aku ingin itu, Je," bisik Darren dan Jeje yang malu-malu itu bertanya, "Mau apa, Mas?"


Dan tanpa menjawab lagi, Darren segera membawa istrinya ke ranjang. Jangan tanya apa yang mereka lakukan, sudah pasti anu. 🤭


****


Keesokan paginya, di rumah Justin, Justin tidak melihat istrinya ada di sampingnya dan Justin pun bertanya-tanya, "Di mana si gendut?"


Setelah itu, Justin turun dari ranjang, ia keluar dari kamar dan segera menanyakan keberadaan Rossi pada asisten rumah tangganya.


"Non Rossi ada di kamar sebelah, Tuan," jawabnya.


Setelah itu, Justin pun segera menyusul dan pintu kamar itu terkunci dari dalam.


"Sayang, kamu di dalam?" tanyanya.


Dan Rossi yang masih berbaring itu menatap pintu kamar dan Rossi begitu sebal pada Justin.


"Sebentar sayang, sebentar mengeluh, sebentar panggil gendut," kata Rossi dan Rossi begitu malas untuk membukakan pintunya.


Tentu saja, Justin tidak tinggal diam, ia yang tak segera mendapatkan pintu itu keluar untuk mencari jendela.


Dan benar saja, jendela kamar Rossi yang sudah terbuka itu bisa menjadi pintu masuk baginya, sehingga, sekarang ini Justin sudah berbaring di belakang istrinya.


Dan Rossi yang merasa tiba-tiba ada orang itu pun segera berbalik badan, ia segera berteriak saat melihat Justin ada di ranjang.


"Aaaaaa!" teriak Rossi, "dari mana kamu masuk?" tanya Rossi kemudian.


"Dari jendela, aku tau... kamu sangat suka udara segar, jadi aku tau kalau jendelanya pasti sudah dibuka," jawab Justin dan Rossi menatapnya datar.


"Kenapa kamu tidur di sini, dut?" tanya Justin seraya berusaha memeluk Rossi.


Dan Rossi berusaha untuk lepas dari lepas dari suaminya.


"Terus saja, terus... panggil aku gendut!" kata Rossi seraya memukul Justin menggunakan bantal.


"Aku sebal sama kamu, sebal!" seru Rossi yang kemudian keluar dari kamar, terlihat kalau Rossi mengambil tasnya dan Justin sama sekali tidak tau apa salahnya pun menjadi heran.


"Heran, kenapa aku selalu salah di matanya? Padahal aku berniat menghibur," kata Justin yang kemudian menyusul Rossi.


"Jangan ikuti aku!" kata Rossi seraya menatap Justin.


"Tidak, kamu istriku, sedang hamil anakku, aku harus menjaga kalian!" kata Justin dan Rossi menatapnya datar.


Rossi pun mengurungkan niatnya pergi dari rumah. Ia masuk ke kamar utama dan tidak lupa menguncinya.


"Astaga, Rossi. Sudah lama aku tidak dapat jatah, Ross!" teriak Justin dari balik pintu.

__ADS_1


"Masa bodo!" jawab Rossi dari dalam.


Mendengar jawaban itu, Justin semakin ngenes dan bersambung.


__ADS_2