
Di rumah, Darren yang sedang sendiri itu menggunakan waktunya untuk bermain game online dan Darren dapat bermain tanpa ada yang mengawasi.
Sementara itu, Jeje sedang mempertimbangkan tawaran Satria.
Jeje melihat jam tangannya dan karena waktu yang semakin dekat, akhirnya, Jeje pun menerima tawaran Satria.
Tidak lupa Jeje memberitahu suaminya.
Je pun mengirim pesan, "Mas, tadi mobilnya mogok, terus aku tidak sengaja bertemu dengan Pak Satria, sekarang, dia mengantarku."
Darren yang masih bermain game itu membaca pesan Jeje dan Darren membulatkan matanya.
"Apa? Kenapa jadi sama Satria?" tanya Darren seraya bangun dan Darren tanpa mandi lebih dulu langsung mencari celana panjangnya, kemudian mencari batiknya.
Setelah itu, Darren menghubungi Jeje dan Jeje yang sedang mendengarkan Satria bercerita itu memotong apa yang sedang Satria katakan, "Maaf, Mas Darren telepon."
Satria mengangguk dan segera diam.
"Aku masih di jalan, Mas," kata Jeje seraya pandangan tetap lurus ke depan.
Dan Darren menyuruh Jeje untuk turun sekarang juga karena Darren akan menjemputnya untuk mengantarkan ke rumah Arum.
"Baiklah," kata Jeje yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah itu, Jeje meminta pada Satria untuk menepi dan Satria pun menurut.
Lalu, sebelum turun, Jeje mengucapkan terima kasih dan Satria pun tersenyum.
"Astaga, membuang waktu saja, kenapa tidak sedari tadi suaminya menyusul, aneh!" kata Satria dalam hati, setelah itu, Satria membunyikan klakson dan Jeje pun tersenyum padanya.
Melihat senyum itu, Satria memujinya, "Istri orang, kenapa cantik sekali?" tanyanya pada diri sendiri.
Sementara itu, Jeje yang berdiri di tepi jalan harus menunggu sedikit lama dan kemudian yang ditunggu pun datang.
Berbeda dengan Jeje yang terlihat senang saat melihat suaminya, sementara Darren, pria yang kusut itu terlihat diam saja, ia sedang menahan kesal pada istrinya yang menerima tumpangan dari Satria.
Darren hanya mendengarkan Jeje yang terus mengoceh dan Darren telah habis kesabaran saat Jeje menyebut nama Satria.
"Satria, kenapa? Kamu senang bertemu dengannya?" tanya Darren seraya menatap Jeje.
"Kenapa, Mas? Dia baik, menawarkan tumpangan, itu saja," kata Jeje dan Darren berdecak.
"Bisa tidak, kamu tidak usah bertemu dengannya?" tanya Darren yang kembali fokus mengemudi.
"Aku bertemu tanpa sengaja, Mas," jawab Jeje.
"Mobilnya mogok dan saat aku menunggu taksi, dia datang," lanjut Jeje.
"Lalu, untuk apa kamu memberitahu ku kalau kamu sedang bersamanya?" tanya Darren dengan begitu kesalnya.
"Aku takut menjadi salah paham, makanya aku memberitahumu, Mas," jawab Jeje.
"Bukannya kamu ingin aku cemburu?" tanya Darren dan Jeje menjadi bingung atas suaminya yang tiba-tiba saja marah.
Padahal, sewaktu di rumah, Darren terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa, sih?" tanya Jeje seraya menatap suaminya yang tak mau menatapnya.
"Kamu masih tanya kenapa? Otakmu di mana?" tanya Darren dan mendengar perkataan suaminya yang begitu menyakitkan baginya, Jeje pun meminta pada Darren untuk menepikan mobilnya.
Jeje turun dan Darren membiarkannya.
Merasa kesal, Darren pun pergi.
Dan Jeje segera duduk di trotoar, ia merasa sebal dan sekarang menjadi tidak ingin ke acara pesta tunangan Arum.
Moodnya sudah berubah dan sekarang, Jeje yang menangis itu menunduk.
"Kenapa dia kasar sekali? Aku sebal," kata Jeje dalam hati.
Dan Jeje melihat sepasang kaki yang berdiri di depannya, Jeje mengenali dengan baik siapa pemilik kaki itu dari sepatu yang dikenakan. Ya, dia adalah Darren.
Jeje pun bangun dan berusaha menghindarinya.
"Je, aku minta maaf," kata Darren seraya meraih tangan istrinya.
"Kalau kamu tidak mau menemani ku, tidak perlu berkata kasar!" kata Jeje seraya melepaskan tangan Darren.
Darren menghela nafas dan kembali mengejarnya.
Sekarang, Darren membawa Jeje ke dalam pelukan.
"Maafkan aku, aku khilaf. Aku hanya cemburu," kata Darren seraya mengusap rambut hitam istrinya.
Dan Jeje merasa heran, dari mana bisa Darren cemburu padanya, apa yang membuatnya cemburu?
Untuk mendapatkan jawabannya, Jeje pun bertanya, "Cemburu?"
"Aku tidak suka Satria, bisakah kamu tidak bertemu dengannya lagi?"
"Astaga, aku tidak sengaja bertemu dengannya, Mas. Tidak sengaja," jawab Jeje seraya menatap Darren.
"Ya, entah itu tidak sengaja, apalagi sengaja, aku tidak suka dan aku tau kamu adalah istri yang penurut, kan?" tanya Darren seraya meraih dua tangan istrinya.
Darren menatap Jeje penuh harap kalau Jeje akan menjawab, 'ya'.
Dari permintaan Darren, Jeje menjadi bingung, ia tidak tau harus menceritakan tentang Gania atau tidak.
Dan Jeje merasa kalau Darren harus mengetahui, Jeje pun membuka mulutnya, ia ingin menceritakan tentang Gania yang sekarang les padanya.
Tetapi, baru saja Jeje akan bercerita, Darren sudah menutup mulut Jeje dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
Darren mengira kalau Jeje akan menolak perintahnya.
Dan sekarang, Darren mengajak Jeje untuk ke rumah Arum.
Jeje menatap suaminya dan hati kecilnya menyuruhnya untuk bicara, tetapi, ia berpikir kalau akan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Jeje akan bicara pada Satria dan berharap kalau dirinya akan mengerti.
"Ya, aku harus mengatakannya pada Pak Satria supaya Gania tidak datang ke rumah," kata Jeje dalam hati.
__ADS_1
Sekarang, Jeje dan Darren sudah tiba di kediaman Arum, ternyata, Jeje dan Darren sangat terlambat karena acara telah usai, bahkan calon suami beserta keluarganya sudah pulang.
Jeje meminta maaf pada Arum dan Arum yang terlihat cantik dengan kebayanya itu tidak mempermasalahkan.
Dan malam ini, Darren mengajak Jeje untuk makan di luar, di restoran itu siapapun boleh menyumbang lagu dan Darren berpikir untuk menyanyikan sebuah lagu untuk istri tersayangnya.
Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu
Hidup dan matiku
Mendengar lagu itu, Jeje merasa semakin dicintai dan Jeje pun ingin hidup selamanya bersama suaminya yang sangat ia cintai.
Jeje berdoa, bila habis waktu di dunia ini, semoga di surga nanti akan dipersatukan kembali sebagaimana Tuhan telah menyatukannya di dunia.
Jeje pun menyambut suaminya yang sekarang sedang berjalan kembali arahnya.
Jeje tersenyum dan meminta maaf kalau selalu membuat Darren marah.
Darren menjawab dengan tersenyum dan sekarang, keduanya pulang, di perjalanan, Darren mengatakan kalau tidak masalah jika tidak memiliki anak, asalkan Jeje akan selalu ada bersamanya dan Darren mengatakan akan menikmati setiap waktu yang tersisa bersama istrinya.
Mendengar itu, Jeje pun segera memeluk suaminya.
Malam ini menjadi malam indah karena Darren begitu romantis dan Jeje dapat merasakan cinta yang begitu besar dari suaminya.
__ADS_1
Jeje pun berdoa dalam hati supaya Tuhan terus mempersatukan keduanya.
Bersambung.