MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Peka Sedikit Saja, Mas!


__ADS_3

Dengan semangat, Satria pun pulang dan sesampainya di rumah, Satria harus mengarang cerita supaya putrinya tidak patah hati.


"Sayang, ternyata Bu Jihan sedang sakit, jadi dia tidak dapat datang, tetapi, dia menitipkan ini pada teman gurunya," kata Satria seraya menunjukkan boneka beruang tersebut.


Melihat boneka itu, Gania pun mempercayai ucapan Satria, ia merasa senang karena Jeje ingat dengannya.


Sekarang, Gania menjadi mau makan dan selalu membawa boneka itu, Satria sedikit merasa bersalah karena telah menipunya, tetapi, Satria merasa kalau itu adalah yang terbaik untuk putrinya.


****


Di rumah Darren, Jeje yang ingat dengan Gania itu berniat mengirim pesan, baru saja Jeje memegang ponselnya, Darren sudah memanggil, ia minta dibuatkan air jahe hangat.


"Kamu sakit, Mas?" tanya Jeje dan Darren yang sedang duduk di sofa kamarnya seraya memainkan ponselnya itu menjawab kalau seperti akan flu.


Setelah itu, dengan cepat Jeje membuatkan air jahe tersebut.


Selesai dengan mengurus suaminya, sekarang, Jeje kembali mengambil ponselnya, ia masih berniat meminta maaf walau sudah terlambat.


Tetapi, sepertinya waktu sama sekali tidak mengizinkan.


Jeje mendapatkan tamu yaitu Salsa. Salsa dan akmal baru saja makan di luar dan teringat dengan Jeje.


Salsa sangat menyukai Jeje karena menurutnya hanya Jeje yang mampu membuat Baby untuk belajar dan Jeje mengucapkan terima kasih pada Salsa.


Selesai dengan itu, Salsa dan Akmal pun pamit ia takut akan mengganggu Darren dan istrinya.


Sekarang, Jeje mengajak Darren untuk makan malam dan menu makan malam kali ini begitu banyak.


"Kenapa banyak sekali masakan?" tanya Darren seraya menatap mejanya.


"Bibi masak sayur ini, ikan dan tahu goreng saja," jawab Jeje seraya menunjuk piringnya satu persatu.


"Lalu, ini dari mana?" tanya Darren seraya menatap sei sapi.


"Itu dari Salsa," jawab Jeje seraya tersenyum.


"Salsa?" tanya Darren seraya mencari-cari keberadaannya dan Jeje mengatakan kalau Salsa dan Akmal sudah pulang.


Darren pun mengangguk dan sekarang semua orang makan dan setiap hari Jeje merasa sepi, karena di saat sedang makan pun Darren tidak lepas dari ponselnya.


"Seandainya ada anak, mungkin aku bisa bercerita dan mengobrol dengannya," batin Jeje.


Jeje terus memperhatikan Darren dan tanpa terasa air matanya menetes, sementara Darren sedang membaca keseruan teman-temannya di grup chatnya.


Jeje menghapus air matanya, ia berpikir kalau menangis pun percuma karena Darren tidak melihatnya.


Selesai dengan makan, Jeje segera mencuci tangannya dan meninggalkan Darren yang masih tersenyum-senyum pada ponselnya.

__ADS_1


Sampai tidak merasakan kalau Jeje sudah ada di kamar sedang mengambil ponselnya, Jeje mendapatkan panggilan video dari Ayahnya.


Dan Darren yang masih belum menyadari itu meminta air minumnya untuk ditambah.


"Air minum, Je," kata Darren seraya meletakkan gelasnya di samping ketel.


Dan karena tidak ada jawaban, Darren pun mencari-cari keberadaan Jeje dan Darren menarik nafas saat menyadari kalau dirinya sendirian di ruang makan.


****


Di kamar, terlihat Pak Somat yang sedang memangku Gala itu meminta pada Jeje untuk berkumpul di akhir pekan nanti dan Jeje mengiyakan.


Jeje yang melihat Gala begitu tampan itu pun memanggilnya.


"Gala." Dan yang dipanggilnya itu hanya menatap dan kemudian meminta turun dari pangkuan Kakeknya.


Setelah itu, Gala menempel pada Neneknya dan Jeje jadi membayangkan kalau di sana juga ada dirinya dan anaknya, tetapi, Jeje sadar kalau itu hanyalah bayangan semata.


Setelah itu, Jeje menyudahi panggilan video tersebut, ia mengatakan kalau sudah mengantuk dan inginkan tidur.


Ayah Jeje pun mengiyakan dan Jeje selalu berpesan untuk menjaga kesehatan Ayahnya.


Setelah itu, Jeje yang merasa sepi mencari Darren dan Jeje melihat kalau Darren sudah tertidur pulas di sofa depan televisi.


"Mungkin dia sangat lelah," kata Jeje seraya menatap suaminya.


****


Jeje merasa ada yang salah dengannya dan pagi ini, Jeje mengatakan itu pada Darren.


Darren yang baru saja selesai mencuci mobilnya sendiri itu tak begitu menanggapi ucapan istrinya, baginya sudah terlalu sering Jeje membahas yang sama sekali tidak akan menemui ujungnya.


"Mas, kamu dengerin aku bicara, tidak, sih?" tanya Jeje dan Darren yang mendarat cantik di sofa itu menatap istrinya.


"Iya, aku dengar sampai bosan karena selalu itu yang kamu bicarakan," kata Darren.


"Kata siapa selalu itu yang ku bicarakan, ada saatnya aku bicara, ada saatnya aku membahas hal lain dan sekarang, aku ingin kita mencoba apa yang kata orang katakan, siapa tau benar adanya begitu," kata Jeje yang masih berdiri di ruang tengah, memperhatikan Darren yang juga sedang menatapnya.


Dan Jeje yang sedang ingin diperhatikan itu pun mengatakan kekesalannya yang seperti sendirian.


"Seandainya ada anak, mungkin aku tidak kesepian, mau kamu perdulikan ku atau tidak aku ada teman," kata Jeje dan Darren bangun dari duduk.


"Ada apa, kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?" tanya Darren seraya menatap Jeje.


"Coba peka sedikit saja sama aku, jangan kamu dekati aku jika hanya ada maunya saja!" protes Jeje, setelah itu, Jeje keluar dari rumah, ia ingin pergi ke rumah Ayahnya untuk ikut berkumpul di akhir pekan.


Dan Darren memanggilnya, "Je!"

__ADS_1


Yang dipanggil pun tidak menghiraukan, ia terus berjalan dan Darren terpaksa mengikutinya.


"Mau ke mana?" tanya Darren seraya meraih tangan istrinya.


"Aku mau pulang, aku rindu Ayah!" kata Jeje seraya melepaskan tangannya.


"Tapi, Je. Aku sedang lelah, tidak dapat mengantar," kata Darren.


"Aku pergi sendiri," jawab Jeje dan benar saja, Jeje pergi dengan mengendarai motornya.


"Astaga, Je." Darren terus menatap istrinya sampai tak terlihat.


Dan Darren merasa kalau Jeje kali ini sudah keterlaluan sampai tega meninggalkannya di rumah sendirian.


Sementara itu, Jeje merasa kalau sudah tidak diperhatikan lagi oleh suaminya.


"Dasar, perhatiannya saat aku sakit saja, memangnya aku harus sakit terus supaya mendapatkan perhatian kamu?" gerutu Jeje seraya terus mengendarai motornya sampai Jeje tidak sengaja harus menabrak mobil yang didepannya, mobil itu adalah milik Satria.


Satria sedang dalam perjalanan mengajak putrinya untuk ke bumi perkemahan.


Satria menghentikan mobilnya, ia segera turun dan melihat bagian mobilnya yang penyok.


Bukan hanya mobil Satria saja, tetapi, motor Jeje bagian depan itu ikut rusak.


Lucunya, setelah mengetahui siapa yang menyeruduk, Satria mengurungkan niatnya yang akan meminta ganti rugi.


Justru Satria juga menanggung kerusakan motor Jeje.


Sekarang, akhirnya, ketiganya sedang ada di bengkel, duduk di kursi panjang untuk menunggu.


Dan Gania yang bertemu dengan Jeje itu mengucapkan terima kasih.


Jeje bingung untuk apa Gania berterima kasih?


Jeje menanyakan itu dan Gania mengatakan untuk boneka beruangnya dan Satria yang duduk di belakang Gania itu mengedipkan matanya, meminta Jeje untuk mengiyakan.


Dan Jeje yang mengerti maksud pria itu pun mengiyakan ucapan Gania.


****


Di rumah, Darren merasa sebal karena Jeje sama sekali belum menghubunginya untuk memberi kabar.


Akhirnya, Darren memutuskan untuk menyusulnya ke rumah Pak Somat dan sesampainya di rumah Pak Somat, Darren tidak menemukan Jeje, Darren hanya melihat Rossi, Justin dan Gala.


"Mana Jeje?" tanya Pak Somat dan Darren menjadi bingung, ia takut terjadi sesuatu pada Jeje.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2